THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
JADI REBUTAN


__ADS_3

Selamat membaca .....


********


Melipir dulu ke London..


“D, nanti siang aku ke kafe.” Fania dan Andrew sedang berada di kediaman pribadi mereka.


“Jam?.” Tanya Andrew pada Fania.


“Mungkin setelah makan siang.”


Andrew manggut – manggut. “Are you going to take Andrea with you? ( Apa Andrea akan kamu ajak? )”


Fania menggeleng. “Engga kayaknya,” ucapnya kemudian. “Aku hari ini mau interview beberapa calon karyawan bareng Kak Dewa. Jadi nanti aku titip ke kak Ara. Katanya dia ga ke butik hari ini.”


“Kamu antar Andrea ke Perusahaan pusat aja, Heart. Aku ga terlalu sibuk hari ini.”


“Tapi kak Jeff kan belum balik, D?.” Sahut Fania.


“Ga apa. Ada Ezra.”


Fania tampak berpikir sejenak atas usulan Andrew barusan.


“Ya udah nanti sebelum berangkat ke kafe, aku anter Andrea ke Perusahaan.”


“Kalau begitu aku berangkat dulu, ya. Aku ada meeting pagi ini soalnya. Hanya sebentar. Selebihnya luang.”


Andrew sudah menyelesaikan sarapannya dan menyesap sedikit kopinya.


“Iya, hati – hati, D.”


“Iya, Momma. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


“Peluk cium aku untuk Andrea ya. I’m a little bit in hurry ( Aku sedikit tergesa ).”


“Oke Poppa.”


“Love you, Momma!.” Andrew mengecup kening dan bibir Fania.


“Love you more, Poppa.”


Fania melambai sambil tersenyum pada Andrew yang sudah berangkat dengan Ezra.


***


“Kak Dewa, makasih banyak yah.”


Fania sudah menyelesaikan urusan perekrutan karyawan bersama Dewa di kafe miliknya.


“Sama – sama, Naomy. Tapi aku langsung cabut yah. Michelle nungguin soalnya.”


“Iya Kak. Nanti gue sama Andrew dan Andrea juga ke mansion kok.”


Dewa mengangguk.


“Andrew jemput kamu kesini apa gimana?. Kalo engga, kamu bisa bareng aku kalau mau ke Mansion sekarang.”


Ucap Dewa.


“Nanti aja Kak. Andrew mau kesini dulu. Andrea kan lagi sama dia sekarang di kantor.”


“Oh ya udah kalo gitu. Aku duluan yah?”


“Sip. Hati – hati Kak. Thanks once again ( Sekali lagi makasih ).” Ucap Fania sebelum Dewa pergi dan laki – laki itu langsung mengangkat jempolnya.


***


“Hi Walker”


Fania menyambangi bengkel plus garasi modifikasinya yang memang satu konsep dengan kafe disebelahnya.


Menyapa para ahli yang kebanyakan adalah teman – temannya dan Andrew di komunitas otomotif mereka.


“Hello, Mrs. Boss ( Halo Nyonya Boss )"


Fania terkekeh mendengar ucapan Walker.


“Siily!” Sahut Fania dan gantian Walker yang terkekeh. “So, what you guys think?. Is this going to success? ( Jadi bagaimana menurut kalian?. Apa ini bisa sukses? )” Tanya Fania sambil memposisikan dirinya berdiri diantara para kru bengkel yang ada disitu.


“You don’t have to worry, Fania ( Lo ga usah khawatir, Fania ). A day after the opening, people already get on line to pimp their car here ( Sehari setelah pembukaan, orang – orang udah antri buat modifikasi mobil mereka disini )”


“Very happy to hear it ( Senang mendengarnya ). But I think we’re not only focus on pimping someone ride, I mean we don’t make it a main thing. ( Tapi gue rasa juga kita jangan terlalu fokus hanya pada modifikasi mobil, maksud gue jangan jadiin itu hal yang utama ).” Fania berbagi ide dengan teman – temannya yang bekerja di garasi miliknya itu. “Let’s make itu balance. Between pimping and repairing ( Dibuat seimbang lah. Modifikasi juga, ngebenerin mobil juga ). What you guys, think? ( Gimana menurut kalian? ).”


“Of course, Mrs. Boss. We have a complete package here ( Tentu aja, Nyonya Bos. Kita punya paket lengkap disini )”


“Well, I think I don’t spent money for nothing ( Wah rasanya gue ga menghabiskan uang dengan percuma )” Ucap Fania.


Walker dan beberapa mekanik pun tergelak.


“Excuse me ( Permisi )”


Sebuah suara bariton pria membuat mereka yang sedang mengobrol itu menoleh. Termasuk Fania, yang langsung


menyambangi pria yang nampak lumayan perlente itu, yang sepertinya adalah calon costumer mereka. Tapi yang sedikit berbeda dari para pria perlente itu adalah dia menggendong seorang bocah perempuan yang sepertinya sedang tertidur.

__ADS_1


“Let me ( Biar gue aja )” Ucap Fania yang kebetulan sudah tak sibuk dan ingin merasakan berhubungan dengan para costumer mereka. “Yes, how can I help you? ( Ya, ada yang bisa saya bantu? )”


“Yes, I have a trouble with my car, there ( Ya, aku punya masalah dengan mobil saya disana )” Pria itu menunjuk kesatu arah dan mata Fania mengikuti arah telunjuk pria tersebut.


“Ah Hybrid” Ucap Fania.


“Ya.” Pria itu tersenyum. "You understand about car? ( Kamu mengerti soal mobil? )."


“Just a little bit ( Hanya sedikit )" Sahut Fania. "Is your car suddenly lose power? ( Apa mobil anda tiba – tiba kehilangan daya? )” Tanya Fania soal mobil calon customernya itu.


“Ya I guess, but I’m unable to check anything. I... ( Ya sepertinya, tapi aku belum sempat mengecek. Aku... )”


“Is this your daughter? ( Apa dia ini putri anda? )”


Fania memotong ucapan pria yang nampak sedikit terlihat kerepotan dengan seorang anak perempuan dalam


gendongannya.


“Ya she is ( Iya ini putriku )”


“Look. My man will see what happen with your car, while maybe you can take your daughter to my office there. ( Begini. Orang saya akan melihat apa yang terjadi dengan mobil anda, sementara itu mungkin anda bisa membawa anak anda ke ruangan saya disana )” Ucap Fania sambil menunjuk ke kantornya dalam kafe, yang sedikit tak tega


melihat anak perempuan yang sedang tertidur dalam gendongan ayahnya itu. “She can sleep a little bit more comfortable in my office, I guess ( Dia bisa tidur sedikit lebih nyaman diruangan saya, sepertinya )”


Pria itu tersenyum ramah pada Fania.


“Is that okay? ( Ga apa – apa kah? )” Tanya pria itu.


“Sure. That will be okay ( Tentu saja ga apa – apa )”


“Thanks before, Miss... ( Terima kasih sebelumnya )” Ucap si pria dengan ramah pada Fania.


“I'm Fania.”


“I’m Cornell. ( Saya Cornell ). Nice to know you Fania ( Senang berkenalan denganmu, Fania )”


“Nice to know you too ( Senang berkenalan dengan anda juga )” sahut Fania. “Please ( Mari )”


Fania mempersilahkan Cornell untuk masuk kedalam kafe melalui pintu penghubung dari garasi dan bengkel.


“Walker, could you please check his car, over there? ( Walker, bisa tolong lo cek mobilnya disana? ).”


Fania meminta Walker untuk mengecek mobil Cornell yang bermasalah.


“Sure. Give me the key ( Tentu. Kasih gue kuncinya )” sahut Walker.


“Ah, here. ( Ah, ini ).” Cornell menyerahkan kunci mobilnya pada Walker. “Thanks a lot ( Terima kasih banyak ).” Ucap Pria itu sopan pada Walker lalu mengikuti Fania kedalam kafe.


“Please ( Silahkan ).” Fania mempersilahkan Cornell untuk masuk ke ruangannya dan membaringkan putrinya diatas sofa besar yang ada disana.


***


“Thank you, Fania ( Terima kasih, Fania )”


“I’m sorry, I didn’t ask you before. You drink coffee? ( Saya minta maaf, tidak bertanya padamu sebelumnya. Apa anda minum kopi? ).” Tanya Fania.


“Of course I drink coffee ( Tentu saja aku minum kopi ).” Jawab Cornell sambil tersenyum.


Fania ikut tersenyum.


“Ennggg .. Daddy?.” Anak perempuan Cornell nampak terbangun.


“Hey, sleepy head. You wake up now? ( Hey, tukang tidur. Sudah bangun ya? )” Ucap Cornell pada putrinya, dan laki – laki itu langsung beringsut ke sisi putrinya itu.


Anak perempuan Cornell itu mengangguk sambil mengucek – ngucek matanya.


“Hi.” Fania menyapa anak perempuan Cornell sembari tersenyum.


Anak perempuan Cornell tersebut memperhatikan Fania dengan seksama.


“Hi...”


“I’m Fania. And you? ( Aku Fania dan kamu? )” Fania mengulurkan tangannya pada anak perempuan itu.


“Sarah ....” Anak itu menyambut uluran tangan Fania.


“Hi Sarah, nice to know you ( Hai Sarah, senang berkenalan denganmu )”


Fania tersenyum lagi sambil membelai pipi Sarah dengan lembut.


“You taught her so well , she’s so polite ( Anda mengajarkannya dengan baik, dia sangat sopan )” Puji Fania.


“Are you going to be my Mom? ( Apa kamu akan menjadi ibuku? )” Tanya Sarah dengan polosnya.


‘Eh...?.’


***


‘Oh, duren toh dia’ batin Fania setelah mendengar cerita Cornell tentang istrinya yang sudah tiada. Dan orang tuanya sudah memperkenalkan ia pada beberapa wanita, namu Sarah tidak menyukai mereka.


“I’m very sorry about what Sarah said to you before ( Aku benar – benar minta maaf untuk apa yang Sarah katakan padamu sebelumnya )”


“No. It’s very okay ( Engga kok, ga apa – apa )” Fania kini sudah mengajak Cornell dan putrinya duduk di area kafe. Putri Cornell nampak terlihat nyaman berada dipangkuan Fania. Cornell nampak sedikit merasa tidak enak pada Fania. "I can understand ( Saya bisa mengerti )"


“Bunny, can you move from Fania’s lap? She might be already get tired now ( Sayang, bisa kamu pindah dari


pangkuan Fania?. Dia mungkin sudah lelah sekarang )” Ucap Cornell pada putrinya sembari mengelus kepala gadis kecil itu.

__ADS_1


‘Bunny... hihi imut juga. Andrea gue panggil apa yak?. Marmut?’ batin gesrek Fania bermonolog.


Sarah menggeleng cepat. “No, I want to be with Mommy ( Engga, aku ingin bersama Mommy ).”


“Sarah ....” Cornell hendak berkata pada Sarah, putrinya itu. Namun sebuah suara membuatnya menoleh dan tak jadi melanjutkan kata – katanya.


“Excuse, me? ( Maaf, apa? )”


Satu hot papa yang sedang menggendong seorang anak perempuan yang menggemaskan sudah berada di dekat tiga orang yang sedang duduk bercengkrama bak keluarga bahagia. Wajahnya nampak tak senang.


‘Waduh, alamat dah ini’ Si Kajol auto panik.


***


“Is she your baby, Fania? ( Apa dia ini bayimu, Fania? ).” Tanya sarah dengan suaranya yang imut. Setelah anak itu turun dari pangkuan Fania saat Andrew memberikan Andrea pada Mommanya. Situasi pun nampak menjadi canggung, karena Andrew duduk bergabung dan wajah tak senangnya masih nampak jelas, namun Andrew tak bicara.


Fania sudah menjelaskan siapa Cornell dan Sarah tadi.


***


Flash back on


“Excuse me? ( Maaf, apa? )”


“D?...”


“Mommy?”


“D, this is Cornell. Dia...( D, ini Cornell. Dia... )”


“I don’t care who is he. Why that little girl, call you Mommy? ( Aku tidak perduli siapa dia. Kenapa gadis kecil itu memanggil kamu, Mommy? )”


“Because she is my Mommy ( Karena dia memang Mommy aku )” Gadis kecil itu bersuara dengan polosnya.


‘What???! ... ( Apa???! .. )”


“D. “ Fania sedikit mengkode. “Sarah, could you please with your Daddy now? I need to talk with him ( Sarah, bisa tolong ke Daddy kamu sekarang? Aku perlu berbicara dengannya ).” Fania menunjuk pada Andrew.


Sarah mengangguk patuh dan beranjak dari pangkuan Fania yang kemudian langsung berdiri dan menarik tangan Andrew yang sedang menggendong Andrea ke ruangannya.


- - -


“Jelaskan!”


Andrew langsung mencecar Fania, saat ia dan istrinya itu sudah berada di dalam ruangan pribadi Fania dalam kafe.


Andrea sedang dipegang oleh Hera, pengasuhnya.


Fania mulai menjelaskan pada si Donald Bebek yang nampak gusar itu soal Cornell dan putrinya yang tadi


memanggilnya ‘Mommy’.


“Jadi kamu jangan marah ya, D?.”


Fania meraih tangan Andrew sembari tersenyum.


“Gimana aku tidak marah, kalau tiba – tiba ada anak orang lain yang memanggil istri aku Mommy?.”


“Yah dia Cuma anak kecil, D. Ga punya ibu. Jadi wajar aja kalau dia menganggap setiap wanita yang berada


dekat dengannya sebagai ibunya.” ucap Fania.


“Tapi aku yang tidak senang!”


“Iya aku paham. Tapi tolonglah, bentar lagi juga mereka pergi. Nanti itu anak juga lupa.”


“Tetap saja aku tidak suka!”


“D... dia Cuma anak kecil lah. Masa kamu nanggepin dia serius, please?.” Fania mengelus pipi Andrew. Cara ampuh Fania selama ini untuk meredam gusar suaminya itu.


“Aku belum makan, dan aku lapar. Jadi sebaiknya kamu selesaikan urusan dengan dua orang itu sekarang.”


“Iya.”


Flash back off


***


“Is she your baby, Mommy? ( Apa dia ini bayimu, Mommy? ).” Tanya sarah dengan suaranya yang imut. Lagi – lagi memanggil Fania dengan sebutan ‘Mommy’, membuat Andrew melotot pada istrinya itu.


“Sarah, don’t call her Mommy, okay?. She is not your Mommy ( Sarah, jangan memanggilnya Mommy, oke?. Dia bukan Mommy kamu ).” Ucap Cornell menjelaskan pada putrinya itu, karena dia tahu Andrew yang dikenal sebagai Bisnisman ternama di London, dan baru mengingat – ingat wajah Fania setelah sedikit memperhatikan, kalau wanita cantik itu adalah istri seorang Andrew Smith.


“I want Fania to become my Mommy and her baby become my little sister! ( Aku ingin Fania menjadi Mommy aku dan bayinya menjadi adik aku! ).” Rengek Sarah.


“Fania will never become your Mommy! ( Fania ga akan pernah menjadi Mommy kamu! )”


Andrew semakin menunjukkan ketidak senangannya.


‘Oh Tuhan ..’


*****


Bersumbang, eh Bersambung lagi deng ....


Thank youuu buat yang udah sudi mampir.


Loph Loph

__ADS_1


__ADS_2