
Jempol dikondisikan dulu (ehem) sebelum sekerol kebawah ye
💿💿💿💿💿💿💿💿💿💿💿💿💿💿💿💿💿💿💿💿💿💿💿💿
Selamat membaca ..
💿💿💿💿💿💿💿💿
Mansion Utama Keluarga Adjieran Smith, London, Inggris ..
“Eh Ann..” Panggil Valera saat sedang memakai slippernya.
“Hem?” Sahut Ann.
“Kamu sakit?”
“Tidak”
Ann menyahut cepat.
“Tapi sepertinya wajah kamu pucat Ann..”
Valera lebih memperhatikan wajah Ann yang memang nampak sedikit pucat itu.
“Masa sih??? ..”
“Hu’um”
“Perutku memang agak sedikit sakit, mungkin karena sudah mendekati tanggal PMS-ku”
Ann terdiam sejenak.
“Atau mungkin sudah...”
Ann merasa-rasa.
“Kamu bawa persediaan tampon? .. Karena sepertinya punyaku sudah habis ..”
“Aku tidak bawa sih .....”
“Ya sudah minta Nilam atau siapa dibawah untuk membelikan tampon untukmu ....”
Ann menggeleng.
“Sepertinya aku masih punya persediaan tampon di kamarku....”
“Cek dulu sana! ....”
“Ya sudah aku ke kamarku dulu ...”
“Eh iya Ann....”
“Apa?...” Toleh Ann.
“Tadi waktu sarapan Rery tanya tentang kamu, tahu?...”
“Tanya tentang apa?....”
“Soal kepindahan kamu ke Italy...”
“Ohh”
“Memang kamu serius mau pindah sekolah ke Italy gitu Ann? ...”
Ann mengendikkan bahunya.
“Jika Papa dan Mama memang setuju, ya mungkin iya!”
“Merajuk nya jangan berlebihan! Masa bertengkar dengan Rery begini saja kamu sampai mau pindah ke Italy
segala!...”
“Ya aku kan hanya iseng saja bilang pada Papa dan Mama. Kalau mereka menanggapi serius, ya why not?”
“Ck! Ga ada pindah-pindah pokoknya” Ketus Valera. “Aku saja akan tetap berkuliah disini! Kasihan Gappa, Gamma dan Oma kalau cucunya berjauhan semua dengan mereka!”
“Iya, iya ...”
Ann menukas.
“Ya sudah, aku mau cek tampon dulu. Sepertinya benar aku PMS ini...”
“Ya sudah sana”
Valera segera menyuruh Ann untuk mengecek persediaan tampon di kamar pribadinya.
“Oh iya kamu kesini sama Juan?”
“Iya”
“Dia nungguin kamu?”
“Tidak. Papa ada perlu dengannya. Jadi setelah mengantarku tadi, dia langsung pergi. Kenapa memangnya?”
“Tidak apa-apa, berarti kalau kita jadi keluar kita diantar Sherryl saja”
“Okay”
***
Kamar pribadi Ann dalam Mansion Utama ...
“Sshh...”
Ann sekali lagi meringis sembari memegang perutnya yang ia rasa nyeri.
“Apa karena efek tendangan gadis itu ya? ... ah tapi rasanya tidak!... sepertinya bukan nyeri karena tendangan,
karena aku rasakan nyerinya tidak terlalu lama kemarin....”
__ADS_1
Ann bermonolog sembari masuk ke dalam kamarnya tanpa menutup pintu kamarnya karena Ann nyeri yang Ann rasakan di perutnya, membuatnya fokus merasakan nyeri yang mulai terasa menyiksa itu.
“Pasti nyeri perut PMS seperti biasa. Tapi, Ssssshh.....”
Ann meremat sedikit kuat perutnya.
‘Sepertinya ini bukan nyeri seperti yang biasanya jika aku PMS?. Ini lebih ke sakit ....’
Ann berjalan masuk ke dalam walk in closetnya untuk mencari tampon persediaan yang ia punya, sekaligus memakainya di kamar mandi, karena rasanya Ann yakin jika tamu bulanannya itu sudah datang, akibat ada rasa
hangat yang terus-terusan keluar dari intinya, selain nyeri di perut yang Ann rasakan semakin mulai bertambah.
‘Apa aku salah makan????? .... Rasanya tidak. Tadi pagi aku sarapan dirumah dengan English breakfast seperti
biasa, tidak ada yang berbeda...’
Ann menggeleng kemudian lalu mengecek dirinya dan memakai tampon yang sudah ia ambil karena benar tamu
bulanannya sudah datang.
‘Aduh! Ini sakit sekali perutku!’
Hendak keluar dari kamar mandi pribadinya yang terhubung dengan walk in closet, setelah menyelesaikan urusannya.
“Tidak boleh manja. Ini hanya sakit PMS biasa. Nanti juga hilang kalau aku bawa jalan-jalan dengan Val” Gumam
Ann pada dirinya sendiri. “Tapi, ini kenapa bertambah sakit rasanya? ...”
Ann menarik hembuskan nafasnya karena ia rasanya sedikit merasa sesak. Sampai Ann bahkan berpegangan di pintu kamar mandi dengan tubuhnya yang ia sedikit runduk kan, demi menahan sakit di perutnya itu.
‘Sak-kiitttt ...’
Keringat dingin sudah mulai Ann rasakan di sekujur tubuhnya.
“Ini.... benar-benar sak-kiitttt ....”
Ann menekan kuat perutnya, hendak berjalan keluar kamar menghampiri Valera, tapi rasanya ia sudah tidak kuat
berjalan, dan kini Ann sudah berada di dekat ranjangnya.
Ann kembali menarik hembuskan nafasnya sambil duduk di pinggir ranjang dengan badannya yang sedikit menekuk, dimana kedua tangan Ann memeluk dengan sangat kencang perutnya sembari menggigit bibir bawahnya.
“Argh...”
Ann benar-benar merasakan sakit yang luar biasa di perutnya.
Hendak mengambil obat penghilang nyeri, tapi Ann yang sudah merebahkan dirinya di atas ranjangnya itu dengan
tubuh yang melengkung rasanya tak ada daya untuk bangun lagi.
“Aaaww!!!..”
“Ann!”
*****
Di sebuah bis wisata, beberapa waktu sebelumnya ...
“Rery?????..”
“Stop the bus, please ... ( Hentikan bisnya, tolong ) ...”
“What is it Rery?... ( Ada apa Rery? ).....”
“I’m not going to the Chapel Down ( Aku tidak jadi ikut ke Chapel Down )”
“But ..... ( Tapi )....”
“Just told the driver to stop the bus ( Katakan saja pada supirnya untuk menghentikan bisnya ), Miss Huang, please.....( tolong ) ...”
“I’m afraid I can’t do that ( Rasanya aku tidak bisa melakukannya ), Rery ...” Wali kelas Rery yang seorang wanita Tiong Hoa itu menolak permintaan Rery.
Teman-teman Rery yang berada dalam bis yang sama dengan Rery sekarang sudah menoleh padanya.
Beberapa orang teman dekat Rery dikelas juga sama bertanya ada apa pada Rery karena tidak mau lanjut untuk ikut kunjungan ke sebuah perkebunan anggur dan meminta agar pengemudi bis menghentikan bis yang ditumpangi Rery dan teman-teman sekelasnya berikut wali kelas Rery.
“Ya, What’s wrong Rery?..... ( Kenapa Rery? ) ...”
Termasuk Maria yang sudah berdiri, mendekat pada Rery yang juga sudah berdiri di tengah.
“Go back to your seat please( Tolong kembali ke tempat dudukmu ), Rery ...” Ucap Miss Huang.
“I said, told the driver to stop the bus ( Aku bilang, saja pada supirnya untuk menghentikan bisnya ) ...”
Rery tak mengindahkan permintaan sang wali kelas.
“Rery, what is wrong with you? ( Ada apa denganmu? )”
Maria berbicara lagi.
“Why .... ( Kenapa ) ...”
“I Said Stop The Bus! ( Aku Bilang Hentikan Bisnya! )”
Maria tak melanjutkan ucapannya, karena ia terkejut saat Rery meninggikan suaranya, hingga Maria dan semua teman mereka yang berada dalam bis sampai mengendikkan bahu saking kaget mendengar suara Rery yang meninggi itu.
Termasuk juga wali kelas Rery yang dipanggil dengan sebutan Miss Huang, sesuai marga namanya, ikut terkejut bukan main, melihat Rery yang biasanya setenang air jika di sekolah dan di kelas itu, kini nampak berbeda.
“Don’t try to against me ( Jangan mencoba melawanku ), Miss Huang ...... If you still want to be in your place at
School ( Jika anda masih ingin tetap berada di tempat anda di Sekolah )”
Sembari lalu Rery berbicara pada wali kelasnya yang kemudian membeku dengan nada suara yang datar.
Tidak sopan memang, tapi Rery sungguh sedang gusar. Ann yang katanya akan pindah ke Italia, menganggu kenyamanan hati Rery.
Lalu Rery pun melesak ke arah depan bis, menghampiri si supir bis.
“Stop the bus, please ( Tolong hentikan bisnya )” Ucap Rery pada si supir.
__ADS_1
“I’m afraid I can’t do that, Boy..... ( Aku tidak bisa melakukannya, Nak ).....”
“You Stop The Bus Right Now, Or I Will Tell My Dad To Close This Bus Company And That’s Because Of You! ( Kau
Hentikan Bisnya Sekarang, Atau Aku Bilang Pada Ayahku Untuk Menutup Perusahaan Bis Ini Dan Semua Itu Karenamu! )”
“...............”
“My Dad Is Andrew Eager Adjieran Smith, And I’m Rery Andrew Smith. You Must Be Know Him Don’t You?! ( Ayahku adalah Andrew Eager Adjieran Smith, Dan Aku Rery Andrew Smith. Kau Pasti Tahu Tentangnya Bukan?!)”
Rery menunjukkan foto keluarganya pada si supir yang melirik ponsel Rery, sembari ia membagi fokus dengan jalanan di depannya.
“You will grant for a very big forfait for causing a company suffering a big loss, or you will get in the jail ( Kau akan menanggung denda yang sangat besar karena menjadi penyebab kerugian yang sangat besar bagi sebuah perusahaan, atau kau akan dimasukkan ke penjara )...”
Rery mengeluarkan ancamannya.
“Now, Do you want to try me?! ( Sekarang, Apa kau mau mencobaku?! )”
“I-I ( Aku-Aku )....” Si supir bis pun tergagap. Sedang merasa dilema.
“Just stop the bus ( Hentikan saja bisnya )”
Suara Miss Huang kemudian terdengar didekat Rery dan si supir bis.
“He is Mister Andrew Eager Adjieran Smith son, so stop the bus ( Dia memang putra Tuan Andrew Eager Adjieran Smith, jadi hentikan bisnya )”
Miss Huang mengkonfirmasi ucapan Rery yang terlihat gusar itu.
“I’m so sure, his father will do what his son ask to him. So stop the bus, if you don’t want all things he said is happen to you ... ( Aku sangat yakin, ayahnya akan melakukan apa yang putranya minta padanya. Jadi hentikan bisnya, jika kau tidak ingin semua yang dia katakan tadi terjadi padamu )”
Miss Huang yang tahu betul siapa keluarga salah satu anak didiknya ini memberikan penegasan pada si supir, yang
memang tahu juga tentang dua penggal nama keluarga yang tadi disebutkan Rery dibelakang nama ayahnya, dimana memang dua penggal nama itu cukup dikenal sangat berpengaruh di hampir seluruh bagian negara Eropa.
“O-okay....” Si supir bis pun mengangguk kecut. “I-can stop at front, is .. that o-kay?.... ( Aku-bisa menghentikan
bisnya di depan, apa... itu tidak apa-apa? ) .....”
Si supir bis sedikit tergagap berbicara pada Rery sekarang.
“Hem”
Rery menjawab singkat dan mengangguk tipis pada si supir.
****
‘Aku langsung ke Mansion Papa Lucca atau bagaimana ya? ...’ Batin Rery.
Rery yang sudah turun dari bis yang tadi ditumpanginya itu, kini sedang berdiri di sisi jalan untuk menyetop sebuah taksi.
“Sebaiknya aku hubungi Papa Lucca saja ....”
Rery meraih ponselnya. Menunda dirinya untuk menyetop taksi.
“Papa ...” Rery berhasil meraih Papa Lucca di sambungan telepon.
“......”
“Is Ann not coming to Chapel Down is because she go with you and Mama Fabi to Italy?....”
( Apa Ann tidak ikut ke Chapel Down karena ia pergi bersamamu dan Mama Fabi ke Italia? )....
“......”
“Is that so? .. ( Begitukah? ) .....”
“......”
“Is Ann at your Mansion?... ( Apa Ann ada di Mansionmu? )....”
“......”
“She is? ( Benarkah? )....”
“......”
“Yes, Papa, I know ( Aku tahu )”
“......”
“Nothing, Papa .. I just think that I need to talk with her ......”
( Tidak ada apa-apa, Papa .. Aku hanya berpikir kalau aku perlu bicara padanya )...
“......”
“Thank you, Papa .....”
Rery langsung mengangkat tangannya pada taksi yang terlihat melintas didekatnya setelah memutuskan sambungan teleponnya dalam ponsel dengan Papa Lucca.
Rery pun mengatakan alamat yang ia tuju pada si supir taksi yang sejenak termangu.
“Can you move now? ( Bisakah kau jalan sekarang? ) ....” Rery mencondongkan sedikit tubuhnya ke arah si supir
taksi yang pasalnya tahu daerah yang disebut Rery, dan alamat yang disebutkan pria muda yang baru saja menaiki taksinya itu adalah suatu alamat yang tidak sembarangan orang bisa masuk.
Membuat si supir taksi yang sejenak termangu itu kemudian mengangguk setelah mendapat tatapan menuntut dari
Rery agar ia segera menjalankan taksinya ke alamat sesuai dengan apa yang pria muda yang baru memasuki taksinya itu katakan.
‘Ann, Ann..... mau sekesal apa juga aku ke kamu tetap aja aku ga rela kamu jauhi sampai sebegitunya, tahu ga? ...’
****
🍹 BONUS CHAPTER 17 🍹
Ditunggu Bon-chap yang ke 18 ye
Jangan lupa tinggalkan jejak
__ADS_1
Tararenkyu buat kalian yang masih setia dimari