THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 350


__ADS_3

Jempol dikondisikan dulu (ehem) sebelum sekerol kebawah ye


*************************************************************************


NURANI


Selamat membaca..


*************************


Kediaman Adjieran Smith


“Where’s R and Ara? .. (Dimana R dan Ara?) ....”


Gappa bertanya pada beberapa anggota keluarga yang sedang berada di ruang keluarga dan menonton acara di


televisi.


“Mereka sih tadi pamit pergi. Tapi entah mau kemana?...” Gamma yang menjawab.


“Hu’um..” Gappa manggut – manggut setelah mendengar jawaban Gamma.


***


Bandung


“Di dunia ini, ada hukum tabur tuai. Dan sekarang kalian merasakannya..”


Itu Daddy R, yang sedang berdiri dihadapan beberapa orang dalam sebuah rumah yang lumayan besar.


Mommy Ara ada disamping Daddy R yang sedang berdiri dan menatap satu – satu beberapa orang dihadapan


mereka itu.


“Kini kau merasakan apa yang dulu ibuku rasakan”


Daddy R menyungging sinis.


“Dikhianati oleh orang terdekatnya sendiri”


Berkata dengan datarnya, namun matanya sedikit tajam memandang pada seorang wanita tua yang kira – kira


seusia Gamma.


“Dulu kau dan suamimu membodohi dan mengkhianati ibuku ...”


“.........”


“Bahkan dengan tidak tahu malunya, suamimu, yang mana adalah ayah kandungku, membawamu dan memperkenalkan mu pada ibuku, membuat ibuku mau berteman denganmu, sampai ibuku sendiri mempercayaimu sebagai sekertaris ayahku yang begitu baik padanya. Yang dia tidak tahu, bahwa kalian sering sekali bercumbu dibelakangnya, bahkan di rumah ibuku sendiri ..”


Daddy R mendengus sinis. Tatapannya tetap masih memandang wanita tua yang menangis bersama dengan seorang wanita yang berusia kurang lebih sama dengan Momma. Sekali – sekali melirik pada dua Gadis muda yang berbeda  usia, dan yang satu nampak seperti sedang tidak dalam kondisi yang baik.


Dan satu pria yang tertunduk lesu tanpa berani menatap Daddy R. Pria yang kurang lebih seusia dengan dirinya


itupun nampak sesenggukan. Wajah – wajah tertunduk yang diperhatikan satu –satu oleh Daddy R itu nampak suram dan seperti ada trauma juga yang menyelimuti wajah orang – orang dihadapan Daddy R itu.


“Kau..”


Mata Daddy R tertuju pada sosok wanita muda yang kondisinya nampak tidak sehat itu.


“Tara?” Tanya Daddy R dan yang bersangkutan mengangkat wajahnya.


“Iya, aku”


“Kau putrinya Inggrid dan pria ini?”


Tara mengangguk atas pertanyaan Daddy R itu.


“Iya”


“Aku menyesal dengan apa yang sudah terjadi padamu. Tapi seperti yang kubilang, di dunia ini ada hukum tabur tuai ...”


Daddy R memfokuskan tatapannya pada Tara.


“Sayangnya, kau yang harus menanggung dosa ibu dan nenekmu dimasa lalu... Meskipun aku sendiri, bukan orang baik”


Diperhatikannya Tara yang nampak memprihatinkan kondisinya dimata Daddy R.


Sedikit banyak seperti Andrea saat awal-awal Andrea dirawat di rumah sakit. Wajah yang pucat, bahkan lebih pucat dari Andrea kala itu, ada lebam di leher Tara, dan sepertinya beberapa luka di tangannya yang di tutupi dalam balutan lengan sweater yang panjang. Terlihat seperti pesakitan yang menyedihkan.


Sungguh Daddy R merasa iba pada Tara, dan apa yang terjadi padanya adalah ulah gadis yang juga anak dari sang ayah dari wanita lain yang menyimpan dendam padanya dan keluarganya dimana sang ayah membawa anaknya dari wanita lain itu kedalam rumah mereka dan mengatakan kalau gadis yang sebenarnya adalah anak kandungnya itu adalah keponakannya.


“Dulu, kakek dan nenekmu yang tega menipu ibuku, seperti yang sudah kau dengar tadi” Lanjut Daddy R.


“......”


“Lalu ibu dan almarhum om mu, dengan tidak tahu malunya menuntut harta ibuku, aku dan menyerang istri serta adik kesayanganku .....”


“......”

__ADS_1


“Membuat adikku sampai kehilangan anak dalam kandungannya yang sudah ia nanti-nantikan”


“......”


“Dan untuk semua dosa mereka itu, kau yang harus menanggungnya”


Daddy R menghela nafasnya.


“Tidak apa Om .... Tuan Reno, maksudku....”


“Tidak apa .....”


“??”


“Tidak apa  jika kau ingin memanggilku dengan sebutan Om..”


Tara menyunggingkan senyuman tulusnya dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih,  Om Reno ..”


“Tapi bukan berarti aku menerimamu sebagai bagian dari keluargaku,  meski kau cucu kandung almarhum ayahku, kakek Peter mu itu ....”


Daddy dengan cepat mewanti-wanti Tara.


“Karena bagiku, ayahku itu hanya sebatas ayah biologis saja. Sementara mereka yang kusebut keluarga, adalah mereka yang sampai detik ini ada di dekatku”


Tara langsung mengangguk.


“Iya Om, aku paham”


Tara menampakkan senyumnya.


“Aku, cukup tahu diri dengan tidak sampai besar kepala, lancang untuk menganggap diriku sendiri sebagai bagian dari keluarga Om”


Menatap Daddy R dengan sorot mata ketulusan yang terpancar dari kedua manik mata Tara.


“Aku tahu aku sangat tidak pantas, Om ...”


“......”


“Aku ikhlas Om .. aku ikhlas menerima jika apa yang terjadi padaku, adalah sedikit dari penebusan dosa kakek, nenek, mama pada Om dan ibu om ..”


Dimana ibunya Tara, Inggrid, yang tadi memeluk dan bertangisan dengan nenek Tara, segera berhambur kepada


Tara dan memeluk anak gadisnya itu erat-erat dan meraung.


“Bahkan penebusan dosa  mama pada adik om, ibunya Andrea yang pernah kehilangan anak dalam kandungannya karena kesalahan mama” Sambung Tara dengan sang ibu yang sudah memeluknya sembari meraung itu.


Tara memeluk balik sang ibu dan tersenyum sekilas pada sang Ibu, namun Tara tetap meneruskan berbicara pada


“Demi Allah, aku ikhlas menerima apa yang sudah terjadi padaku ini .. semoga, kebencian om pada keluarga kami ... pada nenek, mama.... bahkan pada almarhum kakek berkurang, meskipun hanya  sedikit....”


“Ka – mi, sudah menerima ganjaran atas dosa kami di masa lalu padamu, pada adik dan ibumu, Bang.... a – ku, juga sudah menerima ganjaran atas perbuatan mamaku, pada bundamu, melalui suamiku, dengan kenyataan ..... yang-sebenarnya tentang Gita ...”


Itu Inggrid yang memberanikan dirinya untuk berbicara.


“Ji – ka kedatanganmu kesini untuk mentertawakan kami, silahkan saja... kami terima. Tapi setelah itu, tolong... biarkan kami hidup tenang, Bang...”


Inggrid menangis kemudian.


“Biarkan kami hidup tenang ...”


“Kedatanganku bukan untuk mentertawakan kalian. Meski kedatanganku kesini atas rasa penasaranku untuk


melihat sendiri dengan mata kepalaku, ganjaran yang kalian dapatkan dari semesta dimana dulu aku tertahan untuk melakukannya, memberikan ganjaran pada kalian dengan tanganku sendiri, karena bujukan keluargaku”


Daddy R menanggapi ucapan Inggrid yang sudah terisak dengan keras itu.


Sementara Mommy Ara masih tetap diam saja. Ia sudah cukup terlatih, untuk bagaimana harus menempatkan dirinya.


Mommy Ara tahu persis, kapan harus bicara atau tidak.


Terutama di situasi – situasi tertentu. Contohnya, seperti saat ini.


“Selain itu, aku kesini untuk membawa Putrimu itu... Tara...”


“Ap – aa???? ...”


“Aku rasa ucapanku sudah cukup jelas... aku akan membawa Putrimu, Putri kalian ....”


Daddy R melirik juga pada ayahnya Tara yang wajahnya sama terkejut dengan keluarganya yang lain. Dimana


nenek Tara dan adik Tara kini sudah memeluki Gadis itu yang juga terkejut namun kemudian ia tersenyum tipis.


Entah apa maksud pria yang secara silsilah mungkin masih pamannya ini, yang barusan bilang akan membawanya. Tapi Tara kembali nampak tulus ikhlas menerima apapun lagi, sekalipun ia masih harus menanggung hukuman atas dendam om nya itu pada ibu dan neneknya, melalui dirinya.


“Ti – dak! Ja – jangan!” Seru Inggrid namun suaranya melirih.


“Tu – an, jika kau masih dendam pada keluarga ini, limpahkan saja itu padaku... jangan pada anak – anakku.... jangan pada Tara atau adiknya ... terlebih pada Tara ... dia – sudah cukup menderita atas perbuatan putriku yang lain...”


Ayah Tara mengiba. Inggrid bahkan kini sudah bersimpuh dengan tangannya yang ia rapatkan untuk memohon

__ADS_1


didekat kaki Daddy R. “Aku, hukum saja aku .... jika kamu masih belum puas, Bang Renoo.. jangan Tara ... Ja – ngan ....”


“Aku memang ingin membawa putri kalian ...”


“......”


“Tapi bukan untuk memberinya hukuman ...”


“La - ...”


“Kalau menurut putra – putri kami, Alvarend dan Andrea .. Tara, adalah gadis yang baik. Dan rasanya aku setuju atas pendapat mereka itu, setelah aku melihatnya secara langsung.... Dia gadis baik yang sayangnya harus lahir dalam keluarga ini ...”


“Lalu ...”


“Jadi aku tidak tega, membiarkan seorang gadis baik yang seharusnya memiliki masa depan harus hidup dengan terpuruk lebih dari ini .. kondisimu begitu menyedihkan”


“Kami akan membawamu, agar kamu mendapatkan perawatan yang layak dan membantumu pulih agar hidupmu lebih baik ke depannya. Kami sudah membawa orang yang akan membawamu ke tempat perawatan itu....” Baru Mommy Ara berbicara.


“Dan ini, akan menjadi kebaikan terakhirku pada kalian. Berkemaslah Tara, ikut dengan orang – orang yang istriku katakan tadi, jangan menolak, karena itu untuk kebaikanmu sendiri .....” Ucap Daddy R.


Kemudian Daddy R berbalik tanpa lagi basa – basi, dengan Mommy Ara yang menggandengnya. Melangkah pergi dari hadapan Inggrid yang masih bersimpuh bersama suaminya dan tiga orang lainnya.


Namun  Daddy R dan Mommy Ara menghentikan langkah mereka sejenak, saat suara Tara terdengar.


“Terima kasih Om Reno, Tante Ara ...”


Daddy R tak menyahut. Hanya Mommy Ara sempat menoleh pada Tara dan tersenyum tipis pada Gadis malang itu.


**


“Kenapa melihatku seperti itu?” Tanya Daddy R pada Mommy Ara kala mereka sudah berada di mobil untuk kembali ke Kediaman dan Mommy Ara sedang memangku wajahnya dengan kepala meneleng ke arah Daddy R, sembari senyum - senyum.


“Hanya sedang mengagumi kakak ganteng yang ternyata masih punya hati nurani. Semakin tampan” Jawab Mommy Ara seraya menggoda Daddy R yang kemudian mendengus geli itu.


“Memang jika aku tidak punya hati nurani, Ibu Peri akan berhenti mencintaiku, hem?”


“Apa Daddy R akan membiarkanku berhenti mencintaimu, heeemm??..”


“Dan Mommy Ara sudah tahu jawabannya bukan?”


“Tentu tahu dong!”


“Lalu kenapa masih bertanya?”


Mommy Ara terkekeh kecil. “Hanya memastikan”


“Cih ... apa lagi yang perlu dipastikan?.. kurang cukup pembuktian cintaku padamu selama hampir tiga puluh tahun ini?...”


Daddy R melirik sebal pada Mommy Ara yang cengengesan itu.


Cup!


Dimana Mommy Ara yang gemas pada Daddy R itu langsung menangkup wajah suaminya dan memberikan ciuman mesra dibibir Daddy R yang disambut Daddy R dengan bahagia.


“Selalu menggemaskan kalau sedang sebal”


“Aku memang selalu menggemaskan”


“Ya, ya....”


“Coba saja tutup matamu, aku yang menggemaskan ini pasti akan selalu membayangimu”


“Heemm?.... iyaa Daddy R yang tampan dan menggemaskaann.... aku percayaaaaa”


“Ya sudah coba tutup matamu dulu...” Tutur Daddy R.


“Tak perlu menyuruhku tutup mata jika ingin menciumku..”


“Tutuplah dulu matamu yang indah itu ..”


“Baiklah ...” Mommy Ara pun menutup matanya kemudian.


“Gelap bukan?”


Mommy Ara menjawab dengan anggukan.


“Begitulah hidupku tanpa kamu disisiku”


EEEAA


**


To be continue ..


Road to an End


Menuju Akhir


Yang Kaga Tau Kapan

__ADS_1


Wkwkwk ...


__ADS_2