THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 65


__ADS_3

♣♣ KESATUAN ♣♣


Selamat membaca....


********************


Fania, Andrew, John dan Prita sudah dalam perjalanan. Setelah tadi si Priwitan ambruk, mereka berempat buru – buru pulang.


“Kita ke rumah utama aja ya, D.” Ucap Fania pada Andrew yang sedang mengemudi.


Andrew mengangguk. Sambil melirik pada Fania yang duduk bersama Prita dikursi penumpang belakang.


“Kenapa ga balik ke Bekasi aja, Kak?.”


Prita yang sudah tersadar dari pingsannya tadi dan kini duduk bersama Fania dikursi penumpang belakang pun bersuara.


“Fania benar Prita. Lebih baik kita kembali ke rumah utama dulu.” Ucap John.


“Tapi Andrea bukannya di Bekasi, Kak?.”


“Nanti gue telfon.” Ucap Fania. “Ah iya!.” Fania menepak kepalanya.


“Kenapa?.”


John, Prita dan Andrew kompak bertanya pada Fania.


“Lupa. Hape masih nempel di belalang tempur.”


“Ponsel kamu pasti sudah diamankan Vla, Heart. Lagipula nanti juga dia akan mengantar motor kamu itu ke rumah utama.”


“Oh iya.” Sahut Fania pada Andrew.


“Soal ini sebaiknya papa dan mama jangan sampai tahu.” Ucap Andrew. “Jadi lebih baik kamu menginap di rumah


utama malam ini Prita. Kita semua. Lagipula ruam di leher dan lengan serta lebam dikepala kamu juga perlu diobati. Nanti kalau papa dan mama lihat mereka pasti khawatir dan bertanya – tanya.”


“Ya Andrew benar, Prita. Ada obat nanti di rumah utama. Setidaknya besok pagi ruam dan lebam kamu bisa hilang.” Sahut John.


“Iya, Kak.” Ucap Prita.


****


Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia


Dewa, Jeff dan Michelle sudah berada didepan pintu masuk saat mobil Andrew datang. Tiga orang itu nampak gelisah dan khawatir.


“Hey, Prita. Kamu ga apa – apa, Sayang?.” Tanya Jeff yang langsung menyambangi saat Prita keluar dari dalam mobil.


“Ga apa – apa Kak Jeff.”


Jeff membelai kepala Prita. “Syukurlah.”


Dewa dan Michelle juga menyambangi Prita.


“Are you okay, Jol? ( Lo sendiri ga apa – apa, Jol? ).”


“Iya gue ga apa – apa, Kak Jeff.”


“Syukur deh. Gue kaget banget waktu Bryan telfon tadi. Untung Vincent ready buat jemput gue di Bandung jadi gue bisa sampai dengan segera kesini. Sorry gue ga sempet nyusul Ndrew, tadi gue hubungi Vla dia bilang semua udah okay.”


“Aku temani Prita ke kamar ya?.”


Michelle sudah merengkuh bahu Prita dan berjalan bersamanya.


“Sorry Ndrew, John, Naomy. Tadi gue mau susul tapi ga tega ninggalin Michelle dan Mika.”


“Santai aja. Semua sudah dibereskan Wa.”


“Tadi R juga telfon, dia coba menghubungi kalian tapi ga tersambung.”


“Nanti gue yang hubungi dia.”


“Gue, lihat Prita dulu ya?.”


John berpamitan pada mereka yang bersamanya berjalan memasuki rumah untuk mengecek keadaan Prita dan mereka semua pun menganggukinya.


“Tapi Prita beneran ga apa – apa?.”


“Ga apa – apa Kak. Cuma agak shocked aja dia. Kalau gue terlambat sedikit aja. Ga kebayang deh gue.” Sahut Fania pada Jeff.


“Maafkan aku ya?.” Andrew langsung merengkuh bahu Fania. ia merasa bersalah karena meninggalkan ponselnya


didalam mobil dan merasa kalau istrinya itu sempat dalam bahaya karena kelalaiannya itu.


“Yang penting Prita ga apa – apa, meski hampir dilecehkan sama b*jingan itu.”


“Tangan gue udah gemeter mau plintir kepala itu b*jingan!.”


Dewa tampak geram.


“Well, he almost died when John stopped ( Yah, dia sudah hampir tak bernyawa saat John berhenti ).”


“Dimana dia sekarang?.”


“Rico dan Arya serta yang lainnya sudah mengurus b*jingan itu beserta anak buahnya.” Ucap Andrew.


“Did his family know about this? ( Apa keluarganya tahu soal ini? ).”


Jeff bertanya pada Andrew.


“Soal apa yang b*jingan itu lakukan pada Prita, gue belum tahu pasti apa keluarganya tahu soal ini. Tapi akan gue buat mereka tahu secepatnya.”

__ADS_1


“Biar gue yang urus!.”


Dewa mengajukan diri.


“Yah lo atur lah Wa. Cari tahu sedetail mungkin. Jika keluarganya tahu soal ini namun mereka berusaha menutupinya, berikan mereka pelajaran yang setimpal.” Ucap Andrew yang sudah duduk di ruang tengah.


“B*jingan itu sudah mati atau belum?.” Timpal Jeff.


“I don’t know and I don’t care ( Gue ga tahu dan gue ga perduli ).” Sahut Andrew. “Lo cek ke Rico dan Arya.” Sambungnya.


“Okay!.”


“D, tapi aku khawatir deh.”


“Soal?.”


“Kalau aku ga salah, ayah dari b*jingan itu lumayan punya pengaruh disini bukannya?.”


“Jol, apa lo lupa keluarga kita siapa?.”


Jeff menggoyang – goyangkan kepala Fania sambil dirinya terkekeh.


“Ya namanya orang berpengaruh. Kalo dia ga terima soal apa yang terjadi sama anaknya dan dia sok – sok an menggunakan pengaruhnya itu sama kita?.”


“Kita lihat apa mereka berani.” Ucap Dewa.


“Andainya iya?.”


“Hancurkan tanpa sisa.” Sahut Andrew dan Fania sudah tak lagi bertanya. Satu kalimat yang keluar dari mulut Andrew barusan sudah sangat ia pahami maksudnya.


‘Gue merasa seperti menjadi bagian dalam keluarga mafia kalau begini.’


Fania membatin sambil manggut – manggut.


‘Mammamia..... Au ah!.’


****


“Apa ini, ini dan ini masih terasa sakit, Prita?.”


John sudah duduk disisi Prita yang sudah berada diranjang nya sambil menunjuk pada kepala, leher dan lengan Prita.


“Engga, Kak. Kak Michelle juga sudah mengolesi obat tadi.”


John manggut – manggut sambil tersenyum.


“Aku minta maaf. Aku lalai menjaga kamu.” Ucap John dengan wajah penyesalan.


“Bukan salah Kak John lah.”


John menunduk dan mengusap kasar wajahnya.


“Kak..” Prita menyentuh bahu John. “Aku emang hampir dilecehkan sama Tris ...”


Prita mengangguk pelan.


“Tapi Kak Fania tepat waktu.”


“Dan aku sangat – sangat bersyukur untuk itu.”


“Ya udah Kak John jangan merasa terbebani, ya? Aku kan udah ga apa - apa juga.”


Prita menggeser duduknya lalu mengelus punggung John.


“Bagaimana aku merasa tak terbebani Prita ....” John mendekap Prita. “Aku rasanya ingin mencincang tubuh b*jingan itu.”


Prita melingkarkan kedua tangannya dipinggang John.


“Luka dikepala, Leher dan lengan kamu, karena dia atau orangnya?.” Tanya John dengan wajah yang serius.


Prita terdiam sejenak. “Dia... waktu Prita berusaha melepaskan diri saat dia ...”


“Aku seharusnya memukul dia sampai mati tadi.” John terlihat geram.


“Udah ya Kak .... jangan diingat lagi... Prita mau lupain semua itu ...”


“Sekali lagi aku minta maaf.”


John menangkup wajah Prita.


“Kamu istirahat okay?. Aku mau membersihkan diri dulu.” Ucap John.


Prita mengangguk dan John pun hendak berdiri.


“Kak.” Prita menahan tangan John.


“Ingin aku ambilkan sesuatu?.” Tanya John dan Prita menggeleng.


“Seandainya... seandainya Prita sampai dilecehkan...”


“Prita sudah ....”


“Apa Kak John akan meninggalkan Prita?...”


“Aku akan melakukan hal yang paling buruk pada b*jingan itu sudah pasti!. Pada keluarganya juga jika hal itu sampai terjadi. Akan aku habisi mereka semua tanpa sisa.”


John kembali menangkup wajah Prita dan menatap wajah gadis itu lekat dan serius.


“Tapi untuk meninggalkan kamu... itu ga akan pernah terjadi Prita .. Cinta aku tidak sedangkal itu. Apapun yang terjadi, tangan ini tidak akan pernah aku lepas.”


John berkata dengan sungguh – sungguh menatap iris mata Prita sambil menggenggam tangan gadis itu.

__ADS_1


“Makasih ya Kak John....” Ucap Prita sambil membelai lembut pipi John.


Cup... John menempelkan bibirnya pada bibir Prita. Mengecupnya lembut dan perlahan hendak bermain sedikit lama. Tapi....


“Ehem, ehem.”


Suara deheman dari arah pintu kamar membuat John menghentikan aksinya.


‘Ish, si Kajol nih!.’


***


“Bagaimana Prita, Heart?.” Tanya Andrew pada Fania saat keduanya sedang berada di kamar mereka setelah membersihkan diri.


“Better ( Sudah lebih baik ). Tadi aku suruh dia untuk coba tidur.” Jawab Fania. “Kenapa ngeliatin aku kayak gitu?.”


Andrew tersenyum sambil membelai kepala Fania.


“Aku bangga, sekaligus tidak percaya. Lagi – lagi membuat aku dan semua orang takjub dengan apa yang sudah kamu lakukan untuk menyelamatkan Prita malam ini.”


“Aku kan ga berjuang sendirian, D.... Ada Vla, Arman dan beberapa orang anak – anak FC lainnya.”


“Tetap aja aku bangga sama kamu, Heart.” Satu kecupan dari Andrew mendarat dipipi Fania.


“Ya udah yuk turun. Sepertinya Vla dan Arman sudah datang.” Ucap Fania dan Andrew mengangguk. Kemudian


keluar dari kamar dan bergabung dengan yang lainnya dilantai bawah.


****


Suasana di rumah utama Keluarga Adjieran Smith yang berada di Jakarta cukup ramai malam ini.


Namun bukan keluarga lengkap Adjieran Smith yang sedang berkumpul, tetapi orang – orang yang sudah membantu Fania untuk menyelamatkan Prita tadi.


“Thanks everyone ( Makasih semua ). Untuk jasa kalian semua malam ini.”


John angkat suara dan berterima kasih pada semua orang yang sedang berkumpul malam ini. Timnya Fania terutama. Termasuk juga pada empat teman John lainnya.


“Terutama elo Jol.” John merengkuh bahu Fania.


“Ngapain berterima kasih sama gue si?. Lah gue nolongin ade gue juga.” Sahut Fania. “Ada juga noh terima kasih sama si Diana. Untung aja dia liat si Prita dibawa orang. Eh bukan orang deh, Setan!.”


Suara kekehan yang ramai pun terdengar.


“So lucky that he was able to reach ( Untung aja dia bisa dihubungi ).” Tunjuk Fania pada Vla. “While both


of you in the middle of nowhere ( Saat kalian berdua entah ada dimana ).” Tunjuknya pada Andrew dan John.


“Iya sorry ... sorry.” Sahut John.


“Thanks you so much Vla, Arman, kalian semua lah pokoknya.” Ucap Fania lagi pada orang – orang yang membantunya.


“You are very welcome ( Sama – sama ).”


“Daebak lah pokoknya lo Fan!.” Celetuk Arman.


“Fania Andrew Smith. Istrinya siapa dulu?.” Sahut Fania pongah sembari tersenyum pede.


“Ya, ya... percaya deh kalau lo istrinya Andrew. Pas udah ga ada yang ngalahin Dom sama Letty.”


Mereka semua tergelak lagi dan menikmati waktu bercengkrama mereka setelah menyelesaikan misi bak agen


rahasia.


Wkwkwk, othor lebay


***


‘Benar atau salah, kami hanya manusia. Berjuang untuk menjadi pribadi yang lebih baik sedang kami lakukan. Namun hidup tak selalu selaras dengan kebaikan. Kami hanya membela apa yang kami cintai dan sayangi.’ – John Darwin Adjieran Smith.


‘Loving a woman, very deep. It seems like a disaster. But I never regret it, and also all of my brother. Those


women we loved are blessed in our life since they’re came and fulfill our heart also mind. And we’ll do everything to defend and protect them no matter what. And the other luck, is we have those people who will be pleased to help a lot. Those people we called friend and team.’ -------


‘Very loyal people as we respect them and the same way they respect us.' -------


( Mencintai seorang wanita, sangat dalam. Itu rasanya seperti bencana. Tapi aku tidak pernah menyesalinya,


begitu juga semua saudara laki – lakiku. Para wanita yang kami cintai adalah berkah dalam hidup kami sejak kedatangan mereka yang memenuhi hati dan pikiran kami. Dan pastinya kami akan melakukan apapun untuk membela dan melindungi mereka walau apapun dan bagaimanapun caranya. Dan keberuntungan lainnya, adalah


kami memiliki orang – orang yang dengan senang hati banyak membantu. Orang – orang yang merupakan teman dan tim ) --------------


( Orang - orang yang sangat setia, yang kami hormati dan begitu juga mereka yang menghormati kami )----


--- Andrew Eager Adjieran Smith ---


‘A relation we called an unity’


( Suatu hubungan yang kami sebut kesatuan )


“Salut!!! .....”


Suara kaleng minuman dan gelas yang disatukan terdengar berikut seruan orang – orang yang sedang


berkumpul di rumah utama Keluarga Adjieran Smith malam ini.


“Ini bukan perayaan brothers, kita masih punya Homework! ( Pe – er!).”


****


To be continue .....

__ADS_1


Ma acih untuk tiap dukungan kalian para reader yang blaem – blaem sampai dengan episode ini.


Ritual jangan lupa iyeeee


__ADS_2