THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 320


__ADS_3

THE PSYCHO SIDE


( Sisi Psikopat )


PART 1


Selamat membaca .....


***************************


Rumah Sakit


“Mar ..”


Poppa berbicara pada Omar yang sedang bersamanya di ruang rawat Andrea, setelah orang kepercayaan Poppa


itu membawakan kopi yang ia beli di kafe yang berada di area Rumah Sakit bersama dua orang anak buahnya, untuk enam Tuannya yang berada disana.


“Iya Tuan Andrew” Jawab Omar.


“Lebih baik kau pulang dan beristirahatlah. Minta juga mereka yang tadi menyertai aku dan mereka ini untuk juga beristirahat. Jika tidak memungkinkan untuk bersamaan, maka kau aturlah agar mereka bisa beristirahat dengan cukup. Tapi kurasa kita punya cukup orang untuk dirolling kan?”


“Lebih dari cukup Tuan Andrew” Jawab Omar lagi.


“Ya sudah kau pergilah pulang dulu” Ucap Poppa.


“Jangan terlalu memikirkan tentangku Tuan Andrew. Lebih baik anda semua saja yang kembali ke Kediaman untuk beristirahat. Biar saya yang menemani Tuan Muda Alvarend disini”


“Tidak mengapa Omar, Andrew benar. Kau pergilah beristirahat dulu. Lagipula baru esok kami akan mengurus


kelanjutan semua ini”


“Tidak Tuan R, aku..”


“Jangan membantah ku Omar ..... jika tidak kau ku pensiunkan dini”


“Baiklah Tuan Andrew” Jawab Omar. “Tapi aku masih menunggu kabar soal keberadaan wanita bernama Dilara itu


Tuan”


Varen kemudian mendekat. “Kita kehilangan dia?”


“Iya Tuan Muda. Ammar mengatakan padaku tentang itu. Dia sudah mengirimkan pesan serta mencoba menghubungi anda namun tidak bisa, Tuan”


“Ponselku habis daya”


“Dia sudah pergi bersama tangan kanannya dengan sebuah helikopter dari pulau, saat anak buahnya masih coba menangani Nona Andrea di yachtnya”


“Sial!!”


“Kau tenanglah, aku sudah akan membereskannya”


“Tapi dia mau ke Rusia kan?” Ucap Varen geram.


“Memang, biarkan saja. Uncle Vla-mu sudah menunggunya. Tapi kurasa juga dia tidak jadi pergi ke Rusia”


“Mengapa Poppa begitu yakin?”


“Suami tercintanya dan Putri kesayangannya ada padaku”


“Apa kau yakin dia perduli dengan suami dan putrinya?”


“Suaminya aku tak tahu. Tapi kalau putrinya tentu saja aku yakin kalau wanita sialan itu sangat menyayangi anak perempuannya itu”


“Oh ya?”


Poppa berdehem sembari manggut – manggut.


“Dia mengatas namakan lebih dari setengah harta kekayaannya atas nama Putrinya” Lanjut Poppa.


“Dan memang dari hasil penyelidikan juga membuktikan kalau wanita itu sangat melindungi putri semata wayangnya itu” Tambah Daddy Jeff.


“Lalu?”


“Hanya tinggal menunggu dia menghubungiku”


“......”


“Dan pasti akan menghubungiku, setelah dia melihat wajah putrinya terpasang dalam situs ‘pelelangan’ di situsnya sendiri. Bahkan sudah ada yang menawar”


“Terus lo tanggapi?” Daddy Dewa menyela untuk bertanya.


“Of course! (Tentu saja!)” Sahut Poppa.


“Sakit memang lo, Ndrew, Ndrew”


“Hahahaha!”


“Kau melakukan itu, Pop?”


“Eye for eye, Boy!... (Mata untuk Mata, Nak! ..)”


“......”


“Dia kan juga melakukan hal yang sama pada Via dan Little Star. Memasang foto mereka di situs ‘pelelangan’


gelap miliknya. Jadi kulakukan hal itu juga pada putrinya lah!”


“Tapi dia akan mencarimu untuk menawarkan sejumlah uang untuk menukar putri dan mungkin suaminya juga”


“Apa kau melihatku sudah jatuh miskin, bocah tengik?!” Celoteh Poppa dan si Abang terkekeh kecil.


“......”


“Aku menyuruh Sean untuk menahan suami wanita keparat itu. Masalah nanti dia mau kuapakan tergantung mood ku. Aku sedang fokus bermain dengan menggunakan putri mereka”


“Jika wanita nista itu benar – benar meminta bertemu denganmu untuk melakukan penawaran?”


“Aku terima dengan tangan terbuka” Sahut Poppa.

__ADS_1


“Lalu?”


“Membuatnya melihat apa yang selama ini ia sudah buat pada gadis – gadis yang ia jerumuskan melalui putrinya”


“Kau akan benar – benar menjual anak gadisnya, Pop?”


“Tidak”


“Masih punya hati ternyata”


“Aku memang tidak akan menjual anak gadis dari perempuan keparat itu. Tapi aku akan memberikannya secara gratis untuk pria paling buruk yang sudah memberikan penawaran. Dan akan kubuat dia menyaksikannya secara Live”


“Sadis”


“Masih bagus daripada aku mengeluarkan organ tubuh putrinya dan ku jejali kemulut perempuan keparat itu. Setidaknya jika ku habisi ibunya yang keparat itu, gadis tersebut masih bisa hidup layak meski menjadi peliharaan seseorang, bukan?”


Santai saja Poppa berbicara. Omar dan satu orang yang masih berada di dalam ruangan cukup kaget juga mendengar ucapan Poppa barusan. Terlebih kalimat pertama Poppa.


“Well, tak heran kau ditakuti setengah Erop ya Pop?..” Varen mendengus geli sembari geleng – geleng.


“Sebelum Papa Lucca-mu, Poppa mu sudah lebih dulu menyandang predikat ‘Gila’ dibelakang namanya” Celetuk Papi John.


Varen manggut – manggut. “Aku percaya kalau itu benar. Mengingat kau pernah melakukan hal yang lebih parah dari ini pada orang – orang yang pernah mencelakai Momma”


“Heh! Bicara soal parah! Dad mu juga parah. Aku tidak sampai memutilasi tangan seorang perempuan karena


mencelakai Mommy Peri kalian” Cicit Poppa. “Juga menyiksa laki – laki yang sudah menyekap Mommy-mu bahkan sebelum mereka menikah dengan menyiksa laki – laki itu selama berbulan – bulan sampai meregang nyawa”


“Iya, ga memutilasi. Tapi Cindy lo tempatkan di pulau terpencil dimana ga ada manusia yang tinggal disana”


“Belum lagi si Nick yang bekerjasama dengan si Cindy. Lo kan mencungkil matanya dalam keadaan hidup”


'Apa?!' Batin Omar dan satu anak buahnya.


“Ck! Sudahlah gue ga sudi mendengar nama mereka lagi!” Decak Poppa. “Mereka membuat Fania gue hampir


kehilangan nyawa. Jangan salahkan kalau gue menggila”


“Kau cungkil mata orang dalam keadaan hidup, Pop?”


“Dia menembak istriku. Bahkan memandangi istriku dengan liar sebelumnya juga hendak membawanya pergi jauh dariku untuk dia miliki. Cih!” Decih Poppa.


“Orang yang menabrak Momma. Kau cungkil juga matanya?”


“Tidak”


“.....”


“Hanya ku keluarkan saja sedikit sternum nya, lalu ku tempatkan dimana tidak ada celah untuk sinar matahari bahkan setetes air pun yang bisa masuk”


“Psycho!”


“I don’t care!”


‘Wow. Aku mengabdi pada seorang Psikopat selama ini ternyata’


Omar yang diam saja mendengarkan percakapan para Tuannya itu membatin, karena memang ada beberapa kisah yang dia tidak tahu.


“Bicara tentang selamat Ndrew ....”


“Kenapa?”


“L....”


“Ehem!”


Sebuah deheman berasal dari arah pintu sebelum Daddy R menyelesaikan ucapannya setelah membaca pesan yang masuk ke ponselnya.


‘Habislah....’ Hati Poppa rasanya langsung down melihat penampakan yang baru saja datang dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Namun senyuman dari wajah cantik dari wanita pujaan Poppa itu nampak seperti senyum membawa luka bagi Poppa kini.


Poppa langsung berdiri. Kala Momma ternyata tahu – tahu datang bersama Mommy Ara tanpa pemberitahuan.


“Heart......”


Diberikan senyum tertampan Poppa untuk Momma.


Yang orangnya kemudian menanyakan keadaan Andrea pada yang lain, lalu hendak berjalan menghampiri brankar tempat Andrea terbaring.


Namun sebelum melanjutkan langkah untuk melihat kondisi putrinya itu. Momma berdiri tepat dihadapan Poppa.


“Tetap di tempat kamu, jangan membuat pergerakan sedikit pun. Sebelum aku selesai lihat Drea” Momma mempertahankan senyumnya pada Poppa, namun ia berbicara dengan merapatkan giginya.


“O-okkay, Heart ....” Poppa mengangguk patuh.


“Omar!”


“Ya Nyonya Fania?”


“Suruh anak buah kamu panggil Dokter kesini”


“Apa kamu sakit Heart?”


“Aku ga ngomong sama kamu!”


“Iya maaf..”


“Dokter untuk apa Momma?. Tadi Uncle Alan sudah mengecek Drea”


Abang bersuara.


“Omar!” Namun Momma abaikan si Abang.


“Ya Nyonya Fania?”


“Mintakan semua obat bius yang ada di ini Rumah Sakit!”


Momma memandang Poppa.


“Aku mau nagih hutang biusan!. Mau masuk ICU kan?”

__ADS_1


Gluk!


Poppa menelan kasar salivanya.


Momma pun langsung bergegas menghampiri Andrea.


‘Kenapa dia menjadi pendendam begitu sih? ...’ Batin Poppa. ‘Tapi iya masa Heart tega mau membius gue balik dan benar – benar membuat gue terbaring di ICU? Haishh.. bisa saja sih kalau dia tak terima karena gue bius dia. Tapi kalau gue ga bius, pasti dia nekat. Lalu kalau dia kenapa - kenapa, kan gue yang paling menderita?!. Ck! Simalakama’


Ada gurat kecemasan yang nampak di raut wajah Poppa.


Daddy R, Mommy Peri dan Daddy Jeff cekikikan, kecuali Omar yang hanya bisa cekikikan dalam hati.


Sementara Varen, Daddy Dewa dan Papi hanya menaikan alis mereka akibat tidak tahu permasalahan Momma dengan Poppa.


Meski sadar dengan jelas ada sesuatu yang terjadi dengan si Donald Bebek dan si Kajol, karena Poppa nampak


terlihat salah tingkah saat Momma muncul.


‘Tapi ini beda. Psikopat takut istri. Ahaha!....’ Batin Omar mengolok sang Tuan. ‘Tuan Andrew, Tuan Andrew. Kejam diluar kalau lagi senget, tapi asal buat salah pada Nyonya Fania, langsung kicep dia’


Omar mencoba memalingkan wajahnya sambil menahan geli didalam perutnya, melihat wajah sang Tuan nampak


sedikit pias.


'Psikopat yang seorang Susis ini sih! Psikopat sieun istri. Ahahaha... oh Tuhan aku ingin tertawa dengan sangat kencang sekarang’


***


‘Tarik nafaas ..’


Momma mengatur nafasnya.


‘Buang ..’


Setelah selesai melihat kondisi Andrea dengan ditemani Mommy Ara dan Varen yang sudah mendekat ke brankar Andrea tadi.


“Oh Tuhan, betapa aku gemas sama si Donald Bebek sekarang”


Momma menggumam.


“Kalo di rumah, udah gue gebukin nih bapaknya Drea sama Rery ..”


Kemudian Momma melanjutkan langkahnya mendekati Poppa yang katakanlah patuh, karena sesuai titah Momma


yang tidak memperbolehkan Poppa untuk bergerak sesaat sebelum ia melihat kondisi Andrea, Poppa pun tidak beranjak dari tempatnya.


“Heart ..” Suara Poppa dibuat selembut mungkin dengan senyum terbaik yang ia punya, dan kini dilemparkan pada Momma yang sudah berdiri di hadapannya.


Sementara Momma sudah mengepal dua tangannya di depan dada, sembari membuat ekspresi betapa


geregetan nya Momma pada suaminya itu.


“Maaf..”


“Aku nih, nahan – nahan sekuat tenaga supaya ga teriak. Tau?!”


“Iya tahu..”


“Dan gara – gara aku ga bisa maki – maki kamu sekarang, emosi aku ketahan, kepala aku jadi migrain. Tau?!”


“Iya, Maaf ..”


“Ga usah pasang tampang melas begitu. Makin aku kesel liatnya. Ish, betapa aku pengen sekeh kepala kamu, ugh”


Momma sebisa mungkin menjaga nada suaranya di ruang rawat Andrea. Namun tak bisa menutupi wajah kesal


setengah matinya pada Poppa saat ini.


“Bisa – bisanya kamu bius aku, hem?”


“Aku tidak mau kamu membahayakan diri untuk ikut menyelamatkan Little Star dan Via Heart. Aku takut terjadi apa – apa pada kamu”


“.....”


“Kamu tahu betapa aku selalu mengkhawatirkan kamu dari dulu. Belum lagi kamu sudah dua kali hampir kehilangan nyawa”


“Iya tapi kenapa pake segala bius aku, hah?” Tak tahan juga tangan Momma yang akhirnya kepalannya sampai ke


dada Poppa.


“.....”


“Ngomong baik – baik ga bisa emang?”


“Iyaa macam kamu bisa dibilangin kalau sudah panik dan khawatir seperti tadi, Heart. Kamu pasti akan terus – terusan memaksa dan berontak kalau aku larang”


Momma mendesis kesal, sembari masih mendelik menatap Poppa. Yang orangnya nampak sekali berhati – hati dalam bicara, membuat mereka yang berada di dekatnya seketika merasa ada geli dalam perut mereka.


“Kalau terjadi apa – apa sama kamu, kan kamu tahu aku bisa seperti apa?. Little Star saja sudah membuatku panik, khawatir setengah mati. Kalau ditambah tadi kamu ikut, mana ada baku tembak juga lalu kamu kenapa – kenapa. Penyesalan aku seumur hidup pasti”


Poppa memelas.


“Iya kenapa harus pake segala bius aku? Pusing tau kepala aku pas bangun? Dikata aku macan sumatra kali”


“Iya maaf..”


“Huh!”


“Nanti aku tebus kesalahan aku yang sudah lancang membius kamu, hem?. Hanya itu yang terlintas dalam pikiran aku untuk mencegah kamu melakukan kenekatan. Yakin kamu tidak akan tinggal diam kalau aku suruh tunggu kabar di Kediaman”


“.....”


“Aku keterlaluan. Iya, karena membius kamu. Tapi aku hanya takut terjadi hal yang buruk pada kamu, Heart. Itu saja”


“.....”


“Aku ‘kan tanpamu, butiran debu..”


“Heleh!”

__ADS_1


***


To be continue ...


__ADS_2