THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 239 – VAREN & ANDREA - SERIES


__ADS_3

G O D A


 


Selamat membaca......


**************************


 


Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia


Seluruh keluarga Adjieran Smith, termasuk Keluarga Cemara minus pasangan pengantin baru sedang berkumpul


bersama di Kediaman.


“Entar si Abang sama Drea balik lagi kesini, selesai itu die berdua punya acara?”


Ake Herman bersuara.


“Engga, mereka bermalam disana Pa”


Mommy Ara yang menjawab.


“Ini makanya kami diusir” Celetuk Daddy R sambil cengengesan yang membuat semua orang terkekeh kemudian.


“Cih! Pasti mau coba di segala tempat! Macam Daddynya!” Timpal Poppa.


“Halah! Macam lo sendiri waktu masih pengantin baru ga coba di segala tempat?!”. Daddy R membela diri.


Semua orang terkekeh lagi.


“Sampe sekarang juga masih begitu. Ga mau liat tempat! Lupa umur!” Celetuk Momma yang langsung dibekap Poppa dan dikunci dalam dekapannya.


“Mau aku borgol lagi, hem?”


“Tuh kan? Kalah penganten baru sama kamu juga, D!”


“Percaya Mom sih, kalau itu”


Gamma ikut nyeletuk.


“Nafsuan kalau sudah dekat kamu itu dia!”


“Hahahaha..” Tawa akhirnya pecah.


***


Beberapa waktu kemudian...


“Mereka belum ada kabarnya?”


“Kenapa sih?”


“Ya khawatir saja pada Little Star...”


“Mau apa yang dikhawatirin coba?. Orang si Drea juga sama suaminya. Which is anak kita juga, yang udeh tujuh belas tahun die jaga” Cerocos Momma pada Poppa yang nampaknya sedang gusar memikirkan nasib putrinya yang mau ditembus oleh naga junior.


“Memang si Drea beneran mau di unboxing sama si Abang?”


Pertanyaan tak berakhlak meluncur keluar dari mulut si Tan – Tan, yang langsung mendapatkan timpukan garpu kecil oleh Poppa yang sedang menikmati pisang nugget itu.


“Memang Andrea barang di Unboxing?!” Poppa melirik sebal pada si Tan – Tan yang orangnya terkekeh kemudian diikuti oleh keluarganya yang lain yang sedang duduk – duduk berkumpul lagi di ruang santai keluarga selepas makan malam.


“Yakin iya! Persiapannya aja sudah seperti itu! ..” Celetuk Daddy Dewa. Sementara para Mommies hanya geleng


– geleng saja, kalau celetukan pasti akan berlanjut ke obrolan unfaedah.


“Kita cari tahu kalau begitu, hem? Hem?”


Daddy Jeff dengan wajah jahilnya. Dan wajah jahilnya itu disambut dengan wajah jahil para Daddies yang lain.


"Let's go kalau begitu! Kita lakukan inspeksi mendadak!" Poppa penuh semangat sambil cengengesan yang disambut kekehan lagi dan cubitan dari Momma diperutnya yang masih kokoh itu.


“Jangan iseng kenapa sih?. Macam kalian tidak pernah seperti si Abang saja?” Oma Anye membela cucunya. “Sesama bucin dilarang saling ganggu!”


“Hahahahaha!”


“Anye was right. Just let them enjoy their moment! Hish! ( Anye itu benar. Biarkan mereka menikmati waktu mereka! Hish! )” Timpal Dad yang geleng – geleng, menyadari betapa isengnya putra – putranya itu. “You guys even locked your wifes after married for few days! ( Kalian bahkan mengunci istri – istri kalian setelah menikah selama beberapa hari! )”


“Hah! Marahi saja itu mereka Dad!. Iseng sekali, ga bisa melihat orang senang!”


Mommy Ichel mendukung Gappa.


“Betul Chel!” Celetuk Mommy Ara. “Awas saja kalau kalian sampai pergi ke sana dan menganggu mereka!” Ancam


Mommy Ara. “Akan aku hasut ini cece – cece biar kalian puasa selama tiga bulan. Gimana para cece cece senior, setuju?”


“Setujuuu!!!...”


Para cece – cece senior menyahut kompak berikut para nenek.


“Haish!”


“Kita ganggu dengan cara lain kalau begitu” Papi dengan ide isengnya sembari berbisik di telinga Daddy R.


**


Sementara itu ditempat lain


Varen mengerjapkan matanya. Selepas ronde kedua sesi panasnya dan Andrea yang berlangsung sedikit lama dari


yang pertama itu pun keduanya jatuh terlelap kemudian. Varen menyunggingkan senyumnya saat matanya terbuka dan merasakan sedikit ada beban didadanya.


Andrea nampak pulas dalam pelukannya. Masih tak berbusana sama seperti dirinya. Varen mengecup kening Andrea dan menggeser tubuh Andrea dengan hati – hati dari dirinya agar istri kecilnya itu tak terbangun. Varen merasa sedikit haus soalnya.


****


Varen hendak kembali lagi keatas ranjang dan melanjutkan tidurnya setelah minum dan membawa segelas air yang ia ambil dari dispenser yang berada dikamarnya.


Siapa tahu nanti juga Andrea mengendusi tidurnya karena haus, jadi bisa langsung ambil air minum dari atas nakas, tidak perlu berjalan lagi untuk mengambil air ke dispenser, meskipun mesin penampung air minum itu memang tersedia di kamar itu. Yah, seperhatian itu Varen kalau soal Andrea.


Mata Varen teralih pada ponselnya. Ia tidak mematikannya, hanya men-sunyikannya saja. Sementara ponsel Andrea masih berada di dalam clutch bagnya. Varen meraih ponselnya, lalu mendudukkan diri diatas ranjang dengan hati – hati, takut mengganggu tidur Andrea.

__ADS_1


Banyak chat yang masuk ke ponselnya, tapi grup keluarga yang sepertinya sedang ramai itu Varen buka lebih dulu. ‘Hish!’ Varen membatin.


Papi : Ehem, Assalamu'alaikum


The Daddies n Nathan : Wa’alaikumsalam.


Papi : Permisi numpang tanya, yang lagi berduaan apa jadi Unboxing Perawan?


The Daddies n Nathan : Hahahahahaha


Mami : Kelakuan.


Papi : Wah, tidak ada sahutan dari yang bersangkutan.


Daddy R : Mungkin masih makan.


Poppa: Makan Anak Gue!.


Everybody : Hahahahahaha..


Nathan : Wah, masih tidak ada sahutan! Aaah aku penisirin!!!!..


Mama Jihan : Tan Taan.. anak kecil minggirrr!!


Everybody : Hahahahahaha..


Papa Lucca : Varen, first time do it slowly boy, make sure you get into the right hole ( Varen, yang pertama lakukan saja dengan perlahan, pastikan kau masuk ke lubang yang benar ).


‘Haish! Benar – benar mereka ini!’ Varen membatin sambil geleng – geleng membaca obrolan tak berfaedah digrup chatting keluarga mereka.


Momma : Setan tak berakhlak!


Everybody : Hahahahahaha..


Papa Lucca : I’m just giving advice as senior, okay? ( Aku hanya memberikan saran sebagai senior, okay? ).


Daddy Dewa : Masih ga ada sahutan guys!!


Varen : Maaf, anda – anda semua bisa diam ga?. Saya sedang sibuk.


Cekrek


( Sebuah foto disertakan Varen )


Grup chat bukanlah sepi tapi malah rusuh. Karena yang Varen tunjukkan adalah celana pendeknya dan kaosnya yang dipakai Andrea, yang tercecer di lantai.


Daddy Jeff: OH MY GOOOD ABAAANG JADI JUGA MEMBOBOL GAWANG INGGRIS!!


Mami : Wadidawwww!..


Nathan : Oh my Gat! Oh My Whow! Abangkuuu napsuan juga ternyata!


Everybody : Hahahahahaha..


Papi : WIDIIIHHHH ABAAANNNGG .. YA AMPUUN .. JEBRET JEBRET JUGA AKHIRNYAA!


Mommy Ara : Owgh putra Mom, semangat doa Mommy bersamamu sayaang. Di kulkas ada ginseng, rendam pakai air hangat lalu minum biar stamina terjaga.


Daddy R : Anakku sudah besar..


Poppa : Just one round ( Satu ronde saja ) Bocah tengik! Jangan menyiksa putriku!


Everybody : Hahahahahaha..


Mom Ichel : Jangan sampai tersedak susu ya Abaanngg ..


Everybody : Hahahahahaha..


Varen cekikikan sendiri saja membaca tiap obrolan tak berfaedah digrup keluarga mereka, yang terus ramai setelah ia mengirimkan gambar pakaiannya dan Andrea yang berserakan dilantai, berikut segitiga pengaman Andrea yang ikut ter foto sebagian, karena tercecer didekat celana si pendek si Abang yang warnanya kontras dengan segitiga pengaman berbentuk kupu – kupu milik Andrea.


Varen tak lagi melanjutkan baca, karena Andrea nampak mulai terusik dalam tidurnya.


“Engg..”


Mata berbulu mata lentik itu nampak bergerak perlahan. Andrea membuka matanya dan melihat Varen yang sudah


berbaring miring sembari tersenyum menatapnya.


“Sudah pagi ya?”


“Belum sayang”


“Huumm..”


“Tidur lagi, hem?”


“Drea haus”


Varen langsung bangun.


“Eh, biar Drea ambil sendiri saja”


“Abang sudah siapkan kok” Ucap Varen yang langsung mengambilkan gelas berisikan air minum yang memang sudah ia siapkan tadi.


Ah, Varen rasanya jadi haus lagi. Dalam artian yang lain tapi. Setelah Andrea bangkit dari tidurnya untuk meraih gelas yang disodorkan Varen padanya. Karena Andrea belum sadar, kalau ia masih tak berbusana, dan saat ia berusaha bangkit, selimutnya melorot hingga ke perut.


“Makasih Abang”


Andrea sepertinya sangat kehausan, karena ia meminum habis air didalam gelas, dimana Varen juga meneguk salivanya, memperhatikan Nunu dan Nana yang seolah sedang memanggilnya. Ah, dada Abang seperti ombak dilautan yang bergemuruh.


“Abang kenapa bangun?. Abang lapar?. Drea buatkan sesuatu?. Kalau mie instant, sandwich saja sih Drea bisa” Ucap Andrea setelah meletakkan gelas yang sudah kosong itu ke nakas disampingnya. “Abang?” Andrea menyentuh wajah Varen yang orangnya seperti sedang bengong itu.


Varen pun tersadar dan ia sedikit gelagapan.


“Abang kenapa?”


“Huumm? ..”


“Kok bengong?”


Andrea sedikit heran.


“Habis Drea ..” Ucap Varen.

__ADS_1


“Loh memang Drea kenapa?” Tanya Andrea bingung.


“Senang sekali menggoda Abang”


“Mana Ada Drea menggoda, coba?”


“Tuuuuh”


Andrea mengikuti mata Varen yang menunjuk ke satu arah dibagian tubuhnya.


“Ih Abang apaan sih!”


Andrea sontak langsung menutupi dadanya dan mencoba menarik selimut untuk menutupi Nunu dan Nana.


“Abang!” Andrea memekik saat Varen langsung menarik dirinya ke atas pangkuan Varen setelah suaminya itu menahan selimut yang ingin ditarik Andrea untuk menutupi Nunu dan Nana.


Dada Andrea berdebar kencang kala sudah berada diatas pangkuan Varen yang duduk bersandar dikepala ranjang,


meletakkan tangannya dikedua pinggul Andrea yang polos dan menatap istrinya dengan penuh arti. “Aku merasa seperti maniak sekarang”


Varen menatap lekat lekat manik mata Andrea yang masih agak sedikit canggung dengan keadaan dirinya yang polos tanpa busana dan dihadapkan langsung oleh sang suami, meski Varen tidak melakukan apa – apa , hanya memegang pinggulnya, menatap dalam ke netranya dan bicara.


“Diri kamu saja seutuhnya sudah membuat aku gila sebelum ini. Dan sekarang, tubuh kamu semakin membuatku gila, Little Star”


Varen menghela nafas frustasi sambil menyandarkan punggungnya lebih rapat ke kepala ranjang.


“Aku ini macam menjilat ludahku sendiri rasanya.”


Varen menghela nafasnya lagi, sedikit lebih panjang dari yang tadi.


“Abang, kok bilang begitu?”


“Memang seperti itu kenyataannya sayang” Ucap Varen sambil membawa Andrea menempel kedadanya.


“Abang..”


“Tadinya Abang baru akan menikahi kamu saat kamu lulus sekolah. Tapi nyatanya saat Poppa dan Dad menawarkan untuk menikahi kamu Abang tak mampu menolak, karena memang Abang sangat bahagia”


“.....”


“Abang .. sebenarnya, menahan untuk tidak menyentuh kamu hingga kamu berusia delapan belas tahun. Bukan


apa – apa, hanya..”


“Takut disangka fedofil?” Ucap Andrea asal yang membuat Varen terkekeh kecil.


“Kamu nih, kalau bicara suka asal” Sahut Varen yang menunduk sambil menatap Andrea dan mengelus rambut Andrea yang sedikit berantakan.


“Lalu? Kan karena Abang berpikir Drea yang masih tujuh belas tahun ini anak kecil, jadi selama ini Abang begitu menahan diri” Ucap Andrea. “Abang nih, kuno sekali” Ejek Andrea.


Varen terkekeh kecil.


“Bahkan anak – anak kerabat dari keluarga kita saja beberapa ada yang tinggal bersama dengan pacar mereka diusia yang sama dengan Drea. Bahkan beberapa teman di St. George sudah melepaskan keperawanan mereka diusia lima belas tahun”


Varen tersenyum tipis mendengar ucapan Andrea yang panjang lebar, lalu terkekeh lagi sambil memencet gemas hidung Andrea. “Enak saja bilang aku kuno” Ucapnya.


“Memang iya” Andrea ikut terkekeh.


“Ya ga apa sih, kalau aku dibilang kuno. Aku hanya ingin membuktikan kalau aku tulus mencintai kamu”


“.....”


“Tapi ternyata aku mengingkari janjiku pada diri sendiri. Sudah ‘menyentuh’ kamu bahkan sebelum acara resepsi kita digelar”


“Karena Drea begitu menggoda iya kan?”


Varen terkekeh lagi. “Terlalu menggoda!”


Cup


Andrea mengangkat kepalanya dari dada Varen lalu menangkup wajah Varen dan mengecup bibir suaminya itu dengan lembut.


“Tuh kan. Sudah mulai menggoda lagi” Varen membalas kecupan Andrea yang sempat menyunggingkan senyumnya, namun tak lama ia melingkarkan tangannya dibelakang leher Varen. Yang kemudian berlanjut menjadi cumbuan yang sedikit .. yah anget menuju panas.


“Abang ..”


Nafas Andrea mulai tersengal, bibir Varen kian intens menyerang lehernya sekarang.


“Drea mengantuk?”


“Engga”


“Letih?”


Ehem!


“Engga”


“Boleh.. kalau Abang minta lagi?..” Ucap Varen yang kini menangkup wajah Andrea dan menatapnya dengan mata


yang sudah nampak sayu dan suaranya yang mulai terdengar berat. Andrea mengangguk tanpa ragu.


Haahh dasar penganten baru..


“Drea diatas ya.. sekarang, Abang?..”


“Hu um ...”


*


*


*


“Faster-hh ( Lebih cepat-hh ) .. Little .. Star ..”


****


Kaboooorr..


****


To be continue ..

__ADS_1


__ADS_2