THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 147


__ADS_3

🔼🔼🔼  QUALITY TIME    🔼🔼🔼


🔼  ( Waktu yang Bermakna )  🔼


Selamat membaca......


🔼🔼🔼🔼🔼🔼🔼🔼🔼🔼🔼🔼


“NINO?????!!!!..”


( Michelle dan Fania memekik bersamaan saat pintu lift yang mereka masuki melalui gudang di ujung belakang Mansion itu pun terbuka. Namun dua gadis itu juga buru – buru menutup mulut mereka secara bersamaan. Nino tersenyum sumringah pada Michelle dan Fania juga pada Dad dan para Pangeran. Ia pun menyalami dan memeluk mereka satu – satu ).


"Jangan khawatir, ruangan ini kedap suara."


“So glad that I can to meet all of you right now. ( Senang sekali bisa bertemu dengan kalian semua lagi saat ini ).”


“Glad to see you too, Nino. ( Senang melihatmu juga, Nino ).”


‘Gue kira ada resepsionis yang nunggu dibawah sini.’ Batin Fania. “Jadi selama ini dia jagain Save House gitu?.”


“Ya engga. Nino juga baru datang kesini setelah kami menginfokan kalau kita akan sampai ke London malam ini. Dia juga punya tugas penting sama Ezra berkenaan dengan pria terkutuk itu sebelumnya. Nah. setelah mengamankan Jihan dan yang lainnya ke Save House ini. Sementara kalian yang bersama kami di tempat Uncle Keenan langsung dibawa oleh Ezra sebelum dia melakukan tugas yang lain seperti Nino.”


( Fania dan Michelle hanya manggut – manggut mendengar penjelasan Jeff barusan ).


“Kenapa Little F? ..”


( Reno bertanya pada Fania yang celingukan ).


“Ini bener Save House???.”


“Benar, Jol..” ( John yang menyahut ). "Hanya belum masuk lebih dalam saja."


“Mana pintunya???..” ( Si Kajol rada bingung ).


“Bring us in, Nino ( Bawa kami masuk, Nino ).”


( Nino mengangguk sembari tersenyum, lalu dia menekan salah satu tombol di ponselnya, sebelum ia menekan tombol lain yang tersembunyi pada suatu dinding sampai kemudian keluar kotak kecil dimana ada beberapa tombol angka disana. Nino pun menekan beberapa diantaranya dan sejenak kemudian dinding yang entah berapa lapis didepan mereka pun bergeser ).


****


( Michelle dan Fania tak lagi berkomentar saat semua lapisan dinding itu terbuka sepenuhnya. Dua wanita itu kembali saling tatap untuk yang kesekian kalinya ).


( Dinding yang berlapis - lapis itu ternyata tembus ke sebuah ruangan yang Michelle dan Fania kenal, Fania terutama. Karena dia yang paling sering menghabiskan waktunya disana, jika Andrea sudah tidur. Tempat yang memajang semua foto para anggota keluarga mereka, tempat Fania melepas rindunya pada Andrew dan lainnya kala itu. Kadang berbicara sendiri seperti orang tak waras sembari tersenyum sesekali dalam duka dan keputus asaannya kala itu ).


“Please ... ( Silahkan ).”


“Gila!.”


“Kenapa?.”


“Padahal aku sering banget ada disini, tapi ga memperhatikan ini dinding. Yang aku lihat sama Varen seringnya yang itu dan semua dinding yang tertempel foto.”


( Fania menunjuki satu – satu hal yang dia bilang barusan ).


“Ya gimana mau memperhatikan, Kak Fania itu seringnya duduk termenung disini dengan tatapan kosong bahkan.”


( Michelle menyentuh kursi goyang yang biasa diduduki Fania jika ada di ruangan tempat mereka berada sekarang ).


“Lalu memperhatikan foto – foto, bicara sendiri, senyum sendiri sambil menangis hingga berjam – jam lamanya.”


‘Ih kok Michelle tau sih?.’


( Fania membatin saat semua orang menoleh padanya dengan tersenyum tipis nampak sedikit iba ).


“Aku tahu Kak, semua yang ada di Save House ini pun sering melihat apa yang Kak Fania lakukan kalau kakak sedang berada disini. Hanya saja kami tak pernah mau menginterupsi.”

__ADS_1


( Fania menarik sudut bibirnya, sementara Andrew yang hatinya terenyuh setelah mendengar ucapan Michelle tadi. Andrew langsung mendekap Fania dan menciumi pucuk kepala wanita tercintanya itu. Ada rasa bersalah yang kembali menggulung dihatinya, tak terbayang menderitanya Fania dengan duka dan sedihnya kala itu. )


( Reno pun mengacak – acak rambut Fania sembari tersenyum tipis, termasuk juga dua J yang juga sama memiliki rasa bersalah dihati mereka pada Fania, selain pada istri dan anak mereka juga pada Mom dan keluarga yang lain ).


“Maaf ya ..”  ( Ucap Reno dan Fania tersenyum ).


“Ga hanya gue Kak. Kak Ara, nih dia juga.”


( Fania menunjuk Michelle ).


“Termasuk Mom, Prita dan Jihan juga sering nangis diem – diem.”


“Kami minta maaf untuk itu sekali lagi.”


“Iya nanti minta maafnya sama Mom dan yang lainnya juga. Termasuk sama Ben, Theresa, Lita, Hera dan Amber yang udah sabar dan setia banget sama kita orang.”


“Iya Kak Fania benar. Mereka berlima juga sama terpukulnya dengan kami.” ( Michelle menimpali ucapan Fania barusan ).


“Better all of you meet them all now, right on ( Sebaiknya kalian segera menemui mereka sekarang ).”


Mereka yang bersama Nino kemudian manggut – manggut.


“Tapi udah dipastikan kalau mereka masih ada disini?.”


“Sudah.”


“Ya sudah, ayo!.”


***


“Ah iya, kalian masuk dari pintu yang sama tempat Fania dan Michelle keluar?. Tapi kenapa kami tidak mendengar apapun?.”


Ketujuh orang itupun dengan kompak menggeleng.


Nino langsung pergi lagi setelah mereka semua menemui keluarganya masing – masing, untuk memberikan kejutan manis nan haru.


“So, there’s another door ( Jadi ada pintu yang lain ) selain dari tempat dimana Fania dan Michelle keluar saat mereka meninggalkan tempat ini untuk mencari kalian?.”


“Yes Mom ( Iya Mom ), ada akses pintu yang lain selain dari pintu yang berada diruang rahasia yang ditemukan oleh Fania dan Varen.”


“Dan berterima kasihlah kita semua pada cicitnya Einstein tuh!..” Fania menunjuk Varen. “Dia  yang bantu aku menemukan ruang rahasia itu. Belom lagi dia jago banget tuh bisa nge hack password pintu keluar di itu ruangan. De el el dah pokoknya. Emezing beut dah ah anaknya Yigit Kozen ama Ibu Peri.” Ucap Fania dan semua orang terkekeh dengan celotehan nya.


“My very Genius Boy! .. ( Anakku yang sangat jenius! ).” Reno merentangkan tangannya pada Varen, dan putra pertamanya itu pun mendekat dalam dekapan sang Daddy yang kemudian mengacak – acak rambutnya sembari tersenyum. Semua orang pun tersenyum takjub pada Varen.


“Kami bangga pada kamu, Prince.”


“I can found the secret room also because of Momma ( Aku bisa menemukan ruang rahasia itu juga karena Momma ).”


“Oh ya?.”


“Yup!. Momma yang menemukan petunjuk pada frame foto Dad dan Poppa yang memandang kesatu arah, lalu Momma dan aku membaca sebuah kalimat yang tertulis disana. Aku bilang pada Momma, kalau kalimat itu seperti teka – teki. Tapi Momma sempat tidak percaya, hingga akhirnya Momma  meminta aku untuk membaca kalimat itu lagi sambil melihat foto Dad dan Poppa dimana kalimat itu tertulis.”


Varen bicara panjang lebar.


“Lalu Momma berulang kali mengulangi kalimat itu dengan memandang foto Dad dan Poppa dan menyadari refleksi yang ada dicermin dan mencoba mengaitkannya dengan kalimat teka – teki itu, hingga kami memperhatikan lebih seksama frame besar keluarga kita pada dindingnya, dan aku melihat satu sisi frame itu tidak rata, lalu aku minta Momma menyentuhnya.” Cerocos Varen. “Dan akhirnya kami menemukan ruang rahasia itu.”


“Hebaaattt!.”


“Iya dong!. Aku dan Momma are Enchanted Team ( Tim yang Gemilang ).”


“Tooooossss!!!.” Fania mengarahkan telapak tangannya pada Varen dan langsung disentuh Varen dengan tos yang antusias.


Mereka pun terkekeh bersama pada akhirnya, mengobrol dan bersenda gurau seperti selayaknya dulu. Menikmati waktu yang rasanya begitu bermakna, setelah beberapa waktu yang dirasa sedikit berat. Meskipun Papa Herman, Mama Bela dan Ibu Yuna belum ikut bergabung bersama mereka, tapi setidaknya mereka baik - baik saja saat ini.


Setelah Fania menghubungi ketiga orang yang berada dibenua berbeda itu dan mengabarkan kalau dirinya serta yang lain sudah baik - baik saja, sebelum mereka bertolak ke London dari Italia.

__ADS_1


"Soal Ibu beserta Papa dan Mama bagaimana?. Apa mereka baik - baik saja?."


"Mereka baik - baik saja, jangan khawatir. Kami sudah menghubungi mereka sebelum kesini. Beberapa hari kedepan juga mereka akan berkumpul bersama kita semua.


Mereka yang berada di Save House pun kembali mengobrol santai lagi, mengganti waktu yang hilang, meski pagi kian menjelang. Namun rasa kantuk itu terbang entah kemana.


***


“Sirs, Madams, we already prepare food for all of you, better you are all go for eat now ( Tuan – tuan, Nyonya – nyonya, kami sudah menyiapkan makanan untuk anda semua, sebaiknya kalian makan sekarang ).”


“Sure! Thank you Theresa, Ben.”


“No need to thank us, please .....” Ucap Ben dan Theresa.


“Ya sudah mari kita makan!.. We miss the food you made, Theresa ( Kami rindu masakan buatanmu, Theresa ).”


Mereka semua pun beranjak dari duduknya untuk pergi bersama – sama ke ruang makan, dan mengajak lima abdi


setia mereka juga untuk makan bersama tanpa jarak.


***


“All of us will stay in this Save House for one more day, is that okay? ( Kita semua akan tinggal satu hari lagi di dalam Rumah Perlindungan ini, tidak apa kan? ).” Ucap Dad.


Para orang Dewasa berkumpul bersama menikmati makanan mereka ditempat mereka berkumpul tadi, sementara anak – anak bersama para pengasuhnya berikut Ben dan Theresa diminta untuk makan disana saja, meskipun mereka sempat menolak karena sungkan.


“Never mind ( Ga masalah ).” Sahut Mom.


“Emang kenapa?.” Tanya Fania.


“Seperti yang sudah kami katakan pada kamu dan Michelle sebelum kesini. Mansion masih dirapihkan terlebih dahulu. Agar kita bisa merasa nyaman saat kembali ke Mansion.”


“Huumm..” Fania manggut – manggut sambil menyuap makanannya.


“Yaaahhhh... paling tidak kita bisa mencoba sensasi baru disini!...”


“Sensasi apaan? Tinggal dibawah tanah, maksudnya?. Udah bosen kelles....” Sahut Fania menimpali ucapan Andrew.


Andrew terkekeh penuh arti lalu menatap para lelaki sambil memainkan alisnya.


“Ahh!! Benar juga lo Ndrew!.”


Otak si bule koplak sepertinya konek dengan otak si Donald Bebek.


“Very fast ( Sangat cepat ) kalau tentang yang satu itu!.”


Kakak ganteng menggumam lalu menyuap makanan kemulutnya sambil geleng – geleng. Ia sudah bisa menebak maksud ucapan Andrew, namun tak mau menyahut.


“Apanya yang benar?.” Tanya Prita.


“You know lah, ‘Husband’s things’ ( Kalian tahulah, ‘Sesuatu tentang suami’ ). Yah siapa tahu, dengan mencoba sensasi baru didalam tanah, bisa muncul junior – junior baru????? ....”


Jeff memainkan alisnya lalu menyeringai jahil pada Jihan, yang akhirnya paham maksud kemana arah ucapan para pria itu. Jihan hanya menggeleng sambil setengah terkekeh, juga para wanita yang lain.


“Kaga jauh – jauh!.” Celetuk Fania.


“Ya sekaligus kita mencoba peruntungan, siapa tahu anak kedua kita bisa muncul setelah kita merasakan sensasi bercinta di bawah tanah ini? hem? hem?...”


Si Donald Bebek tak lagi menyaring ucapannya sambil menggoda Fania dengan memainkan lagi alisnya plus wajah dengan seringai jahil nan mesum milik si plontos itu.


“Anak kedua ... Anak curut yang ada!.”


***


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2