THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 45


__ADS_3

💗TAK MAU MEMBUANG WAKTU💗


*********


Selamat membaca...


Melanjutkan cerita pasangan bucin baru sebelumnya....


John mengajak Prita pergi ke sebuah tempat dimana beberapa temannya sedang berkumpul.


“Kak John mau ajak gue kemana sih ini sebenernya?.” Tanya Prita yang masih penasaran kemana John akan membawanya. Gadis itu sesekali celingukan ke arah luar jalanan.


“Ancol.” Jawab John.


“Hah?. Lo mau ajak gue maen ke Dufan?.” Ucap Prita sumringah. "Udah lama banget tuh gue ga kesitu."


“Katanya udah gede. Masih aja mau main ke Dufan.”


John terkekeh.


“Dih emang anak kecil aja yang boleh ke Dufan. Ada juga maenan disana kebanyakan buat orang gede.”


“Iya, iya. Kamu mau kesana memangnya?.”


Prita mengangguk. “Mau kalo diajak mah.”


“Ya sudah, kita kesana aja kalau begitu.”


“Emang tadinya Kak John mau ajak gue kemana?.”


“Putri Duyung.”


“Ngapain?. Lo berniat jahat ya sama gue?.” Prita menoleh sambil dua tangannya ia letakkan didepan dadanya.


John terkekeh lagi. “Kalau mau niat jahat sudah dari semalam Kak John makan kamu tanpa sisa.”


“Terus ke Putri Duyung ngapain?.”


“Kumpul aja sih seperti biasa. Paling nanti main ke pulau pakai yacht.”


Prita manggut – manggut.


“Tapi kan kamu maunya ke Dufan.” Ucap John. 'Ga apalah kalau dia mau ke Dufan, setelahnya kan tetap bisa.' Batin John yang sudah memiliki rencananya sendiri.


“Ya udah si kalo Kak John emang udah janjian sama temen – temen Kak John yang mending kita ketempat mereka aja.”


“Mau ke Dufan apa engga?.”


Prita tampak berpikir sebentar.


“Ke tempat temen – temen Kak John aja deh.”


“Beneran?.” John memastikan.


“Iya.”


“Ya sudah.” John mengacak sebentar rambut Prita kemudian melajukan mobilnya ke tempat yang mereka tuju.


***


“Ngomong – ngomong Prita, pacar kamu yang keberapa.”


Prita sontak menoleh mendengar pertanyaan John.


“Emang Kak John pacar Prita?.” Si Priwitan iseng.


“Wah, suka pura – pura lupa dia.” Sahut John. “Ciuman tadi malam sama tadi pagi apa itu emangnya, hem?.”


“Ya elah hari gini, ciuman bukan ama pacar juga banyak yang ngelakuin. Contohnya situ sendiri kan?.”


John spontan menoleh pada Prita. Air mukanya sedikit berubah. “Kok kamu bicaranya begitu, Prita?.”


“Yah, reputasi Kak John sama Kak Jeff sebagai Casanova kan beda – beda tipis.”


“Karena itu kamu meragukan perasaan Kak John kekamu?.”


“Yah, sedikit. Tapi ya kalau soal ciuman kan aku ga salah dong kalau bilang ga selalu harus pacaran kan alasan orang berciuman. Kadang yang ketemu sekali aja bisa maen cium sampe lebih malah.” Ucap Prita santai.


“Hemmm.”


“Lagian kan Kak John semalem ungkapin perasaan doang ke gue, bukannya nembak.”


“Loh apa bedanya?.”


“Bedalah. Orang tuh kalo nembak bilangnya, ‘Prita would you be my girlfriend?.’.” Ucap Prita. “Sementara


Kak John kan semalem ngomongnya, ‘Aku cinta kamu, Prita Eriselena' dan bla bla bla serta segala ke - gombalan didalamnya.”


“Kok gombal sih?. Semua yang aku bilang soal perasaan aku itu datang dari lubuk hati yang paling dalam, okay?.”


“Tapi maksa.”


“Maksa gimana?.”


“Coba Kak John bilang apa semalem? ‘Aku ga akan bertanya apa kamu mau menerima cinta aku atau engga, tapi


aku hanya minta kamu cintai aku ..” Prita mencoba menirukan cara bicara John semalam saat sudah menciumnya.


“Dan aku akan berikan semua cinta yang aku punya untuk kamu.” John meneruskan kalimat yang hendak Prita


ucapkan. Prita pun menoleh dan tersenyum.


“Ngapalin berapa lama itu gombalan?.” Ucap Prita dan John terkekeh.


“Yah, kurang lebih dua tahun.” Sahut John.


John menggenggam tangan Prita dengan satu tangannya. Mengangkat dan mengecupnya sekilas lalu kembali


fokus pada kemudi.


“Hampir dua tahun menahan rindu yang sebenarnya mungkin adalah cinta yang sudah tumbuh untuk kamu, Prita.”


Ucap John. “Dan semua yang aku katakan ke kamu soal perasaan aku sejak semalam itu mengalir begitu saja.”

__ADS_1


Rasa haru nan hangat menyeruak dalam hati Prita, cara John mengucapkan dan tatapannya yang sesekali


beralih ke jalanan didepannya sama dengan semalam.


Hanya ketulusan yang ada didalam iris mata berwarna biru gelap itu.


Rasanya juga Prita masih tak percaya kalau laki – laki yang dulu selalu memenuhi hati dan kepalanya sudah


menyatakan cinta padanya. Bahkan sudah menjadi kekasihnya sekarang dan sepertinya juga nampak memuja dirinya.


“Aku ga masalah jika kamu masih meragukan aku, Prita. Aku paham.” Ucap John. “Tapi aku kan melakukan


segala hal agar kamu percaya dengan kesungguhan aku.” Sambungnya. “Aku tulus mencintai kamu. Bukan karena aku sudah tahu kalau kamu pernah memilik perasaan cinta padaku saat aku masih bersama Aila.”


John sudah mencapai tempat yang mereka tuju. Mematikan mesin mobil dan melepaskan sabuk pengaman, namun


tidak langsung turun dari mobil.


Ada sedikit rasa yang kurang mengenakkan dihati Prita saat mendengar nama Aila disebut John barusan.


Karena setahu Prita, John begitu mencintai dan memuja wanita yang bernama Aila itu, bahkan pernah


berencana menikahinya. Nama seorang wanita yang pernah membuat Prita merasa iri dan cemburu, dan karena menjelek – jelekkan wanita itu juga hingga John sampai membentak dan memberinya peringatan, sampai dirinya merasa sakit hati dan membulatkan tekad untuk melupakan cintanya pada John sekaligus menjauhinya.


“Tapi ternyata .. dijauhi, dihindari bahkan sampai dimusuhi kamu terasa lebih menyakitkan daripada saat aku putus dengan Aila.”


Prita menatap John penuh makna yang kini sudah memiringkan posisi tubuhnya.


“Entah aku yang tidak menyadarinya  atau mungkin aku berusaha untuk menampik perasaan aku kekamu saat itu. Yang jelas rasanya begitu menyiksa saat kamu terang – terangan menghindari aku.”


John membelai wajah Prita.


“Yang jelas sekarang aku sudah tidak sanggup menahannya lagi. Aku cemburu saat kamu dekat dengan laki – laki lain, sangat. Aku akan berjuang Prita. Untuk mendapatkan hati kamu seutuhnya, cinta kamu dan kepercayaan kamu atas perasaan aku kekamu.”


John menatap Prita lekat – lekat.


“Tak perduli seberapa jauh perbedaan usia kita, tak perduli aku dibilang Pedofil.” Ucap John dan Prita terkekeh.


Sejenak mereka saling tatap.


“Aku akan membuat kamu percaya, kalau aku tak main – main dengan perasaan aku dan hubungan ini.”


‘Ampun bang jago .. romantis emen sih ini si bule koplak.’ Batin Prita sumringah.


CUP!. John mencium lembut bibir Prita.


‘Bersiaplah menjadi Nyonya John Darwin Smith, Prita Eriselena.’ Batin John yang sudah memastikan.


**


John mengajak Prita ke salah satu resort yang berada di daerah Jakarta itu. Memperkenalkan Prita pada teman –


temannya yang semalam bersamanya di tempat dimana John melihat Prita bersama Tristan.


“Hey John!.” Sapa Rico yang semalam memback – up John saat John ribut dengan Tristan karena Prita.


“Hey, Co!.” John menyapa balik pada temannya itu. “Everything were okay last night? ( Semua baik – baik aja


“Ck. Masa lo masih meragukan gue dan Arya?.”


“Siapa tahu kalian sudah kehilangan kekuasaan?. Mendingan lo jauh – jauh dari gue!.” Ucap John sambil terkekeh pada Rico yang ikutan terkekeh.


“Ga mungkin lah gue dan Arya mempermalukan klan Smith. Kalau soal begundal kecil dan konco – konconya itu


ga bisa gue urus, bisa – bisa gue dan Arya dibabat habis sama para Kaisar.” Ucap Rico.


 ‘Kaisar?.’ Batin Prita ga paham.


“Ini cewe yang semalem, John?.” Tanya Rico saat memperhatikan Prita dan John mengangguk.


“Whoa John!.” Satu lagi teman John yang bernama Arya menghampiri John yang merangkul erat pinggang Prita.


“Lihat apaan lo?!.”


John berkata ketus pada temannya yang bernama Arya itu karena melirik pada Prita. Namun laki – laki itu terkekeh.


“Santai Bro ... ini cewe yang semalam jadi rebutan kan?.” Ucap Arya seraya bertanya.


John mengangguk. “Kenalkan ini Prita.” John memperkenalkan Prita pada dua temannya itu. “Ini Rico dan ini Arya.”


“Prita.” Ucap Prita tersenyum sambil menjabat tangan Rico dan Arya.


“Gila. Daun muda John.”


“Diam.”


Rico dan Arya tergelak.


Sementara Prita hanya tersenyum saja.


“Mata lo kalau soal cewe. Benar – benar Smith sejati ya?. Tau aja barang bagus.”


“Sembarangan lo!. Soulmate gue lo bilang barang!.”


“Gila once again!. Soulmate , Maan...” Celetuk Rico pada Arya.


“Tapi setimpal lah. Kalau kita harus membackup lo semalam karena dia.” Gantian Arya yang nyeletuk. “Kamu terlalu cantik Prita. Pantas aja dia ngamuk liat kamu sama cowok lain.”


Prita hanya tersenyum mendengar pujian Arya.


“Tapi muka kamu mirip – mirip sama istrinya Andrew yang ga boleh dilihat lama – lama itu perasaan gue.” Rico memperhatikan.


“Hah?.”


“Iya istrinya Andrew yang super cantik dan seksi tapi amat sangat terlarang dipandangi lama – lama sama suaminya yang super duper posesif itu.”


‘Set dah si Kajol terkenal juga itu kakak gue yang gesrek. Wkwkwkwk. ’ Prita membatin. “Kak Fania?.” Ucap Prita atas perkataan Rico.


“Yap. Fania Andrew Smith. Kamu agak – agak mirip dia.”


“Adiknya. Miriplah!.”


Rico dan Arya spontan membuka lebar mulutnya saking terkejut.

__ADS_1


“Serius lo John?.”


“Beneran itu Prita?. Kamu adik dari istrinya Andrew?.”


“Iya bener Kak.”


“Ga heran kalo cakep begini sih!. Nah kakaknya aja cakep begitu.” Celetuk Rico.


“Dah lah emang lo semua para pria b*jingan di Keluarga Smith udah paling jago kalo soal cari pasangan.”


Dan ketiga laki – laki itupun tergelak sambil berjalan menghampiri beberapa teman mereka yang lain yang juga


sudah berkumpul didalam resort. John menggenggam tangan Prita dengan erat, sambil dikenalkan pada teman – temannya yang lain. Lalu menghabiskan waktu hingga sore hari dengan berkeliling pulau dengan yacht pribadi milik Rico dan melakukan berbagai kegiatan disana.


“Tadi yang dimaksud mereka kaisar itu apaan Kak?.” Tanya Prita pada John.


“Siapa lagi dua kaisar kejam selain kakak gantengnya si Kajol sama kakak ipar kamu.”


“Uwew.”


**


“Kak, ada toko souvenir kan disini?.” Tanya Prita saat mereka sudah kembali dari pulau dan sudah berada di resort.


“Toko souvenir?.” John balik bertanya.


“Iya. Gue mau cari kaos. Udah ga enak banget ini rasanya baju yang gue pake. Cari kaos buat ganti.”


“Hemm... soal itu jangan khawatir.”


“Dimana itu toko souvenir?.”


“Kak John udah suruh orang membawakan pakaian ganti untuk kita. Yuk.” John membawa Prita ke dalam satu kamar di resort tersebut. “Pakaian ganti kamu ada didalam. Kamu sekalian mandi juga ga apa – apa. Tapi jangan keluar dari kamar sebelum aku datang kesini jemput kamu.”


“Iya Kak.”


**


“Prita ...”


John mengetuk pintu kamar Prita saat ia sudah rapih. Prita pun langsung membuka pintu saat mendengar suara John.


“Cantik.” Ucap John saat Prita keluar dengan balutan dress santai berwarna peach.


“Bagus Kak bajunya.”


“Karena kamu yang pakai.”


“Ca ilah, gombal melulu.” Ucap Prita sembari terkekeh. John pun sama.


“Yuk.”


“Eh, itu baju gue yang tadi bekas pake.”


“Nanti ada orang yang merapihkan, biar disimpan dimobil.”


“Oh ya udah.”


“Kenapa?.” Tanya John pada Prita yang nampak celingukan.


“Ga liat temen – temen Kak John yang tadi. Udah pada pulang duluan?.”


“Engga. Mereka sudah duluan kesana.”


John membawa Prita ketempat yang tadi dia tunjuk.


“Ini temen Kak John ceritanya ada yang mau ngelamar cewenya ya Kak?.” Tanya Prita setengah berbisik saat melihat taburan mawar merah berbentuk hati di area kolam renang bertuliskan ‘Marry Me!’ (Menikahlah Denganku!).


“Kenapa?. Bagus?.” Tanya John yang menggenggam tangan Prita menghampiri sisi kolam renang dekat taburan


mawar berbentuk hati itu. Teman – teman John yang tadi menghabiskan waktu bersama mereka juga sudah nampak berkumpul dan langsung berdiri mengitari kolam renang.


“Bagus lah Kak. Simpel. Tapi romantis.” Ucap Prita yang asik mengobrol dengan John sambil melirik juga ke arah teman – teman John. “Meleleh pasti itu cewenya temen Kak John kalo dilamar begini sih.”


“Suka?.”


“Apanya?.”


“Ini semua yang kamu lihat.”


“Cewe mana juga pasti suka Kak dilamar dengan cara begini sih. Bahagia kali malahan kalo cowonya sampe


ngelakuin ini.” Sahut Prita.


John tersenyum.


“Ngomong – ngomong Kak, yang mau ngelamar yang mana cowonya?.” Ucap Prita tanpa menoleh pada John karena matanya sedang memperhatikan satu – satu teman John. Penasaran sama sosok cowo romantis yang mau melamar cewenya itu.


“Coba lihat sini.”


Prita lumayan terhenyak saat ia menoleh pada John yang kini sudah bersimpuh dengan satu kakinya menghadap


pada Prita.


“K – kak ...?.”


“Cowo nya ada disini.” Ucap John sambil memegang satu tangan Prita. Keriuhan sedikit terdengar. John tersenyum lebar sementara jantung Prita kini berdebar kencang


“I - ini ..?.”


“Maaf, kalau semalam tidak ada pertanyaan tentang kesediaan kamu menjadi pacar aku.” Ucap John dan seketika suasana pun hening. “Karena aku menunggu saat ini.”


John mengeluarkan kotak kecil berwarna abu – abu muda dan membuka kotak tersebut. Sebuah cincin emas


bertahtakan berlian tersangkut didalamnya.


“Prita Eriselena ... I want you to marry me (Aku ingin kamu menikah denganku).”


****


To be continue....


Author jadi pengen guling - guling dah saking ikutan girang 😄

__ADS_1


__ADS_2