THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 224


__ADS_3

✳  AKUT  ✳


Selamat membaca..


“Apa bisa kau hentikan senyuman menjengkelkan mu itu?”


Varen spontan menutup mulutnya dengan satu kepalan tangan namun tubuhnya tetap saja bergetar akibat ucapan Poppa barusan.


Abang berhenti senyum memang, tapi malah ia terkekeh. Begitu juga para Daddies, Kakek dan Nathan. Sementara


Daddy R melirik sinis kearah putranya itu, namun tak lama satu sudut bibirnya juga tertarik keatas.


Para Mommies dan Nenek tak lama naik membawa Andrea ke kamarnya setelah pembicaraan soal pernikahan yang super duper mendadak mengalahkan track record pernikahan Poppa dan Momma itu selesai.


Si Abang masih terkekeh. Dan memang sedari tadi ia cengengesan tak jelas sendiri setelah mendengar ia dan Andrea akan dinikahkan dua hari lagi. Binar bahagia tergambar jelas dimata si Abang saat ini.


“Keputusan yang benar – benar mengejutkan.” Celetuk Varen setelah selesai terkekeh, namun masih mesam – mesem.


“Huh”


“Bahagia, heh?”


“Oh jelas”


Tuk!


Poppa melempar Varen dengan pulpen yang tadi ia pegang


“Bocah tengik!”


“Memang siapa yang mengusulkan untuk mempercepat pernikahanku dan Little Star jadi secepat ini?”


“Aku”


“Sungguh Ayah yang pengertian”


“Pengertian kepalamu!”


Varen kembali terkekeh saat Daddy R menepak kepalanya.


“Dan Poppa menyetujuinya tanpa protes?” Tanya Varen dengan tersenyum lebar.


“Heh! Kau pikir?!”


Varen masih mesam – mesem, juga para pria lainnya, kecuali Papa Lucca yang belum sampai ke Jakarta. Masih otw dari Italia.


“Aku bahkan yang mengusulkan pernikahan kalian dilakukan dalam dua hari kedepan”


“Wow! Calon Ayah mertua idaman”


“Tutup mulutmu!”


“Hahaha!”


“Rasanya aku ingin menciummu, Poppa. Hem, hem ...” Varen mesem sambil memainkan alisnya.


“Mau ku cekik lehermu, Bocah tengik?”


“Hahaha!”


“Kau seharusnya berlutut didepanku dan mencium kakiku karena aku sudah mewujudkan mimpi terindahmu!”


“Macam jin Aladin”


“Apa kau ingin sekali mati?!”


“Hahaha!”


“Sa-yang Poppaa..”


“Aku rasanya mau muntah”


**


Sementara itu dikamar Juleha..


“Ga seneng emang mau nikah sama Abang?”


“Ya senang”


“Nah terus kenapa bibir kek ikan mujaer gitu?”


“Ya habis, kalian ini memutuskan ide yang gila. Masa menikahkan aku dan Abang dalam dua hari kedepan? Aku bahagia, tapi juga shocked!. Untung saja aku tak punya riwayat sakit jantung. Luar biasa sekali kalian ini...”


Momma dan para Mommies lainnya kecuali Mama Fabi terkekeh. Begitupun para nenek yang juga sedang berada di kamar Andrea.


“Drea sih bandel” Celetuk Nenek Yuna.


“Iye bener. Makanya jangan bangor”


“Heleh kayak emaknya ga bangor aje!” Celetuk Mami dan Ene.


“Ye, eike bangor. Bapak nye Papah Herman, sabar die sih. Nah ini si Juleha, Thanos ga bapak nye?. Raja tega kalo udeh ga demen” Timpal Momma. “Untung aja kamu ga mabuk – mabukan. Coba kalau itu juga dilakuin selain mengendap – endap. Beneran di kirim ke Zimbabwe kalo engga dikurung di kastil Drakula. Ape digundulin”


“Hhhhh”


“Ya sudah, terima saja nasib kamu Little Star” Ucap Mommy Ara sambil mesam – mesem. “Anak Mommy kan paket


lengkap tuh, Super ganteng, sangat pintar, kaya pula. Yah meskipun kalau marah suka menyeramkan sepeti para Daddiesnya. Tapi yang penting kan dia cinta mati sama kamu plus bucin akut juga”


“Ahahahaha”


***


“Perbuatanmu kan ini?”


Poppa melemparkan amplop putih berukuran sedang keatas paha Varen, yang langsung diambil dan di buka oleh si Abang, lalu menyunggingkan senyum miring.


Hanya ada para Daddies dan Nathan yang kini bersama mereka, karena Dad Anthony dan Ake Herman pergi untuk


beristirahat sejenak dikamar mereka.


“Huuumm”. Sahut Abang. “Kenapa memang kalau ini perbuatanku?”


Nathan yang kepo beranjak dan melihat beberapa lembar foto yang tadi dilihat Varen. “Anjrit! Jadi elo yang bakar Xaviour, Bang?!”


Nathan merampas beberapa foto dari tangan Varen sambil melihat satu – satu sambil kepalanya geleng – geleng.


“Sarap emang..”


“Salah mereka”


“Ini para kingkong nya Xaviour lo juga yang hajar?” Tanya Nathan yang kini sedang melihat foto beberapa orang berbadan besar yang terkapar.

__ADS_1


“Hanya sebagian. Sisanya Raka dan yang lainnya”


“Mengapa sampai kau membakar tempat itu?”


Varen tersenyum tipis. “Mereka menolak penawaranku” Jawabnya atas pertanyaan Daddy R.


“Penawaran apa memang yang kau tawarkan?” Tanya Papi John.


“Menutup tempat itu”


“Ya jelas saja mereka menolak Bodoh!. Mereka menghasilkan banyak uang ditempat itu!”


“Bukan urusanku. Aku sudah memberikan penawaran yang fantastis. Tapi mereka menolakku. Dengan angkuhnya


pula. Memang siapa mereka, berlagak angkuh didepanku?. Masih bagus tidak ku bakar Ownernya sekaligus”


“Bocah tengik.. bocah tengik..” Poppa geleng – geleng. “Tapi kau membuat banyak orang kehilangan pekerjaan mereka juga”


“Sudah kuurus soal itu. Jangan khawatir. Kita punya banyak tempat untuk memperkerjakan orang. Aku sudah meminta Uncle Berry untuk mengurusnya.”


“Kau tahu siapa Owner Xaviour? Dan bagaimana jika dia memberitahukan apa yang sudah kau lakukan pada publik?”


“Tahu. Dan aku tidak perduli”


“Ck!” Daddy R berdecak.


“Kalian macam tak tahu kemampuanku saja. Tak perlu mengkhawatirkan Ownernya Xaviour itu. Dia, tidak akan berani padaku” Jawab Varen santai.


“Percaya dirimu memang patut diacungi jempol!” Celetuk Poppa.


“Berbanggalah pada diri kalian akan itu. Aku kan belajar dari kalian”


‘Bener – bener si Abang. Ga ada takutnya banget ini orang’ Batin Nathan.


“Dia tidak akan berani padaku percayalah” Ucap Varen lagi. “Dia sudah mengancamku kok”


“Menghabisimu?”


“Hum..”


“Lalu?”


“Kukirim orang untuk membakar beberapa asetnya yang lain”


“...”


“Tenang saja tidak ada korban jiwa. Hanya dia seorang korbannya”


“Kau menghabisinya?”


Varen menggeleng santai.


“Hanya kusuruh orang menyuntikkan sesuatu ditubuhnya sebagai peringatan”


“???”


“Tadinya ingin ku suntikkan bisa King Cobra, tapi nanti dia langsung mati. Jadi aku suruh seseorang untuk menyuntikkan sesuatu yang membuatnya lumpuh dan tak bisa bicara saja.  Tapi dia masih hidup kok. Tidak permanen juga lumpuhnya, nanti kalau dia normal lagi, aku suruh lagi Raka untuk mengirim orangnya agar menyuntikkan formula yang sama. Jadi Owner Xaviour yang banyak lagak itu akan selalu teringat padaku”


“Jempol tak terhingga untukmu. Benar – benar anak naga” Celetuk Daddy Jeff yang kemudian terkekeh. Begitu juga Daddy Dewa dan Papi, sementara Nathan bergidik ngeri pada si Abang yang santuy pake bingit. Poppa dan Daddy R hanya geleng – geleng saja.


“Siapa suruh berani mengancamku?”


**


Andrea lebih banyak diam saat dia dan para Mommies sudah turun untuk bergabung dengan para Daddies yang


“Setelah ini kau angkat kaki dari sini Bocah tengik!”


“Loh, memang kenapa?” Tanya Varen heran. “Aku kan tinggal disini?”


“Kau akan menikah dua hari lagi dan calon pengantinmu ada dirumah ini. Jadi kalian tidak diperkenankan bertemu sampai akad nikah nanti”


“Dipingit namanya Bang” Celetuk Daddy Dewa.


“Ck! Aku tidak percaya hal – hal seperti itu”


“Kau pikir kami para Daddiesmu ini percaya?!. Meskipun tidak percaya kami tetap melakukannya”


“Tau lo Bang. Timbang dua hari ga ketemu ama ini boneka santet. Takut amat si Drea kabur lo. Lo kan Cuma ngesot doang ke rumah Daddy R”


“Masa bodoh!”


“Ck! Jangan membantah mau menikah cepat tidak?!. Aku yang menentukan pernikahan kalian dalam dua hari, aku juga bisa membatalkannya sesuka hati. Kau mau menantangku Bocah Tengik?”


“Ya sudah, ya sudah. Karena aku calon menantu yang baik, maka akan aku ikuti ucapanmu calon ayah mertua”


Poppa berdecak saja, pada Varen yang tengah mesam – mesem sambil memainkan alisnya, menatap pada Poppa.


“Ya sudah ayo. Mommy, Daddy sudah lelah. Kami perlu beristirahat setelah semua mengurus persiapan pernikahanmu dan Nona Muda ini”


Mommy Ara menggoda Andrea sambil menggoyangkan dagu gadis itu yang kemudian mengerucutkan bibirnya.


“Mommy dan Dad duluan saja. Nanti aku menyusul. Oma juga masih beristirahat disini kan?”


“Ck! Cepat pergi sekarang” Poppa menepak pelan kepala Varen dengan sebal. “Kalian masih bisa berhubungan lewat ponsel!” Tambah Poppa. “Sudah sana cepat pergi!. Hanya kurang dari dua kali dua puluh empat jam saja kalian tidak akan bertemu secara langsung. Macam dua abad saja mau dipisahkan. Hish!”


“Baiklah, baiklah... Papa mertuaku sayang” Varen bangkit dari duduknya sambil cengengesan.


“Cepaaatt ..”


“Iyaaa ... aku kan pamit dulu pada calon istriku”


“Ck!”


Poppa berdecak sebal, sementara Varen tetap cengengesan dan Andrea tersipu.


“Ciee Juleha, khumairoh dah ah mukanya” Goda Mami Prita.


Andrea mencebik malu – malu.


“Sudah cepaatt”


“Iya, iya. Ini baru mau pamit” Sahut Varen pada Poppa yang menendang pelan kakinya, lalu ia beralih lagi pada Andrea.


“Neng, ikut Abang dangdutan nyok!” – Bukan kata Abang.


“Little Star, Abang tinggal dulu, hem? Kita akan segera bertemu, saat nanti kita sudah duduk didepan penghulu dan dengan lantang Abang akan menyebut namamu”


Uhuy!!


**


“Cieee Dreaaa...” Nathan tak sudah – sudah menggoda Andrea. “Mau kawin nih yee...”

__ADS_1


“Diam lo!”


Nathan terkekeh.


“Satu hal yang gue yakin sedang lo pikirin saat ini”


“Apa?”


“Dua hari lagi lo bakal ngerasain sosis jumbo!”


“Tan – Taann!!”


“Hahaha!”


**


“...”


“Kayak ada yang ribut – ribut diluar Tan?”


Andrea dan Nathan saling tatap.


“Iya kayaknya. Dari depan tuh” Sahut Nathan. “Coba kita lihat” Ajak Nathan dan Andrea mengangguk.


**


“Get lost from here you scroundel!. (Enyah dari sini kau Bocah tengik!)” Suara Poppa terdengar dari luar pintu utama Kediaman. Berikut juga Momma yang ada bersama Poppa, juga para Daddies, Mommies, berikut para kakek dan nenek yang sedang sedikit berkerumun.


Sebagian ada didekat Poppa dan Momma, sebagian ada di ruang tamu. Diantara para adik, hanya ada Mika yang


bergabung bersama para orang tua, karena ia adik paling besar setelah Andrea.


“Abang?...”


Andrea menggumam saat melihat Varen ada diluar pintu didekat undakan tangga kecil yang sepertinya langkahnya sedang dijegal Poppa untuk masuk ke dalam kediaman.


Lainnya cekikikan, termasuk Nathan. Daddy R dan Mommy Ara juga ada, karena masih ada yang ingin mereka bahas oleh para orang tua.


“Oh c’mon Pop.. (Oh ayolah, Pop)... Aku kangen Drea lah!” Varen nampak sedang membujuk si Poppa, belum melihat Andrea yang sudah ikut melihatnya, namun ia masih berdiri didalam ruang tamu dekat pintu, sedikit terhalang tubuh Papi John yang sedang cekikikan.


“Seharusnya lo kunci pintu kamarnya, kalau perlu lo pasang penyengat listrik agar dia tidak datang kesini sebelum pernikahan”


“Aku hanya ingin bertemu Drea sebentaarr saja, Pop. Pleasee..?” Ucap Varen dengan mimik wajah memohon yang dibuat kocak sambil kedua tangannya ia rapatkan.


“Ga boleh Abaaannnng. Sabar kenapa sih?. Dua hari doang juga. VC aja VC kalau kangen mah.”


Momma ikut bersuara disamping Poppa, sambil juga cengengesan.


“Ah, Momma.. sebentaar saja. Aku janji. Five minutes!. (Lima menit!). Kangen berat ini”


“Haha!..... bucin ... bucin...”


“Little Star ..” Varen melirik kearah belakang Poppa dan Momma yang kemudian menengok kebelakang, diikuti yang lainnya menatap Andrea yang menyembul dari belakang Papi John.


“Sedang apa disitu? Kembali ke kamarmu!” Perintah Poppa pada Andrea.


Andrea mengerucutkan bibirnya kemudian mengangguk.


“Little Star! Sini sayang!” Seru Varen sumringah, hendak menghampiri Andrea, namun lehernya keburu dijegal Poppa.


“Sayang kepalamu!”


Membuat anggota keluarganya yang lain makin terkekeh dengan kelakuan si Abang. Andrea ikut terkekeh pada akhirnya sambil menutup mulutnya dengan satu tangan.


‘Abang bisa konyol juga ih’


“Little Star ..” Lirih Varen, namun wajahnya nampak sumringah dalam jegalan tangan Poppa hingga akhirnya Andrea dibawa masuk oleh Momma.


**


Tuk!


Andrea menoleh ke arah balkon kamarnya. Ia seperti mendengar ada benda yang terlempar ke pintu kaca balkon.


Andrea yang penasaran, memastikan. Berjalan kearah balkon kamarnya.


Tuk!


Andrea sedikit terhenyak, kala satu timpukan yang sepertinya dari batu kecil hiasan di taman sampai lagi ke kaca pintu pembatas balkon kamarnya. Andrea pun langsung membuka pintu balkonnya dengan segera.


“Abang” Andrea yang terkejut itu berbicara setengah berbisik saat melihat Varen berada di bawah balkon kamarnya. “Ih, nanti dimarahi Poppa loh”


“Kangen Abang habisnya” Sahut Varen yang ikutan setengah berbisik. “Belum sempat cium lagi. Sudah disuruh pergi”


“Abang nih”


Andrea tersipu.


Varen tersenyum padanya.


“Sudah sana, nanti kita VC aja” Ucap Andrea yang kemudian langsung berbalik.


🎵🎵🎵


Andrea menghentikan langkah, kembali berbalik mendekati sandaran balkon


🎵Separuh nafasku, 🎵


Abang dengan gitarnya. Membuat Andrea sumringah, sampai menutup mulut dengan satu tangannya, karena Abang sudah bak Satria bergitar kini.


“Astaga Abaang ...”


🎵Ku hembuskan untuk cintaku , Biar rinduku, Sampai kepada bidadariku, uh-uh🎵


🎵🎵🎵🎵


Kamu s'galanya, Tak terpisah oleh waktu


Biarkan bumi menolak, Ku tetap cinta kamu


Biar Mommamu tak sukaa.. Poppamu juga melarang


Walau dunia menolak, ku tak takut ...


Tetap kukatakan kucinta dirimu, oh-oh..


🎵🎵🎵🎵


“I LOVE YOU LITTLE STAARRRR!! ... SAMPAI BERTEMU DI PELAMINAANN!!!”


“BOCAH TENGIIIIKK!!!!! ....”


**

__ADS_1


To be continue..


Sampe ketemu di acara akad nikah si Rojali dan Juleha, bawa amplop berikut isi. Jangan bawa tupperware buat nyendok lauk.


__ADS_2