THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 29


__ADS_3

 THE LOVERS # Para Pecinta


Selamat membaca ...


Jeff melirik arlojinya. Ia baru saja tiba di restoran didalam sebuah Mal didaerah Jakarta. Ia sedang menunggu seseorang yang menelponnya dan janjian untuk bertemu serta berbicara serius.


“Jeff.” Seorang laki – laki datang menghampiri ke meja tempat Jeff duduk.


Jeff tersenyum tipis. “Hai Liam.”


Dua pria itu saling menyapa dan berjabat. Liam lah yang menghubungi Jeff dan memintanya untuk bertemu. Padahal Jeff juga sudah ingin menghubungi laki – laki yang saat ini sedang memiliki hubungan spesial dengan mamanya Nathan itu. Namun keburu Liam yang menghubunginya duluan.


“Udah lama?.”


“Nope. (Belum). Gue juga baru tiba.”


Dua laki – laki mapan itu duduk bersama, saling berhadapan dengan gentle.


“Gue yakin lo sudah paham kenapa gue mengajak lo untuk bertemu seperti ini kan Jeff?.” Ujar Liam to the point.


“Yap! Gue tahu kemana pembicaraan kita akan mengarah.” Sahut Jeff.


“Berarti lo sudah paham dengan hubungan gue dan Jihan, kan?.”


“Ya gue paham.”


Jeff manggut – manggut.


“Look Jeff. (Begini Jeff). Gue sangat menghormati kenyataan kalau lo adalah ayah biologisnya Nathan. Meskipun yah gue sempat syok, tapi gue harus terima kenyataan bukan?.” Ucap Liam. “Tapi ya, gue harap lo paham batasannya Jeff. Soal gue dan mamanya Nathan. Gue dan Jihan sudah lama memiliki hubungan spesial sebelum lo datang.”


“Apa lo mencoba memperingati gue untuk tidak mendekati Jihan?.” Ucap Jeff lugas pada Nathan.


“Ya.”


Jeff tersenyum tipis.


“Liam... Gue sangat menghormati pertemanan kita, terlepas status kita masing – masing saat ini untuk Nathan dan Jihan. Thanks kalau lo memang bisa menerima keberadaan gue didekat Nathan. Dan...”


“Well, gue sama sekali ga keberatan soal intensitas pertemuan lo dengan Nathan.” Liam menyela sebelum Jeff menyelesaikan ucapannya. “Hak lo mau kapan dan sesering apapun menemui Nathan. Gue ga akan pernah menghalangi. Tapi sekali lagi gue ingatkan kalau hubungan gue dan Jihan lebih dari sekedar ‘teman’ dan yah lo mengunjungi Nathan dirumah Jihan yang notabene adalah kekasih gue. Sekali lagi tolong, ingat batasan lo.”


“Apa lo mengancam gue sekarang, Liam Kalingga?.” Ucap Jeff dan Liam tersenyum tipis.


“Gue ga bermaksud mengancam Jeff. Hanya menegaskan teritorial gue.”


“Gue rasa ga ada yang perlu lo tegaskan soal masalah teritorial yang lo bilang barusan.” Ucap Jeff. “Gue belum menyelesaikan kalimat gue sebelumnya yang lo potong tadi.” Sambungnya. “Sejujurnya, gue ga pernah bermaksud mengganggu hubungan lo dan Jihan, Liam.”


Jeff berkata dengan nada bicara yang datar dan santai.


“Tapi mengingat Nathan membutuhkan keluarga yang utuh, gue akan berusaha untuk mewujudkan itu.”


Rahang Liam nampak sedikit mengeras, namun laki – laki itu tetap bersikap tenang menanggapi ucapan Jeff barusan.


“Gue pun bisa mewujudkan keluarga yang utuh untuk Nathan saat gue menikahi mamanya nanti, Jeff.” Ujar Liam dan Jeff tetap bersikap tenang.


“Apa lo sudah melamar Jihan?.”


“Belum. Tapi akan segera gue lakukan saat Jihan menyatakan dirinya siap untuk gue lamar.”


“Good.” Sahut Jeff. “Tapi sebaiknya segera lo lakukan sebelum ada yang mendahului lo.” Ujarnya. “Dan gue tegaskan lagi soal teritorial. Lo dan Jihan hanya sepasang kekasih, kalian bahkan belum bertunangan. Jadi kalau bicara soal teritorial atau dalam kata lain pantas atau tidak pantas, sebelum lo menjadi suami sahnya Jihan, gue rasa lo belum pantas untuk memberikan tanda peringatan lo soal teritori.”


Jeff berbicara dengan lugas dan kini sedikit tegas.


“Sorry, don’t take it personal. (Maaf sebelumnya, jangan tersinggung). Tapi gue tidak sedang mengejar atau mengganggu istri orang. Koreksi kalau gue salah.”


Liam terdiam sejenak.


“Jadi dengan kata lain, lo terang – terangan mau memulai persaingan soal Jihan dengan gue?.”


“Tergantung dan terserah bagaimana lo mau menanggapinya.”


“Oke. Gue paham maksud lo.” Ujar Liam. “Kalau memang begitu, gue anggap kita bersaing sekarang?.”


“Bisa dikatakan begitu.”

__ADS_1


“Fine, gue terima persaingan ini.” Sahut Liam. “Mari kita bersaing secara jantan dan sehat.”


Liam sedikit tersenyum.


“As you said, Liam. (Sesuai dengan yang lo bilang, Liam).” Ujar Jeff.


“Tapi sekedar gue ingatkan, kalau hubungan gue dan Jihan sudah jauh dari tahap saling mengenal. Kami sudah saling memahami satu sama lain. Dalam kata lain kami sudah menjalani hubungan yang sudah kami jalin ini dengan serius. Meski gue belum melamarnya secara resmi, itupun karena gue menghargai permintaan Jihan yang belum siap untuk menikah, kami sudah membicarakan soal kelanjutan hubungan kami ke jenjang yang lebih serius.”


Liam berbicara panjang lebar.


“Kebetulan gue sudah tahu soal itu.” Jeff tak gentar.


“Bagus kalau memang lo sudah tahu hal itu.” Sahut Liam. “Dan selama ini Nathan juga bisa menerima keberadaan


gue dengan baik disisi mamanya.”


“Okay.”


“You don’t have any problem with that, don’t you?. (Lo ga keberatan soal itu, bukan?). Kalau Nathan juga menerima gue sebagai ayahnya nanti?. Mungkin saat ini dia bahagia karena kehadiran lo, tapi gue rasa Nathan juga akan bisa menerima kehadiran gue sebagai ayahnya juga.”


“Of course I will not have any objection if Nathan want to consider you as his father. (Tentu aja gue ga keberatan kalau Nathan menganggap lo sebagai ayahnya).” Ujar Jeff. “Lagipula, selain lo, all of my brothers (semua saudara laki – laki gue) juga para ayahnya Nathan.”


Jeff merapihkan jasnya kemudian. Ia hendak beranjak.


“Is there anything else, Liam?. (Apa ada hal lain lagi, Liam?).”


“Gue rasa cukup.”


“Okay. Gue permisi kalau begitu.” Ujar Jeff lagi sambil berdiri duduknya.


“Thanks buat waktu lo, Jeff.” Liam ikut berdiri sambil mengulurkan tangannya pada Jeff yang disambut oleh Jeff.


“Sama – sama.”


“Jangan sampai ada dendam dikemudian hari kalau Nathan bisa menerima gue sebagai ayahnya.”


Jeff terkekeh.


“Gue pastikan tidak.” Ujar Jeff. “Tapi untuk lo tahu juga, Liam .... darah lebih kental air.”


“Passwordnya tanggal ulang tahun kamu.”


“Kenapa lo jadiin tanggal ultah gue password apartemen lo?.”


Prita sedikit merasa heran pada John yang memberikannya kartu akses lift pribadi serta password penthouse laki – laki itu.


“Mudah diingat.”


“Kenapa ga tanggal ultah lo sendiri?.”


“Mudah ditebak seandainya ada yang mau membobol.”


“Kalo gitu ya tanggal ultah pacar lo lah.”


John langsung menoleh pada Prita. “Siapa yang bilang Kak John punya pacar?.”


“Eleh, ga usah pura – pura lo. Gue liat lo jalan sama cewek beberapa hari lalu.”


“Oh ya?. Dimana?.”


“Ada lah.”


John tersenyum tipis. Sepertinya dia tahu siapa yang Prita maksud.


“Kalau yang kamu maksud pacar John adalah wanita yang bersama Kak John di resto pada hari yang sama kamu berada dengan cowo itu. Kamu salah.”


‘Hah?. Jadi dia sebenarnya liat gue sama Tristan waktu itu?.’


“Itu Wina. Sepupu Kak John. Kamu juga pernah bertemu dengan dia beberapa tahun lalu.”


“Wina yang mana sih?.”


“Yang tinggal di Irlandia.” Ucap John.

__ADS_1


“Lupa gue.”


“Wajar. Kamu masih imut – imut waktu ketemu Wina dulu.”


“Maksud lo sekarang gue amit – amit gitu?!.”


Jeff terkekeh geli.


“Sensi banget.”


“Sensi lah! Gue masih imut – imut gini juga. Makin gede makin imut tau ga lo?. Katarak kali mata lo ga liat nih betapa imutnya gue.”


John tergelak.


“Kamu udah ga imut – imut lagi Prita ....”


“Tau ah!.”


“Kamu cantik. Ga hanya imut.”


Prita langsung menoleh pada John.


“Dan mata Kak John sangat – sangat normal untuk melihatnya.” Ucap John. “Untuk menyadari betapa cantiknya kamu dimata Kak John sekarang.”


Eyyyaa...


***


“Dan mata Kak John sangat – sangat normal untuk melihatnya.” Ucap John. “Untuk menyadari betapa cantiknya kamu dimata Kak John sekarang.”


Prita sudah berada sudah berada di kafe milik kakaknya saat ini. Sementara John pamit untuk pergi ke kediaman utama Keluarga Adjieran Smith di Jakarta.


‘Ah gue rasanya mau salto kalo inget yang die bilang tadi.’


Si Priwitan senyum – senyum kaga jelas.


‘Dih nape gue girang gini coba?.’


***


Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith


‘Prita .... Kak John ga akan kalah dari cowok brengsek yang bernama Tristan itu. Tunggu ya, akan Kak John buat Prita jadi milik Kak John seorang.’ John melamun saat dirinya sedang berkumpul bersama Michelle, Dewa dan Fania.


“Woy!.” Dewa membuyarkan lamunan John.


“Apaan sih lo?!.” Ucap John.


“Nah elo sore – sore bengong.” Sahut Dewa.


“Tau lo! Cengengesan ga jelas!. Lagi mikir jorok pasti.” Timpal Fania.


“Si Kajol nih mulutnya kalo ngomong.” John mencubit gemas pipi Fania dan si Kajol pun terkekeh.


“Paling juga Kak John lagi membayangkan cewe.” Celetuk Michelle.


“Pinter adek Michelle.”


“Cewe mana lagi yang lo mau jadiin mangsa?.”


“Weits sembarangan aja lo Dewa Judi. Udah dibilang gue udah insyaf.”


Dewa terkekeh.


“Jadi apaan?. Dapet pacar lo?.” Celetuk Fania.


“Hampir.”


“Hampir dapat pacar?.” Timpal Michelle.


“Calon istri!.”


***

__ADS_1


To be continue ...


__ADS_2