THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 157


__ADS_3

✨ MENUJU HIDUP YANG NORMAL ✨


Selamat membaca ...*******


Mansion Utama Keluarga Adjieran Smith, London, Inggris .....


Beberapa hari telah berlalu di Kediaman sebuah Keluarga yang begitu ramai nan harmonis itu.


“Apa kamu akan ikut Kak Andrew dan yang lainnya ke Perusahaan besok, Boo – Boo?.”


“Engga.” Sahut Dewa pada Michelle. “Lagipula besok hanya Andrew, R dan dua J aja yang pergi ke Perusahaan. Itupun hanya sebentar sepertinya. Hanya untuk menyapa para karyawan mereka yang sudah kembali aktif, setelah sempat di non aktifkan oleh si Joven brengsek itu. Sementara Dad, aku dan Lucca akan tinggal disini. Three Muskeeters formasi baru juga akan datang berkunjung bersama Arman dan Caca.”


“Oh iya ya.”


“Terus tadi kamu tanya aku ikut ke Perusahaan besok atau engga, kenapa Yank?.”


“Engga ada apa – apa sih. Hanya tanya aja. Aku pikir kamu mau ikut mengelola Perusahaan mulai sekarang.”


“Kamu kan tahu, aku ga suka bekerja seperti itu... kalau aku mau berkecimpung di kantor, aku sudah dari dulu mengelola Perusahaan keluarga aku sendiri.”


Michelle manggut – manggut. “Iya, aku tahu kok passion kamu dimana. Aku hanya tanya saja, bukan memaksa.” Ucap Michelle seraya mengulet. “Hummmm, Boo – Boo.”


“Kenapa, hem?.”


“Aku boleh ga ikut gabung mengelola Perusahaan?. Rasanya aku ingin bekerja lagi. Sayang gelar aku kan.” Ucap Michelle.


“Ya kalau boleh jujur sih, aku lebih suka kamu di rumah saja. Bukan berarti tak melakukan apa – apa. Kamu bisa coba mencari alternatif selain bekerja seperti Ara dan Naomy. Tapi aku juga ga memaksa, Yank. Aku tahu kamu bukan cewe rumahan. Kalau kamu memang mau bekerja lagi silahkan. Tapi tunggu hingga Mika berumur lima tahun kalau memang kamu bisa menunggu selama itu.”


Michelle mendengarkan Dewa yang sedang bicara panjang lebar padanya.


“Aku tidak ingin Mika kurang perhatian dari kita sebagai orang tuanya. Karena nanti setelah semua kembali normal, aku juga akan bolak – balik Jerman, Jakarta, Norweg dan kesini kan?.”


“Iya.” Sahut Michelle singkat.


“Sekalian juga kamu pikirkan dari sekarang, jika nanti semuanya normal, kamu ingin kita bertiga tinggal dimana?.”


“Terserah kamu deh Boo – Boo.”


“Kamu marah?.” Tanya Dewa.


Michelle menggeleng. “Marah kenapa memangnya?.”


“Karena aku ga langsung mengiyakan kamu yang ingin bekerja kantoran lagi.” Sahut Dewa.


“Kamu nih... memang aku anak kecil apa?.”


“Memang bukan. Masa anak kecil punya anak kecil?.” Goda Dewa dan pasangan mantan Broken Heart Couple itu


pun terkekeh bersama.


“I love you, Boo – Boo.”


“I love you more, Ayank.”


Sepasang suami istri itu pun sedikit terbawa suasana. Saling menatap mesra dengan tersenyum membuat mereka


tak sabar untuk saling merasakan bibir masing – masing.


“HACIH.” Sebuah suara bersin pun terdengar. Pasangan sobat ambyar ga jadi ciuman. Lupa kalau Mika sedang ada diranjang bersama mereka.


“Ck, Mika ... Mika ... ga bisa banget lihat Boo – Boo senang ..” Ucap Dewa seperti bergumam namun Michelle mendengarnya dan langsung terkekeh, sementara Dewa langsung memeluk dan mengusel gemas putri semata wayangnya dan Michelle itu yang juga cekikikan karena perutnya yang usel oleh sang Daddy.


***


“Besok kamu sama Kak Andrew dan cowok – cowok yang lain jadi mau ke Perusahaan, Pi?.”


“Jadi. Tapi hanya aku, Andrew, R sama Jeff saja.”


“Oohhhh.” Prita ber oh ria sambil manggut – manggut.


“Kenapa?.”


“Ga apa – apa sih... Cuma mau tanya soal imunisasi si kembar gimana..”


“Oh iya, ya.”

__ADS_1


John nampak berpikir sebentar.


“Oh, begini saja ...  aku akan menghubungi Judith...” Ucap John. “Nanti biar aku tanya bagaimana - bagaimana nya soal imunisasi the twins, setelah itu aku akan hubungi kamu secepatnya.”


Prita manggut – manggut. “Ya udah.” Sahut Prita. “Oh iya ngomong – ngomong katanya keluarga kita mau jumpa pers, ya?.”


“Iya. Setelah semuanya dirasa sudah oke, Dad akan mengklarifikasi segala hal yang berhubungan dengan keluarga kita pada publik di London ini.” Ucap John.


‘Set dah dah kek Seleb aje segala jumpa pers.’


"Keluarga kita kan lumayan terkenal disini."


"Iya dah!. Horang kelewat kaya mah bebaaaass!."


***


“Varen mana Ara?.”


Mama Anye mendudukkan dirinya disamping Ara yang terlihat sibuk dengan laptopnya.


“Sedang bersama R dan Valera di ruang belajar. Sepertinya Fania, Andrew dan Andrea serta Nathan pun ada disana.”


Mama Anye pun manggut – manggut.


“Oh iya Ara, soal sekolahnya Varen itu bagaimana?.” Tanya Mama Anye.


“Bagaimana apanya, Ma?.”


Ara mengalihkan fokus dari laptopnya dan menatap Mama Anye.


“Kan sudah lama itu Varen ga pergi ke Sekolah, yah meskipun sekarang sedang liburan musim panas, tapi kan Varen pasti sudah ketinggalan banyak pelajaran, Ra .. Iya kan?.”


“Jangan khawatir soal itu, Ma ..” Sahut Ara. “Cucu pertama Mama itu kan super cerdas, kalau Mama lupa.”


“Iya sih .. tapi kan Varen juga tetap harus bersekolah Ara.”


“Iya, kalau sekolah ya sudah pasti itu sih Ma. Tapi Varen juga kan akan mengikuti kelas akselerasi. Jadi dia sudah tidak lagi mengikuti kelas yang sebelumnya.”


“Oh iya, ya.” Mama Anye kembali manggut – manggut.


“Aku, Reno, pasangan bebek sama Jeff dan Jihan sudah sepakat kalau selama kita belum beraktifitas seaktif biasanya anak – anak akan menjalani Home Schooling. Kami akan memanggil guru yang sesuai dengan Varen, Nathan dan Andrea.”


“Kalau untuk Varen, kami sudah memilih guru dari sekolahnya. Kalau untuk Nathan dan Andrea masih sedang dipilih oleh Andrew dan Jeff.”


“Ya sudah kalau begitu.”


***


Seperti halnya para istri yang juga sudah merangkap sebagai ibu yang anak – anaknya sudah memasuki usia sekolah, kekhawatiran Jihan pun sama seperti Fania atau mungkin para nenek yang mengkhawatirkan cucu – cucunya yang seharusnya pergi ke sekolah pada umumnya. Nathan seperti halnya Varen juga sudah bersekolah sejak anak semata wayang dua J versi couple itu tinggal di Indonesia.


Namun setelah insiden yang sudah terjadi dan sudah beberapa minggu ini pastinya Nathan yang tidak bersekolah itu menjadi kekhawatiran sendiri untuk sang Ibu, beda dengan sang Ayah yang selalu dalam mode woles.


Meskipun di Indonesia juga Nathan bersekolah di tempat yang bisa dibilang sekolah wah untuk para anak – anak yang orang tuanya jauh dari kata pas – pasan, tapi pasti yang namanya sekolah punya peraturan, bukan?. Begitu yang dipikir Jihan. “Papa Bear ..” Panggil Jihan saat Jeff masuk ke dalam kamar mereka.


“Hemmm?.”


“Nathan mana?.” Tanya Jihan karena Jeff masuk sendiri ke kamar.


“Masih diruang belajar bersama R, Andrew dan Fania.”


“Huumm.” Jihan ber – hum ria.


Jeff langsung membawa Jihan keatas pangkuannya.


“Ada apa, hem?.” Tanya Jeff lembut.


“Engga, aku hanya mau tanya soal sekolahnya Nathan.”


“Ohhhh. Aku kira mau minta manja – manjaan.”


Jihan terkekeh kecil menanggapi godaan nakal suaminya itu.


“Dasar bule gila..”


“Wah sudah berani sekarang ya?.”

__ADS_1


“Lagian kamu, siang – siang begini udah ngeres otaknya!..”


“Yah namanya juga usaha! ..” Jeff memainkan alisnya.


“Jadi gimana itu?.”


“Ayo!.”


“Aku serius ih!.” Jihan memukul gemas dada Jeff saat pria itu menggoda seolah akan mengangkat tubuh Jihan.


Jeff terkekeh kecil. “Kalau soal sekolah Nathan jangan khawatir. Aku dan Andrew serta R sudah memutuskan kalau untuk sementara ini Nathan, Andrea dan Varen akan menjalani Home Schooling.” Kata Jeff.


“Sudah dapat gurunya?.”


Jeff mengangguk pasti.


Jihan ikut manggut – manggut.


Jeff mencubit kecil hidung Jihan karena gemas dengan mimik wajah istrinya itu saat ini. “Soal sekolah jangan khawatir. Kami pasti akan memikirkan semua yang terbaik untuk anak – anak, Mama Bear. Meskipun Nathan tak sejenius Varen, tapi aku yakin dia tidak akan menemukan kesulitan selama Home Schooling disini. Toh Nathan cepat belajar, kan?. Buktinya dia sudah lancar dan paham berbahasa Inggris dengan fasih sekarang.”


“Iya juga sih.” Sahut Jihan.


“Siapa dulu dong Daddynya Nathan?.” Jeff membanggakan dirinya. “Buah jatuh kan tak jauh dari pohonnya, Daddynya pintar ya anaknya pintar dong. Apalagi anaknya Daddy Jeff!.” Sambung Jeff masih membanggakan dirinya sendiri.


“Yah asal jangan ngikut jejak Daddynya yang playboy! ..” Canda Jihan.


“Tapi cinta kan, Mama Jihan sama ini playboy cap hiu?.” Goda Jeff. “Bahkan kamu menangisi aku saat aku ga ada.”


Wajah Jihan seketika berubah setelah mendengar kalimat terakhir Jeff. “Jangan ingetin aku soal itu lagi, Papa Bear..” Wajah Jihan berubah sedikit sendu sekarang. ( Bukan Seneng Duit iye). “Masih suka nyesek aku kalo inget itu.”


“Iya, maaf. Aku ga bermaksud mengingatkan kamu kejadian waktu itu.”


Jeff menatap Jihan lamat – lamat.


Jihan pun membelai garis wajah Jeff sambil memandangi wajah suaminya itu.


“Tapi aku bahagia .. karena ternyata sebesar itu kamu mencintai aku.” Ucap Jeff lembut pada Jihan sambil membelai juga wajah Jihan dengan punggung salah satu tangannya.


Jihan memejamkan matanya sejenak menikmati punggung tangan Jeff yang sedang mengabsen tiap inci wajahnya.


“Rasanya alam semesta adalah milik aku saat kamu ada disisi aku, Mama Bear.”


“I love you, Papa Bear ..”


“I love you more, Mama Bear ..” Jeff menempelkan bibirnya dengan lembut ke bibir Jihan dan mulai bermain dengan bibir Jihan yang menjadi candunya itu. Terus hingga mengecupi leher Jihan dan mulai menc*mbuinya.


“BULE GILAAA!! KUNCI PINTU DULU KALAU MAU GIGIT – GIGITAN!!! ...” Suara Mom nan menggelegar bak geluduk di siang bolong itu membuat dua insan yang saling **** – emutan pun sontak terkejut berduaan.


Wajah Jihan merah padam karena tercyduk Mom yang secara tiba – tiba masuk ke kamarnya dan Jeff saat ia dan Jeff sedang **** – emutan itu. Sementara si bule gila cengengesan. Lupa konci pintu. Lupa mengaktifkan kunci otomatis pintu kamarnya dan Jihan, juga saking udah buru – buru mau curi – curi kesempatan saat Nathan masih di ruang belajar.


“Ganggu aja Mom!.” Celetuk Jeff yang masih cengengesan dan Jihan langsung mencubit perut Jeff tanpa ragu.


Sementara Mom hanya geleng – geleng saja sambil masih berdiri di dekat pintu yang gagangnya masih ia pegang


itu.


“Nah salah Mom, masuk ga ketuk pintu dulu.”


Mom pun berdecak. “Salah sendiri siang – siang sudah persiapan mau mendaki gunung!.” Ucap Mom sebal. “Bukannya menemani anak belajar tuh kayak R sama si Donald Bebek!. Biarpun kalian sama nafsu – an nya juga. Tapi mereka itu masih sabar menemani anak – anak!.” Mom pun ngomel.


“Iya, iya ...” Sahut Jeff.


“Iya udah aku aja yang menemani Nathan.”


Jihan pun menghampiri Mom.


“Udah biar si bule gila itu aja!. Mom ada perlu sama kamu ..” Ucap Mom sambil menggandeng tangan Jihan.


Namun baru selangkah maju setelah berbalik mengajak Jihan untuk keluar kamar, Mom kembali berbalik lagi menghadap si bule gila yang masih berdiri ditempatnya.


“Sebelum kamu kembali ke ruang belajar, tuh si Bona kamu tidurkan dulu!.” Mata Mom menunjuk ke suatu tempat keramat. Jeff spontan langsung menunduk. Benar saja yang dimaksud Mom, kalau adegan **** – mengemut dengan Jihan tadi sudah membangunkan si Bona, gajah kecil berbelalai panjang milik Jeff.


Jeff yang merasa sekaligus salting itu pun spontan nyengir kuda dan Jihan terkekeh sambil menutup mulutnya.


“Jangan sampai itu anak – anak bertanya soal Tugu Monas yang pindah ke London!.” Mom pun berbalik dan melanjutkan langkahnya sambil ngedumel disamping Jihan yang sudah ia geret.

__ADS_1


****


To be continue....


__ADS_2