THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 13


__ADS_3

💗 KUMPUL ASIK 💗


💗💗💗


Selamat membaca...


Acara opening kafe Fania di Jakarta sudah selesai. Tamu – tamu dan pengiring musik pun sudah pada pulang.


Menyisakan si empunya kafe beserta rombongan lenongnya dan para karyawan kafe serta kru katering dan teknisi alat.


“Yuk ah kita balik.” Ajak Fania pada rombongan.


“Ayo!.” Sahut Andrew dan mereka pun bergegas untuk meninggalkan tempat mereka sekarang.


“Kak, ini lo ga kasih?.” Prita menunjukkan tiga amplop putih pada Fania.


“Oh iye!.” Ucap Fania. “Bentar ya D, kamu dan yang lain tunggu diluar aja duluan, aku mau kasih ini dulu ke mereka.”


Andrew dan yang lain mengangguk.


********


Seetelah selesai memberikan uang tips kepada para karyawan, kru katering dan teknisi alat, Fania dan Prita pun menyusul rombongan mereka yang kini sudah berada di area luar kafe.


“Prita kamu tadi kesini naik apa?.”


“Ojol Kak!.”


“Prita, kamu ikut pulang ke rumah Mom sama Dad kan?. Papa Mama kan ada disana juga.” Ucap Ara.


“Iya Kak Ara.”


“Kamu bareng Kak John aja Prita, kebetulan gue bawa mobil sendiri kok. Dimobil Andrew kan ada Reno sama Ara. Di Jeff, Michelle sama Dewa.”


“Ehem!.” Jeff iseng berdehem.


“Makasih, dimobil Kak Andrew masih muat juga kan samping Pak Deni.”


“Dejavu ga sih R?.”


Celetuk Jeff pada dua pasang suami istri, Reno dan Ara, Andrew dan Fania.


Mereka yang ingat pun terkekeh bersama.


“Cuma bedanya waktu itu si Andrew sudah duduk dibelakang kemudi aja.”


“Dih masih inget aja bapaknya Paren!.”


Reno langsung tergelak.


“Kalian ngomongin apa sih?.”


“Kaga bakal paham dijelasin juga lo!.’


“Udah yuk ah!.” Celetuk Michelle. “Tuh Pritanya juga udah masuk ke mobilnya kak Andrew.” Michelle menunjuk ke arah mobil Andrew.


“Sabar ya Abang John....”


John hanya menghela nafasnya, melihat Prita yang sudah duduk dikursi penumpang depan samping supir di Vellfire milik Andrew.


“Nasib .... nasib ....”


***


“Good morning keluargaku yang blaem – blaem.” Fania sudah bergabung dengan keluarga yang lainnya yang bersiap untuk sarapan di area kolam renang. Andrew juga datang bersamanya dengan Andrea yang berada dalam gendongan si Poppa.


“Blaem ... blaem ....” Andrea mengulang ucapan sang Momma.


“Sini Andrea sama Daddy R.” Reno meraih Andrea dari tangan Andrew dan dia selalu nampak sumringah.


“Daddy R ....”


“Halo Jihan.” Sapa Fania pada Jihan yang masih sedikit nampak canggung berada ditengah – tengah keluarga Adjieran Smith.


“Pagi Fania, Andrew.”


“Halo Nathan.”


“Halo Tante Fania.”


“Gimana kamu suka disini?.”


“Nathan suka tante. Bisa berenang setiap hari. Semuanya baik sama Nathan.” Cerocos jagoan kecilnya Jeff itu.


“Nathan mau tinggal disini?.”


“Mau Dad! Nathan mau tinggal disini.” Ucap Nathan dengan begitu sumringah.


“Bilang sama Mama.”


“Mamaaa kita tinggal disini yaaa? ....” Anak laki – laki yang kini berusia hampir lima tahun itu memekik antusias pada mamanya. Sementara Jeff senyam – senyum penuh arti.


“Bule gila usahaaa!.” Celoteh Fania yang paham modusnya si Jeff. Yang mendengarnya pun terkekeh. Termasuk Jeff yang merasa.


“Gimana Mama Jihan, mama Jihan mau pindah kesini?.” Celetuk Jeff sembari menggoda Jihan yang nampak kikuk.


“Mau ya maaaaa? ....” Rengek Nathan.

__ADS_1


“Nathan, nanti kalau libur aja kita kesini ya?.”


“Mama pelit!. Nathan sebel sama mama!”


Nathan mencebik pada mamanya.


“Iya mama pelit ya?.” Jeff memprovokasi anaknya.


“Iya Dad, mama pelit! Nathan kan maunya tinggal disini.”


Jihan hanya geleng – geleng.


“Pacar orang jangan dipepet terus woy!.” Celetuk si bule koplak.


“Janur kuning belum melambai bro!.” Timpal Jeff pada John sambil melirik pada Jihan yang sepertinya malu campur jengah.


***


“Jol si Prita masih tidur?.”


John  pun mulai sepak – sepik.


“Lah mana gue tau, gue aja baru turun.” Sahut Fania sambil menyuap sarapannya santai.


Sesi sarapan pagi ini tidak dilakukan di meja makan, tapi sengaja diarea kolam renang berhubung seluruh keluarga hadir semua tanpa terkecuali. Itung – itung piknik juga kayaknya mah.


“Tadi dia lari pagi sama si Varen, John!.” Celetuk Papa Herman.


“Baru apa dari tadi Pah?.” Tanya John antusias yang bersiap – siap mau nyusul si Prita kalau itu cewe baru berangkat lari pagi.


“Udah dari tadi abis subuh.”


‘Yaaahhhh ....’


***


“Noh die noh si Priwitan!.” Ucap Mama Bela dengan bacotnya menunjuk Prita yang sudah datang bersama Varen yang cemberut. “Lah cucu ene, kenapa cemberut gini?. Diapain sama tante Prita?. Bilang sama ene.”


Mama Bela menghampiri Varen.


“Itu tuh Ne, Tante Prita katanya mau jogging. Tapi malah jajan melulu!.” Varen mengadu.


Yang lain pun tergelak. Termasuk si Prita sendiri, mendengar Varen yang sedang mengadu.


“Du ilah lemes banget anaknya kakak ganteng sama ibu peri.”


“Ga aneh!.” Celetuk Michelle.


“Kenape ga dikepret aje itu Tante Prita!.” Papa Herman juga menghampiri Varen.


“Kep – ret?.” Sian itu bocah kebingungan. “Apa itu kep - ret , Kek?.”


“Gebuk?. What is gebuk?.”


“Ngahahahaha bocah londo diajak ngomong bahasa babelan. Ora paham lah dia.” Si Kajol cekakak diikuti cekakakan yang lainnya.


“Reno, Ara, si Varen kudu tinggal di Bekasi ini romannya.” Celetuk Papa Herman.


“Bawa aja Pa!.” Sahut Reno sambil ketawa.


“Seminggu aja si Varen di Bekasi, besok – besok dia kalo jatoh bilangnya bukan ‘Mommy aku jatuh!.” Celetuk si Prita. “Dia bakal bilang, Mommy aku Nibla!.”


“NGAHAHAHA!!!! ....” Si Kajol terbahak – bahak tanpa permisi. Yang lainnya pun sama. “Terbalik entar die kate Tebolak!.”


Gantian si Prita yang ngakak duluan tanpa ada jaim – jaimnya. Meski begitu, ada hati yang bahagia melihat tawa lebar si Priwitan yang memang sudah lama tak ia lihat.


“Kalo di bekasi sekolah jangan naek mobil.” Ucap Mama Bela.


“Kenapa Ne?.”


“Bocah Kola Naek Peda'!.” Fania dan Prita berbicara barengan. “NGAHAHAHA!!!! ....”  Abis itu dua kakak beradik yang sama gesreknya pun kembali tertawa terbahak – bahak dengan bacod tanpa saringan.


-Bocah Sekolah Naek Sepeda- Ya, maksudnya sodara - sodara. Wkwkwk


Sian anaknya kakak ganteng sama ibu peri jadi bahan bulli – an Momma sama tantenya pagi – pagi.


“Udeh jangan ditanggepin itu dua orang Pe – A!.”


“Pe – A???.”


***


“Rame ya keluarga kalian.”


Jihan berbicara pada Jeff saat melihat interaksi Fania dan Prita yang tertawa tanpa jaim sama sekali. Mulut yang terbuka lebar dan bacod yang kencengnya jangan ditanya.


Jeff terkekeh. “Ya begitulah mereka. Keluarga ini rasanya ramai kalau ada mereka berdua.” Ucap Jeff.


"Memang iya sih, dari dulu aku kenal, Fania emang rame orangnya. Makanya banyak banget yang senang berteman sama dia."


“Yap kamu benar banget, Ji. Itu anak dan Prita, termasuk papa Herman dan Mama Bela, ramainya bukan main. Kami bahagia punya mereka ditengah - tengah keluarga Smith. Keluarga Cemara.”


Jihan mengernyitkan dahinya tapi dia tersenyum.


“Keluarga Cemara?.”


“Yap. Keluarga Fania itu disebutnya Keluarga Cemara. Papa Herman, mama Bela, Fania dan Prita. Empat orang yang akan selalu membuat keluarga ini semakin ramai.”

__ADS_1


“Iya sih, ramai banget mereka. Seru liatnya.”


“Kalau kita?.”


“Kalau kita?. Kita ....apanya?. Maksudnya?.” Jihan tak paham maksud ucapan Jeff.


“Keluarga kita, namanya apa nanti?.”


Eyyyaaaa jangan kasih kendor bang Jeeeeffff!!! ....***


“Eh Priwitan, lo masih nyuekin itu sibule koplak?.” Fania berbicara bisik – bisik di kuping Prita yang duduk bersamanya dipinggir kolam renang.


“Kaga juga. Semalem udeh ngobrol bentaran.”


“Ngobrol apaan?.”


Prita mencebik. “Kepo banget Kajol!.”


“Eleh masih rahasia – rahasiaan aje lo ama gue. Suara kentut lo aje gue apal!.”


“Ngahahahaha.” Si Prita tergelak mendengar ucapan kakaknya barusan. Membuat semua mata kembali menatap


pada mereka berdua.


“Tuh dua keong racun pasti lagi ngegibah.” Celetuk Mama Bela.


“Kasihan amat mereka cantik – cantik gitu dibilang keong racun.” Celetuk Mama Anye sembari terkekeh juga.


“Cakep mukanya pada. Kelakuan ama bacod nya mah amit – amit.”


“Nurunin sape itu?.” Celetuk papa Herman.


“Au!.” Syahrini KW kaga merasa.


“Tapi rumah ini semakin hidup kalau ada Fania dan Prita.” Ucap Dad yang juga terkekeh, Mom mengiyakan.


****


“Swim Momma....” Andrea merengek minta masuk kedalam kolam renang.


“D, kamu jagain dibawah ya.”


“Okay, Momma.” Andrew menyahut Pada Fania yang membawa Andrea dalam gendongannya.


Andrea memang sangat menyukai air, jadi kalau sudah di kolam renang itu bocah bakalan susah diangkatnya. Fania dan Andrew sudah sering mengajak Andrea berenang sekaligus melatihnya, dan hebatnya Andrea sudah menguasai teknik pernapasan dalam air.


“Hati – hati lo kak!.” Prita mengingatkan sang kakak.


“Kakak mau kemane?.” Teriak papa Herman.


“Ini si Andrea mau berenang!.” Sahut Fania dengan bacod nya.


“Mau berenang dimana sih?. Nah ini kolem renang segede alaihum gambreng. Ngapain si Andrea di gendong begitu?. Mau berenang di kamar mandi?.” Mama Bela berdiri dari duduknya. “Kajol si Andrea mau dimandiin?. Sini sama Mamah!.”


“Dikata mau berenang!.” Fania sudah berjongkok sambil memegang Andrea sedikit tinggi. “Are you ready Andrea ( Siap Andrea ), anak Momma yang blaem – blaem?.”


“Ledy!." Andrea cekikikan. Dia sepertinya sudah bisa menebak apa yang mau Mommanya lakukan. Sesuatu yang


sangat Andrea suka.


“Kakak!.” Papa Herman memekik dan langsung berdiri juga dari duduknya melihat Fania yang nampak akan melempar anaknya meski Andrew sudah terlihat juga seperti bersiap di kolam renang.


“One....” Fania bersiap , Andrew sudah menunggu di kolam renang sambil tersenyum lebar pada anaknya dan Fania yang ga ada takutnya kek emaknya. “Two....”


“KAJOL! LO JANGAN MACEM – MACEM!. SI ANDREA MAU DIAPAIN ITU?!.” Mama Bela memekik melihat Fania yang akan melempar cucunya ke dalam kolam renang. Tanpa pelampung pula.


“Santai Ma ..... “Ucap John pada mama Bela yang sudah berjalan cepat mau menghampiri Fania yang sudah mau


melempar cucunya diikuti papa Herman.


“Santai gimana sih itu si Kajol mau ngelempar anaknya begitu!. Udah gila dian jangan – jangan.” Cerocos Mama Bela. “KAJOOOL!!!....”


“Threeeee....”


Dan Byuuurrrr!!! .....


Andrea sudah dilempar Fania ke dalam kolam renang.


Jantung Mama Bela dan Papa Herman seketika merosot.


“ASTAGFIRULAAAHHHH!!!!.”


“ANDREWWWW YA AMPUN TANGKEP ITU ANDREA!. YA ALLAH CUCU GUA!.”


Papa Herman dan Mama Bela super panik. Dan yang lain malah tertawa terbahak - bahak. Tak lama, karena setelahnya Andrea muncul dengan sendirinya tanpa dipegang sang Poppa meski tetap dalam pengawasan Andrew.


Dan Andrea muncul dengan girangnya, saat kepalanya menyembul sendiri ke permukaan. Baru kemudian Andrew


memegangnya.


“Again .... ( Lagi .. ) ....” Andrea minta dilempar lagi seperti tadi sambil cekikikan.


“Ya Allah cucu gua!.” Mama Bela memegang dadanya yang berdebar kencang. Dua anaknya yang suka hilang akhlak itu malah ketawa melihat papa dan mama mereka sudah pucat pasi. Termasuk yang lainnya yang masih saja terus tergelak.


“Ya ampuunnnnn, cucu kakek kenape bisa kayak ikan cucut begitu ....”


***

__ADS_1


To be continue .........


__ADS_2