THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 34


__ADS_3

# JEALOUSLY # Kecemburuan


😚😚😚😚😚😚😚😚😚


Selamat membaca ...


 


Bandung, Jawa – Barat, Indonesia


 


“Jagoan Daddy mau beli apa?.”


Jeff sedang mengajak Nathan pergi ke sebuah pusat perbelanjaan di kota Bandung ini. Kebetulan juga kalau hari ini adalah weekend, jadi Jeff sengaja datang lebih cepat ke rumah Jihan, seperti biasa untuk mengajak putranya itu jalan – jalan atau sekedar menemaninya bermain. Namun sayangnya Jihan sedang ada urusan di kantornya sebentar dan mungkin baru akan kembali sore hari.


Jeff menyayangkan sih, tapi tetap saja dia merasa senang untuk bertemu Nathan lagi meski Jihan baru akan bergabung dengan mereka saat sore hari.


“Aku mau main – main dulu, Daddy. Beli mainannya nanti.” Ucap Nathan.


“Oke Boss!.” Sahut Jeff dengan tersenyum gemas pada putranya itu yang kini sudah tidak mau digendong lagi kalau sudah berada didalam Mal.


*****


“Dad, Nathan lapar.”


Nathan mengeluh lapar saat ia sudah puas bermain.


“Nathan mau makan apa?.”


“Mie!.”


“Mie?.”


Jeff mengernyitkan dahinya sambil matanya mencari tempat makan yang menyediakan menu yang ada mie – nya, seperti yang diinginkan Nathan. “Itu mau?.” Tunjuk Jeff pada sebuah tempat yang men – display gambar ramen didepannya.


Nathan mengangguk. “Mau Dad!.”


Kemudian Jeff menggandeng tangan Nathan dan masuk ke dalam tempat makan yang ia tunjuk tadi.


“Nathan mau Dad suapi?.”


“Engga.” Sahut Nathan sambil menggeleng.


Jeff tersenyum sambil mengacak – acak rambut anaknya dan ia juga ikutan memakan makanan yang sudah ia pesan juga.


Triiiing .....


Ponsel Jeff berdering.


“Jihan.” Tertera nama Jihan dilayar ponselnya dan Jeff langsung tersenyum. Dia memang sudah mengabari Jihan kalau dia akan mengajak Nathan ke salah satu pusat perbelanjaan yang memiliki studio mini dari beberapa atraksi. Jeff tidak menjawab panggilan Jeff sebelumnya dan Jeff mengabarkan Jihan melalui pesan teks dan sepertinya Jihan baru membacanya.


Toh  Jihan baru menghubungi Jeff, setelah Daddy dan putranya itu telah selesai bermain dan belanja mainan.


“Halo.”


“Halo, Jeff?.”


“Iya, Ji.”


“Kamu beneran ada di Tr*nsmart dengan Nathan?.”


“Iya.”


“Dimananya?. Aku juga kebetulan ada disini.” Ucap Jihan dari sebrang telpon.


“Oh ya sudah, aku sedang direstoran ramen.”


“Yang dilantai ground bukan?.”


“Iya.”


“Ya sudah aku kesana ya?.”


“Oke.”


****


“Mamaaaaaa!.”


“Wah anak mama enak banget ini lagi makan ramen.” Ucap Jihan pada Nathan yang girang melihat kedatangan mamanya itu.


“Hai Ji.”


“Hai, Jeff.”


“Kamu sedang disini juga?.”


“Iya, kebetulan lagi cari kebutuhan kantor.”


“Ya sudah duduk yuk. Kamu mau pesan apa?.”


Sejenak mata Jeff bertemu dengan mata milik Jihan. Namun perhatiannya tertuju pada seseorang yang kemudian muncul dibelakang Jihan.


‘Cih!.’


Jeff men - decih dalam hati.


“Hai, Jeff.”


“Hai, Liam.” Jeff menyambut uluran tangan Liam. “Kalian hanya berdua?.”


“Iya.”


Jihan yang menyahut.


“Oh.” Jeff hanya ber oh ria. “Duduklah. Kalian sudah makan?.”

__ADS_1


“Sudah.”


Jihan mengeluarkan tisu basah dari dalam tasnya dan menyeka mulut Nathan yang blepetan kuah ramen.


“Nathan sudah selesai makan?.” Tanya Jihan pada anaknya.


Nathan mengangguk.


“Ya sudah yuk, kita pulang.” Ucap Jihan. “Mama sama Uncle Liam juga sudah selesai.”


“Iya Nat –“


“Kenapa harus pulang?. Nathan datang bersamaku kesini. Jadi dia akan pulang denganku.”


Nada suara Jeff terdengar tidak suka dengan ucapan Jihan barusan.


“Tapi aku akan pulang dengan Liam.”


“So? ( Jadi? ).”


Jihan mengernyitkan dahinya.


“Jadi ya Nathan pulang bareng aku dan Liam, Jeff. Dia juga sudah terlihat lelah.”


“Ga mau. Nathan maunya sama Daddy!.” Rengek Nathan.


“Nah, Nathan saja tidak mau pulang bareng kalian.” Jeff bersuara lagi. “Jadi jangan memaksanya.”


Jihan terdengar mendesah pelan. Wanita itu nampak seperti sedang menahan kesalnya saat ini.


“Nathan, bukannya Nathan mau beli kolam renang kecil yang waktu itu Nathan bilang sama Uncle?.”


Liam menundukkan tubuhnya sambil mengelus kepala Nathan.


“Ck. Kolam renang kecil buat apa?.” John terkekeh sinis. “Dad bisa belikan Nathan rumah yang ada kolam renangnya.”


Jihan sampai membulatkan matanya mendengar ucapan Jeff barusan.


“Asiiikkkk. Bener Daddy mau beliin Nathan rumah yang ada kolam renangnya?.” Anak berusia lima tahun itu kegirangan sambil melompat memeluk Daddynya.


“Benar dong. Kapan Daddy bohong sama Nathan, hem?.”


‘Ih, apa sih ini orang?.’


Jihan membatin tak suka melihat sikap Jeff saat ini.


“Ga perlu bicara seperti itu Jeff.”


Meski sedikit kesal, namun Jihan menjaga nada suaranya.


“Aku tak pernah main – main dengan ucapanku.”


“Ayo.... Daaadd ... kita pulang.”


Nathan merengek pada Jeff tanpa melihat Jihan dan Liam.


“Oke.”


“Nathan pulang bareng aku. Kamu terserah mau pulang dengan siapa.” Jeff kemudian berjalan sambil menggendong Nathan, meninggalkan Jihan dan Liam. ‘Satu, dua, tiga.’


“Mama ayo, Ma.” Nathan memanggil mamanya. Jeff menyeringai senang, tanpa dilihat Jihan dan Liam. Tepat seperti hitungan dan prediksinya kalau Nathan pasti akan mengajak mamanya ikut serta pulang dengannya dan Nathan.


“It’s okay sayang, lebih baik kamu pulang dengan Nathan.”


Suara Liam terdengar ditelinga Jeff. Sepertinya Jihan meminta maaf pada kekasihnya itu atas sikap Nathan.


‘Cih! Sayang!.’ Jeff men - decih lagi dalam hati.


“Mamaaa..”


Nathan kembali memanggil mamanya.


“Iya ..”


“Ya udah hati – hati ya Nathan.”


Liam mendekati Nathan yang sedang digendong oleh Jeff. Ia lalu berpamitan dan mencium sekilas pipi bocah kecil itu.


Kemudian ia juga mengelus rambut Jihan dan mencium pipi wanita di itu saat Jihan sudah berdiri menghampiri mereka.


‘Sialan.’


Jeff menatap tajam dan Liam tersenyum miring padanya.


“Kalau beli kebutuhan kantor kenapa harus dengan dia?.”


Jeff bertanya sedikit sinis pada Jihan sambil berjalan menuju parkiran.


“Aku rasa itu bukan urusan kamu.” Sahut Jihan.


Jeff pun seketika bungkam.


***


“Hari ini Nathan aku bawa ke Jakarta.”


“Apa kamu bilang?.” Jihan terkejut dengan ucapan Jeff saat mereka sudah berada didalam mobil Jeff.


Jeff sedikit menyeringai sambil menyalakan mesin mobilnya dan Nathan sudah berada dipangkuan Jihan.


Sepertinya bocah lelaki itu tak paham dan tak merasa terganggu dengan mama dan daddy nya yang seperti sedang berdebat itu. Ia sibuk dengan mainan yang baru diberikan Jeff.


“Aku bilang aku akan akan membawa Nathan ke Jakarta by today ( hari ini juga ).” Ucap Jeff.


“Ga bisa Jeff, besok aku ada Event yang harus aku awasi.”


“Jadi?. Apa hubungannya pekerjaan kamu dengan aku yang akan membawa Nathan ke Jakarta hari ini juga?.” Ucap Jeff lagi. “Kamu tidak berhak menghalangi apalagi melarang.”

__ADS_1


“Aku bukannya mau menghalangi apalagi melarang kamu mengajak Nathan ke Jakarta. Kan yang sudah – sudah juga aku ga mempermasalahkan?.”


Jihan nampak mulai kesal.


“Tapi besok kan aku ada pekerjaan, kalau kamu memaksa membawa Nathan tanpa aku ya ga mungkin bisa, Jeff. Nathan itu ga mungkin kemana – mana tanpa aku, meskipun ada ibu.”


“Ya berarti kamu ikut juga ke Jakarta denganku dan Nathan hari ini, ibu juga kalau memang beliau mau.”


‘Ya ampuunnnn ini orang dibilangin besok gue ada pekerjaan penting!.’ Batin Jihan yang berbisik dengan kesal. “Ga bisa Jeff.....”


“Aku akan tetap membawa Nathan ke Jakarta hari ini, dengan atau tanpa kamu.”


“Jeff!.”


Jihan menggeram kesal.


“Minta orang lain untuk menggantikan tugas kamu besok, kalau kamu tidak ingin Nathan pergi ke Jakarta tanpa kamu.”


Jeff tak memperdulikan geraman pelan Jihan yang ia dengar.


“Kamu egois, Jeff.” Ucap Jihan.


“Bukannya terbalik?.”


“Apa maksud kamu?.” Jihan menoleh sinis pada Jeff.


“Kamu bilang aku egois kan, tapi nyatanya kamu yang egois, Ji. Kamu asyik pegi kencan sementara Nathan kamu tinggal dirumah.”


“Siapa yang pergi kencan sih?. Kamu ga lihat itu belanjaan peralatan kantor aku?.”


“Lalu Liam yang bersama kamu tadi?. Jangan bilang kalau kalian tidak sengaja bertemu.”


Jihan terdiam.


‘Ini orang apaan sih?. Kenapa gue jadi merasa seperti istri yang ketauan jalan sama cowok lain oleh suaminya gini si?.’


Jihan membatin kesal.


“Aku akan kena teguran dari kantor kalau aku mengabaikan tugas aku.”


“Weekend ga seharusnya kamu bekerja.”


“Kamu lupa aku kerja di mana?. EO, WO, yang justru lebih banyak kerja saat weekend kalau sedang ada acara.” Ucap Jihan. “Justru aku bisa lebih free saat weekdays.”


“Aku akan bicara dengan atasan kamu.”


“Hah?!.” Jihan terkejut dengan ucapan Jeff.


“Aku akan bicara dengan atasan kamu soal pekerjaan kamu dan segala hal yang berhubungan dengan itu.”


“Jangan aneh – aneh kamu.”


Jihan menggelengkan kepalanya.


‘Yang ada gue kena semprot Bu Ria.’


“Apa yang aneh dengan menelpon Bos kamu?.”


Jeff masih terus berbicara sambil ia fokus dengan kemudi dan sesekali menoleh pada Jihan.


“Ya anehlah!.”


“Anehnya?.”


“Ya aneh. Kamu sendiri memang kenal dengan Bos aku?.”


“Mudah saja untuk aku mencari tahu siapa Bos kamu di kantor atau siapa pemilik Perusahaan tempat kamu bekerja.” Ucap Jeff pongah. “Aku bahkan bisa menghancurkan Perusahaan tempat kamu bekerja dalam sekejap mata.”


“A – apa?!.” Jihan lumayan terkejut dengan apa yang Jeff ucap barusan.


“Apa kamu perlu bukti?.” Ucap Jeff seraya bertanya.


“Bukti apa?.”


“Bukti nyata dari kata – kata aku untuk menghancurkan Perusahaan tempat kamu bekerja saat ini.”


Jeff berbicara dengan santai. Jihan belum amat mengenal Jeff. Belum paham kalau para lelaki dari klan Adjieran Smith punya kuasa yang bisa membuat kata – kata mereka menjadi kenyataan. Terlebih jika ada yang menantang mereka.


“Jangan ngaco kamu.” Sergah Jihan. “Ga perlu sampai seperti itu.” Sambungnya. ‘Gila!.’ Batin Jihan merutuki Jeff.


Jeff tersenyum miring.


“Ya udah nanti aku sendiri yang menghubungi atasan aku soal besok.”


Jeff langsung lagi tersenyum tanpa ia tutupi. Merasa menang atas tekanannya pada Jihan.


“Sekaligus kamu telpon kekasih kamu itu, dan beritahu dia kalau kamu dan Nathan akan menginap ditempatku!.”


Jihan mendelik pada Jeff.


‘Biar si Liam tau kalau gue sering mengajak Jihan tinggal bareng keluarga gue.’ Batin Jeff bermonolog. ‘Belum ada hal apapun yang gue mau, yang ga bisa gue menangkan. Termasuk hati perempuan.’


Hati dan bibir Jeff kompak menyeringai.


‘Mau bersaing sama gue lo, Liam Kalingga?.”


Batin Jeff bermonolog lagi.


‘Apa tuh yang si Kajol sama Priwitan suka bilang? .... Ah iya, tidak semudah itu Ferguso!.’


****


To be continue...


Jangan lupa dukungan selalu untuk Novel ini yaaaaaa


Klik tanda bintangnya juga untuk kasih rating yang menurut para reader sesuai.

__ADS_1


Loph Loph💗💗💗💗💗💗


__ADS_2