
đđ  MENCARI JAWAB DALAM GELAP  đđ
********************************************************
Selamat membaca.....
Michelle dan Fania saling tatap, saat satu pintu besi atau baja terbuka secara otomatis didepan mereka. âSemoga kita beruntung, Kak.â Ucap Michelle seraya menyodorkan satu tangannya untuk tos kepal pada Fania.
Fania pun menyambut tos kepal Michelle dengan antusias sambil tersenyum. Fania juga belum menyalakan lampu mobilnya. Ternyata saat pintu tembusan dari ruang rahasia terbuka dan Jeep yang dikendarai Fania sudah melaju kedalam lorong, lampu â lampu disekitar lorong otomatis menyala, seperti punya kontrol getar dari jalan dilorong tersebut.
Michelle dan Fania sama â sama menahan nafas mereka sejenak saat satu lagi pintu besi terbuka dan
kemungkinan besar itu adalah pintu terakhir yang dilalui sebagai penghubung dunia yang selama kurang lebih delapan hari tidak mereka lihat.
Fania dan Michelle sama â sama menatap kearah langit yang terbentang diatas mereka sebentar. Kemudian saling tatap dan tersenyum.
âGue ga sabar untuk membawa mereka semua keluar dari Save House dan menghirup udara yang sebenarnya, bukan dari alat penyalur oksigen.â Michelle pun mengangguk antusias atas ucapan Fania.
âIni tembus kemana sebenarnya?.â Michelle bertanya sambil memperhatikan arah luar dari jendela mobil yang ia sudah buka setengah itu.
âEntah.â
Fania ikut celingukan. Namun ia tetap mengendarai pelan â pelan mobil yang ia kemudikan, karena ia belum
menyalakan lampu, namun cahaya temaram dari beberapa tiang lampu yang terbentang menyinari jalan dirasa cukup untuk membantu mereka melihat jalanan dan sekitar.
Michelle dan Fania keluar dari dalam Save House saat malam. Mereka dan para wanita di Save House dapat
memperkirakan waktu karena ada arloji yang masih mereka miliki. Memutuskan untuk pergi saat malam hari untuk faktor keamanan, karena jalanan setidaknya sepi dimanapun mereka berada saat ini.
âWeâre still in London... (Kita masih di London ini) ... Coba lo perhatiin deh.â Fania menunjuk deretan flat dengan desain bangunan yang memang khas London.
Michelle lebih memperhatikan lagi sekelilingnya saat Fania menyalakan lampu mobil dijalanan kecil yang telah
mereka masuki, setelah dirasa aman karena jalanan nampak sangat sepi.
âOh, ya ampun. Kita masih di sekitar Regent ini Kak.â
âIni Regent Street kan?.â
âIya Kak.â Sahut Michelle.
Fania terdiam sejenak, nampak berpikir. âJangan â jangan..â Ucap Fania yang nampak sedang menduga â duga
sesuatu.
âJangan â jangan apa Kak?.â Tanya Michelle yang sedikit bingung dengan apa yang Fania katakan.
Fania melirik arlojinya. âJangan â jangan Save House itu ada disekitar Mansion.â Ucap Fania yang menoleh pada Michelle.
Michelle pun nampak sedang memikirkan sesuatu, sambil melirik arlojinya kemudian ia langsung menutup
mulutnya sendiri dengan tangan dan menunjukkan ekspresi seperti terkejut.
âKenapa, Chel?.â Tanya Fania.
âBisa jadi Save House kita bahkan sebenarnya ada dibawah Mansion kita sendiri!.â Seru Michelle. âKalau aku ingat â ingat waktu saat kita meninggalkan Save House hingga saat kita sampai ke jalan ini, waktu tempuhnya itu sama dengan kalau kita berangkat dari Mansion hingga sampai ke jalan ini. Hanya berbeda beberapa menit.â
âLo bener juga, Chel!....â Fania melirik arlojinya. âApa kita perlu putar balik dan melihat keadaan di sekitar Mansion?. Siapa tau ada petunjuk, atau bahkan kita bisa masuk kesana.â
Michelle menggeleng dengan ekspresi yang masih nampak seperti sedang berpikir. âSebaiknya jangan.â Ucap
__ADS_1
Michelle. âJika yang terjadi pada Boo â Boo dan Dad serta kakak â kakakku yang lain adalah ulahnya Joven Zepeto, bisa jadi saat ini dia sudah menguasai Mansion. Dia pasti sedang membalas dendam atas apa yang terjadi pada kakek dan ayahnya.â
âJadi keluarga kita nih, dikudeta sama si Joven itu?.â Sahut Fania dan Michelle mengangguk.
âAnggaplah seperti itu. Jadi ada kemungkinan dia sudah mengambil alih Mansion atau mungkin dia sudah berada
disana dan semua aset berikut Perusahaan sudah berada dibawah kendalinya. Jika begitu, pasti disekitar Mansion akan dijaga oleh orang â orang dari pria itu.â Ucap Michelle lagi.
Fania manggut â manggut.
âTerlebih, kalau perkiraan kita sudah seminggu sejak insiden di rumah Uncle Keenan. Ulah siapapun yang bisa menyerang keluarga kita secara terang â terangan, setidaknya dia pasti punya kekuatan yang cukup besar, dan para pria kita kurang siap untuk serangan yang mendadak kala itu. Dalam seminggu ini, pasti banyak yang musuh kita sudah lakukan.â
âYa udah, kalo gitu kita tetep pada rencana.â Sahut Fania lagi. âNyalain gps yang dipasang Varen di arloji lo sekarang, gue cari CCTV jalanan dulu. Nanti kita akan cari cara untuk melihat Mansion tanpa terlihat mencolok.â
âOkay....â
***
Sementara itu dilain tempat
Save House
TIT!. Sebuah bunyi kecil membuat Ara, Varen dan Prita langsung menoleh pada piranti komputer didekat mereka sekarang.
âApa mereka sudah terhubung?.â
Varen sudah mulai berselancar di salah satu perangkat komputer dari tiga yang tersedia. Jari â jari kecilnya sedang bergerak lincah diatas keyboard komputer dan tak berapa lama muncul gambar Fania dan Michelle yang berada didalam mobil, yang bisa bocah jenius itu ambil melalui CCTV jalanan.
âMereka sudah berada dijalanan, Mommy!...â Ucap Varen semangat.
âOh, Sayang...â Ara memeluk Varen karena takjub kalau anaknya ternyata lebih cerdas dari dia dan Reno
Ara memperhatikan jalanan di sekitar mobil yang ditumpangi Michelle dan Fania.
âIni Regent Street kan?.â Tebak Ara dan Varen langsung mengangguk. âApa kamu sudah bisa berkomunikasi dengan mereka?.â
âSebentar Mommy.â Ucap Varen sambil jarinya yang masih bergerak lincah diatas keyboard komputer. âSudah bisa
seharusnya, Mom. Tapi Momma belum menyalakan alat komunikasi mereka.â
âBaiklah kita tunggu saja kalau begitu. Yang penting kita bisa melihat dimana mereka berada.â
***
âSepertinya itu tempatnya, Chel.â
âApa mereka masih buka dijam seperti ini?.â Tanya Michelle pada Fania.
âKalian sudah sampai di Shiju?.â
Suara Ara terdengar di sambungan telekomunikasi yang terhubung ditelinga Fania dan Michelle.
âSudah Kak! ..â Sahut keduanya.
âYa sudah, lakukan seperti yang sudah aku beritahukan pada kalian.â
âApa perlu gue matiin dulu alat komunikasi kita?.â Tanya Michelle.
âTidak perlu.â Jawab Ara. âTidak ada CCTV didekat situ, jadi Varen sedikit kesulitan melihat keadaan sekeliling.â
âOkay.â
__ADS_1
***
Michelle dan Fania sudah memarkirkan mobil mereka dalam sebuah jalanan kecil yang dihimpit oleh beberapa flat dan beberapa tempat makan kecil.
Keadaan sekitar sedikit gelap dan sepi memang. Tapi sebuah tempat yang nampak seperti restoran China itu masih terlihat terang diantara beberapa tempat makan lain yang sudah gelap.
âKami sudah didepan Shiju Kak.â
âLangsung masuk saja. Lalu cari seseorang yang ciri â cirinya seperti yang aku sudah berikan pada kalian.â Suara Ara terdengar lagi. âLangsung saja bilang Sola.â
âOke!.â
***
Fania dan Michelle saling tatap saat mereka sudah berada didalam tempat makan yang sudah diarahkan Ara. Waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam, namun meskipun nampak sepi diluar, ternyata didalamnya begitu terang dan masih ada beberapa orang yang sedang makan ditempat itu baik pria atau wanita.
Fania dan Michelle juga sudah berhasil menemukan pria China yang ciri â cirinya sudah diberikan Ara saat mereka sedang membahas rencana mereka di Save House.
âKalian pergilah ke China Town, cari resto chinese bernama Shiju, lalu kalian temui seorang pria tua keturunan China pemilik tempat itu yang biasanya duduk didekat meja kasir, lalu katakan âSolaâ dan dia akan mengarahkan ke satu tempat.â
Begitu ucapan Ara yang diingat Fania dan Michelle, dan mereka menurutinya.
Saat ini pria tua keturunan ini membimbing Fania dan Michelle berjalan ke arah belakang lagi restoran miliknya. Melewati dapur resto, kemudian memasuki lagi sebuah pintu yang didalamnya seperti gudang penyimpanan bahan makanan. Kemudian setelah sampai disatu pintu, pria tua yang tak banyak bicara itu, membukakan pintu tersebut
untuk Fania dan Michelle sambil merentangkan satu tangannya kearah dalam pintu.
âThank you.â Ucap Fania dan Michelle pada pria tua itu yang hanya dijawab dengan anggukan dan senyuman olehnya.
**
âSetelah itu kalian cari pria keturunan bermarga Li. Bilang saja Paman Li. Jangan tertipu dengan penampilannya. Kadang ia suka berbaur dengan orang â orang disana. Biasanya dia suka memegang sebotol arak ular. Jika kalian melihat, orang yang membawa botol minuman berisikan ular kobra yang sudah diawetkan didalamnya, kalian hampiri dan katakan padanya âHakuna Matataâ dan dia akan segera paham.â
Sekali lagi Fania dan Michelle mengingat kembali ucapan Ara.
âAre you Paman Li?. (Apa kau Paman Li?).â
âIngat, sebut Paman jangan Uncle.â Ucapan Ara diingat lagi oleh Fania dan Michelle saat mereka sudah menemukan seorang pria yang memegang sebuah botol yang sepertinya adalah minuman keras dimana terdapat seekor ular kobra yang sudah mati didalamnya.
Fania dan Michelle langsung menghampiri pria tersebut yang berperawakan pria Asia berambut sedikit gondrong dan usianya juga mungkin masih sama dengan Andrew dan Dewa. Tapi kenapa dipanggil Paman?.
Entahlah, Fania dan Michelle masa bodoh akan hal itu, yang penting sekarang saat ini kalau menurut Ibu Peri,
orang itu adalah orang yang paling bisa dipercaya dan diandalkan dan pasti sudah mengerti dengan apa yang sudah terjadi dan menimpa Keluarga Adjieran Smith.
âWho is Paman Li?. (Siapa Paman Li?).â
Pria berambut agak gondrong itu menyanggah perkiraan Fania dan Michelle sambil memandangi dua wanita yang
memakai jaket kulit, celana jeans, boots dan topi.
âHakuna Matata ....â
Wajah pria gondrong itu nampak berubah serius. Namun tiba â tiba....
Syuttt!
Ada yang menarik Fania dan Michelle dengan cepat kearah lebih dalam tempat bernama Sola itu.
***
To be continue ...
__ADS_1