THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 110


__ADS_3

💗  ARTI  💗


********


Selamat membaca......


 


Sudah tiga minggu Jihan berada di rumah sakit. Kondisi Jihan berangsur – angsur membaik. Cedera lumayan parah pada panggulnya sudah tak terlalu terasa begitu sakit.


Meski begitu, rasa ngilu kerap Jihan rasakan dipanggulnya jika ia duduk terlalu lama, dan Jihan untuk sementara waktu tidak boleh melakukan aktifitasnya seperti biasa, meski saat nanti jika dokter memperbolehkannya pulang.


“Lo mau nonton apa sih?. Dari tadi cetak cetek remote kaga kelar – kelar.”


Jihan terkekeh dengan pertanyaan Fania.


“Aku masih penasaran aja, Fan.”


Jihan menoleh pada Fania. “Soal?.” Tanya Fania.


“Soal kasus aku dan Jeff.” Jawab Jihan.


“Pengen banget masuk tipi romannya Nyonya Jeff!.” Fania dan Jihan terkekeh.


“Ya bukan gitu. Aku penasaran sama pelaku penabrakan aku, yang mengancam Jeff, termasuk yang menabrak aku. Mau tanya sama Jeff aku ga berani. Itu kan tindakan kriminal lumayan serius dan biasanya nongol kan berita – berita kriminal semacam itu, tapi dari sejak aku disini ga pernah aku lihat beritanya.” Cerocos Jihan.


“Ga bakal nongol di tipi, Ji.” Sahut Fania santai. “Berita apapun tentang keluarga kita ga akan pernah muncul dimedia, kecuali di majalah bisnis or fashion. Yang notabene yang tahu siapa Keluarga Adjieran Smith disini itu orang – orang tertentu aja. Nah kalo di London, setengah dari penduduk sana kenal ama keluarga kita.”


“Emezing ya...” Ucap Jihan sembari terkekeh dan Fania pun sama.


“Hummm, begitulah.” Sahut Fania. “Yang penting mereka cinta sama kita, sama anak kita,  bertanggung jawab, sayang keluarga.”


“Baik hati tapi sombong kadang – kadang.”


"Eims!."


Fania dan Jihan sama – sama terkekeh lagi.


“Dah lo berhenti deh mikirin soal orang – orang yang udah jahat sama lo itu ... Mending sekarang lo fokus sembuh, sehat, bisa kembali beraktifitas dengan normal. Kasian tuh Kak Jeff, pasti siotongnya dah mengkeret, tiga minggu dianggurin.”


Jihan terkekeh geli.


“Abis itu kita berjuang bareng deh, buat dapetin baby lagi.”


“Oke dehhh .. Momma Faniaaa ....”


****


Hari terus berganti. Jihan sudah diperbolehkan pulang dari Rumah Sakit. Bersama Jeff dan Ibu Yuna serta Andrew dan Fania, Jihan meninggalkan rumah sakit tempatnya di rawat kurang lebih selama empat minggu ini.


“Sampai kondisi Jihan benar – benar pulih, kalian lebih baik tinggal di Rumah Utama.” Ucap Andrew pada Jeff, Jihan dan Ibu Yuna.


“Iya.”


Jeff, Jihan dan Ibu Yuna pun mengiyakan.


Kemudian Jeff mengangkat Jihan dari kursi roda untuk masuk kemobil. Andrew serta Fania naik ke mobil mereka sendiri.


“Mau langsung pulang atau ke tempat lain?.” Tanya Andrew pada Fania yang sudah duduk disampingnya yang berada di belakang kemudi.


“Langsung pulang aja, biar kita kumpul aja di rumah. Mumpung lagi ada semua, D.”


“Okay, Momma!.”


Cup!


Fania mengecup gemas pipi Andrew yang membuat pria itu tersenyum lebar.


“Here?. (Disini?).”


Andrew menunjuk bibirnya.

__ADS_1


“Dasar.”


Cup!


Fania hanya berniat mengecup tapi Andrew menahan tengkuknya. Satu mobil pengawal pribadi mereka yang berada didepan Andrew sudah melaju, tapi mobil Andrew masih anteng ditempatnya meski mesinnya sudah menyala. Karena yang punya mobil sedang menikmati manis bibir sang istri.


Tin! Tin!


“Hish!.”


Andrew menggerutu karena suara klakson mengganggu sesi ciumannya dan Fania didalam mobil dan Fania terkekeh. Andrew langsung melajukan mobilnya menuju Rumah Utama.


Diikuti oleh mobil yang ditumpangi oleh, Jeff, Jihan dan Ibu Yuna yang dikemudikan oleh supir.


****


Jeff melongo ke arah kaca luar dari dalam mobil yang sudah ia masuki. “Kenapa belum jalan, Pak?.”


Jeff yang duduk dikursi penumpang belakang bersama Jihan, bertanya pada sang supir. “Mobil Tuan Andrew masih belum jalan, Tuan Jeff.”


Jeff berdecak. “Klakson aja Pak!.”


“Nanti Tuan Andrew marah, Tuan.”


“Ga apa – apa, Pak. Saya yang menyuruh!.” Ucap Jeff dengan wajah yang sedikit sebal. “Ga mau lihat tempat banget itu orang berdua kalau mau mesra – mesraan!.”


Jihan dan Ibu Yuna terkekeh, sementara Pak Supir tersenyum simpul.


****


Andrew bersama mereka yang bersamanya dari Rumah Sakit sudah sampai di Rumah Utama keluarganya yang berada di Jakarta.


Keluarga Adjieran Smith beserta Papa Herman dan Mama Bela juga sudah berada di Rumah Utama untuk ikut menyambut kepulangan Jihan.


Berkumpul bersama keluarga tanpa terkecuali adalah suatu hal yang sangat disyukuri oleh Andrew dan keluarganya. Rasa kebersamaan saling perduli dan menyayangi, adalah hal terindah yang mungkin tidak semua keluarga di dunia ini punya seperti Keluarga Adjieran Smith yang selalu saling mendukung satu sama lain.


Para Pangeran Keluarga Smith beserta istri – istri mereka sedang berkumpul di dalam kamar Jeff dan Jihan selepas makan malam.


Para Pangeran yang sedang berkumpul duduk sambil mengitari ranjang Jeff dan Jihan dimana kedua orang itu sedang duduk diatasnya, juga duduk sambil merengkuh masing – masing istri mereka dengan nampak mesra sembari melempar obrolan dan candaan.


Kemudian Para istri mendekati Jihan hingga membuat Jeff minggir secara otomatis dari sisi istrinya dan duduk didekat Reno. Memperhatikan dan mendengarkan para wanita yang sedang melempar obrolan bersama Jihan.


Para Pangeran itu tersenyum dan membatin dalam hatinya masing – masing.


Sama – sama merasa kagum juga bahagia, memiliki istri mereka dalam hidup mereka saat ini.


Wanita yang begitu mereka cintai, wanita yang tak memandang harta mereka, wanita yang juga mencintai mereka dan yang akan selalu mendukung mereka tentunya, terlepas diri mereka yang tak sempurna.


“Kalau sudah berkumpul dan bergosip, kita sudah seperti kasat mata bagi mereka.”


Ucapan Andrew membuat para saudara lelakinya terkekeh sambil memandangi istri – istri mereka yang asik mengobrol. “Ih, Donald Bebek syuka asal. Siapa juga yang bergosip.”


Fania yang mendengar ucapan Andrew itu menyambar kalimat suaminya. Semua orang terkekeh. “Ya kalian, ada kami disini malah asik ngobrol sendiri.”


“Ca ilah, pengen banget diperhatiin Donald Bebek.”


Fania bangkit dari ranjang Jihan dan mendekati Andrew lalu duduk dipangkuan suaminya itu sembari mencubit gemas hidung Andrew yang kemudian tersenyum lebar itu.


“Bucin ga hilang – hilang!.”


“Iri bilang Boss!.”


“Halah mana ada gue iri sama lo!. Gue juga bisa mesra – mesraan macam kalian.” Sahut Reno. “Ibu Peri ...”


Reno memanggil Ara dengan sok mesra sambil menepuk – nepuk pahanya.


“Sini, sama kakak ganteng.”


“Amit deh!.” Celetuk Ara namun ia tetap bangkit dari tempatnya dan menghampiri Reno dan duduk diatas pangkuan Reno.


Mereka semua terkekeh lagi. Dan kemudian mengobrol sembari melempar candaan.

__ADS_1


John, Jeff dan Dewa juga tak mau kalah dengan duo R ‘n D yang pamer kemesraan depan mereka itu.


Tiga Pangeran itu juga memangku dan merangkul istri mereka masing – masing, sambil sesekali menatap wajah para istri dengan rasa kagum, yang kadang memberikan kejutan yang mencengangkan. Terlebih untuk urusan ranjang. Cinta kadang membuat orang gila. Apalagi cinta yang berlebihan.


Begitu kiranya yang para Pangeran Adjieran Smith itu rasa pada istri mereka. Kadar kewarasan mereka bisa hilang begitu saja, jika ada orang – orang yang berani menyakiti para wanita yang mereka cintai itu.


Para wanita yang berarti segalanya untuk mereka. Para wanita yang bisa membuat mereka jadi bucin akut, sekaligus dapat menjadi alasan terbesar kemarahan para Pangeran jika sedikit saja wanita mereka itu tergores. Pecinta gila yang bisa berubah menjadi monster kapan saja, jika ada yang mengusik hidup mereka, terlebih para wanitanya.


****


“Ndrew, Omar sudah menambahkan orang?.”


“Sudah..”


“Tambahan orang buat apa, Pi?.”


“Menjaga kalian....” Sahut John pada Prita lalu menunjuk para wanita yang lain.


‘Haahhh! .... sudah ku duga....’ Batin para istri yang memang sudah menebak, kawalan untuk mereka pasti akan semakin diperketat setelah kejadian Jihan ini.


“Apa itu tidak terlalu berlebihan?.” Tanya Jihan.


“Kami tidak mau mengambil resiko soal keselamatan kalian lagi.”


“Jeff benar Ji, kalau kalian kenapa – napa, kami itu bisa gila!.”


Dewa bersuara.


“Nah kalian dengar itu Dewa mabuk berbicara.” Sahut Andrew sambil spontan mengarahkan telunjuknya pada Dewa. Para wanita hanya geleng – geleng saja.


Yah, selain itu mereka hanya bisa pasrah.


“Ingatlah selalu oleh kalian, kalau kalian itu segalanya bagi kami. Jaga diri kalian, terlebih, jaga hati kalian untuk kami, jika kalian tidak ingin melihat kami menggila.”


****


Para Pangeran POV’s...


Dihari dimana kami merasakan cinta pada wanita kami, dihari itu juga kami sudah bersumpah untuk memiliki mereka seutuhnya.


Segala hal di dunia ini tak akan menghalangi kami. Anggaplah kami para pecinta gila yang terlalu posesif pada wanita kami. Tapi kami memang mencintai mereka, mendamba, mengagumi dan begitu memuja.


Fania


Ara


Prita


Jihan


Michelle


Tak ada wanita di dunia ini yang rasanya sebanding dengan para wanita kami. Para wanita yang sama sekali tak ada kekurangannya dimata kami. Para wanita yang bisa membuat kami takut dan gila disaat yang bersamaan. Yang kami cintai sepenuh hati, dan akan menjadi prioritas utama selain anak – anak dan keluarga kami.


Begitu berartinya mereka untuk kami, para wanita yang bisa membuat kami bertekuk lutut bahkan bisa membuat kami rela untuk memohon, bahkan kamipun sudi menaruh harga diri kami dikaki mereka.


****


To be continue ..


LIKE


KOMEN


Jangan lupa ye ....


Ma acih....


Salam manis dari emak yang manis juga ....


Eyyyaa!...

__ADS_1


__ADS_2