
✨ TIME IS MOVING ✨ Waktu Bergerak
Selamat membaca....
Satu tahun berlalu
London, Inggris...
“How was your school, My boy?. (Bagaimana sekolahmu, Nak?).” Reno menjemput Varen di sekolahnya dengan mobil pribadi yang dikemudikan oleh dirinya sendiri.
“Biasa saja Dad.”
“Apa kamu menemui kesulitan sejauh ini?.” Tanya Reno sambil merengkuh bahu Varen menuju mobilnya.
“Of course not. (Tentu saja tidak).” Jawab Varen dan Reno pun tersenyum. “Aku terlalu pintar, kalau Dad lupa .. Jika aku tidak menunda kelas akselerasi ku, aku bahkan mungkin sudah bisa kuliah.”
Reno terkekeh.
Sepasang ayah dan anak laki – laki itu menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di Sekolah Khusus anak – anak yang memiliki IQ diatas rata – rata seperti Varen. Sama – sama tampan dan terlihat kompak.
Terutama kaum hawa tentunya. Para guru dan wali murid siswa yang kebetulan ada, memandang penuh kekaguman pada Daddy R. Sementara Varen sendiri sudah menjadi idola ciwi – ciwi di lingkungan sekolahnya.
“Today Drea has a riding class don’t she?. (Hari ini Drea ada kelas berkuda kan?).”
Reno menjawab pertanyaan Varen dengan anggukan saat mereka sudah mencapai mobil dan Reno membukakan pintu untuk sang putra yang kemudian langsung duduk di kursi penumpang depan dan langsung juga memasang seat belt nya sambil menunggu sang Daddy masuk mobil.
“You want to stop by at TLFC?. (Kamu mau mampir ke TLFC?).”
“Ya..”
“Coba kamu hubungi Poppa, tanya apa Drea sudah selesai atau belum. Jika sudah kita akan langsung ke Harrods. Dad dan Poppa janjian dengan Mommy dan Momma disana.”
“Aku hubungi Poppa dulu kalau begitu.”
****
The London Equestrian Centre, London, England....
Reno dan Varen sudah sampai di sebuah sekolah berkuda yang berada di lokasi sempurna diatas lahan seluas 34
hektar, yang menghadap ke Lembah Totteridge.
Seorang gadis kecil berusia berusia kurang lebih delapan tahun terlihat nampak serius dan anggun diatas seekor kuda berpelana, bersama seorang instruktur yang sedang juga nampak serius melatihnya.
“Hey, My Prince! ....”
“Poppa.” Varen mencium punggung tangan Andrew dan Andrew meraih bahu putranya itu.
“How was your school?. (Bagaimana sekolahmu?).”
“Biasa saja Poppa ....”
“Apa kamu akan ikut akselerasi lagi?.”
“Sepertinya tidak. Aku ingin mengikuti prosedur normal selama tiga tahun ini.” Sahut Varen pada pertanyaan Andrew.
“Memang kenapa?.”
“Jika aku ikut kelas akselerasi lagi, tahun depan bisa jadi aku sudah ke Universitas Pop.....”
“Isn’t it great?. (Bukankah itu bagus?). Anak usia tiga belas tahun sudah masuk ke jenjang Universitas.”
“Tidak juga.”
Varen menatap sang Poppa lalu memperhatikan Andrea yang sepertinya akan selesai latihan.
“It would be great, Prince. (Sudah pasti bagus, Pangeran). Kamu akan menjadi kesayangan para mahasiswi – mahasiswi cantik dan seksi di Universitas. Muda, sangat!. Cute (Imut) dan sangat kaya ... kamu akan menjadi rebutan kakak – kakak cantik ....”
Andrew berkelakar lalu terkekeh sendiri, namun Reno juga ikut terkekeh. Sementara Varen memutar bola matanya malas.
“I’m thirteen okay?!. (Aku baru tiga belas tahun oke?!).” Celetuk Varen. “Dan para mahasiswi itu seperti tante – tante...”
Daddy R dan Poppa langsung tergelak mendengar ucapan Varen yang kemudian langsung berdiri menyambangi Andrea yang sudah selesai latihan dan turun dari kudanya.
*****
“Seperti lo dan Fania dulu.” Ucap Andrew pada Reno yang kemudian manggut – manggut sembari tersenyum saat melihat Varen dan Andrea yang nampak akrab dan saling menyayangi itu.
“Hanya bedanya, Fania benar – benar menganggap dan memperlakukan gue sebagai kakak. Tidak posesif dan agresif .... seperti itu.” Tunjuk Reno pada dua bocil yang bisa dikatakan nampak terlihat uwu.
Andrew pun tertawa lebar saat melihat pemandangan didepannya dan Reno.
“Posesif dan Agresif sekali anak lo itu, Donald Bebek!.”
“Hahaha ...”
Andrew tergelak dan Reno ikut juga terkekeh sambil geleng – geleng.
"Kalau itu pasti menurun dari lo. Suka main sambar bibir Little F, nah tuh si Drea ketularan!.... Main kecap kecup aja pipi cowok."
“Hahaha ...” Andrew tergelak lagi.
"Untung pipinya si Varen."
*****
“Little Star .....”
“Abaaang...”
Andrea nampak berseri – seri melihat kedatangan Varen.
“Drea lelah?.......”
__ADS_1
Andrea menggeleng sembari tersenyum.
Varen ikutan tersenyum dan membantu membuka helm berkuda Andrea setelah juga menyapa instruktur berkuda
pribadi Andrea.
“Kok Abang sudah pulang sekolah?.” Tanya Andrea dengan mimik wajah imutnya.
“Abang ga ada kelas tambahan hari ini. Jadi pulang cepat.”
“Abang ikut ke Mal kan?. Drea mau cari peralatan untuk sekolah minggu depan. Poppa bilang Drea boleh bersekolah di luar rumah sekarang, seperti Abang dan Tan – Tan.”
“Iya Abang ikut. Kan Abang janji akan menemani Drea terus.” Ucap Varen sambil mengacak – acak rambut Andrea dengan sayang sembari tersenyum. Andrea menatap sang Abang dengan bahagia kemudian memeluk pinggang Varen.
“Yeeeee.. Saaaayannnng Abaaannnng!!!.....”
“Sayang Drea ...” Sahut Varen pada Andrea yang menggemaskan itu.
“Abang menunduk sebentar!.”
Varen menuruti permintaan Andrea.
Cup!. Varen tersenyum lagi kala Andrea mengecup pipinya
“I love you Abaaaang....”
“I love you too Little Star.” Varen memeluk sayang Andrea kemudian berjalan menuju ketempat Poppa dan Daddy R menunggu mereka.
****
Mansion Utama Keluarga Adjieran Smith, London ..
“Boo – Boo ....”
Michelle dan Dewa serta Mika kini sedang berada di London.
“Hati – hati Mommy Icheel...”
“Kamu lihat Dewa, Prita?.”
Prita, John dan si kembar juga sedang berada di London.
“Kang Mas Dewa lagi di dapur tuh ... lagi belajar bikin pecel sama si Intan dan Ibu, gegara bini manjanya yang lagi hamil minta dibikinin pecel.”
“Tau nih, ga hamil si Mika ga hamil anak sekarang, manja ga hilang – hilang! ..... Kenapa ga kepingin pecel waktu masih di Indo aja sih?. Kan gampang carinya .... Udah gitu ngerepotin suaminya lagi, mentang – mentang si Dewa itu Chef!.”
Michelle memonyongkan bibirnya mendengar cerocosan Mom.
“Namanya ngidam Mom, memang maunya aku.” Sahut Michelle. “Orang maunya sudah sampai sini juga, mau bilang apa?. Lagian aku juga mau bantu tadi, tapi Boo – Boo suruh aku di kamar aja. Aku kan istri solehah ikut kata suaminya.”
“Solehah! Solehah! .... Soledad!. Menyahut aja kalau dikasih tahu orang tua!.” Timpal Mom pada Michelle, sementara Prita cekikikan.
Tak berapa lama dua maid datang dengan mangkuk berisikan sayuran dan pelengkap pecel lainnya dalam wadah
terpisah bersama Dewa yang membawa bumbu pecel, juga dalam wadah terpisah. Dewa dan dua maid itu nampak tersenyum pada tiga orang yang berada tak jauh dari ruang santai keluarga.
“Ayo Yank ....”
“Thank you Boo – Boo.” Michelle bergelayut manja pada satu tangan Dewa yang bebas.
“Apapun buat istri aku tercinta yang sedang hamil ini.”
“Ulululu.” Michelle mencubit gemas pipi Dewa lalu menggoyangkan nya perlahan.
“Rasanya Mom mual!....”
“Iri tuh!.” Ledek Michelle.
Mom memutar bola matanya malas.
“DAAAAD ...”
“Ca elah nene – nene masih aje sirik ama yang mudaan! ...”
“Eims ....”
Keempat orang selain Mom pun terkekeh sambil memperhatikan Mom yang masuk ke ruang santai memanggil Dad.
“Udah jangan iseng sama yang tuaan!... nanti dikutuk jadi centong nasi! ...”
“Jangan dipake itu kutukan si Mamah, nanti kita kena pinalti! ...” Celetuk Prita.
Empat orang itu pun terkekeh lagi lalu masuk ke ruang santai bersama – sama untuk bergabung dengan yang lainnya.
*****
“Jihan mana?.”
“Lagi nyusuin si Aina.” Sahut Fania pada pertanyaan Dewa saat sudah berada di ruang santai dengan yang lain.
“Oh..”
“Drea, Abang, Nathan!...”
“Iya Momma!.....” Sahut tiga orang yang dipanggil Fania yang kemudian langsung menghampiri sang Momma. "Coming!. (Kami datang!)."
“Nih makan pecel. Ambil piring sana.”
“Oke Momma.” Sahut Varen dan Nathan dan dua anak itu langsung mengambil piring lalu menyendokkan pecel ke
piring mereka masing – masing.
“Drea ga ambil piring?.” Tanya Fania pada putri pertamanya itu. Andrea menggeleng. “Ya udah Momma suapin ya?.”
“Ga mau Momma.. Drea ga suka..” Ucap Andrea.
__ADS_1
“Ih enak ini. Coba dulu deh. Drea kan suka sayur?..”
Fania mencoba membujuk sang putri, tapi Andrea tetap menggeleng.
“Coba dulu Drea!.” Celetuk Nathan yang memang sudah terbiasa dengan makanan Indonesia.
“Engga ah! Aku lebih suka salad.”
“Iya ini sama juga kayak salad, beda di sausnya aja.”
“Engga mau aneh!.”
“Coba dulu sedikit, kalau Drea tetap ga suka ya sudah.” Varen bersuara. “Aa.”
Varen mengangkat sendoknya dan mengucapkan kata ‘Aa’ agar Andrea membuka mulutnya. Andrea nurut kata si Abang dan ia membuka mulut mungilnya itu. Membuat sang Momma geleng – geleng.
“Manja!.”
“Nathaan ....”
Varen melirik Nathan yang sedang menggoda Andrea. Nathan langsung nyengir lalu melenggang pergi dari Varen, Andrea dan Momma untuk duduk ketempatnya tadi.
“Suka?.” Varen beralih ke Andrea.
“Sedikit.” Jawab Andrea.
“Mau lagi?.”
“Mau, tapi Abang yang suapin.”
Varen mengangguk sambil tersenyum.
“Ya sudah Abang tambahkan dulu pecelnya. Drea tunggu didekat Nathan.” Ucap Varen dan Drea mengangguk. Si Momma geleng – geleng lagi.
“Lebih nurut sama si Varen ketimbang sama emak nye tuh bocah.”
“Biarkan aja sih, sirik aja Momma.” Celetuk Daddy R sambil terkekeh. Sementara Fania masih geleng – geleng sambil memandang kearah tiga bocah yang sudah duduk bersama lagi sambil makan pecel dan bermain dengan si kembar dan John.
****
“Abang .....”
“Yes Mommy?......” Sahut Varen pada Ara.
“Abang kan katanya tidak mau ikut akselerasi lagi.”
“Iya Mommy.”
“Nah berarti Abang kan sekolah sampai kelas dua belas. Umur Abang nanti sekitar enam belas atau tujuh belas tahun saat Abang lulus, Abang mau langsung daftar kuliah atau menunda dulu?.” Tanya Ara pada sang putra. “Kalau memang Abang mau langsung kuliah, Abang sudah harus pikirkan dari sekarang Abang mau kuliah dimana. Kalau masih di London sih ga apa – apa, tapi Abang katanya ingin kuliah di Harvard?.”
“Iya Mommy aku ingin kesana, karena jurusan MIT Harvard punya tingkat aktivitas penelitian tertinggi di dunia soalnya. Aku sangat tertarik.”
“Nah kalau memang begitu ya dipersiapkan dari sekarang. Biar kita pikirkan dimana kamu akan tinggal nanti terutama.”
“Iye bener tuh Bang kata Mommy, kalo mau kuliah di luar negeri harus dipikirin dari sekarang biar disiapin segala macem, termasuk tempat tinggal kalau Abang mau kuliah di Luar Negeri. Tiga tahun kan cepet Bang.” Timpal Mami Prita.
“Abang mau pergi ke Luar Negeri?.” Incess nyamber.
“Iya kalau jadi, Abang mau kuliah di Luar Negeri.” Sahut Varen.
“Ga boleh! Abang ga boleh pergi!.”
Incess sedang merengek.
“Abang kan udah janji akan sama – sama aku terus! Ga akan ninggalin Drea!.”
“Kan masih lama Andrea.”
“Pokoknya ga boleh! ..”
“Drea!...”
Fania melotot pada putrinya.
“Jangan dimarahi, Sweety.” Ibu Peri nan baik hati mendekati Andrea. Menjelaskan dengan sabar tentang Varen yang akan kuliah setelah menyelesaikan sekolahnya nanti.
“Iya Little Star, Abang perginya masih lama juga, masih akan terus disini sampai Drea selesai kelas enam.”
“Ga mau! Abang tetap ga boleh pergi!. Drea marah sama Abang pokoknya kalau Abang pergi!.” Andrea masih merengek. Lalu bangkit dari tempatnya dan berlari menuju kamarnya.
“Drea ...”
****
“Sudah Fania, jangan terlalu dipikirkan soal Andrea. Toh dia masih delapan tahun juga. Nanti saat Varen menyelesaikan sekolahnya Andrea kan sudah akan masuk ke kelas tujuh. Nanti juga dia akan mengerti sendiri.”
Mom menepuk – nepuk pundak si Kajol yang nampak puyeng soal Andrea yang ga mau lepas dari Varen.
Sejujurnya Fania juga merasa tak enak pada Ara dan Reno.
“Ya justru itu Mom, si Drea harus dikasih pengertian dari sekarang. Masa Varen harus nunda mimpinya gegara itu si Juleha?! ...” Ucap Fania. “Kalian juga sih, kebangetan manjain Andrea. Jadi gitu tuh die, batu!.”
“Anaknya siapa?.”
Fania melirik sebal pada kakak ganteng yang cengengesan dan kemudian berdiri untuk menyusul Andrew dan Varen yang sudah mengejar Andrea kekamarnya.
“Si Kajol sama si Donald Bebek lah.”
“Ye, bule gila lemes. Belom aje tuh si Aina gede. Kayak bapaknya ga kepala batu aje!.”
Jeff pun terkekeh mendengar ucapan Fania, berikut anggota keluarga lain yang berada didekat mereka. “Udah... sama – sama kepala batu, ga usah saling ledek!.” Celetuk Mom.
‘Kudu dipisah dari sekarang ini kayaknya si Andrea dari si Abang. Kalo gedenya kaga jodoh, si Juleha terlanjur kelewat lengket lebih – lebih dari sekarang, gimana urusannya kalo si Varen naksir cewe laen pas udeh gede nanti?.’ Batin Fania berpikir.
****
__ADS_1
To be continue....
Apakah Momma akan memisahkan Rojali dan Juleha?.. Tunggu episode berikutnya ...