
COLD HEARTED – BITTER – SAD MAN
( Pria Sedih Berhati Dingin Dengan Kepahitan )
******************************************************
Selamat membaca ...
Rumah Sakit .....
“Apa tidak ada pengobatan untuk menghilangkan resiko cacat lahir seperti yang kau bilang Alan?”
“Sayangnya belum ada”
“Sebaiknya kau yang berbicara langsung pada Alvarend, Alan” Ucap Poppa.
“Baiklah” Sahut Dokter Alan seraya mengangguk.
Dokter Alan pun meraih ponsel dari saku Snelli nya.
“Hubungi Rendy atau Nathan, ponsel Alva ada disini”
Dokter Alan mengangguk.
Kemudian Poppa kembali mendekat pada Momma yang air matanya turun sedari tadi saat Dokter Alan sudah
menjelaskan kondisi Andrea yang sedang hamil berikut kondisi janinnya, yang merupakan bakal calon cucu Momma dan Poppa serta seluruh Dads dan Moms di Keluarga Adjieran Smith - yang dikatakan Dokter Alan, sebaiknya diangkat karena kemungkinan besar bayi Andrea dan Varen mengalami kelainan jika memang
dipertahankan untuk di lahirkan.
Belum lagi, penjelasan Dokter Alan tentang resiko yang bisa dialami Andrea jika janin itu dipertahankan. Padahal, saat mendengar Andrea sedang hamil, Momma, Poppa, Daddy R dan Mommy Ara senangnya bukan main.
Tapi sayang, mereka seolah dicekik oleh suatu hal yang merupakan pilihan dimana keduanya terlalu berat untuk dipertimbangkan. Andrea sedang sangat tidak mungkin dimintai pendapat, jadi Varen lah yang menjadi tumpuan mereka untuk mengambil keputusan. Dan apapun nanti yang menjadi keputusan si Abang, dua pasang orang tua itu tidak akan coba menggoyahkan nya. Karena apapun yang menjadi pilihan si Abang, keduanya tidak menyenangkan.
***
“Bagaimana Alan? Apa yang menjadi keputusan Alva?”
Daddy R mewakili tiga lainnya untuk bertanya pada Alan mengenai keputusan Varen tentang calon bayi anaknya dan Andrea selepas Dokter berkharisma itu selesai terhubung dalam panggilan dengan Varen.
“Alvarend meminta untuk diangkat saja” Jawab Dokter Alan.
“Ya sudah kalau begitu”
Daddy R manggut – manggut. Lalu kembali menatap tiga orang tua lainnya. Sementara Rery masih setia disisi
Andrea.
“Tepat seperti dugaan kita”
Daddy R berkata pada Poppa, Momma dan Mommy Ara tentang apa yang menjadi keputusan si Abang soal janin dalam kandungan Andrea yang memang sudah ke empatnya duga apa yang akan menjadi keputusan si Abang mengenai calon bayinya yang bermasalah.
Abang, seperti para Dadsnya akan memilih wanita yang mereka cintai diatas segalanya.
Perihal anak, akan dipikirkan kemudian, atau tidak dipikirkan sama sekali jika itu sudah menyangkut bahaya bagi para wanitanya.
Bersyukur jika memang Tuhan memberikan keturunan, jika tidak pun akan diterima dengan lapang dada. Asal wanita - wanita yang mereka cintai tidak terancam nyawanya.
Setelahnya Dokter Alan memeriksa kondisi Andrea bersama Dokter Clarissa setelah istri Dokter tersebut menyusul kemudian ke ruang rawat Andrea. Lalu tak lama keduanya membawa Andrea ke ruangan lain untuk melakukan tindakan sesuai apa yang menjadi keputusan Varen, dengan dibantu oleh perawat, juga ditemani oleh mereka yang ada di ruang rawat Andrea saat ini.
**
“Setelah Alan dan Clarissa selesai dengan Andrea, kalian berdua pulanglah dulu. Biar aku dan R yang menjaga Drea disini”
Poppa meminta Momma dan Mommy Ara untuk kembali ke Kediaman dan beristirahat sejenak karena melihat
gurat kelelahan selain kesedihan di wajah kedua Mommy tersebut.
“Jangan membantah. Kalian sudah terlihat begitu lelah. Jangan menambah kekhawatiran kami jika kalian berdua jatuh sakit nanti” Timpal Daddy R.
“Iya ..”
Mommy Ara mengiyakan.
Momma juga ikut mengangguk.
“Tapi tunggu Mama Bela atau Prita dateng sampe baru aku pulang. Setidaknya ada perempuan disini yang menggantikan aku dan Kak Ara”
Poppa dan Daddy R mengangguk.
Beberapa waktu kemudian ponsel Daddy R berdering.
‘LINGGA’
Nama pemanggil yang tertera di ponsel Daddy R.
“Aku terima panggilan dulu”
Daddy R sedikit menjauh dari empat orang lain yang bersamanya.
****
“Ya sudah. Mau bilang apa?” Ucap Poppa setelah ia dan Daddy R memisahkan diri sejenak setelah Daddy R
menyelesaikan panggilannya dengan Uncle Lingga.
Sementara Momma, Mommy Ara dan Rery masih menunggu Dokter Alan dan Dokter Clarissa menangani Andrea dan janinnya.
Daddy R pun manggut – manggut.
“Lalu kondisi Abang sekarang?” Tanya Poppa dengan suara yang direndahkan meski mereka berbicara di area tangga darurat Rumah Sakit.
“Bad” Daddy R juga sama dengan Poppa yang berbicara dengan suara yang pelan, meski sudah dipastikan tidak ada orang disana.
Setelah menyuruh dua orang anak buah mereka untuk mengecek keadaan dalam tangga darurat dan sekaligus
berjaga.
“Gue bisa membayangkan .. Gue saja dalam posisi sebagai ayahnya Little Star, hati gue sakit melihat putri gue seperti ini. Bagaimana Abang, yang ditambah dia harus membuat keputusan sulit dan pada akhirnya harus mengorbankan janin buah cintanya dan Little Star”
Poppa bersandar di dinding tangga darurat Rumah Sakit sambil mensedekapkan kedua tangannya dengan wajahnya yang muram.
“Gue pun akan seperti dia jika ada di posisinya saat ini .... meski gue ga sangka kalau yang Abang habisi malah istri dari si Danang itu”
“Termasuk yang dia lakukan pada kedua cucu dari pria keparat itu”
__ADS_1
Poppa manggut – manggut mendengar timpalan kalimat dari Daddy R.
“Tapi yah, jika Abang menggila seperti itu. Wajar saja”
“Huumm....Gue pun rasanya gila karena akibat ulah orang - orang keparat itu, gue batal menjadi Opa”
Daddy R menghembuskan nafas frustasi.
"Calon cucu gue yang malang..."
“Hhh ... bukan hanya lo saja R. Gue sudah gemas sekali. Ingin gue mutilasi tanpa sisa. Sudah sakit hati gue melihat kondisi Andrea, belum kesedihan Fania, ditambah kita harus merelakan calon cucu yang tidak bisa dilahirkan ke dunia. Bagaimana Abang, yang harus membuat keputusan seberat itu?"
Geramnya Poppa.
“Huumm.... tak terbayang juga kacaunya si Abang di sarang. Dia bahkan harus mengambil keputusan tanpa punya kesempatan untuk melihat janin calon bayinya"
Poppa manggut - manggut dengan masih bersandar dan sedikit menurunkan pandangannya.
"By the way, Dia sudah selesai disana?”
“Dengan Danang sepertinya sudah. Tapi Abang masih disana. Lingga bilang Abang benar – benar kacau sekarang
setelah berbicara dengan Alan”
Poppa manggut – manggut lagi. “Lo hubungi Lingga dan katakan padanya untuk menghubungi lo lagi jika Abang sudah tenang”
Daddy R mengangguk.
“Gue akan minta Jeff dan Dewa mengurus mereka yang ada di Playground. Meski gue ingin sekali menghabisi si Prima itu dengan tangan gue sendiri. Tapi gue ga mau meninggalkan Drea. Little F juga butuh istirahat dan gue ga mau dia terlalu khawatir”
“Gue akan hubungi Nathan supaya dia ga cerita tentang apa yang sudah Abang lakukan di sarang, just in case Little F menghubunginya”
Poppa kembali manggut – manggut sambil meraih ponselnya.
“Dilara bagaimana?” Tanya Daddy R.
“Malam ini gue akan bertemu dengannya” Jawab Poppa. "Gue juga perlu pelampiasan emosi bukan?"
***
Sarang Anaconda.....
“Wanita yang terakhir bersama istriku dan satu pria yang berada bersamanya dan hendak melecehkan istriku saat itu ada dimana?”
“Mereka kebetulan sudah dibawa Tuan Rico dan Tuan Sean untuk dimasukkan ke dalam penjara” Jawab Ammar
pada Varen. “Mereka datang saat kami sedang mengamankan yacht dan Marina pribadi wanita yang disebut Dilara itu”
“Keluarkan”
“Apa Tuan? ..”
“Sudah tuli?” Mata Varen menyorot dingin pada Ammar. “Aku bilang keluarkan wanita yang terakhir bersama istriku itu, berikut pria yang mencoba melecehkan istriku dari penjara yang kau bilang”
“Tapi jika sudah berada didalam penjara, sudah pasti berkas mereka sudah ada pada pihak hukum Tuan”
“Aku, tidak mau tahu. Bawa keduanya kehadapan ku”
“Baik Tuan” Jawab Ammar patuh, lalu meraih ponselnya dan menjauh sejenak dari Varen untuk melakukan panggilan.
“Nanti ponsel lo gue ganti”
“Ga usah lo pikirin soal ponsel gue” Sahut Rendy yang kemudian menepuk – nepuk pundak Varen. “Lo ga mau balik ke Rumah Sakit?” Tanya Rendy setelah ia mendengar apa yang terjadi hingga Varen se-kalut tadi, setelah Uncle Lingga berbicara dengan Daddy R ditelepon.
Varen menggeleng.
“Nanti”
“Kenapa lo ga balik dulu lihat Drea, Bang?”
Nathan juga sudah tahu apa yang terjadi pada si Abang, karena dia dan Rendy langsung diberitahukan Uncle Lingga apa yang terjadi, hingga si Abang sempat kalut dan begitu frustasi tadi.
Abang menggeleng lagi. Ia mengambil lagi sebatang rokok dari saku celananya untuk ia hisap kemudian. “Gue
belum selesai menagih hutang..” Ucap Abang dengan begitu datar.
Nathan hanya bisa menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan berat setelah mendengar ucapan Abang
barusan. Dia sendiri juga tidak bisa membayangkan jika dia berada diposisi Abang sekarang.
Sang istri sudah diculik hingga ada beberapa lebam di wajah dan tubuhnya, meski itu akibat sang istri melakukan perlawanan pada mereka yang menculiknya. Bahkan istrinya hampir diperkosa, lalu disakiti dan bahkan dilumpuhkan dengan menyuntikkan obat – obatan yang sangat berbahaya.
Lalu kini, Abang harus menerima kenyataan kalau calon buah hatinya dan Andrea disarankan untuk tidak sampai dilahirkan demi keselamatan Andrea. Efek dari banyaknya obat bius berbagai rupa yang dimasukkan ke tubuh Andrea.
Nathan tidak tahu, bagaimana jika dirinya yang berada diposisi Abang sekarang. Mungkin, oh tidak. Pasti. Nathan pasti menggila seperti Abang, jika Kevia yang berada diposisi Andrea saat ini.
“Apapun keputusan dan rencanamu selanjutnya, Uncle akan selalu mendukungmu Boy” Tutur Uncle Lingga yang sudah juga mendekat pada Varen, Rendy dan Nathan sambil meremat pelan pundak Varen.
****
“Lebih baik lo kembali ke Rumah Sakit atau pulang Ren. Ponsel lo kan sudah hancur, ga bisa dihubungi. Selain Marsha mungkin khawatir, siapa tahu ada pasien lo yang membutuhkan keberadaan lo”
Varen kembali menyuruh sahabatnya itu agar tidak lagi mengikutinya.
Kali ini Rendy mengangguk. “Ya udah gue balik ke Rumah Sakit aja dulu” Ucapnya pada Varen.
“Dan tolong jangan katakan apapun pada Momma atau Mommy Ara jika mereka masih berada disana. Orang tua lo
pun ga perlu lo beritahukan tentang apa yang sudah lo saksikan. Cukup lo simpan sendiri, bahkan tak perlu lo ceritakan pada Marsha. Ga penting juga”
Rendy manggut – manggut.
“Jika mau membahas, hanya dengan para Dads saja saat tidak satu wanita pun dalam keluarga gue didekat mereka”
“Iya ...” Sahut Rendy.
“Lo juga lebih baik balik Than. Ikut Rendy ke Hospital”
“Ga!”
Nathan dengan cepat menolak.
“Muka lo sudah lelah begitu” Ucap Varen namun Nathan tetap pada keputusannya dan menggeleng lagi. “Via juga pasti khawatir sama lo. Lo juga harus lebih memperhatikannya sekarang, dia juga jadi korban seperti Little Star” Sambungnya.
Nathan menggeleng lagi.
__ADS_1
“Tapi Via selamat. Via ga mengalami hal yang sangat buruk seperti apa yang Drea alami ..”
“........”
“Drea.... yang bantu Via hingga Via bisa selamat tanpa luka yang berarti. Dan sedikit banyak, karena itu ... Drea jadi begini. Jadi gue berhutang sama adek gue satu itu. So, gue akan menemani lo sebagai gantinya, kemanapun lo pergi sampai lo selesai, gue ga akan jauh – jauh dari lo. Kalau nanti tangan lo lelah saat memberi mereka pelajaran,
lo bisa pakai tangan gue”
Varen menyunggingkan senyumnya pada Nathan yang kemudian ia rengkuh pundak adiknya itu, digoncangkan
sedikit lalu Varen mengacak rambut Nathan. “Thanks Than” Ucap Varen.
Nathan manggut – manggut. “Tapi jangan kejam – kejam ya Bang?. Hati gue kan selembut sutra” Guyon Nathan.
Varen mendengus geli saja. Sementara Uncle Lingga dan Rendy terkekeh kecil.
Tak lama kemudian Ammar yang sudah selesai menelpon itu kembali menghampiri sang Tuan Muda yang sedang
kembali menyesap batangan nikotin di mulutnya. “Tuan”
Varen menoleh pada Ammar. “Katakan”
“Tuan Sean bilang, dua orang yang Tuan minta dikeluarkan dari penjara tidak dapat dilakukan. Biar hukum yang bekerja katanya Tuan. Dia akan memberikan tuntutan yang seberat - beratnya pada dua orang itu”
“Begitu ya?”
Ammar mengangguk.
“Iya Tuan” Jawab Ammar.
“Kalau begitu kau hubungi Uncle Sean lagi”
“........”
“Dia mau mengeluarkan dua orang itu sekarang juga dan mengirimkannya padaku, atau dia mau mengorbankan semua orang yang berada di tempat yang sama dengan kedua orang itu saat ini ... Karena aku, akan meledakkan tempat dimana kedua orang itu berada tanpa sisa jika Uncle Sean tidak mau menuruti keinginanku”
“........”
“Tak perduli, jika ada orang yang tidak bersalah akan menjadi korban nantinya..”
“........”
"Jika perlu pun. akan ku kacaukan satu negeri ini"
“........”
“Karena akal sehatku, sudah rusak”
****
Rumah Sakit .....
Poppa dan Daddy R sedang berada disisi brankar Andrea, setelah putri pertama Poppa dan Momma itu selesai
dari proses pengangkatan janinnya.
Momma dan Mommy Ara sudah kembali ke Kediaman untuk beristirahat sejenak. Sudah ada para kakek dan nenek
juga di Rumah Sakit, didalam ruang rawat Andrea.
Sudah juga diceritakan tentang kondisi Andrea dan tindakan yang belum lama di lakukan oleh Dokter Alan dan Dokter Clarissa. Andrea masih belum sadarkan diri lagi, setelah proses pengangkatan janinnya beberapa waktu lalu.
Mengingat kondisi Andrea yang belum stabil, maka pembiusan total lagi – lagi terpaksa harus dilakukan.
Tapi tentunya Dokter Alan dan Dokter Clarissa yang sangat berpengalaman itu sudah mempertimbangkannya
masak – masak.
Poppa yang mendudukkan dirinya disamping Andrea itu memperhatikan wajah sang putri lamat – lamat, sembari iseng merapihkan surai Andrea yang sedikit berantakan.
Menyentuh pipi Andrea dengan sangat lembut, sembari Poppa menyunggingkan senyumnya meski hatinya cukup juga merasa sedih melihat kondisi Andrea. Terlebih sejak tadi betapa ia ingin membelai dengan kasih sayang putri pertamanya dan Momma itu.
“Hey Baby .. everyone’s Little Star in our fam... don’t be like this would you?. ( Hey Sayang .. Bintang Kecilnya semua orang dalam keluarga kita.. jangan seperti ini ya? )” Ucap Poppa yang mengajak bicara Andrea meski putrinya itu masih belum sadarkan diri.
Meski Poppa dan Daddy R tidak melihat histerisnya Andrea, tapi kondisi Andrea yang menyedihkan sempat
keduanya lihat. Andrea tidak bicara, tidak bisa juga diajak bicara. Matanya terbuka namun pandangannya kosong saja, bak raga tak bernyawa. Getir dihati Poppa dan Daddy R juga semakin lekat rasanya, kala calon cucu mereka harus direlakan untuk tidak sampai dilahirkan ke dunia.
Meski juga Dokter Alan dan Dokter Clarissa bilang dalam satu-dua hari kedepan Andrea sudah akan menjadi lebih baik dari saat ini. Namun tetap saja Poppa berikut Daddy R, tak kuasa membayangkan jika harus melihat Andrea saat dia bangun nanti, putri juga menantu keduanya itu akan kembali seperti mayat hidup.
“Lawan ya?. Little Star kan kuat?. Drea The Warrior Princess, right? Xena pun ga ada apa – apanya sama Drea” Ucap Poppa sembari mengelus pipi Andrea dengan sedikit tersenyum pahit, kemudian menghela nafasnya. ‘Dia bahkan tidak berkesempatan untuk tahu pernah ada calon buah hati didalam perutnya’
Poppa membatin getir.
“Do you know how do you mean for us?. For me and your Momma? Even Rery. Especially for your Beloved Abang? ( Kamu tahu apa artinya kamu bagi kami?. Untukku dan Mommamu?. Bahkan Rery. Terutama Abang tercinta mu itu? )”
“............”
“Segalanya”
Daddy R sendiri membelai – belai lembut kepala Andrea dan mengiyakan ucapan Poppa dengan senyumannya.
“Maka dari itu kami tidak akan diam saja, Sayang. Dad dan Poppa mu ini sudah bersiap untuk memberikan
pelajaran pada orang – orang jahat itu. Tapi sayangnya Abang sudah lebih dulu menggantikan kami untuk memberi pelajaran pada orang – orang jahat itu”
Daddy R kini yang mengajak Andrea bicara, seolah sedang mengobrol seperti biasa.
“Tapi ya sudahlah kami ikhlas, jika bocah tengik itu yang menggantikan kami untuk memberi pelajaran” Ucap Daddy R sembari geli sendiri.
Termasuk juga Poppa .
Kemudian Daddy R memandang penuh arti lagi pada Andrea sembari masih membelai kepala istri si Abang, begitupun Poppa.
“Benar yang Poppa bilang. Lawanlah, lalu bangun dan sadarlah. Karena Abangmu itu sudah menjadi, cold hearted, bitter, sad man karena Little Star yang seperti ini ..”
“Sad Boy kalau Mika bilang..”
Poppa dan Daddy R terkekeh berdua.
“Sad Boy gila”
Poppa dan Daddy R terkekeh lagi.
“Dan Dad rasa dia sedang dalam perjalanan menjadi Psychopat kejam sekarang ..”
__ADS_1
****
To be continue ....