THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 52


__ADS_3

♦SHOCK THERAPHY♦ Bagian 1


***


Selamat membaca...


Kafe Fania, Jakarta, Indonesia


“Kenapa, Kak?.” Tanya Prita pada John yang nampak sedang memperhatikan ponselnya dengan raut wajah yang


menunjukkan sedikit keheranan.


John kemudian menoleh dan tersenyum pada Prita.


“Ga apa – apa.” Sahut John. “Hanya rasanya family group kita sepi. Tidak ada yang memulai obrolan.”


“Mungkin yang lain sedang merasa ga enak kali Kak. Mereka pasti sudah dengar soal kita dan Kak Fania, kan?.”


John manggut – manggut.


“Kak, bentar aku tinggal ya, aku mau menyelesaikan laporan kafe dulu.” Ucap Prita.


“Iya sudah. Ada yang bisa aku bantu?.” Ucap John seraya bertanya. Prita menggeleng.


“Nanti kalau ada kesulitan Prita tanya Kak John.”


John pun mengangguk dan tersenyum.


“Aku tunggu disini kalau begitu.”


“Kak John kalau mau pulang, ga apa Kak. Aku gampang nanti bisa minta Diana anter mobil aku kesini. Muka Kak John kayaknya cape.” Ucap Prita.


“Ada juga kamu yang nampak letih Prita. Tadi kamu habis pergi mengajar dan sekarang masih datang kesini.” Sahut John. ‘Lagipula gue bukannya letih, gue pusing soal si Kajol.. Aaaaa ..’ Batin John.


“Kewajiban.” Sahut Prita. “Ya udah Prita tinggal dulu sebentar ya, Kak.”


“Iya.” John mengangguk.


***


THE OUTSTANDING FAMILY GROUP


John : Assalamu’alaikum


Dewa : Wa’alaikumsalam


Prita : Wa’alaikumsalam


Ara : Wa’alaikumsalam


John : Yang lain pada kemana?. Sepi dari kemarin. By the way, kalian sudah tahu ya kan tentang aku dan Prita.


John : Maaf kalau sedikit mengejutkan.


John : Fan, gue minta maaf. Sorry gue lakukan disini. You won’t answer my call ( Lo ga mau jawab panggilan gue ) dan sampai hari ini lo pun ga mau membaca pesan pribadi gue.


John : Please Fan, gue benar – benar ingin bicara secara pribadi dengan lo.


Michelle : Kak John dimana?


John : Di Kafe nya Fania dengan Prita


Jeff : Bukan di hotel?


John : Jeff please, it’s not the right time, bro ( Jeff tolong deh, ini bukan waktu yang tepat )


Jeff :Sorry..


Jeff kemudian mengirimkan sebuah foto dalam grup.


Seorang wanita cantik berambut hitam kecoklatan bergelombang dibawahnya yang sedang duduk sambil mensedekapkan kedua tangannya, memangku satu kakinya. Cantik, elegan tapi kaga ada senyum – senyumnya. Terlalu datar ekspresinya.


Jeff : Dia sudah menunggu kalian


John dan Prita sontak membulatkan kedua mata mereka.


‘Kajol?. Di – dia di rumah papa dan mama?.’ Batin John.


‘Ka – kak? ... ada disini..?.’ Batin Prita.


Dua sejoli itu pun sama kagetnya. Prita dan John sama – sama bangkit dari tempat mereka lalu saling menghampiri. John berjalan menuju ruangan tempat Prita berada dan Prita bergegas menyambar tasnya sambil menyimpan pekerjaannya yang belum selesai dalam komputer lalu mematikannya.


“Prita ..”


“Kak ..”


“Ayo kita temui Fania.”


“Iya Kak.”

__ADS_1


“Pekerjaan kamu sudah selesai?.” Tanya John.


“Belum tapi sudah Prita copy ke FD.” Jawab Prita. “Prita lebih memilih menemui Kak Fania dulu.”


“Ya sudah ayo.”


**


# THE OUTSTANDING FAMILY GROUP #


Reno : Kakak Reno merinding lihatnya


Anggota keluarga yang lain cekakak diluar grup membaca ketikan Reno.


“Hish! Si R nih. Ga tau gue tegang apa?.” John menggumam sambil berjalan menuju mobilnya sembari juga melihat grup chat keluarganya dalam ponsel.


Mom : Doa mom and Dad bersama kalian John, Prita.


Dad : May God protect you ( Semoga Tuhan melindungi kalian )


Yang baca ketikan Mom dan Dad pun cekakak lagi kecuali John dan Prita.


Para anggota grup : Aamiin


Kecuali Fania, John dan Prita.


‘Ish mereka nih!!!.’ Batin Prita dan John yang rasanya ingin mengumpat.


John kemudian melajukan mobilnya setelah ia dan Prita masuk kedalam. Dua sejoli itu memiliki ekspresi yang sama saat ini. Tegang. Mereka berdua lebih banyak diam sepanjang perjalanan menuju rumah Keluarga Cemara.


Sesekali juga John menggenggam tangan Prita. ‘Jangan sampai Fania ga setuju ya Tuhan.’


**


Bekasi, Jawa – Barat, Indonesia


“Kak, kalau seandainya Kak Fania tetep ga setuju, gimana?.”


Prita sudah mulai risau dan gugup saat mobil John sudah sampai di halaman rumah Keluarga Cemara. Ada tiga mobil lain yang John dan Prita kenali, selain mobil Papa Herman dan Mama Bela.


John menggenggam tangan Prita.


“Mudah – mudahan itu ga terjadi ya?. Mudah – mudahan Fania bisa terima. Meski pun sulit, aku akan berusaha memberikan dia pengertian. Yang penting ada kamu sama aku, Prita.”


“Tapi kalau Kak Fania tetap ga setuju. Dan andai Kak Fania meminta Prita untuk memilih, Prita ..”


“Kamu tidak harus memilih! Okay?!.” John langsung menyela ucapan Prita.


“Ya sudah. Ayo kita turun.”


****


“Assalamu’alaikum.” Ucap  Prita dan John bersamaan saat memasuki rumah Keluarga Cemara.


“Wa’alaikumsalam.”


Terdengar sahutan dari dalam ruang tengah. Prita dan John melangkah pelan ke arah ruang tengah.


Ada The broken Heart Couple, Babang Jeff, Papa dan Mama yang sedang menemani Andrea makan es krim, Babang Andrew dan.. Yak wanita yang membuat Prita dan John kompak menarik nafas dalam – dalam, menghembuskannya perlahan, dan meneguk saliva mereka saat memandangnya dan wanita itu melirik sinis pada mereka berdua.


Prita langsung menghampiri wanita yang sedang berdiri sehabis memberikan secangkir kopi untuk suaminya itu.


“Kak.”


Prita memanggil Fania sambil menyodorkan tangannya untuk salim.


“Ngapain?.”


Fania berkata datar sambil melirik tangan Prita yang sedang terulur.


“Salim Kak ...” Ucap Prita.


“Oh, masih nganggep gue lo?.” Sahut Fania datar dan sinis.


‘Ck! Fania ...’ Batin John yang tak tega melihat Prita yang tampak jelas sedang di perlakukan sinis oleh Fania. Sementara yang tak bersuara. Hanya memperhatikan. John menyambangi yang lain selain Fania untuk menyapa.


“Kok lo ngomongnya gitu sih Kak?.” Sahut Prita pada ucapan Fania dan tangan Prita masih terulur menggantung


menunggu si kakak yang nampak jutek setengah mati itu menyambut tangannya.


Fania melirik sekilas lalu memberikan juga tangannya pada Prita dan si adik yang sedang deg – deg - an itu menyalim tangan Fania dengan takdzim seperti biasa, lalu menyalim tangan Andrew dan yang lainnya.


‘Gue perlu salim juga ga sih nih sama si Kajol?.’ Batin John yang sedang bimbang. ( Wkwkwk ). “Fan..” John kemudian menghampiri Fania. “Apa kabar .....?.” Ucap John lagi.


Tapi Fania malah melengos dan tidak menanggapinya. John menyabarkan hati, meluaskan nya juga.


‘Sabar John...’


Masih tak ada yang mau berbicara. Aura si Kajol yang ga bagus itu nampak terpancar terang meski wanita itu nampak lebih banyak diam dan kemudian duduk. Papa Herman dan Mama Bela juga memilih untuk diam saja dulu untuk saat ini.

__ADS_1


Prita menghampiri John dan berdiri disampingnya.


“Fan, bisa kita bicara?. Terserah mau bicara disini atau elo, gue dan Prita bicara secara pribadi. Gue ga mau..”


“Lo mau bicara sebagai siapa sekarang?. Kak – John yang selama ini gue kenal dan gue anggap seperti kakak gue sendiri? A – tau  Se – ba – gai  Ke – Ka – Sih A – dik Gue? ..” Ucap Fania dengan penekanan.


“Dua – duanya.”


“Pilih.” Fania berdiri dihadapan John. Menatap laki – laki itu sebentar dan menatap juga Prita sebentar lalu menatap tegas pada John kembali. “Saat ini lo mau bicara sebagai siapa?.”


“Sebagai kekasih Prita.” Sahut John pasti dan tegas pada Fania.


“Kalau begitu minggir. Gue ga mau ngomong sama ade gue.” Fania menggeser tubuh John dan kini menatap Prita


tajam.


“Fan..”


“Kak, biar aku dan Kak Fania yang bicara.” Prita menyela John yang ingin berbicara saat Fania menggeser tubuhnya.


Prita mengkode John dengan kepalanya dan John akhirnya mengangguk pasrah.


“Sejak kapan, lo nyembunyiin segala sesuatu dari gue?.” Fania menatap pada Prita. “Cinta lo yang bikin lo buta, sampai lo ga menganggap gue lagi, hem?.”


Prita menggeleng cepat.


“Engga Kak! Ga seperti itu!. Gue minta maaf... gue ga pernah bermaksud menyembunyikan apa pun dari lo Kak, termasuk cinta gue sama Kak John yang masih ada sampe sekarang. Gue hanya malu hati karena dulu gue mati – matian minta lo buat ngejauhin Kak John dari gue. Tapi nyatanya... cinta gue ga pernah bisa hilang sama Kak John. Dan Kak John ternyata punya perasaan yang sama ...”


Prita menatap sang kakak yang masih menatap tajam padanya.


“Gue.. takut. Selain malu, karena dulu lo pernah mewanti – wanti gue soal perasaan gue ke Kak John.” Prita tertunduk. “Tentang gue dan dia yang .... timplang.” Sambungnya. “Tapi .. saat Kak John menyatakan cintanya pada gue .. gue bahagia Kak... sangat.. gue ga ada maksud apa – apa.. gue hanya sedang mencari waktu yang tepat buat ngasih tau lo..”


Prita kini menatap Fania dengan ragu.


“Tentang perasaan gue yang masih ada sama Kak John.. tentang keputusan gue yang mau mencoba menjalani hubungan dengan dia. Tapi... sebelum sempet gue cerita sama lo, Kak John udah melamar gue.”


“Dan dengan gampangnya lo percaya?. Lo percaya dia cinta sama lo, bukan karna kasian?.”


“Sorry Fan!” John memajukan dirinya didepan Prita. “Cinta gue bukan berdasarkan rasa kasihan sama Prita. Tolong, lo jangan sembarangan bicara.” Menatap Fania dengan pandangan yang tegas.


“Gue lagi ga bicara sama lo. Minggir, ini antara gue dan ade gue.” Ucap Fania datar, sambil mencoba lagi menggeser tubuh John.


Namun John bergeming. “No! Gue memaksa untuk ikut campur, entah lo suka atau engga. Gue sadar, gue bukan


pria yang baik. Mungkin ga pantas buat Prita, terlalu banyak perbedaan, dan gue sadar itu. Gue pria yang punya track record sering mengajak perempuan keatas tempat tidur dimasa lalu, meskipun ga banyak. Dan mungkin gue terlalu kotor untuk Prita.”


John berbicara dengan wajah yang serius pada Fania.


“Dan ya mungkin gue pernah mencintai seorang wanita bernama Aila, dan lo fikir kalau gue amat mencintai dia sampai gue sulit melupakan dia. Hingga akhirnya gue tahu, kalau Prita pernah punya perasaan sama gue, saat gue masih bersama Aila. Dan selain perlakuan dan ucapan kasar gue, itu juga yang menjadi alasan dia untuk menjauhi


gue Kan?.”


John masih berbicara panjang lebar dengan seriusnya pada Fania yang kini sedang mensedekapkan kedua tangannya.


“Kalau karena alasan itu, yang lo berfikir bahwa pernyataan cinta gue ke Prita hanya berdasar rasa kasihan gue ke dia, lo salah besar!.”


John memberikan penegasan pada Fania yang kini juga sedang lekat menatapnya.


“Karena pada kenyataannya, gue sangat mudah melupakan Aila saat gue sadar, dijauhi dia, dihindari dan dimusuhi oleh Prita terasa lebih menyakitkan daripada gue diputuskan oleh Aila.” Ucap John sambil merangkul bahu Prita. “Gue sudah jatuh cinta pada Prita, bahkan saat gue belum menyadarinya. Tapi setelah gue menyadarinya, gue bahkan sempat ragu sama diri gue sendiri.”


John menghela nafasnya sesaat.


“Tapi gue sudah ga tahan Fan, gue rasanya ga sanggup lihat Prita dengan orang lain. Sorry kalau gue tampak terburu – buru, gue hanya... gue hanya ga mau kehilangan Prita. Gue cinta sama dia, seperti Andrew mencintai lo.”


John menyambung lagi ucapannya. Masih berusaha keras memberikan Fania semua alasan yang dia punya yang bukan hanya sekedar alasan, tapi memang apa yang John rasa.


“Gue tahu lo mau yang terbaik untuk Prita dalam hidupnya. Gue paham rasa sayang lo dan pengorbanan lo selama ini buat dia. Sedikit banyak Prita sudah cerita sama gue. Dan Demi Tuhan Fania, gue salut sama lo. Prita beruntung punya kakak kayak lo. Tapi tolong, dia juga punya hidupnya sendiri. Dia berhak untuk mengambil keputusannya sendiri.”


Wajah serius John setengah mengendur saat ini hampir nampak sedang memohon.


“Termasuk soal hati.” Ucap John lagi. “Lo tahu seberapa besar dia menjaga perasaan lo?. Dia bahkan pernah bilang ke gue kalau rasa dia ke gue sudah ga ada. Jadi tolong, lo jangan men-judge dia sebagai adik yang ga menghormati kakaknya. Dan kalau sekarang dia memutuskan untuk bersama gue, itu haknya, Fan. Dan gue akan buktiin ke elo kalo gue sungguh – sungguh tulus mencintai Prita.”


John kembali meraih bahu Prita dengan matanya yang berkaca – kaca. Prita pun sama, ia menatap John yang kini menatapnya dengan kesungguhan yang nampak dalam cara John memandangi Prita.


Sementara Papa Herman, Mama Bela berikut Andrew, Jeff, Dewa dan Michelle masih tak ingin menginterupsi John


yang sedang berbicara panjang lebar pada Fania.


“Gue memang ga memberikan Prita pilihan Fan, gue ga bertanya apa dia mau jadi pacar gue, atau dia mau menerima lamaran gue. Gue ga kasih di opsi, karena gue ga mau melepas dia. So, lo setuju atau engga, gue akan tetap mempertahankan hubungan gue dengan Prita. Sorry kalau gue egois. Tapi tolong, lo juga jangan egois Fan....”


Fania hanya memandangi John yang matanya sudah berkaca – kaca itu. Lalu pandangannya beralih ke Prita.


“Kalau ternyata memang gue egois?.”


**


To be continue...


Hayoo tebak - tebak buah manggis nih, si Kajol mau ngomong aposeh. 

__ADS_1


Pinisirin nih yeeee 😃😃😃😃 


__ADS_2