
SOMETHING HAPPENED #Sesuatu Terjadi
**************************
Selamat membaca......
Bandung, Jawa – Barat, Indonesia ...
“Aku menjemputmu di kantor, dan mereka bilang kamu sudah pulang sejak dua jam yang lalu. Dan ponselmu pun tiba – tiba tidak bisa dihubungi. Apa kamu bermain dibelakangku, Jihan Shaquita?!.”
“Jeff, jangan berpikir yang bukan – bukan dulu ...” Ucap Jihan pada Jeff yang wajah tak senangnya begitu nampak sekarang. “Aku bisa jelaskan .....” Sambungnya.
Jeff tak menjawab Jihan.
Pandangan Jeff beralih pada Liam yang ada dibelakang Jihan.
“You don’t need to be mad at her ( Lo ga perlu marah sama dia ).”
Liam kini sudah memposisikan dirinya berdiri di depan Jeff.
“Gue yang meminta Jihan untuk ikut gue. Memohon, sedikit memaksa mungkin.” Ucap Liam. “Bagaimanapun gue dan dia harus menyelesaikan apa yang ada diantara kami.”
“Pernah!.” Sahut Jeff cepat dan tajam. “Dan apa sudah selesai, hem?. Atau kalian masih butuh waktu untuk bersama?.”
‘Aduh, kalo wajahnya udah seperti itu, gue auto ngeri.’ Batin Jihan was – was. “Sudah Jeff..... maksud
aku ... aku dan Liam sudah menyelesaikannya ....”
Jeff memandang malas pada Jihan dan Liam. Lalu membalikkan badannya untuk masuk kedalam rumah ibunya Jihan.
“Ngomong – ngomong Jeff.”
Ucapan Liam membuat Jeff menghentikan langkahnya, namun ia tidak membalikkan badannya.
“Selamat buat lo. Karna Jihan sudah memilih lo.”
“Dia memilih gue karena cintanya. Bukan hanya sekedar memilih!.”
“You are a lucky guy, then ( Kalau begitu memang lo adalah laki – laki yang beruntung ).”
“I know ( Gue tahu ).”
Jeff kemudian meneruskan langkahnya kembali ke dalam rumah tanpa berkata apa – apa lagi.
“Tapi hati seseorang bisa berubah.” Ucap Liam sambil tersenyum miring.
‘Jangan memprovokasi nya Liam ....’
Jihan menggelengkan kepalanya pada Liam. Ia sedikit terkejut mendengar perkataan Liam barusan.
“Heh, we’ll see about it ( Heh, kita lihat saja nanti ).”
Jeff terkekeh sinis.
***
Komplek Apartemen Diana, Jakarta, Indonesia ....
“Ih si encun selebor emang ni orang atu. Ntar di tol ribet nih pasti dia, dompet kartunya ketinggalan gini.” Diana geleng – geleng dan meraih dompet kecil berisi segala kartu milik Prita yang kemungkinan keluar dari tas gadis itu saat Prita melempar sofanya keatas sofa dalam apartemen Diana tadi.
Diana langsung buru – buru mengejar Prita ke parkiran.
“Mudahan aja dia belom jalan.”
***
“Si Encun dijemput sama bodyguardnya Kak John apa itu?.”
Diana berhenti sebentar saat ia melihat Prita bersama seorang pria berseragam safari.
“Tapi kok perasaan bukan yang pernah gue gep bareng si Prita?.”
Diana mengendikkan santai bahunya. Namun baru saja ia membuka pintu kaca menuju parkiran sebuah mobil berhenti dengan sangat cepat dihadapannya.
“Buset!.”
Diana kaget bukan main karena mobil yang berhenti dengan cepat itu nampak tergesa dan tak lama langsung bergegas pergi dengan cara yang sama.
“Gila!.”
Diana berteriak ke arah mobil yang melaju cepat dan nampak ugal – ugalan itu.
“Mana si Prita?.”
Diana mengernyitkan dahinya karena Prita dan pria berseragam safari sudah tidak ada lagi ditempat mereka berdiri tadi.
Diana melangkah menuju mobil Prita sambil celingukan.
‘Gue baru ngeh in parkiran sepi amat.’ Batin Diana. 'Padahal baru jam segini.'
Diana celingukan dimobil Prita.
“Cun?.”
Diana juga menempelkan dua tangan beserta wajahnya untuk melihat kedalam mobil Prita.
__ADS_1
“Cun?!. Lo jangan iseng deh!.”
Diana masih celingukan.
Tuk!.
Kaki Diana menginjak sesuatu dan ia spontan menunduk. Bersamaan seperti suara kunci mobil yang terbuka.
“Eh ini kan kunci mobilnya si encun?.”
Diana berjongkok dan meraihnya.
“Cun!.” Diana memanggil sedikit keras. “Cun, lo jangan iseng ya?! ..... Gue baretin nih mobil mahal lo biar lo disemprot sama kakak lo!.”
Tak ada sahutan, bahkan mobil lewat yang masuk parkiran pun tak ada.
“PRITA!.”
Wajah Diana mulai nampak panik.
Crek!. Kaki Diana menginjak sesuatu lagi.
“Jamnya si encun ....”
Diana meneguk kasar salivanya.
“Jangan bilang ...”
Diana langsung meraih ponsel yang memang ia bawa disaku celana pendeknya. Tangannya sedikit gemetar saat
menekan tombol pada ponselnya.
“Mati lagi!.”
Diana mencoba lagi menghubungi nomor Prita.
Nomor Prita sudah tidak bisa dihubungi.
“Ya ampun Prita ...”
Diana sudah panik dan pucat. Ia memijat keras dahinya.
“Kak John.....”
Diana teringat pada John.
“Aduh! Gue ga punya nomornya lagi!.” Diana merutuki sendiri. “Mana ga ada orang!. Gue hubungi siapa ini?!!!!.”
Diana memegang kepalanya yang terasa sakit.
****
Fania sedang membuatkan makanan untuk Andrea.
“Kamu nginep kan Kak?. Kan katanya mau ngajak si Andrea ke pasar malem entar?.” Tanya Mama Bela.
“Iye.”
Fania menyahut singkat.
“Berarti entar si Endru abis selesai dari kerjaan nye langsung kemari?.”
Gantian papa Herman yang bertanya.
Fania mengangguk.
Triiiinggg!
“Halo.”
Sapa Fania saat telah menekan tombol jawab diponselnya.
“Minta tolong mah. Fania terima telepon dulu.” Ucap Fania pada Mama Bela, yang langsung diangguki oleh mamanya itu
Fania memberikan makanan Andrea yang sudah siap pada Mama Bela.
“Ada apaan, Diana?.”
“KAK FANIA! PRITA DICULIK!.” Suara Diana terdengar kencang sampai rasanya tembus keluar ponsel.
Melangkahkan kakinya menuju kamarnya sambil menerima telpon dari Diana itu.
“Apaan?! ....”
“Prita diculik, Kak!.”
“Eh ledi Dai, lo dibayar berape sama si Prita buat sok - sok an mau nge - prank gue?.”
“Ya ampun Kak Fania, Diana serius ini!.”
“Ck!. Jangan sok – sok sekutuan sama si Prita lo ah!.”
“Demi Tuhan deh Kak. Diana serius ini, Prita diculik!.”
“Lo jangan macem – macem ya Diana, kalo lo sok – sok an ikut mau nge - prank gue, Surat rekomendasi lo buat ke
__ADS_1
UAL gue cabut loh ya!.”
“Ya ampun Kak Fania, Diana mana berani sih iseng begini sama Kak Fania. Kalo Diana boong silahkan deh Kak Fania cabut surat rekomendasi buat Diana kuliah di UAL. Cabut nyawa Diana sekalian deh kalo Diana boong sama Kak Fania!.”
Fania nampak memijat dahinya. Wajahnya kini berubah serius.
“Lo punya petunjuk?.”
“Tristan kayaknya Kak yang bawa dia.”
“Hah? Si Tristan?.”
“Iya Kak, soalnya bla bla bla bla ...” Diana menjelaskan kecurigaannya. “Jadi kalo Diana yakinnya dia yang bawa Prita.”
Fania meraih jaketnya dan tasnya. Menekan tombol loud speaker diponsel lalu meletakkannya diatas meja rias sambil membongkar tasnya dan mengeluarkan beberapa barang yang Fania rasa perlu.
“Kasih tau gue semua yang lo tau tentang si Tristan!.” Ucap Fania yang tangannya sedang bergerak cepat memakai jaketnya dan memasukkan beberapa barang yang tadi ia keluarkan dari tas ke dalam saku dalam jaket yang sudah ia kenakan itu. “Hold ( tahan ).”
Fania memasang ear phone bluetooth di telinganya.
“Apalagi?.”
Memasukkan ponsel kedalam jaket sambil keluar dengan cepat dari dalam kamar.
“Oke!.”
“Terus Diana harus gimana Kak?.”
“Kirim ke gue nomornya si Tristan itu. Kalau ada info lain langsung hubungi gue!.”
“Oke Kak!.”
Fania setengah berlari menuruni tangga.
“Dulu gue berurusan sama cowok gila yang namanya Nick. Sekarang si Priwitan berurusan sama cowok gila juga!.” Gumam Fania sambil menuruni tangga.
Fania mengeluarkan lagi ponselnya.
“Ish! Si Donald Bebek nih! Lagi ngapain sih sampe ga sempet terima telpon?!.”
Mencoba menghubungi Andrew tapi belum tersambung.
“Mah, Pah. Titip Andrea bentar. Fania ada urusan mendadak.” Ucap Fania pada orang tuanya yang sedang menyuapi dan mengajak Andrea bermain.
“Mau kemane sih buru – buru amat?! Ada yang gawat?.” Tanya Papa Herman yang sedikit herman eh heran melihat
Fania yang nampak sangat tergesa itu.
‘Papah Mamah kaga boleh tau soa si Prita ini.’ Batin Fania. “Lupa ada janji sama orang.” Sahut Fania sekenanya. “Udah ya Fania buru – buru. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
“Momma!!!!.” Andrea memanggil Mommanya sambil setengah berlari.
“Andrea yang blaem – blaem, Momma want to buy candy for you, you wait here, okay? ( Momma mau beli candy
dulu, kamu tunggu sini, oke? ).”
“Okke Momma!.”
“Good girl!.”
“Jol, anak lo kan belom paham bahasa indonesia ini, papah sama mamah ntar keder nih ngomong ama die.”
“Si Hera udah ngarti Bahasa Indonesia kan. Udeh ye Fania buru – buru nih!.”
Fania buru – buru berjalan menuju halaman rumah Keluarga Cemara itu.
“Ck!. Donald Bebek kalo dibutuhin kemana sih!.”
Fania mulai kesal karena Andrew sulit dihubungi. Ia melirik mobilnya.
‘Ga ke kejer ini kalo pake mobil.’
Fania berjalan menuju garasi sambil menekan nomor lain diponselnya.
“Hish nih orang pada...!!!!. Ga si Donald Bebek ga si bule koplak susah banget dihubungin lagi begini!.”
Fania makin kesal sambil bergerak buru – buru. Dan meraih helm beserta sebuah kunci motor miliknya yang memang sengaja ia simpan dirumah orang tuanya itu.
“Bodo deh ah!. Si Prita dulu yang penting!.”
Fania sudah berada diatas motornya. Motor impian yang menjadi motor kesayangannya.
Fania menghubungi satu nomor lagi yang langsung tersambung, sambil menyalakan mesin motor empat silinder V4
berkapasitas 999cc tersebut. Sebuah motor yang notabene tidak diperuntukkan untuk para wanita.
Yah, berhubung si Kajol bukan wanita biasa, jadi motor kesayangannya bukan motor bebek matic yang selalu didepan. Melainkan motor berteknologi seperti yang di pakai oleh Marc Marquez diarena Moto GP. Dan bisa mengeluarkan tenaga hingga mencapai 220 tenaga kuda.
Bukkan Maen...
“Vla, I need your help! ( Vla, gue butuh bantuan lo! ). Something happened to my sister ( Sesuatu terjadi sama adik gue ). ”
****
__ADS_1
To be continue ...