
JUST BURY ALL THE BAD THINGS
( Kubur Saja Semua Hal Buruk )
Selamat membaca ..
Rumah Sakit..
Beberapa jam sudah berlalu dari sejak kepergian Poppa dan Daddy R dari Rumah Sakit.
Momma dan Mommy Ara masih berada di ruang rawat Andrea bersama Varen dan kini Gappa serta Gamma ada bersama mereka.
Setelah Rery dan Adrieanna diminta pulang oleh Momma berikut pelototannya, karena keras kepalanya si Rery yang selalu menolak di suruh pulang dulu oleh Momma namun selalunya menolak dengan alasan kasihan sama Momma dan Mommy Ara.
‘Pulang ga?! Kalo dibilangin sama orang tua! Itu Kak Drea kamu lagi sakit, belom lagi nih Poppa kalian belum balik, ga bisa dihubungin ga hubungin Momma juga bikin khawatir. Ntar kamu ikutan sakit?! Hah?! Mau bikin Momma sakit juga ngurusin tiga orang sekaligus entar?!’
Begitu lah bunyinya kira – kira. Omelan si Momma Kajol berikut pelototannya pada Rery sambil bertolak pinggang. Dan Rery yang seperti kakak dan ayahnya akan sulit membantah dan menolak keinginan si Momma kalau ibunya sudah merepet sembari melotot dan bertolak pinggang seperti itu.
‘Iya, Iya aku pulang sekarang ...’
Rery pasrah sudah jika Momma sudah merepet seperti itu, dan ia pun pulang kemudian bersama Adrieanna, tepat di saat Gappa dan Gamma, bersama Nathan dan Via yang kembali datang.
***
“Gappa, Gamma” Andrea mencoba bangkit untuk duduk saat Gappa dan Gamma datang bersama Nathan dan Via.
Gappa dan Gamma pun langsung memberikan Andrea sebuah kecupan di kening.
“How do you feel, My Dear?...... ( Bagaimana keadaanmu, Sayang? ).....” Tanya Gappa.
“Feeling better ( Sudah merasa lebih baik ) Gappa....” Jawab Andrea. “Kenapa Gappa dan Gamma datang malam – malam begini?”
“Kami tidak bisa beristirahat dengan tenang, selama kita semua belum berkumpul bersama, Drea ...”
“Your Gamma was right, My Dear. We can’t feel peace because me and Gamma also Ake Herman and your three Grandma's really worried about you ( Gamma – mu itu benar, Sayang. Kami tidak bisa merasa tenang karena aku dan Gamma – mu serta Ake Herman dan tiga nenekmu yang lain sangat mengkhawatirkan dirimu )”
“I’m sorry Gappa.... ( Maafkan aku ya Gappa )”
“What was that, hem? ( Apa itu, hem? )” Gappa merengkuh Andrea dalam dekapannya.
“Because I make you ( Karena aku membuatmu ) juga Gamma, Ake, Ene, Oma dan Nenek jadi tidak dapat beristirahat dengan baik. Juga anggota keluarga lainnya yang jadi mengkhawatirkan Drea dan repot karena Drea ...”
“No, don’t talk like that ( Jangan bicara seperti itu )”
“Gappa benar itu Drea, mana mungkin kami tidak mengkhawatirkan kamu yang sampai jadi seperti ini?”
Gamma mengusap lembut kepala Andrea yang sedang bersandar manja pada Gappa.
“Kami pasti akan khawatir jika hal ini terjadi pada setiap cucu – cucu kami”
“Iya, Gamma. Terima kasih, ya?”
“Kamu nih, untuk apa berterima kasih pada nenek dan kakekmu sendiri sih?. Sudah sewajarnya kami khawatir tahu?” Ucap Gamma.
“Iya, Gamma”
“Belum lagi ayah – ayah kalian yang sebagian belum kembali kesini atau ke Kediaman”
Gamma menggelengkan kepalanya dengan raut wajah setengah frustasi.
“Haish, benar – benar membuatku sakit kepala karena mengkhawatirkan mereka”
“Bukan hanya Mom saja yang sakit kepala, aku dan Fania juga sama”
Mommy Ara yang sudah nampak lelah itu bersuara, namun tetap masih ingin menunggu Daddy R dan mereka yang bersamanya datang kembali ke Rumah Sakit.
***
Sudut bibir semua orang yang ada di ruang rawat Andrea tertarik ke atas bersamaan, berikut kelegaan di wajah Momma, Mommy Ara, Gappa dan Gamma.
Termasuk juga Varen, Andrea, Nathan dan Kevia yang sama mengembangkan senyumnya saat melihat kedatangan empat Daddies mereka beberapa jam kemudian. Empat Daddies itu pun langsung menghampiri Andrea yang sedang bersama Varen, Nathan dan Via setelah mereka menyambangi Momma, Mommy Ara, Gappa dan Gamma.
Mama Fabi dan Mom Ichel juga sudah ada di ruang rawat Andrea selang beberapa waktu setelah Gappa, Gamma, Nathan dan Kevia datang.
****
“Andrea, Dolcezza, Papa manchi ( Andrea, Sayang, Papa merindukanmu )”
“Papa ...”
Papa Lucca langsung mendekap Andrea dengan sayang lalu memberikan kecupan beberapa kali di pucuk kepala Andrea, lalu kedua pipinya.
“Very sorry if I just came, hem? ( Maafkan aku yang baru sempat datang, hem? )”
“It’s okay Papa ( Tidak apa – apa Papa )”
“But don’t you worry, Baby. All the bad guys who made you like this, already vanished! ( Tapi kamu jangan khawatir, Sayang. Semua orang jahat yang membuatmu seperti ini, sudah musnah! )”
Papa Lucca nampak meyakinkan.
“Do you... ( Apa Papa... )”
Andrea memandangi Papa Lucca.
“All of you... kill – them? ( Kalian semua ..... membunuh – mereka? )...” Kemudian Andrea memandangi satu persatu, tiga Dadsnya yang lain termasuk juga melihat pada Varen dan Nathan.
“Sudahlah” Varen tersenyum dan mengusap kepala Andrea dengan lembut. “Kamu jangan terlalu memikirkan hal tersebut, Little Star......” Ucap Varen.
“Abang bener Ya. Lebih baik lo fokus sama pemulihan lo aja, biar bisa cepet pulang ke rumah...” Timpal Nathan.
Andrea mengangguk dan menarik sudut bibirnya setelah mendengar ucapan Nathan. “Iya Tan ...” Sahut Andrea yang kemudian mendapat juga rengkuhan si Tan – Tan.
“How do you feel now? ( Apa yang kamu rasakan sekarang? )”
“Feeling better Papa ( Sudah merasa lebih baik Papa )”
“We feel relieve to hear that ( Kami lega mendengarnya )”
“But..... ( Tetapi ) ..”
__ADS_1
“But what?. Something not good that you feel now? ( Tetapi apa?. Ada sesuatu tidak enak yang kamu rasakan saat ini? )”
Andrea mengangguk, dan sontak mereka yang berada di dekat Andrea menjadi sedikit cemas.
“Better we called Doctor ( Sebaiknya kita panggil Dokter )”
“No need Mama Fabi ( Tidak perlu Mama Fabi )” Cegah Andrea. “Tidak sakit sekali kok. Hanya sedikit ada rasa perih tapi tidak terlalu terasa. Tapi aku merasa seperti ada sesuatu yang di ambil dari dalam perutku ini”
Tenggorokan semua yang mendengar ucapan Andrea pun sontak terasa seperti tercekat.
Termasuk juga Papa Lucca yang sudah mendengar keseluruhan cerita, termasuk kondisi terakhir Andrea dan janinnya yang diputuskan untuk diangkat atas persetujuan Varen tanpa Andrea ketahui sebelumnya
***
Varen memandangi Andrea dengan tersenyum setelah semua orang tua berikut Gappa dan Gamma diminta untuk kembali ke Kediaman oleh Varen agar mereka semua dapat beristirahat dan saat ini hanya tinggal Dirinya, Nathan dan Via yang menemani Andrea.
“Abang juga istirahat gih sana. Abang belum cukup tidur kan?”
“Aku tidak mengantuk kok Little Star ...” Sahut Varen.
“Tapi Abang terlihat lelah”
“I’m okay. Percaya deh, hem?”
“Tapi Drea khawatir Abang ...”
“Tidak perlu mengkhawatirkan aku Little Star ... aku sudah cukup merasa sehat dan tidak lelah sama sekali kalau kondisi kamu terus membaik”
“Bagaimana Drea tidak khawatir Abang?... kantung mata Abang tidak bisa membohongi kondisi Abang sekarang. Abang juga pasti ga makan dengan benar kan?”
“Andrea benar Kak. Lebih baik Kak Varen istirahat aja dulu. Itu ada makanan yang dibawa sama Mama Fabi dan Mom Ichel tadi, masih ada yang masih belum tersentuh”
“Tuh, Abang makan dulu gih sana”
“Atau mau Via belikan makanan dibawah?”
“Tidak perlu Vi. Terima kasih. Aku belum lapar”
“Abaang...”
“Aku memang belum lapar Little Star”
“Tau lo Bang! Nanti lo sakit! Lo dari sejak dari penyelamatan Drea sama Via belom istirahat kan lo?!. Belum lagi lo cape di sarang, di Playground ...”
Nathan menggigit lidahnya karena sadar keceplosan saat Abang melotot padanya tanpa diperhatikan oleh Andrea.
“Playground? Sarang...”
Andrea mengulang dua kata yang sempat diucapkan Nathan barusan. Sembari memandang Nathan lalu menoleh pada Varen dengan raut wajah yang sedikit bingung.
“Apa i - ...”
“Ehem! Bukan apa – apa”
Varen langsung menyambar pada Andrea yang mengerutkan dahinya. Via juga sama bingung, namun dia tidak bertanya.
“Tapi tadi Tan – Tan bilang kalau Abang cape di Sarang dan di Playground? ...”
“Mak - ...”
“Itu Sarang penjahat tempat lo dan Via dibawa... di ... itu iya , apa? Di Marina ibu – ibu gila itu loh!”
Nathan gantian yang menyambar sebelum Abang berbicara pada Andrea.
Andrea manggut – manggut.
Kevia pun sama.
“Lalu Playground?”
“Ada Playground disana!”
Varen menyahut cepat.
“Iya, orang – orang kita termasuk gue dan Abang kan sempat menyisir itu tempatnya si ibu – ibu gila itu. Nah banyak anak buahnya yang kita bekuk dulu baru deh kita menemukan Via dan elo Ya! ...”
“Oh ...”
“Ya itu Marina sarangnya mereka ...”
“Huuumm ...”
Andrea kembali manggut – manggut, termasuk juga Kevia.
“Ya sudah. Pokoknya Drea mau sekarang Abang istirahat dan makan dulu ya?”
Varen dan Nathan seketika lega karena Andrea tak lagi bertanya soal ‘Sarang’ dan ‘Playground’.
“I – Y – A – I – N - !”
Nathan yang memundurkan dirinya dibelakang Kevia itu berucap dengan penekanan dan mendelik pada si Abang, namun tanpa suara melihat pada Varen yang menoleh padanya saat Andrea berbicara untuk menyuruh si Abang istirahat dan makan.
Abang yang kemudian menoleh dengan cepat pada Andrea langsung mengangguk seraya tersenyum.
****
Esok hari ....
“Beneran Drea boleh pulang besok?!”
“Iya”
“Tapi kamu tetap harus banyak berisitirahat dulu di rumah loh ya?. Karena dua hari sekali kamu akan dicek darah sampai kondisi kamu memang dianggap sudah stabil”
“Iya Kak Marsha ...”
“Ya udah ya, aku tinggal dulu”
“Thanks ya Sha”
__ADS_1
“You are very welcome Alva”
****
Another next day ( Hari berikutnya ) ...
Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia
Raut bahagia tergambar pada wajah semua orang yang menanti kedatangan Andrea yang kembali ke Kediaman Utama.
Meski Andrea nampak belum fit benar, tapi setidaknya Andrea juga tidak nampak lemah dan ‘hilang arah’ seperti beberapa waktu sebelumnya.
“Welcome home ( Selamat datang di rumah ) Drea!...”
“Makasih ya semua ...”
“Yuk! Hari ini semua makanan kesukaan kamu sudah disiapkan!”
“Iya...”
****
Varen langsung membawa Andrea untuk beristirahat di kamar pribadi mereka saat dirinya dan Andrea sudah lebih dulu menyelesaikan makan mereka.
“Apa kamu kedinginan Little Star?” Varen nampak sedikit cemas setelah ia merasakan kulit Andrea sedikit lebih dingin daripada suhu tubuhnya yang biasa.
“Sedikit”
“Ya sudah, kamu tidur dan beristirahatlah. Aku turunkan suhu pendingin ruangan dulu”
Andrea mengangguk sembari tersenyum kala Varen sudah membaringkan dan menyelimuti dirinya di atas ranjang, lalu meraih remot pengatur suhu pendingin ruangan di kamar pribadinya dan Andrea dan menurunkan suhunya agar tidak terlalu dingin untuk Andrea.
“Apa sudah cukup, atau mau diturunkan lagi?”
“Sudah cukup Abang”
“Ya sudah kamu istirahat dulu, hem?”
Varen mengusap kepala Andrea dengan lembut seraya tersenyum.
“Atau kamu menginginkan sesuatu?”
“Engga Abang, Drea sudah kenyang”
“Tapi makan kamu sedikit sekali tadi”
“Perut Drea sudah terasa penuh”
“Ya sudah, sayangnya Abang istirahat ya?”
Andrea mengangguk, karena memang ia sudah merasa sedikit mengantuk.
“Abang ga ikut istirahat?”
“Aku mau mengecek email dulu sih sebenarnya”
“Istirahat dulu Abang. Sekalian temani Drea....”
Varen pun langsung mengangguk seraya tersenyum lagi.
Lalu Varen beringsut ke samping Andrea dan merapihkan rambut Andrea terlebih dahulu sebelum membawa Andrea kedalam dekapannya.
Namun Andrea tidak langsung memejamkan matanya kala Varen sudah ikut berbaring disisinya sekaligus memberikan dekapan yang selalunya membuat Andrea merasa nyaman.
Andrea menatap lamat – lamat wajah Varen yang mendekapnya serta juga sedang menatapnya.
“Ada apa, hem?”
Varen mengelus lembut pipi Andrea karena istri kecilnya itu sedang menatapnya.
“Mau aku nyanyikan lullaby ( lagu nina bobo )?....”
“Abang ....”
“Apa, hem?”
“Drea bermimpi semalam ....”
Wajah Varen sedikit menjadi was – was.
“Apa kamu terbayang – bayang akan kejadian buruk di yacht itu lagi???”
“Bukan ....” Andrea menggeleng pelan. Dan Varen merasa lega karenanya.
Varen takut jika Andrea mengingat lagi kejadian buruk yang menimpanya, atau alam bawah sadar Andrea memutar kembali kejadian tidak mengenakkan tersebut, istri kecilnya itu akan menjadi histeris lagi.
“Syukurlah jika Drea tidak memimpikan hal itu”
“.......”
“Jangan kamu ingat - ingat lagi, hem?. Apa yang kamu takutkan tidak pernah terjadi”
“Iya, Abang ....”
“Mulai sekarang, Abang tidak akan membiarkan Drea sendiri diluaran sana”
“Iya, Abang ....”
“Jadi Drea mimpi apa?”
“Seorang bayi ....”
Deg!
“Dan dia mirip sekali dengan Abang ....”
‘Maafkan aku Little Star....’ Varen membatin pilu.
****
__ADS_1
To be continue ....