THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 183


__ADS_3

♦ MIRACLE ANDREA ♦ Part 1 (Bagian Satu)


*************************************


Selamat membaca ....


 


Seorang gadis melangkah dengan sangat kesal menuju area dalam sekolahnya.


Dari sejak dirumah hingga sampai di sekolah, raut dingin dan kaku masih menempel diwajahnya sekarang. Sedang malas bicara dan matanya hanya menatap lurus kedepan dibalik kacamata berbingkai warna navy yang selalu dikenakannya.


Berikut rambut kuncir kuda dan seragam sekolah yang tidak bisa dibilang ‘fashionable’ untuk takaran murid – murid SMA yang meski berseragam, namun sebisa mungkin membuat seragam yang mereka pakai serta penampilan mereka itu nampak modis.


****


 


Miracle Andrea, gadis remaja berusia sekitar lima belas tahunan saat ini. Keajaiban untuk Andrew dan Fania, itulah arti namanya. Nama yang diberikan sang Poppa untuk Andrea yang lahir lebih cepat dari waktu kelahiran yang seharusnya.


Andrea bukan tidak cerdas, dia hanya tidak terlalu suka membaca. Tidak serajin Varen yang suka belajar yang membuat anak itu begitu jenius dari sejak usia sepuluh tahun. Andrea lebih suka praktek ketimbang teori. Tidak juga seperti Nathan yang selalu mendapat rangking sejak di Sekolah Dasar, meskipun Nathan sangat tergila - gila pada Game. Namun Nathan yang tidak suka dikalahkan orang lain itu tetap giat belajar dan membaca buku.


Andrea baru mengenyam pendidikan diluar rumah saat kelas tujuh atau setara dengan SMP. Karena sang Poppa tahu kalau putrinya itu gampang bosan dan lebih menyukai kegiatan yang berhubungan dengan fisik daripada hal – hal yang berbau dengan tulisan. Namun begitu, Andrea mudah memahami sesuatu dan dia sebenarnya jago matematika selain sudah bisa beberapa bahasa asing.


Hanya seringnya Andrea tidak menunjukkan kepintarannya itu. Judulnya bisa naik kelas dan tidak mendapat nilai jelek. Masa bodoh dengan rangking kelas. Begitu kira – kira prinsip Andrea, dan beruntung kedua orang tuanya itu adalah golongan orang tua yang woles, namun Poppa nya memang super protektif padanya, serta Momma dan


adiknya yang memasuki usia tujuh tahun itu.


Selebihnya, Poppa dan Mommanya selalu membebaskan Andrea melakukan hal – hal yang dia suka, apapun itu. Namun tetap dalam pengawasan ketat sang Poppa, dan menegurnya jika Andrea berbuat salah. Tidak pernah ada tuntutan dalam hal pendidikan untuk Andrea dari kedua orang tuanya. Namun nasehat – nasehat mereka akan selalu Andrea ingat dan ia simpan baik – baik dikepalanya untuk selalu ia ingat.


Kalau dilihat sekilas, Andrea tidak jauh berbeda dengan remaja seusianya. Suka mendengarkan musik, jalan – jalan ke Mal, bahkan Andrea ceriwis seperti sang Momma.


Tapi sifat Poppanya juga begitu melekat dalam diri Andrea. Andrea dimanja sejak kecil kecuali oleh sang Momma yang memang frontal itu. Jangankan Drea, siapa aja juga bisa dimarahin oleh si Momma kalau dia sedang marah akibat ada sesuatu yang membuat itu induk singa betina murka. Dari Poppa sampai Daddy R pun sudah pernah kena semprotan mulutnya Momma yang merepet itu kalo marah.


Andrea ceria seperti sang Momma, bicara tanpa basa – basi seperti sang Poppa. Aktif, ceriwis, tapi juga moody. Sejak kecil Andrea akan terlihat judes seperti Michelle pada orang yang belum ia kenal, namun setelahnya mereka akan berpendapat kalau Andrea itu gadis yang manis sebenarnya. Supel juga baik, karena mau berteman dengan siapapun, bahkan mau bermain dengan para anak – anak asisten rumah tangga mereka.


Tapi satu hal yang banyak orang tak tahu, Andrea kuat seperti sang Poppa, nekat seperti sang Momma. Diusianya yang beranjak remaja itu Andrea sudah punya cukup pengetahuan soal pukulan dan tendangan serta sudah cukup menguasainya, berkat sang Poppa yang sering melatihnya. Namun pesan Poppa dan Mommanya adalah untuk


menggunakan kekuatan yang ia punya hanya untuk penjagaan diri, bukan untuk gaya – gayaan dan sok kuat.


Dan hal itu juga terpatri diotak Andrea.


Jangan ganggu kalau tidak mau diganggu. Namun juga jangan biarkan orang lain menindas mu.


Kira – kira begitulah pesan Poppa dan Momma yang akan selalu Andrea ingat.


**


“Awas kesandung!. Jalan lurus aja!.” Sebuah tangan yang lumayan kokoh melingkar dibahu Andrea berikut suara dan sosok yang sama tengilnya dengan Nathan. Andrea hanya melirik malas padanya. Ia kenal siapa cowo yang selalu sok akrab dengannya, yang membuat Andrea jadi sasaran tatapan sinis para kakak – kakak kelas maupun siswi – siswi populer di sekolahnya.


Arya, adik dari Sony temannya Nathan, anak dari Uncle Rico teman dekat para Daddies nya. Seorang cowok berkategori tampan, bahkan paling tampan di sekolahan dan itulah mengapa Arya yang duduk dibangku kelas tiga itu menjadi Most Wanted Boy di sekolah.


“Ck!. Turunin tangan lo.” Ucap Andrea datar. Arya cengengesan.


“Galak amat sih! Judes ga ilang – ilang dari kecil! Nih kenapa nih muka hari ini? Horor begini?.”


Andrea tak menyahut tetap berjalan menuju kelasnya.


Namun Arya masih terus saja berada disampingnya. “Pasti lo habis digodain Kak Jo ya, sebelum berangkat makanya muka lo kusut begini. Kaku! Kayak kanebo.”


“Jangan ganggu gue.”

__ADS_1


“Siapa juga yang mau gangguin lo, sih?. Mau digorok gue sama Uncle Andrew berani gangguin anaknya?. Justru gue jagain lo nih sesuai titah Poppa lo dan Kak Jo. Muka lo! Jangan kayak gini, jelek!. Udahlah penampilan lo segala diginiin di sekolah. Tambah lagi lo merungut gitu, tambah jelek tau ga?!. Lo kan cakep pake banget aslinya, Drea ..” Cerocos Arya.


“Berisik.”


“Iya, iya gue diem. Udah sarapan belom lo?. Kalo belom ayo sarapan sama gue di kantin. Bel masih setengah jam lagi.” Ucap Arya sambil mengangkat tangan kanannya melihat arloji yang melingkar disana.


“Udah sana ah!. Fans lo nanti pasti mencecar gue. Gara – gara lo! Gue selalu dipandang sinis sama mereka belum lagi mereka mengatai gue!.”


“Ya bukan salah gue, itu cewe – cewe pada ngefans sama gue.”


“Ya udah sana! Gue mau masuk!. Awas!.” Andrea mendorong tubuh Arya yang berdiri didepannya sekarang.


“Ayo, gue serius ini ngajak sarapan!. Mau ga?. Ga usah lo pikirin itu ciwi - ciwi ganjen yang pada sirik gegara lo deket sama cowok paling tamvan disekolah ini.” Puji Arya pada dirinya sendiri. "Bilang kalo ada yang rese sama lo, gue yang beresin. Ayo ke kantin!."


“Engga!.”


“Serius nih, ga mau sarapan sama orang ganteng?.” Goda Arya dan Andrea menatapnya sinis. “Oke, oke. Gue minggir deh. Drea.. Drea.. jadi cewek jangan judes – judes! Entar susah punya pacar!.”


Arya mengacak pelan rambut Andrea, lalu pergi berlalu saat Andrea masuk ke kelasnya. Sementara beberapa mata yang juga sudah berada di sekolah memang memandang sinis pada Andrea yang setiap pagi selalu disapa Arya, dan terlihat kalau Arya memang perhatiannya pada gadis bernama Andrea itu.


“Pagi Drea ..”


Teman – teman sekelas Andrea yang memang baik padanya dan sebagian sudah datang itu, menyapa Andrea kala Andrea memasuki ruang kelas.


“Pagi.” Jawab Andrea namun ekspresinya datar dan teman – temannya sedikit heran, karena biasanya juga Andrea yang menyapa duluan dan selalu menyapa sapaan dengan semangat. Tapi hari ini gadis itu nampak bete berat.


“Lo sakit Dre?.” Tanya salah seorang temannya. Andrea menggeleng.


“Gue heran yah, si Arya seleranya kenapa jadi rendahan gitu sih?! Cewek culun aja segala ditempelin.”


Sebuah suara dari depan kelas terdengar, Andrea melirik malas, begitupun teman – teman sekelasnya.


Seorang cewe berpenampilan modis, itu nampak bertolak pinggang di depan kelas Andrea dan menatap sinis, nampak kesal pada Andrea yang hanya meliriknya sebentar.


Andrea tak ambil pusing soal itu selama ini.


Kakak kelas itu sudah berdiri didekat Andrea duduk bersama dua temannya yang memandangi Andrea dengan sinis sambil melipat tangan mereka memandangi Andrea sembari menyeringai licik. “Heh! Gue ngomong sama lo Nyet!.” Tiba – tiba dengan entengnya cewe itupun menoyor kepala Andrea dengan seenaknya. Dan dua teman cewe yang juga kakak kelas itu tertawa meledek.


“Kepala gue di fitrahinlah.” Ucap Andrea datar sambil melirik malas pada si cewe yang menoyor kepalanya itu. Namun si kakak kelas cewe itu malah tergelak tanpa akhlak.


“Oh, lo bisa ngomong? Gue kira lo gagu!.”


“Gue ga pernah ganggu lo ya Kak?. Kenapa sih lo sentimen banget sama gue?.” Ucap Andrea datar.


“Heh! Berani lo nyautin gue?!.” Lagi – lagi kepala Andrea ditoyor oleh kakak kelasnya itu. Andrea menarik nafasnya dalam – dalam.


“Kak, jangan gangguin dia sih. Kak Arya kok yang suka samperin Andrea, bukan Andreanya yang deketin Kak Arya.” Seorang teman yang berada didekat Andrea membelanya.


“Eh diem lo! Jangan ikut campur urusan gue!. Gue telpon bokap gue, yang ada gue suruh lo dikeluarin dari sini, mau lo?!.”


Andrea menyentuh tangan temannya itu dan mengkode untuk diam saja.


“Tau lo! Sok – sok ngebelain lo!. Mau kita suruh cuciin mobil kita orang lo?!.”


Salah seorang cewe yang berada dibelakang ikut menoyor teman Andrea dan mengancamnya.


Sret!. **Sret!.**


Tiba – tiba jidat Andrea dicoret dengan sebuah spidol oleh si kakak kelas yang sedang mengatainya itu.


“Nih cocok jidat lo gue kasih tanda. Biar cewek culun dan jelek kayak lo sadar diri!.”

__ADS_1


‘Sialan!.’ Andrea mengumpat dalam hati, melirik spidol ditangan si kakak kelas yang tertulis spidol permanen. “Udah selesai?.”


Andrea masih duduk ditempatnya sembari bertanya pada si kakak kelas yang mencoret jidatnya barusan dengan spidol permanen itu. “Berani lo sama gue?!. Lo tau siapa bokap gue?!.”


“Gue ga perduli siapa bokap lo.”


Tak!


Spidol mendarat cantik ke wajah Andrea yang untung saja mengenai kacamatanya bukan wajah Andrea. “Kurang ajar lo ya!.” Kakak kelas itu meraih wajah Andrea kasar dengan satu tangannya. “Bokap gue orang ternama ya di sini, kalo gue mau, gue bisa suruh dia buat ngancurin keluarga lo!.”


Si kakak kelas melepaskan dengan kasar cengkramannya dan Andrea langsung memegang wajahnya.


“Paling juga lo masuk sini karena beasiswa!. Liat aja penampilan lo!. Barang KW aja lo bangga!.” Si kakak kelas menelisik penampilan Andrea. “Liat nih! Mana ada TB desainnya begini coba?!.” Si Kakak kelas itu mengangkat tas punggung Andrea, menunjukkan pada teman – temannya sambil tertawa dan dua temannya ikut tertawa mengejek


Andrea.


Bruk!.


Si kakak kelas melemparkan tas Andrea ke lantai kelas, tepat disamping bawah kaki Andrea.


“Gembel!.”


Si kakak kelas itu kembali mengatai Andrea setelah melemparkan tas Andrea yang katanya KW itu. Padahal tas yang dipakai Andrea itu seribu persen ori dan memang tidak ada dipasaran, karena Mommy Ara lah sang pemilik Merek TB yang tadi disebut oleh si Kakak kelas. Dan tas itu dibuat khusus oleh sang owner untuk Andrea kesayangannya. Hanya satu di dunia.


Andrea benar – benar malas menanggapi, ia masih kesal karena dimarahi si Abang. Andrea menghela nafasnya dan memiringkan duduknya untuk mengambil tasnya yang berada dilantai.


Sruuutt!! ..


Kepala Andrea terasa basah seperti ada sesuatu yang tertumpah diatasnya Andrea mengenali aroma sesuatu yang seperti sengaja ditumpahkan ke kepalanya dan tak lama benda berbentuk tipis, panjang dan lembek yang sepertinya sudah tercampur saus itu turun ke wajah dan kacamatanya.


Spaghetti, beserta saus berikut irisan daging yang Andrea yakini ada dikepalanya sekarang. Andrea sedikit menundukkan kepala sambil membuka kacamatanya agar Spaghetti dikepalanya itu segera turun dari sana.


Beberapa teman Andrea membantu menyingkirkan Spaghetti itu dari kepala Andrea. Sementara tiga orang cewe yang merupakan kakak kelas itu tertawa puas bahkan sempat mengabadikan Andrea yang kepalanya berlumuran Spaghetti itu.


“Makan tuh Spaghetti!. Belom sarapan kan lo?. Sekaligus itu peringatan ya buat lo! Dasar culun sok kecakepan!.”


Ucap si kakak kelas yang paling banyak melontarkan cibiran dan hinaan dan termasuk sudah mencoret jidat Andrea.


BRUAK!!


“AAA!!! .....”


****


“Apa dia terluka?.”


“Lebih baik lo lihat sendiri.”


Nathan pun langsung bergegas masuk ke dalam Kantor Sekolah.


“Astagfirullah Andrea!.”


Nathan sampai membulatkan mata dan memekik saat sudah sampai kantor dan melihat kondisi Andrea.


Penampilan Andrea yang sudah tak karuan, dengan coretan bertanda X dijidat, berikut rambutnya yang sudah tergerai namun nampak kotor, belum lagi baju sekolahnya yang sebagian sudah keluar dari dalam rok. Berikut roknya yang terlihat sobek cukup panjang di samping, namun sebagian sudah tertutup Hoodie yang entah punya siapa.


Untung saja Andrea selalu menggunakan basical pant dibalik roknya.


“Ya Allah Drea.. kok sampai begini?.”


****

__ADS_1


To be continue ......


__ADS_2