
♦ CHASING ♦
( Mengejar )
Selamat membaca .....
“GPS motor gue ga bergerak ..”
“Sudah berhenti mungkin si Little Star?”
“Engga! Ini ..”
“..........”
“Kalau Little Star sengaja berhenti ga mungkin dalam speed 163km/hours.. saat titik GPS berhenti..”
“..........”
"Dan ini pun menghilang sudah. Seperti sengaja dimatikan, atau......."
“Maksud lo.. Little Star ..????”
“No No, kita jangan berspekulasi buruk tentang Little Star. Please, gue juga sama cemasnya dengan kalian” Daddy Dewa Papi dan Papa Bear. “Hopefully, ini system error yang membuat koneksi motor gue dengan App disini,”
Daddy Dewa mengangkat ponselnya.
“Jadi terputus” Sambung Daddy Dewa.
“Lebih baik kita segera menyusul ke titik terakhirlah!. Gue ga tenang!”
Papi bersuara dan hendak bergegas. Daddy Dewa dan Papa Bear mengangguki. Lalu segera beranjak dari garasi untuk buru – buru mengganti pakaian mereka karena saat ini mereka sedang memakai celana rumahan dan kaos oblong saja.
**
“Kita perlu beritahu R dan Andrew ga?”
Tiga hot daddies itu sudah berkumpul kembali di garasi setelah mengganti baju yang kiranya cocok untuk berkendara dengan motor. Hanya ganti celana jeans dan menambah jaket saja.
Tiga hot mommies juga berada di garasi, setelah saat dikamar masing – masing bertanya pada tiga hot daddies
itu mengapa mereka begitu tergesa berganti pakaian. Dan tiga hot daddies menceritakan apa yang terjadi sembari mengganti baju mereka.
“Gue rasa jangan dulu deh. Lebih baik kita segera ke titik terakhir Little Star”
“John benar. Lagipula ini masalah pribadi si Abang dan Little Star, jadi lebih baik kita serahkan ke mereka saja nanti”
“Ya udah ayo!”
Daddy Dewa mengajak Papi dan Papa Bear segera bergegas. Papi membonceng Daddy Dewa, sementara Papa Bear akan menunggangi motornya sendirian. Tiga hot daddies itu melarang Mami, Mama Bear dan Mom Ichel untuk ikut serta.
“Hati – hati” Ucap tiga hot mommies bersamaan.
“Jika Abang atau Nathan menghubungi kalian, kalian langsung menghubungi kami ya?” Pinta Papi. Tiga hot mommies itupun langsung mengangguk.
“Iya kalian juga. Kabari kami kalau sudah bertemu dengan mereka” Timpal Mom Ichel.
Kemudian tiga hot daddies segera melajukan motor cc besar milik mereka ke tempat yang mereka tahu letaknya.
**
‘Akan menjadi penyesalanku seumur hidup, jika sesuatu yang sangat buruk terjadi padamu, Little Star ..’
Sementara itu Varen dan Nathan sudah sampai ditempat dimana titik tracker motor Daddy Dewa berada. Di sebuah kawasan di daerah Jakarta Pusat tak begitu jauh sebenarnya dari Kediaman Utama, Cuma berhubung tadi kayaknya si Drea ketempelan setan keder, jadilah itu bocah muter – muter dulu sampai ke bagian selatan kota Jakarta.
Varen dan Nathan sudah sampai disebuah Taman Kota yang cukup kece yang termasuk dalam ruang lingkup salah satu Kawasan Elite di Jakarta. Mata Varen dan Nathan saling berbagi menyusuri jalanan dan sudut taman. Varen yang melajukan motornya dengan pelan. “Bang!”
Nathan kembali menepuk pundak Varen lalu menunjuk ke satu arah dan Varen langsung membawa motor yang ia kendarai kearah yang ditunjuk Nathan.
Varen langsung memberhentikan motor dan turun dengan tergesa setelah melihat motor Daddy Dewa yang terparkir rapih, tapi kondisinya sudah tidak bagus lagi. Lampu depan pecah, dan terlihat layar speedo meter pun juga retak parah. Baret disisi kiri juga cukup parah, seperti habis diseret diatas aspal.
‘Little Star..’
“Astaga, Drea....” Nathan menggumam pelan. Ia dan Varen sudah mendekati motor Daddy Dewa yang digunakan
Andrea. Varen dan Nathan sudah mendekati motor Andrea memperhatikan dengan cepat lalu mata mereka celingukan dengan hati yang berdebar kencang, takut dan khawatir setengah mati karena tidak melihat Andrea didekat motor tersebut.
“Pak! Permisi! Tahu pemilik motor ini dimana?!” Varen berinisiatif bertanya pada salah seorang pedagang makanan kaki lima di pinggir luar taman. Yang sedang mengipas – ngipas sate dagangannya diatas arang.
“Oh, Mas keluarganya ya?”
“Iya! Saya suaminya!” Sahut Varen cepat Nathan sudah berada disampingnya setelah merapihkan motor Varen agar terparkir dengan rapih, karena si Abang memberhentikannya sembarang tadi. “A – Apa dia tidak apa – apa ..???..”
Varen bertanya dengan panik, sedikit terbata. Sumpah, takut sekali rasa hati Varen sekarang.
“Hayu saya anter” Si pedagang sate itu berujar. “Ti! Jagain itu motornya si emba! Saya nganterin suaminya emba yang tadi kecelakaan dulu!” Ucap si tukang sate yang memberikan kipas pada perempuan yang sedang ia ajak bicara itu.
“Oh, iye iye!” Perempuan yang dipanggil Ti oleh si tukang sate itu pun menyahut antusias, sambil menggantikan si tukang sate mengipas sate yang sedang dibakar itu.
Varen dan Nathan sejenak sempat saling tatap. Sama – sama berpikir apa tukang sate tersebut mau mengantar mereka ke Rumah Sakit?. Tapi kok jalan kaki?. Rumah sakit terdekat kan jaraknya kurang lebih satu kilometer dari taman tersebut.
“Istri saya.. apa terluka parah?”
Varen bertanya dengan gugup.
“Tuh mas!” Tukang sate itu keburu menunjuk ke arah dalam taman tak jauh dari tempatnya mangkal sebelum
menjawab pertanyaan Varen barusan.
“Little Star!”
“Drea!”
__ADS_1
Varen dan Nathan berseru bersamaan dan langsung berlari ke arah yang ditunjukkan tukang sate tersebut.
“Terima kasih pak!”
Varen dan Nathan berseru bersamaan pada si tukang sate tersebut dan langsung melesat ketempat dimana
seorang perempuan muda sedang duduk ngedeprok diatas rumput.
“Little Star!”
Benar itu memang Andrea yang ditunjuk si tukang sate. Yang orangnya sempat kaget kala kedua lengannya
dicengkram hingga botol air mineral yang tadi ia pegang dan tak tertutup itu lepas dari genggamannya.
“A – bang?... Tan – Tan? ....”
“Oh Tuhan... Little Star ... Sayang ..” Varen langsung memeluk istri kecilnya itu.
Lalu melepaskan dengan cepat dan memeriksa bagian wajah dan tubuh Andrea dengan cepat. Nathan juga sudah
berjongkok didekat Andrea seperti Abang. “Lo ga apa – apa Drea?!”
Nathan pun bertanya dengan cemas.
“Ada yang patah?!” Nathan mengecek kaki dan tangan Andrea.
“Ouch!” Andrea spontan mengaduh kala Nathan menyentuh punggung tangannya yang nampak tergores dan basah seperti habis disiram air.
“Tangan kamu....” Varen yang mendengar Andrea mengaduh langsung mengangkat tangan Andrea perlahan. Takut
benar yang ditanya Nathan tadi, takut tangan atau kaki Andrea yang sedang di selonjorkan itu patah.
“Jangan disentuh, perih!” Ucap Andrea yang kemudian meringis dan meniup lukanya. Varen mendudukkan dirinya sembarang didekat Andrea.
“Mana? Yang sakit?. Kita ke Rumah Sakit sekarang! Ayo!”
Varen hendak menggendong Andrea.
“Abang apa sih, Drea ga apa – apa! Hanya beberapa luka gores aja ini”
“Beneran lo ga apa - apa?”
Nathan memastikan.
Andrea mengangguk santai tapi wajah Varen masih khawatir. “Kita ke Rumah Sakit ya, kamu harus diperiksa, Little Star ...”
“Drea ga apa – apa!” Ucap Andrea. “Nih! Nih! Drea ga apa – apa! Hanya tangan saja ini yang tergores saat terseret sebentar. Selebihnya I’m fine ..” Ucap Andrea sembari menggerakkan kaki dan tangannya dihadapan Varen dan Nathan.
Varen dan Nathan memperhatikan. Kalau melihat kondisi motor Daddy Dewa sih, minimal Andrea itu terseret beberapa meter diatas aspal. Paling banter salah satu bagian jaket atau jeansnya ada yang rusak atau robek. Tapi melihat Andrea yang masih Alhamdulillah ga berdarah – darah juga, Varen dan Nathan cukup keheranan.
‘Bodi depan motor Dad Dewa ringsek, tapi kalau dia tabrakan, paling banter ini anak terpental pasti ada yang patah badannya’
Batin Nathan mulai berspekulasi.
‘Atau dia slip trus hilang kontrol, terseret baru itu motor membentur sesuatu? Tapi harusnya kan dia ga cuma tergores ditangan aja?. Ah taulah! Yang penting si Cute Girl selamat!’
“Benar kamu tidak apa – apa?. Kita ke Rumah Sakit saja ya?”
tadi, setidaknya Andrea pasti terseret diatas aspal bersamaan dengan motornya.
“Drea, ga apa –apa, A-baangg ..”
“Tapi itu motor Daddy Dewa.. sampai seperti itu ... pasti kamu sampai terseret kan, Little Star ...?..”
*****
Flash back on
Otakmu terlalu pendek untuk berpikir panjang kurasa.
“Ga sekalian menyumpahi umur gue pendek”
“..........”
*“Ah! S*t!”
“..........”
Ckiiiittttt....
“Akhhh!! ....”
Gusrakk!!!
Sreeettt...
(Motor yang dikendarai Andrea seketika oleng dan langsung jatuh miring diatas aspal hingga terseret. Dengan Andrea yang terhimpit disisi kirinya)
‘Damn it!’
Sraakkk ...... (Anggep aje begitu bunyinya ye? Emak bingung mau nulis ape bunyinya buat ini adegan)
(Andrea melepaskan kedua tangannya dari stang motor dan mendorong dirinya dengan kencang kearah yang
bertolakan dengan motor yang melaju ter – rebah miring diatas aspal hingga akhirnya ia terlepas dengan posisi yang masih terlentang diatas aspal)
Brrruuaaaakk!!!!
“Mati gue!”
(Andrea merutuki dirinya sendiri menyaksikan motor Daddy Dewa yang terus terseret diatas aspal setelah ia bisa melepaskan dirinya dari motor tersebut, hingga akhirnya motor salah satu Daddy yang dipinjamnya itu menabrak pinggiran taman dan akhirnya berhenti)
(Tak lama beberapa orang membantu Andrea berhenti dengan kepanikan yang tercipta. Sementara Andrea sudah
duduk diatas aspal memandangi motor Daddy Dewa yang sepertinya sedikit hancur kalau dengar dari suara benturannya tadi saat motor itu berhenti)
__ADS_1
“Terima kasih, saya tidak apa – apa kok” (Andrea mencoba berdiri dengan dibantu oleh beberapa orang yang
mengerumuninya, hendak menghampiri motor Daddy Dewa yang cukup berjarak dari tempatnya sekarang)
(Dua orang sudah lebih dulu membantu mengambil motor yang tadi dipakai Andrea ternyata dan membawanya
kehadapan Andrea)
“Terima kasih ya Pak” (Ucap Andrea sopan setelah membuka full face helmnya)
(Jangan ditanya wajah para pria yang berkerumun saat Andrea membuka helmnya. Mereka terpesona sampe nganga saking seperti melihat bidadari campur wonder woman. Cantik iya, kuat juga iya kayaknya. Soalnya ga ada lemes – lemes nya abis kecelakaan kan itungannya)
“Emba beneran ga apa – apa?” (Tanya beberapa orang bersamaan)
“Iya saya ga apa – apa. Terima kasih semua” (Menunjukkan senyumnya pada orang – orang yang mencoba
membantunya)
‘Oh Tuhan, aku terpanah asmara’ (Batin para pria jomblo)
‘Abis ngeliat ini emba, inget bini di rumah. Mata auto sepet perasaan’ (Batin suami luck not)
Flash back off
***
Varen dan Nathan saling tatap sebentar setelah Andrea bercerita kenapa ia hanya cedera ringan. “Salut deh sama spontanitas lo dalam menyelamatkan diri Cute Girl!”
“Kamu yakin kamu baik – baik saja?” Varen menatap Andrea dengan serius sambil menangkup wajah istri kecilnya
itu.
“Iya Drea baik – baik saja”
“Maafkan aku ...”
Varen langsung membawa Andrea dalam dekapannya.
“Abang....” Ucap Andrea sambil melepaskan diri dari Varen dengan perlahan.
“Ya?. Kamu mau pulang sekarang?” Sahut Varen seraya bertanya.
“Bukan itu”
“Lalu?”
“Abang tolong pergi” Ucap Andrea dengan menatap Varen yang nampak terkejut dengan ucapan Andrea barusan.
Nathan memperhatikan. Tiba – tiba dirinya merasa canggung sendiri karena Andrea menyuruh Abang pergi.
Namun Nathan menyiapkan dirinya jika harus jadi penengah karena siapa tahu Abang dan si Cute Girl adu argumen setelah ini. Dengan kemungkinan besar, si Cute Girl ngambek berat, dan bener - bener mengusir si Abang untuk pergi dari hadapannya - Pikir Nathan.
“Little Star ... aku tahu, kamu kesal, marah mungkin sama aku. Maaf, sudah membentak kamu. Tapi tolong, mengerti juga posisi aku” Ucap Varen dengan lembut, sambil meraih tangan Andrea sedikit hati – hati, karena ada luka dipunggung tangan istri kecilnya itu.
“Abang pergi tolong ..”
“Little Star...”
“Enngg .... apa ga lebih baik kalian bicara di rumah aja?”
Nathan memberanikan diri untuk menginterupsi, menjadi salah tingkah sendiri.
“Abang tolong pergi, ..”
“Drea, lo jangan gini ah, ngomong dirumah deh! Balik sana tuh sama Abang. Biar gue yang bawa motor Dad Dewa. sambil juga nunggu mereka datang”
“Siapa yang mau datang?”
“Papi, Daddy dan Papa Bear”
Varen yang menyahut pada Andrea yang tadi sempat menoleh pada Nathan.
“Nathan benar, sebaiknya kita bicara dirumah”
“Drea mau Abang pergi”
“Little Star ..”
“Drea mau Abang pergi, ambilkan itu sate pesanan Drea. Drea sudah lapar! Sate yang Drea pesan ga datang – datang! Abang tolong pergi ambilkan! Drea sedang kesal jadi Drea butuh makanan! ”
Varen dan Nathan kompak melongo, menatap Andrea.
“Abang! Mau ambilkan ga?!”
“Hah – ?? ... I – iyya .. Abang ambilkan. Di tukang sate tempat kamu titip motor?” Sahut Varen seraya bertanya. Nathan geleng – geleng mulai cekikikan.
“Iyaa”
“Ya sudah tunggu disini sebentar” Ucap Varen dan bangkit dari duduknya. “Sate ayam kan?”
“Iyaa. Tiga puluh tusuk, lontongnya empat!”
“Sebanyak itu?. Orang rumah kan sudah tidur juga pasti”
“Mana buat orang rumah sih?! Buat Drea! Makan sini! Sambal jangan lupa!”
“A – apa?? .... Tiga puluh tusuk?.. i – itu untuk kamu sen-diri? ..”
“Iyaa, kan dibilang Drea sedang kesal! Drea lapar! Cepat doooong!!”
“I – iya, o – kay ....”
Varen yang terperangah itu bergegas melangkahkan kakinya ke tempat tukang sate yang dimaksud.
“Buset! Lo kesambet Tante Susanna, Cute Girl?? ....”
__ADS_1
***
To be continue..