THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 237 – VAREN & ANDREA - SERIES


__ADS_3

💛  AREA GE-LI-SAH  💛


Selamat membaca ...


*************************


Close your eyes, make a wish 


Tutup matamu, buatlah sebuah harapan


And blow out the candle light 


Dan tiuplah cahaya lilin


For tonight is just your night


Untuk malam ini adalah malam mu seorang


We're gonna celebrate all through the night


Kita akan merayakan sepanjang malam


I'll make love to you like you want me to


Aku akan bercinta denganmu seperti yang kau ingin aku lakukan


And I'll hold you tight, baby, all through the night


Dan aku akan memelukmu erat, sayang, sepanjang malam


I'll make love to you when you want me to


Aku akan bercinta denganmu seperti yang kau ingin aku lakukan


And I will not let go 'til you tell me to


Dan aku tidak akan melepas sampai kau mengatakan padaku untuk itu 


Girl relax, let's go slow


Gadis tenanglah, mari kita berjalan perlahan


I ain't got nowhere to go


Aku tidak punya tempat untuk pergi


I'm just gonna concentrate on you


Aku hanya akan memusatkan perhatianku padamu


Girl, are you ready? It's gonna be a long night


Gadis, apa kau siap? Ini akan menjadi sebuah malam yang panjang 


Throw your clothes on the floor


Lempar pakaianmu diatas lantai


I'm gonna take my clothes off too


Aku akan melepaskan pakaian ku juga


I made plans to be with you


Aku membuat rencana untuk bersamamu


Girl, whatever you ask me, you know I will do


Gadis, apapun yang kau minta padaku, kau tahu aku akan lakukan 


Baby, tonight is your night


Sayang, malam ini adalah malammu


And I will do you right


Dan aku akan memperlakukanmu dengan benar


Just make a wish on your night


Cukup buatlah sebuah permintaan pada malammu


Anything that you ask


Segala yang kau minta


I will give you the love of your life


Aku akan memberikanmu cinta dari hidupmu


**


“Kamu sudah siap, Little Star? .......”


“Untuk?”


“Hak”


“Hak? ..”


“Hak kita berdua”


“....”


“Sebagai suami istri”


“....”

__ADS_1


“You know what I mean, right? ( Kamu tahu maksudku, kan? ). Nyonya Alvarend Aditama Smith?”


“....”


“Apa Drea siap?”


Pertanyaan Varen membuat Andrea seketika menunduk malu.


“Hem?”


Lalu Andrea nampak mengangguk dan Varen menyunggingkan senyumnya.


Tangan Varen menyentuh dagu Andrea dengan tangan kanannya, hingga istri kecilnya itu kini juga sama menatap


dirinya. Sementara tangan kirinya masih merangkul mesra pinggang belakang Andrea.


Varen menatap lekat – lekat wajah istri kecilnya itu, melingkarkan kembali tangan Andrea yang sempat terlepas dari lehernya. Hingga sesaat keduanya tenggelam dalam perasaan yang lebih dari sekedar nyaman kala dua pasang netra yang saling menatap dengan cinta itu kini bersinggungan tanpa kata.


***


Begitulah Cinta


Ia Ditakdirkan Jadi Kata Tanpa Benda


Tak Terlihat


Hanya Terasa


Tapi Dahsyat


***


Wajah cantik dengan bulu mata yang lentik serta bibir yang selalu menggoda Varen itu, memanglah sudah menyita perhatian si Abang sejak tujuh belas tahun lalu. Wajah yang tadinya masih berjarak kini sudah kian mendekat kala tangan Varen menarik dagu Andrea dan mendekatkan bibir istri kecilnya itu dengan bibirnya.


Bibir seksi semanis semangka itu tadinya ingin Varen kecup saja, lalu kembali lagi menikmati momen yang saat ini mereka lakukan untuk beberapa waktu lagi, merilekskan diri.


Tapi ternyata satu kecupan itu tak membuat Varen merasa cukup.


Enggan rasanya Varen melepaskan bibir semanis semangka itu cepat – cepat, hingga akhirnya kecupan itu kini menjadi ******* lembut yang ia lakukan dibibir Andrea.


Andrea memejamkan matanya, menikmati setiap pergerakan bibir si Abang dibibirnya. Dan kini, Andrea mulai mencoba mengimbangi sentuhan bibir Varen dibibirnya. Ciuman yang semula lembut dan pelan itu kini sudah berubah ritme nya.


Kini Varen dan Andrea sudah saling memagut dengan intens, hingga rasanya pasokan udara kian menipis untuk


mereka bernafas.


Hingga ciuman panas itu berhenti kala Varen melepaskan bibirnya dari Andrea, yang nafasnya nampak sedikit tersengal sekarang. Varen menempelkan dahinya didahi Andrea, nafasnya juga sama tersengalnya dengan Andrea, namun tak lama Andrea sudah ia angkat dan ia bawa dalam gendongannya.


Kembali Varen menempelkan lagi bibirnya dengan bibir Andrea, sambil ia menggendong istri kecilnya itu menuju lantai dua, kamar pribadinya di kediaman pribadi Varen dan keluarga intinya.


**


Varen melepaskan tautan bibirnya dari bibir Andrea yang sebenarnya tak rela ia lepaskan walau sejenak.


Namun harus Varen lakukan, kemudian menurunkan Andrea perlahan dari gendongannya saat mereka sudah sampai didepan kamar pribadi Varen.


Sekedar ingin menunjukkan pada Andrea, apa yang sudah ia persiapkan untuk istri kecilnya itu di kamar pribadinya, yang kini juga bisa dianggap sudah menjadi kamar pribadinya dan Andrea. “Apa Drea menyukainya?”


“Suka?”


Andrea mengangguk antusias sambil merekah kan senyumnya lalu memeluk Varen dengan eratnya. “Thank you


Abang....” Ucap Andrea pada Varen, yang orangnya langsung mengangkat dagu Andrea sembari tersenyum juga.


“Kamu pantas mendapatkannya Litlle Star”


Dan satu kecupan lembut mendarat di kening Andrea dari Varen lalu menggandeng tangan Andrea untuk masuk ke dalam kamar dan menutup serta menguncinya juga.


**


Varen menghadapkan Andrea padanya kala ia sudah melepas jas casualnya yang ia sangkutkan di tiang kayu dalam kamarnya.


“Gugup?”


“I – iya”


Andrea tersipu dan tergugu. Nampak sangat gugup dengan jantungnya yang kini sudah juga berdegup dengan kencangnya. Tak bedanya dengan Varen yang degupan jantungnya sama kencangnya dengan jantung Andrea saat ini.


Varen tak tahan, kala Andrea berkedip dan bulu mata lentiknya bergoyang seirama dengan gerakan matanya.


Varen meraih lagi dagu Andrea dan langsung melahap lagi bibir seksi yang manis bak semangka itu tanpa ragu.


Andrea memejamkan matanya. Kala lidah Varen kian masuk kedalam rongga mulutnya, bergerak dengan liar didalam sana lalu kedua tangannya mengangkat tubuh Andrea yang bebannya seolah tak berarti bagi si Abang. Andrea mengalungkan tangannya pada Varen yang menggendongnya bak bayi koala.


Andrea menautkan kakinya yang masih menggunakan stiletto itu dipinggang Varen, hingga satu sisi paha mulusnya yang memang terekspose karena belahan gaunnya yang cukup tinggi itu. Dan Andrea mengimbangi permainan bibir Varen dibibir, hingga kedalam rongga mulutnya.


Andrea menggigit bibir bawahnya, saat Varen sudah merebahkan dirinya diatas ranjang bertabur mawar. Lalu menyisakan jarak pada tubuh keduanya, dengan posisi Varen yang berada diatas tubuh Andrea kini, dan kedua lengan kokoh si Abang menjadi penopangnya.


Varen mengulum senyumnya, lalu ia merundukkan tubuhnya. Membuat jarak tubuhnya dan Andrea tak lagi ada. Kembali melahap bibir merah muda yang manis bak semangka itu dengan pelan hingga kembali lagi saat lidah mereka membelit satu sama lain, saling bertukar saliva tanpa lagi terpikir akan yang lainnya selain mereka berdua. Rasanya Andrea tak rela kala Varen menghentikan ciuman panas mereka.


Namun deru nafas Varen yang terdengar, menggambarkan kalau si Abang menginginkan hal yang lebih. Rasanya


seperti ia ingin segera mengoyak Andrea tanpa ampun karena istri kecilnya itu sudah menjadi kebutuhan dirinya.


Tapi Varen masih berusaha mengontrol dirinya. Tak ingin tergesa. Semata – mata ingin membuat momen ‘spesial’ pertama mereka terasa indah. Keintiman pertama bagi Andrea, juga sama bagi Varen.


Nafas Andrea seolah terhenti. Ketika setelah menjeda ciuman mereka, Varen menyusuri tiap inci wajah hingga ke garis rahang Andrea. Turun ke leher Andrea, bermain sedikit lama disana dan entah apa yang si Abang lakukan disana sampai ke telinga. Hingga Andrea merasakan geli dan gairah yang mulai muncul disaat yang bersamaan.


Andrea seolah merasa kehilangan saat Varen menghentikan kegiatannya lalu mengangkat tubuhnya hingga kembali berjarak dengan Andrea.


Namun sesaat kemudian wajah Andrea merona, kala Varen mulai membuka kancing kemejanya sendiri lalu melemparkannya sembarang kala semua kancing telah Varen buka sepenuhnya.


Oh roti sobek ....


Yang Andrea kagumi dan selalu gemas melihatnya. Sudah pernah menyentuhnya sih memang saat mereka make


out waktu itu. Tapi tetap saja pemandangan roti sobek yang terlalu dekat itu membuat jantung Andrea seolah dugem ditempat dan gelenyar yang terasa .... ah entahlah kini mulai menyelimutinya.

__ADS_1


Terlebih saat Varen menempelkan kembali tubuhnya dan Andrea, mengecup bibir Andrea perlahan lalu berbisik mesra yang membuat bulu kuduk Andrea meremang tanpa terkecuali.


“You’re mine, Miracle Andrea...”


Dimana setelahnya Varen bergerak perlahan menyusuri tubuh Andrea yang masih terbalut gaun hitam seksinya. Andrea menahan nafasnya sejenak, hingga Varen kini sudah berada diujung tubuh Andrea, memegang kaki Andrea yang masih terbungkus stiletto lalu melepaskannya satu – satu dengan perlahan.


Andrea merutuki dirinya yang kini sudah mulai mendamba, Varen mempercepat aksinya. Wajah Varen yang memandanginya sambil membuka kedua stilettonya itu begitu menggoda Andrea, meski wajah Andrea kian merona.


Andrea kembali menahan nafasnya sejenak, saat Varen mulai lagi bergerak perlahan menciumi tubuhnya dari mulai kaki Andrea yang stilettonya sudah dilepas Varen barusan. Hingga bibir Varen berhenti dipaha Andrea yang terekspose dengan indahnya akibat belahan gaun yang provokatif itu.


Andrea rasanya hampir gila, kenapa Abang malah berhenti disana. Kini Andrea sudah mendamba, agar Varen menuntaskan semua. Merutuki dirinya sendiri yang rasanya hilang akhlak memang, saat ada yang Andrea rasa berkedut tapi bukan mata.


Demi apapun bagi Andrea ini terasa menyiksanya. Kalau bukan karena gugup dan malu yang bercampur jadi satu,


mungkin ia sudah memeloroti gaunnya sendiri. Andrea menggigit bibir bawahnya lagi sembari memejamkan matanya.


Namun mata Andrea langsung terbuka, saat ia merasakan gaunnya sedang bergerak turun hingga terlepas seluruhnya. Dan kini hanya satu kain segitiga yang tersisa, melekat ditubuh Andrea. Dan Andrea lihat Varen berdiri tegak diujung kakinya setelah sukses meloloskan gaun Andrea. Mulai melepaskan semua yang menempel di tubuhnya hingga terpampanglah sudah tanpa sensor.


‘Jumbo beneran, ya Ampuuuunnn ....’ Batin tak berakhlak milik Andrea itu berucap spontan setelah ia melirik si Abang yang kini sudah benar – benar polos.


Ah, sosis jumbo ....


Yang selama ini sumpah mati membuat Andrea penasaran. Tapi sekarang dia malah jadinya lemas setelah melihatnya. Pening rasanya kepala Andrea sekarang. Tak terbayang jika sosis itu di mix dengan apem. Entah bagaimana rasanya.


Andrea pasrah, kala segitiga yang bukan bermuda ditubuhnya, kini terasa lepas dari tempatnya.


Varen sudah bergerak kembali dan sudah berada diatas Andrea kini.


Tunggu,


Emak minum dulu


Pengen buru – buru aje


Wkwkwkwk!!!


Netra Varen dan Andrea kini sudah bertatapan dimana ada cinta dan gairah yang sama besarnya. Wajah Andrea yang merona sungguh membuat Varen gemas setengah mati.


“I love you, Little Star...”


Kata cinta yang memang perasaan Varen sesungguhnya itu Varen ucapkan lagi dengan lembut ditelinga Andrea, lalu mengecup bibir Andrea tanpa memberi kesempatan bagi Andrea menjawabnya.


Hingga kecupan ini turun ke leher Andrea\, membuat Andrea merasakan sensasi geli bercampur nikmat sekali lagi. Tak cukup sampai disitu\, entah sejak kapan tangan Varen sudah berada diatas Nunu dan Nana\, menyentuh dan m*re***nya pelan hingga Andrea sedikit melenguh karenanya.


“Abanghh ....” Erang Andrea kala Nunu dan Nana sudah tak lagi dalam pegangan telapak tangan Varen melainkan


sudah digantikan oleh mulut si pemilik roti sobek dan sosis jumbo milik Andrea seorang yang me***lumnya secara bergantian.


Varen tak menjawab. Lagi sibuk.


Tak pernah sekalipun Varen merasa menginginkan wanita lain seperti ia menginginkan Andrea. Varen menyamakan dirinya sejajar lagi diatas Andrea setelah puas bermain dengan tubuh istri kecilnya itu. Tak sanggup untuk menahan dirinya lebih lama lagi untuk segera memasuki Andrea dan membuat Little Starnya itu benar – benar utuh menjadi miliknya.


“Akh!”


Andrea memekik saat merasakan sesuatu sedang mencoba menerobosnya dibawah sana. Varen sejenak berhenti, selain memang rasanya agak sulit karena ada sesuatu yang seperti sedikit menghalangi dibawah sana. Varen sedikit tak tega. Ini yang pertama bagi Andrea, diawal sakitnya pasti tak terkira.


Sekiranya itu yang Varen tahu. Tap mau bagaimana, tak rela juga jika harus berhenti. Nafas Varen sudah tak karuan, gairahnya telah memuncak melebihi batasnya.


“Pelan – pelan ya, Abang ...” Pinta Andrea dengan wajahnya yang nampak gugup namun juga mendamba. Varen


mengangguk.


“I’ll do it very gentle ( Aku akan melakukannya dengan lembut )” Ucap Varen sambil merapihkan rambut Andrea hingga berada diatas kepalanya. Tanpa diminta pun, Varen pasti akan bergerak dengan sangat hati – hati, meski Varen rasanya sudah tak sabar untuk menuntaskan nya.


Andrea mengangguk pelan. Varen anggap itu pernyataan kalau ia sudah boleh melesak lebih dalam.


Ketika Andrea mengerang dan sedikit berteriak sembari mencengkram dengan sangat kuat punggung Varen, hingga ada rasa pedih yang Varen rasa dipunggungnya itu, Varen tahu bahwa ia sudah berhasil.


Varen dan Andrea rasanya sulit menjabarkan perasaan mereka saat ini.


Air mata Andrea turun tanpa komando sembari melirih akibat merasakan tubuhnya seperti terbelah dua dibawah sana. Yang kemudian coba ditenangkan Varen dengan kecupan diwajah serta bisikan kata mesra yang menelisik ditelinga Andrea.


Hingga bibir Varen kembali membungkam bibir Andrea, sambil bagian bawah tubuhnya Varen bawa bergerak, seirama dengan deru nafas yang membara.


Kemudian d*sah Andrea mengudara, merdunya suara Andrea yang Varen puja, yang kini juga kian terasa menggoda. Membuat Varen perlahan mempercepat temponya.


Pantas saja para Daddiesnya macam seperti maniak jika membahas kemesraan dengan para Mommiesnya.


Ternyata senikmat ini rasanya. Bahkan Varen saja sampai melayang, merasakan cengkraman Andrea yang begitu ketat dibawah sana.


Kini tubuh Andrea sudah merespon gerakan Varen sama baiknya.


Varen meracau kan nama Andrea tiada hentinya, Andrea pun sama.


Varen seolah menggila, mengeluarkan hasrat yang selama ini ia pendam dengan sangat. Andrea mengimbangi gerakan Varen secara naluri. Saling tatap, saling bertaut dan mencengkram erat.


Suara – suara misteri nan seksi menggema di kamar yang menjadi saksi sepasang suami istri muda yang sedang dimabuk gairah yang tak bisa digambarkan dengan kata – kata.


Varen dan Andrea seolah hilang kendali, gerakan dan hentakan semakin cepat seolah sedang berlomba dengan sesuatu.


“Abanghh ....” Suara Andrea melirih seksi. Ada sesuatu yang rasanya ingin menyembur dari dalam tubuhnya.


“Say my name.. ( Sebut namaku .. ).” Varen juga melirih sambil menghentak kian cepat. Ia juga sama, merasa sesuatu seolah akan meledak dari dalam tubuhnya.


“Abanghh ....”


“My name ... Drea ...”


“Va – ren .... Akh! ..”


Varen kembali membungkam bibir Andrea saat istri kecilnya itu sudah meledak. Dirinya pun menggeram pelan di hentakan terakhirnya, karena bibirnya yang juga terbungkam. Lalu melepaskan tautan bibirnya dari bibir Andrea.


“Dreaaaaa!!..”


Varen mengerang panjang saat hentakan terakhir yang lebih dalam ia lakukan, kala pelepasan hebat menerjang dirinya tanpa ampun. Lalu menelusupkan kepalanya di ceruk leher Andrea yang tubuhnya mengejang.


Keramas! Keramas!

__ADS_1


***


To be continue ....


__ADS_2