THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 204


__ADS_3

Bonus nih Bonus buat nih hari


*********


💖  17 TAHUN YANG MANIS  💖


♄♄♄♄♄♄♄♄♄♄♄♄♄♄♄♄♄♄♄♄♄♄♄♄


 


Selamat membaca ...


*****


“Ab – baaa – nngg...”


......


“Sayaang Abaaaanngg ...”


“Sayang Drea.”


.......


“Abaang kenapa Poppa tidak pulang – pulang?..”


“Poppa pasti pulang, Little Star ...”


"Kalau Poppa tidak pulang?."


"Ada Abang ...."


.......


“Jangan menangis Little Star....”


“Poppa sudah pergi, Momma juga pergi..”


“Mereka pasti kembali..”


“Kalau Poppa dan Momma tidak kembali...?.”


“Ada Abang, Little Star ... Abang akan jaga Drea seumur hidup Abang....”


“Janji?....”


“Janji. Abang akan lakukan apa saja untuk Drea.... Asal Drea bahagia.”


“Janji Abang jangan pernah pergi dari Drea?.”


“Janji. Kan Drea kesayangan Abang?. Abang akan selalu ada untuk Drea....”


...


“Abaaaaannnnng!!... Abang ga boleh punya teman perempuan!!..”


“Iya..”


....


“Drea ....”


“Mau apalagi?.”


“Abang mau minta maaf Drea.... Ya Allah, Little Starnya Abang.... kenapa sekarang jadi judes banget sama Abang sih, Drea....”


“Salah siapa?!.”


“Iya, Abang yang salah duluan. Lihat sini Drea, Abang sedang bicara sama Drea.”


...


“Maafin Abang ya?.”


...


“Ya ampun Dreaaa, kamu mikirnya sampai begitu sih. Dia itu teman Abang. Te – man!.”


“Benar?!.”


“Iya Dreaaa. Kapan Abang pernah bohong sama Drea?.”


...


“Jangan banyak membual, karena bualanmu membuat Little Starku tidak nyaman. Dan segala hal yang membuatnya tidak nyaman, akan menjadi urusanku.”


...


“Jangan berkhayal terlalu tinggi, Nona Danita. Aku bukannya baik, hanya mencoba bersikap sopan padamu karena kau adik ipar Uncle Vla. Tapi buang jauh – jauh pikiranmu jika kau merasa lebih indah daripada Little Starku.”


...


“Aku sudah menyingkirkan semua bintang di langitku, agar hanya satu bintang kecilku yang bersinar disana. My One and Only Little Star ( Satu – satunya Bintang Kecilku ). Miracle Andrea. My Beloved Andrea ( Andrea ku Tersayang ).”


...


“Jangan menjauhi Abang lagi, ya?.”


...


“Sa-yang Drea ..”


...

__ADS_1


"Maafkan Abang ya?. Sudah membuat Drea sedih."


...


“Satu hal yang perlu selalu kamu ingat Drea, dari dulu selalu Abang bilang ... Drea itu tidak akan pernah terganti ... masa ga ingat?.”


...


“Abang tidak pernah memandang wanita lain Drea ... dari sejak Drea masuk dalam hidup Abang ... Dari sejak tangan mungil Drea menggenggam telunjuk Abang ...”


...


“Happy Birthday, Miracle Andrea... My Little Star... Happy Sweet Seventeen...”


...


“Dan aku sudah menunggu tujuh belas tahun untuk ini...”


💕  Cuup ... 💕


...


“I Love you, Little Star ...”


...


“Abang mencintai kamu, dari dulu hingga sekarang... tujuh belas tahun rasanya cukup untuk menyimpannya rapat – rapat didalam sini, Little Star ...”


...


“No one loves you, like I do ( Tidak ada yang mencintaimu, seperti aku mencintaimu ), Miracle Andrea....”


***


Andrea tengah berdiri di balkon kamarnya. Bayangan tujuh belas tahunnya bersama sang Abang kesayangan terputar diotaknya saat ini.


Acara Surprise Party ulang tahun ke tujuh belasnya sudah selesai setengah jam lalu. Waktu sudah


menunjukkan hampir jam dua pagi. Namun Andrea belum bisa tertidur saat semua orang sudah kembali ke kamarnya masing – masing dan mungkin sudah terlelap, termasuk Varen.


"💕  Cuup ... 💕"


Andrea spontan memegangi kedua pipinya yang tiba – tiba terasa sedikit panas saat ia teringat kala Abang Varen menempelkan bibirnya pada bibir Andrea.


Jika Andrea sedang berdiri didepan cermin, mungkin dia bisa melihat betapa merona wajahnya saat ini, karena wajah putihnya itu nampak menjadi sedikit merah muda. Andrea gemas sendiri.


Puk! Puk!


‘Mimpi ga sih gue ini?.’ Andrea memukuli pipinya sendiri, saking tak percaya kalau Varen sudah menyatakan cinta bahkan menciumnya.


“Little Star... kamu kenapa belum tidur?.” Suara Varen berikut sosoknya mengagetkan Andrea yang memang berdiri memunggungi kamarnya di balkon.


Varen yang tadinya merasa sedikit lapar dan ingin mencari camilan ke dapur, mengurungkan niatnya karena melihat dari kisi pintu kalau kamar Andrea masih terang.


Varen sempat khawatir karena tidak melihat Andrea berada di ranjang dan sekitarnya. Namun akhirnya lega, karena saat ingin mengecek ke kamar mandi ia melihat Andrea sedang berdiri di balkon kamar sambil mengusap – usap lengannya, karena gadis itu menggunakan piyama lengan pendek.


“Eh Abang? ... Abang belum tidur?.” Sahut Andrea dan balik bertanya.


“Kebiasaan, kalau ditanya malah bertanya balik.” Timpal Varen sembari tersenyum dan Andrea terkekeh kecil. “Apa ada yang mengganggu pikiranmu?.”


“Engga Abang. Drea hanya sedang melihat bintang.” Sahut Andrea lagi. Varen tersenyum.


“Masa bintang, lihat bintang?.” Ucap Varen yang membuat Andrea tersenyum lebar dan ia memainkan bandul di kalungnya yang berbentuk bintang, pemberian si Abang saat Andrea berulang tahun yang kesepuluh, yang jika sudah tidak muat rantai kalung emas itu akan diganti oleh Varen, disesuaikan dengan ukuran leher Andrea.


“Masih muat?.” Tanya Varen dan membuat Andrea sedikit mengernyitkan dahinya.


“Apanya?.”


“Kalung kamu.”


“Ohhh. Masih Abang. Kan baru diganti tahun kemarin rantainya. Abang sendiri yang ganti, masa lupa?.”


“Hummmm” Varen manggut – manggut, lalu memperhatikan wajah Andrea yang kembali menatap langit. “Apa Drea


sedang meragukan Abang?.” Tanpa Andrea duga, Varen membawanya dalam dekapan.


Varen memeluk Andrea dari belakang, melingkarkan kedua lengannya di leher Andrea. Sungguh membuat Andrea


terkejut dan berdebar disaat yang bersamaan. Abang Varen memang sering memeluknya, tapi bukan seperti ini. Meski Andrea sempat terkejut dengan perlakuan Varen, namun Andrea tak berniat untuk melepaskan dekapan Varen.


“Drea meragukan pernyataan Abang, ya?.” Varen sudah meletakkan dagunya dipundak Andrea, meski ia harus menunduk, namun masih mendekap Andrea dan tangannya kini sudah berada diperut Andrea.


Andrea menggeleng.


Varen mengeratkan dekapannya. “Lalu sedang memikirkan apa?.” Tanya Varen dengan suara beratnya. Suara yang Andrea suka, yang kini benar – benar terdengar seperti suara laki – laki dewasa ditelinga Andrea. Sedikit berat, namun lembut. Andrea memujanya.


“Drea sedang memikirkan Abang, sedang mengingat sejak Abang selalu ada disisi Drea sejak Drea kecil.”


“Dan akan selalu seperti itu hingga seterusnya, Little Star..”


“Abang... benar – benar cinta sama Drea? .. Maksud Drea, apa Abang melihat Drea sebagai seorang wanita? Atau karena Abang tahu tentang perasaan Drea sebelumnya, jadi Abang tidak tega dan bilang kalau Abang mencintai Drea?.”


Varen terkekeh kecil. “Katanya sedang tidak meragukan Abang?.” Ucap Varen yang melepaskan rengkuhannya lalu membalikkan tubuh Andrea dan menyandarkannya di sanggahan balkon. Lalu Abang mengurung tubuh Andrea berjarak dan menempatkan kedua tangannya disisi kanan dan kiri Andrea yang kini sedang menatapnya. Membungkukkan tubuhnya.


“Drea hanya penasaran, Abang ..” Ucap Andrea.


“Abang tidak hanya menyayangi kamu Little Star.. Abang juga mencintai kamu sejak pertama kali Abang melihat kamu masih dalam inkubator. Abang bahkan yang takut jika kamu besar nanti, kamu menjauh dari Abang. Menemukan sosok lain yang membuat kamu nyaman .. selain Abang...”


Varen menempelkan dahinya di dahi Andrea.


“Dan Abang akan sangat tidak rela jika itu terjadi ..... Abang tidak rela melepaskan kamu, Little Star ...” Varen tersenyum tanpa menjauhkan dahinya yang masih ia tempelkan di dahi Andrea itu. “Apa kamu tahu betapa bahagianya Abang, saat Abang tahu kalau kamu juga mencintai Abang, bukan hanya sebagai kakak layaknya Nathan?.”


Andrea memeluk Varen dengan dalam.

__ADS_1


“Drea juga bahagia Abang. Sangat.....”


“Terima kasih ya?.”


Andrea mengangguk.


“Ini.”


Andrea menatap terkejut pada sebuah kotak berwarna hitam berbahan beludru.


“Happy Birthday, hem?.”


“Abang, Abang itu sudah jadi hadiah terindah untuk Drea.”


“Bukalah. Abang sudah menyiapkan ini untuk kamu.”


Andrea menerima kotak hitam beludru itu lalu membukanya.


“Suka?.” Tanya Varen sembari tersenyum.


Andrea mengangguk.


“Abang pakaikan ya?.”


“Lalu kalung ini?.” Drea menunjukkan kalung berbandul bintang yang juga pemberian Varen.


“Simpan saja ya?. Sudah tujuh belas tahun juga. Sekarang Drea pakai ini.” Ucap Varen dan Andrea mengangguk.


Varen melepaskan kalung lama berliontin Bintang berwarna emas dan menggantinya dengan kalung baru yang ber-liontin-kan dua huruf V dan A yang juga berwarna emas, bertahtakan berlian yang membentuk kedua huruf tersebut.


“Terima kasih Abang.....” Ucap Andrea.


“Sama – sama.”


Cup!.


Satu kecupan mendarat di pipi Varen dari Andrea.


Varen tersenyum lebar. “Disini engga?.”


Tunjuk Varen ke bibirnya dan Andrea spontan menunduk, wajahnya bersemu. Varen terkekeh kecil.


“Kalau bisa jangan dilepas. Tapi kalau mau dilepas didalam rumah saja, pakai saat keluar. Karena Abang juga pakai.” Varen menunjukkan sebuah kalung yang terikat dilehernya. Kalung berinisial A dan V yang Varen pakai. Tidak berwarna emas, melainkan silver, juga dengan desain yang lebih simple.


“Abang punya juga?.” Tanya Andrea sambil menyentuh liontin kalung yang Varen pakai. Varen pun mengangguk. “Agar semua orang tahu, Abang punya Drea, begitupun sebaliknya. Hem?.”


“Iya .....”


Cup!.


Varen membawa Andrea dalam dekapan dan mengecup pucuk kepala Andrea dengan lembut.


“Boleh?.”


Varen mengangkat dagu Andrea dengan satu tangannya, lalu mengusap lembut bibir Andrea dengan ibu jarinya. Andrea mengangguk ragu, bukan..... malu lebih tepatnya. Terasa canggung tapi juga tak menampik kalau Andrea ingin lagi merasakan lembutnya bibir sang Abang kesayangan.


****


Satu kecupan sayang mendarat dibibir Andrea setelah Varen mendapat persetujuan. Hanya ciuman kecil namun tidak sesingkat yang pertama. Sedikit lama, karena bibir Abang sedikit bermain disana. Namun tak dalam. Sadar..... yang ia cium masih kategori bocil. Kudu ati – ati, karna si bocil juga masih pacip.


Abang takut napsu, padahal iya. Bocil umurnya saja, tapi bodinya sudah hampir jadi. Sudah lumayan jadi bahkan


dibeberapa area tertentu. Ditambah semilir angin yang meledek, cukup membuat gremet – gremet iminnya Abang.


****


“Bobo ya?. Istirahat. Nanti Subuh Abang bangunkan?.” Ucap Varen saat Andrea sudah berbaring di ranjangnya


dan Abang menyelimutinya.


“Iya.” Sahut Andrea.  “Memang Abang ga tidur?.”


“Abang mau berenang dulu.”


“Tapi ini jam dua pagi Abang, mau setengah tiga bahkan.”


‘Terpaksa Abang juga, Little Star ...’ Batin Varen. “Ga masalah. Lagipula Abang belum mengantuk. Tidurlah, hem?.”


Andrea mengangguk.


“Nitey nite, Little Star. I love you.”


“I love you too Abang.”


Varen tersenyum dan mematikan lampu kamar Andrea lalu hanya menyalakan lampu tidur yang berada diatas nakas samping ranjang Andrea.


Tiga kecupan singkat dari Varen di kening, ujung hidung dan bibir Andrea ia darat kan sebelum ia meninggalkan kamar Andrea.


Menoleh sebentar saat sudah diambang pintu dan senyum Varen terbit lagi. Rasanya ingin sekali berbaring disisi Andrea saat ini. Namun kini Varen sudah harus bisa menahan diri. Dia laki – laki dewasa, Andrea gadis belia yang juga menuju dewasa. Bukan Andrea kecil yang dulu sering memeluknya saat tidur bahkan tidur bersama.


Dan lagi, kini status mereka sudah naik tingkat. Bukan lagi sebatas kakak beradik meski tak sedarah, kini sudah bisa dibilang Pacaran. Rasanya mungkin akan sedikit aneh bagi Varen jika ia tidur bersama dalam satu ranjang bersama Andrea kini.


Toh Varen laki – laki normal, sudah hampir berusia matang. Namun tetap ia hanya manusia biasa, yang kendalinya bisa saja terlepas jika ada kesempatan.


Varen menyabarkan diri saja saat ini. Tersenyum lagi sambil menatap wajah yang ia puja – puja yang sudah nampak memejamkan mata berbaring miring ke arah Varen berdiri saat ini, sebelum keluar dari kamar Andrea lalu menutupnya rapat dengan perlahan.


‘Kamu hadir memberi cinta, membawa bahagia dan memberikan rasa rindu yang tiada habisnya, Little Star ...’


#Bucinakut


****


To be continue..

__ADS_1


__ADS_2