THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 88


__ADS_3

🕑  HARI YANG MELELAHKAN  🕑 Part Three ( Bagian 3 )


Selamat membaca ...


******


Fania’s Garage and Cafe, London, England


“Where is she ( Dimana dia? ).” Andrew yang langsung putar balik ke Garage milik Fania, setengah berlari saat sudah sampai disana setelah mendapat informasi ditengah jalan saat menuju Buckinghamsire untuk menyusul Fania.


“She’s inside ( Dia didalam ).”


“How is she? And how about that two rascals? ( Bagaimana keadaannya? Lalu dua penjahat itu? ).”


“They already caught and police were arrested them ( Mereka sudah tertangkap dan polisi sudah menahan keduanya ).” Reno berbicara dengan Walker sementara Andrew langsung setengah berlari untuk sampai ke Fania. Andrew berpapasan dengan Pam saat sudah masuk ke area kafe melalui pintu yang terhubung dengan


bengkel.


“Hi, Andrew! ( Hai Andrew! ).”


“Pam! Is she okay? ( Pam! Apa dia baik – baik saja? ).” Andrew langsung bertanya pada Pam.


“Ya she’s okay ( Ya dia baik – baik saja ).“ Sahut Pam. “But she was just fall asleep, a little bit exhausted I guess ( Tapi dia baru saja tertidur. Sedikit kelelahan gue rasa ).”


“Okay. Thanks Pam! ( Oke. Makasih Pam! ).”


“You are welcome ( Sama – sama ).”


Andrew membuka pintu ruangan pribadi Fania yang berada di dalam kafe secara perlahan, dan mendapati Fania sedang berbaring miring dengan mata terpejam nampak begitu lelap.


Andrew mendengus pelan saat sudah mendekati Fania dan sedikit ada lebam di dahi wanita tercintanya itu.


‘Oh Heart ....’ Andrew membatin saat melihat kondisi Fania yang meski tak nampak terluka namun Andrew tetap merasa khawatir dan memelas. Ditambah lagi wajah Fania yang terlelap memang tampak begitu lelah seperti yang dibilang Pam tadi. Andrew berjongkok dihadapan Fania yang nampak pulas itu.


Mengangkat kepala Fania yang tertopang diatas lengan istrinya itu dengan sangat perlahan dan hati – hati.


***


Reno masuk tak lama selesai berbicara dengan staff Fania di bengkel, setelah Ezra datang dan membantu para staff di bengkel Fania untuk mengurus segala hal yang diminta Fania sebelum ia masuk dan beristirahat di ruangan pribadinya.


“How is she? ( Bagaimana keadaannya? ).” Reno bertanya dengan amat sangat pelan pada Andrew yang sedang duduk dilantai sambil tangannya menopang kepala Fania. “Walker said she was fight with that woman who cheated them ( Walker bilang dia sempat berkelahi dengan wanita yang menipu mereka ).”


“Ya, there a bruise on her fore head ( Iya, ada lebam didahinya ).”


Andrew juga menjawab dengan sangat pelan. Tak ingin membangunkan Fania.


Reno mendekat dan menyampirkan sedikit rambut Fania untuk melihat lebam yang dibilang Andrew.


“Nanti di kompres sekaligus diobati di Mansion.” Ucap Reno masih dengan suara yang pelan dan Andrew mengangguk.


Reno kemudian mendudukkan dirinya di sofa single sambil menghela nafasnya. Ia me - rileks - kan dirinya sendiri dengan menopangkan lehernya di sandaran sofa.


Sementara Andrew tetap setia berada disamping Fania yang pulas, meski ia harus duduk di lantai.


****


Andrew membuka matanya yang sempat ia pejamkan saat merasakan pergerakan pelan dari kepala Fania yang ia topang kan disatu tangannya.


Fania menggerakkan pelan kepalanya saat ia mulai terjaga dan membuka matanya. “D? ....”


“Hey Heart ....”


“Kak Ren?....”


“Little F, lo ga apa – apa?.” Tanya Reno yang sudah membuka matanya juga setelah sempat memejamkan matanya sebentar.


Fania pun mengangguk pelan.


“Bentar, gue ngumpulin nyawa dulu.”


“Take your time, Heart ( Santai saja, Heart ).”


“Eh? ....”


Fania menyadari kalau bukan tangannya sendiri yang menopang kepalanya, melainkan tangan Andrew.


“It’s okay ( Ga apa – apa ).” Andrew membelai rambut Fania yang kemudian bangun dan duduk.


“Kesemutan pasti tangan kamu, ya?.”


“No, Heart ( Engga kok, Sayang ).”

__ADS_1


Fania meraih tangan Andrew yang tadi menopang kepalanya saat ia sempat tertidur. Mengelus pelan tangan Andrew sembari tersenyum.


“Maaf ya ...”


“Ga apa, Heart.” Andrew mengacak pelan rambut Fania sembari juga tersenyum.


“Lo sudah makan, Little F?.” Tanya Reno pada adik kesayangannya itu, dan Fania menjawab dengan gelengan kepalanya.


“Ya sudah kita pergi keluar untuk makan, sekaligus ajak yang lainnya jika mereka mau ikut. Setelah itu kita kembali ke Mansion.” Ucap Andrew dan Fania serta Reno langsung mengiyakan.


***


Fania, Andrew dan Reno sudah berada di dalam mobil bersama Ben. Ben sudah bercerita sedikit banyak pada Reno saat salah satu Tuan Mudanya itu tiba di Bengkel Fania dan Ben memang masih berada disana.


“Are we going back to Mansion, Sir? ( Apa kita langsung kembali ke Mansion, Tuan? ).”


“No Ben, we’re going to eat first ( Engga Ben, kita makan dulu ).”


“Okay Sir ( Baik Tuan ).”


“Mau makan dimana Kak?.”


“China Town aja gimana?. Udah lama kita ga ke EWO.” Sahut Reno pada Fania.


“Ya udah kebetulan gue laper berat, butuh nasi!.”


Andrew dan Reno langsung terkekeh.


“China Town, Ben.”


“Yes Sir ( Ya Tuan ).”


“You also join us Ben ( Lo juga harus ikut makan Ben ).”


*****


East West Oriental, China Town, England


“Lo kenapa ga bilang mau ke London?.”


“Gue buru – buru abisan. Pas Pam bilang ada yang ganjil dengan beberapa berkas pembelian barang buat Garage,


Andrew, Reno dan Fania sudah berada disebuah restoran yang tergolong biasa di daerah China Town yang dikelola oleh pasangan asal Indonesia yang menyajikan menunya kebanyakan adalah masakan khas Indonesia.


Ben juga ikut makan ditempat yang sama dengan ketiga majikannya itu namun memilih untuk duduk dimeja yang


berbeda, meski tiga orang majikannya sudah memaksa untuk bergabung dimeja mereka.


“Iya kenapa ga ngomong sama gue dan Andrew sebelumnya kalau mau kesini?.”


“Dibilang gue buru – buru, ga ada rencana.”


“What R means is ( maksud R itu ) kenapa kamu ga bilang aja soal masalah di Garage kamu itu, jadi kami yang


menyelesaikannya disini dan kamu ga perlu repot seperti ini, Heart.”


“Ya aku pikir kalian kan lagi ngurusin masalah yang lumayan pelik di Perusahaan.” Sahut Fania. “Jadi aku ga mau ngerepotin.” Sambungnya. "Meskipun ujungnya iya."


Reno dan Andrew terkekeh.


“Kapan gue sama Andrew merasa lo repotkan, Little F.” Reno geleng – geleng sambil menyuap nasi kapau yang ia pilih untuk ia santap. Laper banget kakak ganteng romannya. Andrew dan Fania juga menyantap menu yang sama dengan Reno.


“Ya kan gue mikirnya kalian berdua lagi ngurusin masalah di Perusahaan mungkin agak berat, sampe kalian turun tangan sendiri dateng kesini. Lagipula ditu kan Garage punya gue Kak, ya gue harus atasin masalah bisnis gue sendiri kan, jadi kedepannya gue bisa lebih berhati – hati dalam mempekerjakan orang.”


Fania menyuap nasi kapau nya.


“Rencananya pas nyampe kesini gue mau bilang sama kalian soal masalah di Garage. Tapi kayaknya kalian tadi lagi sibuk banget. Jadi gue langsung ke Garage aja sendiri. Ga taunya ribet juga masalah di Garage gara - gara dua orang itu.”


Andrew dan Reno saling tatap.


“Oh iya, tadi aku ke Perusahaan sebentar.”


“Iya aku tahu. Ponsel kamu tertinggal di atas meja aku.”


“Oh iya. Mana D?.”


“Ada di mobil.”


“Hmmmmm ya udah.”


“Heart..”

__ADS_1


Fania menoleh pada Andrew.


“Ya?.”


“Tadi kamu lihat apa yang terjadi di lounge?.”


“Iya ..”


“Sampai bagian mana?.” Tanya Andrew hati - hati.


Fania tersenyum pada Andrew.


“Kenapa? ..”


Andrew pun tersenyum pada Fania.


“Aku dan R takut kamu salah paham.”


Fania masih tersenyum dan memandangi Andrew serta Reno bergantian.


“Tadinya ..”


Andrew dan Reno yang sudah selesai makan memperhatikan Fania berbicara.


“Sepanjang perjalanan dari Perusahaan ke Garage aku memikirkan soal itu. Tapi, setelah aku pikir – pikir ya... gue rasa kalian ga akan serendah itu.”


“Makasih ya, Heart..”


Sementara Reno mengulum senyumnya sembari mengacak – acak rambut Fania.


“Cama – cama.”


“Ya sudah, habiskan makanan kamu, biar kita bisa segera pulang dan mengobati luka di dahi serta ruas tangan


kamu itu.”


“Oke Donald Bebek!!!! ..”


“Ya, kita harus istirahat. Besok kita menyusul ke California.” Ucap Reno yang sudah menyelesaikan makannya.


“Urusan Garage gue belum selesai Kak.” Sahut Fania.


“Sudah diurus, lo tenang aja. Semua barang yang ilegal sedang dikumpulkan beserta bukti lainnya. Ada kemungkinan dua orang yang bermasalah itu tergabung dalam sindikat pasar gelap.” Ucap Reno. ”Mungkin sebelum berangkat ke California kita mampir ke Garage lo dulu, supaya lo bisa cek lagi agar lo tenang. Gue sama Andrew nanti bantu juga.”


Fania manggut – manggut.


Empat orang yang sudah menyelesaikan makan siang mereka yang tertunda itupun langsung kembali ke Mansion sesudahnya.


***


Adjieran Smith Family Mansion, London, England


“Si Ben suruh istirahat juga itu, D.”


Andrew pun mengangguk dan membebas tugaskan Ben lalu menyuruhnya untuk juga pergi beristirahat. Supir


pribadi mereka yang setia itu pun mengangguk patuh.


“Ouch! ....” Fania spontan meringis saat Andrew merengkuh pinggangnya dan memegang perutnya.


“Kenapa Heart?.” Andrew dan Reno yang mendengar lenguhan Fania spontan menoleh.


“Ga apa – apa.”


“Coba gue lihat.”


“It’s okay kok Kak, Cuma kepentok aja tadi.”


“Duduk sini dulu.” Andrew mendudukkan Fania di ruang tamu.


“Beneran deh. Asli ga apa – apa kok.”


Fania mencoba menahan bawah kaosnya agar tidak disingkap oleh Andrew ataupun Reno.


“Ck.” Andrew yang sudah berjongkok menyingkap sedikit kaos Fania yang Cardigan nya sudah ia lepas saat pulang dari Amersham Station.


Andrew membelalakkan matanya saat melihat lebam yang agak lebar disekitar perut Fania. Reno yang sudah sedikit menundukkan tubuhnya itu melihat apa yang membuat Fania sedikit meringis tadi, pun berekspresi sama dengan Andrew saat melihat lebam disekitar perut adik kesayangannya itu.


**


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2