
#AKU DIMATAMU# Part 2
♣♣♣♣
Happy reading...
♣♣♣♣
“Prita!.” Bryan langsung berdiri dari duduknya karena rasanya ia yakin kalau cewe berpenampilan seperti seorang vokalis band yang kini tengah dipanggilnya itu adalah benar si Prita adiknya Fania, meski gadis itu menggunakan topi.
‘Prita ...?.’ John pun spontan langsung menoleh karena Bryan menyebut nama Prita, ditambah laki – laki itu berdiri dengan antusias.
***
Di area istirahat anak band di sebuah kafe di Kota Bandung,
“Prita lo ga makan?.” Ucap salah seorang anak band dengan rambut cepak.
“Engga ah. Lo pake aja itu komplimen gue. Tadi sebelum kesini gue udah makan dan sekarang masih kenyang.” Sahut Prita.
“Nah elo mau kemana?.”
“Ke depan bentar. Ngambil charger di motor.” Jawab Prita.
Teman Prita yang anak band itu mengangkat tangan dan jemarinya membentuk huruf O yang berarti oke, dan Prita pun melanjutkan langkahnya keluar dari area istirahat anak band menuju ke parkiran motor melalui beberapa meja sambil menyapa beberapa tamu kafe yang ia sudah kenal.
“Prita!.” Prita menghentikan langkahnya karena mendengar seseorang yang memanggil namanya. Ia spontan menoleh ke arah sumber suara.
‘Kak Bryan?.’ Batin Prita yang mengenali Bryan, teman kakaknya.
Namun mata Prita membulat sempurna melihat satu laki – laki lagi yang bersama Bryan yang kini juga sedang berdiri menatap dirinya sambil terpaku di tempatnya.
‘Sialan!, kenapa dia ada disini sih?!.’
Prita mengumpat dalam hatinya dan langsung berlari cepat ke arah luar kafe.
'Ck!. Gue belom siap ketemu dia, Tuhaaaan ...’
“Prita!.”
John memanggil Prita yang berlari ke arah luar kafe itu dengan kencang. Tak perduli kalau banyak mata yang memandanginya saat ini.
Sementara Bryan nampak sedikit bingung dengan situasi yang terjadi saat ini. Keheranan dengan sikap adiknya Fania yang nampak jelas menghindari si John yang sedang berlari mengejarnya.
“Prita, Tunggu!.” John mengejar Prita hingga ke area luar kafe. Namun gadis itu sudah tak nampak.
Mata John mencari – cari ke arah parkiran mobil.
‘Ya ampun Prita, kenapa menghindari gue sampai begini sih?!.’
***
“Ternyata, sejauh apapun aku coba berlari, pada akhirnya tak bisa mencegah takdirku untuk kembali bertemu dengannya. Makin ganteng pula!.”
***
‘Sialan!.’
Lagi – lagi Prita mengumpat dalam hati.
‘Kunci, mana kunci ...’
Ia meraba – raba saku jaketnya sambil bergerak cepat menuju motornya yang terparkir disisi kanan kafe.
Prita sudah mencapai motornya. Motor miliknya yang sengaja ia beli untuk transportasinya di Bandung. Prita lebih memilih menggunakan motor kalau sedang berada di Bandung. Sebenarnya kemana – mana juga dia lebih memilih menggunakan sepeda motor daripada mobil, kalau jarak tempuhnya tidak terlalu jauh. Dan berhubung ia sering bolak – balik ke Bandung, selain apartemen, Prita juga membeli sepeda motor, yang selalunya ia gunakan kalau sedang ada jadwal nyanyi di kafe.
Prita sudah berhasil menstarter motornya, lalu ia buru – buru untuk segera pergi meninggalkan kafe tempatnya bernyanyi itu.
“Prita!.”
John sudah menemukan Prita di parkiran motor, karena ia mendengar suara mesin motor matic yang menyala. Tapi John sedikit terlambat karena Prita sudah memutar stang gas dan segera meluncurkan motornya.
“****! ( Sial! ).”
John berlari mengikuti Prita yang sudah melaju bersama motornya hingga sampai ke jalanan di depan kafe.
‘Ya Tuhan Prita. Kak John Cuma mau bicara.’
John memandangi kemana arah motor Prita melaju dengan wajah memelas.
__ADS_1
“Hey John!.” Suara yang memanggilnya membuat John menoleh.
“Eh, Man!.” John menyahut pada Arman.
“Ngapain lo?. Bryan mana?.” Tanya Arman karena John ada di jalanan.
“Man, pinjem mobil lo!.”
“Hah?.”
Arman sedikit kaget karena John langsung membuka pintu kemudi. Mau tidak mau laki – laki itu pun keluar dari kursi kemudi.
“Bryan didalam!.”
John pun langsung masuk ke mobil Arman dan langsung melajukan mobil itu untuk mengejar Prita. Melaju kemana arah Prita tadi menyusul.
**
Wajah John tampak sumringah.
“Prita!.”
John memanggil Prita karena ia ingat motor yang digunakan gadis itu tadi.
“PRITA!.”
John menaikkan volume suaranya, memanggil Prita.
John tahu dan yakin jika Prita mendengarnya memanggil gadis itu, karena saat motor gadis itu berhenti-ia sempat menoleh.
Namun sayangnya, Prita langsung menggas motornya saat lampu lalu lintas sudah berubah hijau. Dan langsung juga berbelok.
John menggas juga mobilnya. Namun lalu lintas Bandung sedikit padat itu membuatnya kehilangan Prita. Terlebih lagi gadis itu melesatkan motornya dengan cepat.
‘Sialaan! .. Kakaknya kalau nyetir mobil gila – gilaan! Sekarang adiknya yang bawa motor matic kayak bawa ninja!.’
John memukul kemudi dengan keras. Kesal karena kehilangan jejak Prita.
Namun John tak langsung menyerah. Ia kini menyusuri jalanan dimana Prita berbelok lagi. Namun nihil. Ia mengusap kasar wajahnya.
‘Apakah aku sejahat itu dimatamu?. Sehingga kamu tak mau lagi dekat denganku?. Apakah aku seburuk itu di hidupmu?.’
John merasakan perih dihatinya, karena nampak sangat jelas Prita menghindarinya, menjauhinya.
‘Salah Kak John sebesar apa sama kamu, Prita?.’
**
Kini Prita sudah berada dalam apartemennya. Ponselnya terasa bergetar dalam saku jaketnya.
“Halo.” Sahut Prita yang menerima panggilan telpon di ponselnya.
“Prita! Lo dimana?.” Terdengar sahutan dari sebrang.
“Ga penting!. Sorry, gue ga ikut sesi dua. Ada sedikit masalah. Aris bisa handel kan sesi dua sendirian?.”
“Ya bisa aja sih. Cuman tadi gue denger ada kasak – kusuk tentang lo. Lo ribut sama orang?”
“Engga. Something personal ( Masalah pribadi ).”
“Apa ada yang bisa kita orang bantu?”
“Ga. Thanks. Gue masih bisa handle sendiri.” Prita menghela nafasnya. “Ini terakhir kan gue maen disana?”
“Iya.”
“Ya udah. Tolong jangan libatkan gue dulu untuk sementara waktu maen disana. Nanti gue confirm lagi. Kalo ada komplain dari pihak kafe soal masalah gue masalah gue malam ini, lo kasih tau gue. Nanti kakak gue yang beresin.”
“Ck!. Ga bakal macem – macem ini pihak kafe kalo udah urusan sama lo. Mau pendek ini umur kafe kalo urusan sama kakak lo dan kakak ipar lo lebih – lebih.”
“Ya udah. Gue mau langsung balik ke Jakarta malam ini juga soalnya.”
“Ya udah kalo gitu. Lo take care. Kasih tau kita orang kalo lo butuh bantuan. Honor gue transfer nanti ya.”
“Iya gampang soal itu. Oh iya, buku lagu gue lo simpenin aja dulu. Kalian mau pake juga ga apa – apa.”
“Oke Bos!.”
“Ya udah ya. Sampein maaf gue sama yang lain. Yuk bye. Gue buru – buru.”
__ADS_1
Prita memutuskan panggilan telponnya.
‘Kudu buru – buru cus gue ini. Kalo ga bisa – bisa dia nyusulin gue kesini.’
Prita menggerutu dalam hatinya.
“Si Amel kemana lagi?. Gue perlu nunggu tuh anak balik dulu ga ya?.”
**
John pada akhirnya memutar balikkan mobil Arman yang tadi ia pinjam. Kembali lagi ke kafe tempat tadi ia datang bersama Bryan. Kesal dan sedih mengaduk – aduk hati si bule koplak itu saat ini, setelah mendapat penolakan yang nyata dari Prita. Sepertinya ia sedang mendapatkan ujian kesabaran.
John masuk kedalam kafe dan menengok ke meja dimana tadi ia duduk. Bryan dan Arman serta dua orang teman
mereka masih ada disana.
John langsung menghampiri mereka dan menghempaskan kasar b*kongnya diatas kursi sambil menghela nafas panjang.
“Ini minuman gue ya?.”
“Iya.” Sahut Bryan pada John yang nampak lesu itu.
Dan John langsung menenggak habis minuman yang barusan ia tanyakan pada Bryan itu.
“Lo ada masalah sama si Prita?” tanya Bryan.
“Sedikit.”
“Berat kayaknya. Dia sampe kabur begitu dari lo.”
John mendengus. “Entah ....” ucapnya kemudian dengan lesu.
“Lo ada hubungan sama si Prita emang, John?.” Tanya Arman nampak penasaran.
“Lo tau kan dia siapa?. Adiknya Fania!. Ya jelas gue ada hubungan lah sama si Prita!. Keluarga!.” Sahut John sedikit ketus. Namun Bryan terkekeh.
“Tapi lo ada rasa sama si Prita!”
John mencebik pada Bryan.
“Sok tahu lo!”
“Halah! Ga usah sok – sok berkelit lo!. Muka lo tuh nampak jelas kalo lo suka sama si Prita sebagai seorang cewe!. Bukan ade – adean!.”
Bryan terkekeh, diikuti Arman. Sementara dua temannya yang lain hanya memperhatikan interaksi tiga orang didepan mereka itu. “Si Vla masih di Rusia?” Tanya John.
“Ga usah ngalihin pembicaraan lo, fedofil!.”
“Sialan lo, Man!. Si Prita bukan anak SMA lagi!” Sahut John.
“Haha .. jadi secara tidak langsung lo mengakui kalo lo tuh emang ada rasa dong sama si Prita.” Celetuk Bryan.
“Terserah!.” Timpal John Bryan dan Arman tergelak.
“Tunggu deh, kalian ngomongin Prita yang mana?. Yang suka ngisi disini?” Tanya salah seorang teman mereka yang duduk bersama itu.
“Yap!.” Sahut Bryan dan Arman.
“Lo kenal sama dia Cal?.” John memajukan tubuhnya.
“Ya kenal. Dia tinggal di gedung yang sama gue.”
“Hah?. Beneran Cal?”
“Ya kalau yang lo maksud si Prita si vokalis seksi yang suka ngisi disini. Ya iya dia tinggal di gedung apartemen yang sama dengan gue.”
“Mata lo John, tau aja barang bagus. Itu cewek seksi abis emang. Baru mau gue incer!” Ucap pria selain yang dipanggil Cal.
“Jaga mulut lo. Jangan macem – macem sama dia!.” John mengeluarkan peringatan pada temannya itu yang kemudian terkekeh.
“Iya, iya santai, Bro!.”
‘Prita milik gue!.’ Batin John. “Anter gue ke tempat dia Cal.”
“Kapan?.”
“Sekarang!”
**
__ADS_1
To be continue............