THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 194


__ADS_3

💗  RUANG HATI  💗


Selamat membaca ..***********************


Massachusetts, Amerika Serikat ...


 


“Abang!....”


“Abang!....”


“Ih, Kak Drea, I want to hug Abang too!. He’s my brother, okay?! ( Aku mau memeluk Abang juga!. Dia kakak aku, Oke?! ).”


“He’s also my brother, okay? ( Dia juga kakakku, oke? ).”


“Haish!.” Varen menggelengkan kepalanya melihat keributan dari dua anak cewe yang berbeda usia dan sedang saling berebut untuk memeluknya itu.


Sementara itu Daddy R dan Mommy Ara hanya senyam – senyum melihat Valera dan Andrea yang selalu saja ribut jika bertemu Varen. Valera yang selalu protes kalau Andrea yang selalu mendahuluinya memeluk Abang Varen dan Andrea yang selalu iseng menggoda Valera.


Andrea sudah naik ke kelas tiga SMA kini, sementara Valera yang sudah berusia sepuluh tahun itu mengikuti Varen dan Andrea sekolah dulu saat masih seusia dirinya, yakni Home Schooling.


Kini Andrea bersama Valera, Daddy R dan Mommy Ara sedang mengunjungi Varen yang lebih banyak tinggal di Massachusetts, karena ia sedang libur kenaikan kelas. “Sudah jangan bertengkar terus! ....” Ucap Varen pada pada Valera dan Andrea.


Valera menjulurkan lidahnya sedikit pada Andrea, dan Andrea juga dengan jahil membalas dengan juluran lidahnya juga pada Valera. “Cradle Abang!.... ( Gendong Abang! ).” Seru Valera sambil membuka kedua tangannya pada Varen. Varen pun tersenyum lebar.


“Depan atau belakang?.” Tanya Varen pada Valera.


“Belakang....”


Varen memposisikan dirinya berjongkok dan menghadapkan punggungnya pada Valera lalu dengan cepat adik


kandungnya itu bergelayut dipunggung Varen sambil kedua tangannya menopang tubuh Valera dibelakang. “Wow! You’re heavy now, huh? ( Kamu berat sekarang, ya? ).” Celetuk Varen sembari mulai berjalan menuju mobil dengan menggendong belakang Valera.


“Tapi tidak seberat Kak Drea!....” Sahut Valera yang juga berbicara dengan mencampur dua bahasa, seperti setiap orang dikeluarganya.


Andrea hanya senyam – senyum saja pada Valera begitupun Daddy R dan Mommy Ara. “Ish!.” Andrea mencubit gemas pipi Valera, lalu mereka berlima menaiki dua mobil yang berbeda menuju Penthouse yang sudah dibeli Daddy R sejak Varen kuliah di Harvard.


Namun berada di gedung yang berbeda dengan Apartemen pribadi Varen.


*****


“Kalian rencananya berapa hari disini?.”


“Satu minggu.”


“Kamu juga hanya tinggal seminggu disini, Little Star?.”


“Iya Abang. Minggu depan aku mau ikut Tan – Tan naik gunung dengan Kak Sony dan Kak Arya juga.” Sahut Andrea. “Boleh kan?. Aku sudah ijin pada Poppa dan dibolehkan.”


Varen pun tersenyum sambil mengangguk.


“Iya boleh. Boleh kalau memang perginya dengan Tan – Tan.”


“Yeay!.”


***


“Bulan depan usahakan datang ke Jakarta Bang, jadwal Arisan Keluarga tuh!.”


“Okay Mom!.” Sahut Varen pada Mommy Ara.


“Mana sini?.” Mommy Ara mengulurkan telapak tangannya pada Varen.


Varen menggerakkan dagunya pada sang Mommy. “Apanya yang sini?.”


“Moneylah!.”


“Ya ampun, Mom baru juga sampai sudah menagih uang Arisan saja! ....”


“Namanya juga Bandar.... harap maklum!....” Celetuk Daddy R terkekeh kecil.


Varen geleng – geleng. “Women! ( Perempuan! ). Iya nanti aku transfer Mom, memang aku pernah tidak bayar apa?. Lagipula masih bulan depan, dan aku tidak memegang rupiah saat ini....” Ucap Varen.


“Tenang kalau soal itu, Mom tahu persis kurs hari ini!....”


Ara masih mempertahankan posisi tanganya dan menggerakkan jarinya kini sambil memainkan alisnya pada Varen.


Varen geleng – geleng lagi. “Ya Tuhaann.” Varen mengeluarkan dompetnya lalu memberikannya pada Mommy Ara.


“Dreaaa!....” Mommy Ara memanggil Andrea yang sedang mengambil minuman di dapur Penthouse.


“Comiing ....” Sahut Andrea.


“Apa kamu ingin berbelanja, Sayang?....” Tanya Ara pada Andrea yang sudah duduk disampingnya kini.


“Wuih, Abang tajir. Banyak banget dolar di dompetnya!....”


“Habislah ....”


“Sekarang kau paham mengapa aku bekerja dengan sangat keras bukan?.” Celetuk Daddy R saat melihat Ara


mengeluarkan semua uang cash dari dompet Varen tanpa sisa, dan membaginya dengan Andrea. Sementara Varen menggerutu saja saat Mommy Ara mengembalikan dompetnya yang sudah kosong dari uang Cash yang ia punya.


***


“Boy, bisa bicara sebentar?.” Ucap Daddy R saat ia dan Varen hanya tinggal berdua sementara Mommy Ara, Andrea dan Valera sedang bersiap – siap untuk pergi ke Emol.


“Sure, Dad! ( Tentu, Dad! ).”


“Aku ingin bicara tentang hal yang pernah ku bicarakan empat tahun lalu denganmu.”


“About what? ( Tentang apa? ).” Tanya Varen santai pada Daddy R yang sedang berdiri disampingnya di balkon Penthouse.


“Tentang rencana perjodohan mu dan Andrea. Apa sudah kau pikirkan?.” Ucap Daddy R seraya bertanya. “Aku ingin tahu perasaanmu yang sesungguhnya pada Little Star mu itu. Jika kamu memang menyayanginya hanya sebagai adik, jelaskan pelan – pelan mulai dari sekarang pada Andrea.”

__ADS_1


Varen tak langsung menjawab. Menoleh sebentar pada sang Daddy, kemudian menatap lurus ke depan.


Daddy R memasukkan kedua tangannya di saku celana. “Dad memang tidak tahu bagaimana perasaan Little Star


juga padamu yang sebenarnya. Mungkin nanti Dad, akan meminta Mom yang menanyakannya pada Andrea. Usiamu sudah matang, My Boy. Kau sudah harus berpikir untuk masa depan.”


Varen manggut – manggut.


“Kalau kamu memang setuju dengan perjodohan ini, kami akan mengikat kalian setelah Little Star lulus sekolah. Masalah menikah itu dibicarakan lagi nanti. Tapi jika tidak, pastikan Little Star tak tersakiti kelak, jika memang perasaannya bukan hanya keposesifan semata padamu sebagai Abangnya.”


Daddy R menghadapkan dirinya pada Varen.


"Andrea bukan lagi anak - anak. Apa yang dia rasa sekarang sudah tidak bisa diabaikan begitu saja. Momma mu memiliki rasa pada Poppa sejak SMP dan terus bertahan hingga sekarang, begitupun Poppa padanya. Jadi mulailah pikirkan apa yang ingin kamu putuskan, My Boy."


Varen belum lagi menjawab.


“Dan dari apa yang aku tahu, kamu sedang dekat dengan Danita saat ini? Dan intensitas bertemu kalian sepertinya sering?.” Ucap Daddy R.


**


“Abang jadi kuliah di London?.”


“Belum tahu, Little Star. Abang masih agak sibuk dengan bisnis di Perusahaan Abang yang sekarang. Sedang membuat produk baru juga untuk sistem perlindungan keamanan di rumah tinggal namun yang lebih terjangkau untuk kalangan menengah.”


“Wuih keren banget Abangnya Drea nih! ....”


“My Abang too! ( Abang aku juga! ).”


“Iya! Iya! Iya!.” Andrea mencubit gemas hidung Valera saat dirinya, Varen, Valera, Daddy R dan Mommy Ara sedang makan di sebuah Restoran Halal khas Timur Tengah yang berada di Sekitar Boston.


Kelimanya pun terkekeh dan saling bercanda santai setelah itu.


**


“Tambah lagi Little Star?.” Tanya Varen saat mereka semua habis menyantap masakan ala Timur Tengah yang mereka sambangi sore ini. Andrea menggeleng.


Varen mengacak rambutnya.


“Biasanya nambah?....” Ucap Varen.


Andrea mengibaskan tangannya. “Ini porsinya banyak Bang!. Lagian ....”


“Selamat malam.” Sebuah suara yang berada dekat dengan kelima orang yang sedang duduk di sebuah meja dalam sebuah Restoran Timur Tengah di daerah Boston itu membuat mereka spontan menoleh.


‘Eh?.’ Andrea membatin.


**


Jakarta, Indonesia.......


 


“Eh Cute girl! Ga kapok – kapok dimarahin si Abang!.... Turun ga lo?!.”


“Elo aja yang lemes!. Lagian ini nih buahnya sudah pada matang. Sayang kalau dimakan musang nanti!.”


“Iyaaa!.”


******


“Eh iya, ntar lo ikut gue jemput Daddy R, Mom Peri sama Valera!....”


“Oh iya ya, mereka datang nanti malam ya?.”


“Huuum.”


“Kok lo ga ikut ke Massachusetts Tan?.”


“Jadwal gue padat!.”


“Sok!.”


“Bodo!.”


( Nathan sedang asik menikmati buah Matoa hasil petikan Andrea saat gadis itu sedang iseng memanjat pohon besar di halaman belakang Kediaman Utama yang berada di Jakarta ).


“Eh iya Cute Girl, gue mo tanya.”


“Soal?.”


“Perasaan lo ke Abang?. Lo kan udah gede nih, udah mau tujuh belas tahun, jadi gue rasa lo paham maksud omongan gue.”


“Ya perasaan gue sayang lah ke Abang! ..”


“Pastinya! Perasaan lo ke Abang itu sayang sebagai apa?. Abang kan udah dewasa Drea, kalo lo sayang Abang sebagai kakak sebagaimana lo sayang sama gue en adik – adik. Lo berhenti tuh manja berlebihan sama Abang. Berhenti mengekang dia ga boleh temenan sama cewe – cewe. Ya kecuali perasaan lo itu adalah perasaan seorang cewe ke cowo!.”


“Memang kenapa lo tiba – tiba ngomong begitu?.”


“Ya seperti yang gue bilang. Abang itu udah dewasa. Seiring waktu dia kan bakal nikah. Nah perasaan lo gimana ke Abang?. Kalo lo Cuma sayang sama Abang sebagai adik ke kakaknya, lo harus kasih Abang ruang buat cari pasangan. Kalo lo emang ‘cinta’ sama Abang, ya lo ngomong deh sama Abang.”


( Andrea terdiam )


“Tapi lo juga jangan egois, lo tanya perasaan Abang ke elo?. Kalau lo memang punya ‘cinta’ ke Abang, tapi Abang hanya menganggap lo adik, lo ga boleh marah Drea .... hati itu ga bisa lo paksakan.”


“Cie dewasa banget sih Tan – Tan sekarang.”


“Ck!. Gue lagi ngomong serius ini!.”


( Nathan masih asik menikmati Matoa )


“Lo harus bersikap dewasa mulai dari sekarang, Drea. Abang juga punya hak buat jalanin hidupnya, hatinya juga punya hak untuk memilih. Jangan sampai dia mengorbankan kebahagiaannya sendiri, hanya karena dia takut nyakitin elo!.”



Massachusetts, Amerika Serikat ...

__ADS_1


 


Tok .. Tok ..


“Masuk aja.”


“Little Star ....” Varen yang mengetuk pintu kamar Andrea di Penthouse mereka yang berada di Massachusetts itu.


Andrea tersenyum pada si Abang yang menyusulnya ke balkon kamar. “Ada apa Bang?.” Tanya Andrea pada si


Abang.


Varen menarik kursi single yang ada didekat tempat Andrea duduk.


“Drea marah sama Abang?.” Tanya Varen to the point.


“Engga. Kenapa gitu Drea


marah sama Abang?.” Jawab Andrea seraya balik bertanya.


“Karena Abang ga cerita kalau sekarang Danita tinggal di Massachusetts karena dia membantu mengelola Galeri milik temannya di Boston.”


“Engga kok Abang. Drea ga marah soal itu....”


“Benar?.”


“Iya benar.”


“Terus kenapa kamu diam saja sejak dari Resto, hem?.”


“Drea ngantuk Abang, sepanjang perjalanan pulang tadi.”


“Benar Drea ga marah?.”


“Ya ampun Abang Varen yang gantengnya luar biasa ga percaya banget sih?.”


Varen menunjukkan senyumnya.


“Serius Drea ga marah kok!. Kan Danita itu juga adik iparnya Uncle Vla, keluarga kan hitungannya dengan kita?. Lagipula Andrea yang sekarang ga seperti dulu, okay????.”


“Oh ya?. Memang yang sekarang seperti apa?.”


“Yah, berhubung Drea ini sudah besar, jadi lebih Open Mind. Abang bebas berteman dengan siapapun, karena


Drea juga kan punya banyak teman sekarang di Jakarta.... jadi ya sudah, Drea ga marah karena Abang ga cerita soal Danita yang tinggal disini.” Ucap Andrea dengan ceria.


“Wah, beneran sudah besar sekarang!....”


Andrea menunjukkan dua jarinya berbentuk V pada Varen. “Sebentar lagi Sweet Seventeen!.” Ucap Andrea.


“Jangan lupa kado!.”


“Iya... ga akan lupa!.”


“Special loh ya?.”


“Pasti Little Star ..”


**


“Andrea? ....”


Andrea menoleh saat seseorang menepuk pelan pundaknya, kala ia sedang duduk di sebuah Coffee Shop yang berada tak jauh dari kantor Varen. “Eh, Danita?.”


Andrea dan Danita sama – sama melempar senyum. “Kok sendirian?. Yang lain mana?.” Tanya Danita yang masih


berdiri dihadapan Andrea.


“Dad, Mom dan Valera sedang mengunjungi kerabat mereka, Abang masih di kantor. Tapi mungkin sebentar lagi


menyusul ke sini. Duduk?.”


Andrea mempersilahkan Danita untuk duduk dimeja yang sama dengannya. “Thanks.” Ucap Danita yang kemudian


mengambil tempat dikursi depan Andrea. “Sudah ga cemburu lagi kan sama aku?.” Ucap Danita dan Andrea terkekeh.


“Masih ingat aja.”


“Masih dong. Dulu kamu kan posesif sekali dengan Alvarend sampai sering memelototi aku.”


“Hahaha iya ....”


“Sekarang sudah engga dong, pastinya?. Kan kamu sudah besar sekarang ....” Ucap Danita.


“Ya enggalah. Sudah ga seperti itu sekarang.” Sahut Andrea. “Yah ga terlalu sih, haha  ..”


Danita terkekeh kecil. “Baguslah, kalau memang begitu.” Danita mengangkat satu tangannya pada seorang waitress.


“Alvarend kan ga selamanya harus menjaga kamu....” Ucap Danita yang kemudian memesan sesuatu pada seorang waitress yang menghampirinya.


Andrea sedikit terhenyak dengan ucapan Danita barusan.


“Dia punya hak untuk kehidupan pribadinya. Iya kan?.”


Andrea manggut – manggut.


“Termasuk soal pasangan hidup loh, saran aku ya .... kamu memberikan ruang bagi Alvarend untuk menjalani kehidupan pribadinya....” Ucap Danita dan wanita itu tersenyum. “Jangan sampai dia menahan kebahagiaannya sendiri, karena dia takut kamu terluka kalau dia jauh dari kamu. Tapi kan kamu sekarang sudah besar ya?. Ga


mungkin kan ya kamu se egois saat kamu kecil pada Alvarend?.”


Andrea pun hanya tersenyum saja.


‘Apa sebegitunya ya gue mengekang Abang?. Apa yang barusan Danita katakan, kurang lebih sama dengan yang diomongin Tan - Tan.’


**

__ADS_1


To be continue.......


__ADS_2