THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 98


__ADS_3

♦♦ TANDA - TANDA ♦♦


**************


Selamat membaca ...


****


Jakarta, Indonesia ..


Waktu berlalu ..


Sebuah tangan kekar melingkar dipinggang Prita.


Prita langsung membalikkan tubuhnya, karena tahu siapa pemilik tangan yang sedang melingkar dipinggangnya saat ini. Wajah tampan suaminya lah yang ia temukan saat ia berbalik badan.


Tak hanya wajah yang tampan, namun juga pria yang berstamina kuat bak kuda kalo menurut Prita kalo udah menyangkut urusan goyang menggoyang.


John mencium kening Prita. “Pake baju dulu sana.” Ucap Prita karena John hanya mengenakan handuk dibagian bawahnya.


Tapi John malah mengeratkan pelukannya pada Prita.


“Lepas ih. Bukannya pake baju sana. Udah aku siapin kan?.”


“Tanggung kalau hanya dipakai sebentar lalu dilepas lagi setelahnya.” Ucap John dan Prita geleng - geleng.


'Napsuan bener ini laki gue.'


John menyeringai. Seringai mesum yang tertangkap oleh mata Prita.


“Aku sengaja pulang cepat, buat kamu ini, Sugar ... masa aku ga di apa – apain?.”


“Ngarep!.”


John terkekeh, namun tak lama ia langsung mengangkat tubuh Prita dari depan.


Prita yang sudah sigap, langsung mengalungkan kedua tangannya di leher John dan kakinya melingkar dipinggang milik suaminya itu seperti bayi koala. John membawa Prita kedalam dan membaringkannya di kasur dengan perlahan.


John membuka semua yang melekat di tubuh Prita, lalu membuka handuk yang masih melilit area bawah tubuhnya.


Nampak jelas kalau John sudah sangat siap untuk memulai peperangan yang bukan dimedan perang, membuat saliva dimulut Prita mengalir dengan otomatis melihat si Bona milik John yang nampak sudah sangat siap itu.


Des***n demi des***n tak dapat Prita tahan saat lidah dan tangan John menyapu setiap inci tubuhnya dengan lembut dan perlahan.


Setelah puas mengeksplor setiap inci tubuh Prita, John menyatukan dirinya dengan istri kecilnya itu. Mulai dari tempo yang perlahan hingga cepat, bahkan sangat cepat hingga akhirnya mereka berdua sampai pada pelepasan mereka.


John menghentakkan pinggulnya sedikit lebih kencang saat pelepasannya sampai. Menyemburkan benihnya hingga dirasa sudah tidak ada lagi yang tersisa. Untuk saat ini. Berharap benih yang ia tanam bisa dapat tumbuh menjadi calon bayi di rahim Prita.


***


“Kamu mau ke kafe pagi – pagi begini?.”


John yang baru selesai mandi dan kini sedang berada di walk in closet untuk memakai pakaian kerjanya bertanya pada Prita yang sedang memoles wajahnya di depan cermin.


“Hari ini aku mau ke studio. Jo kemarin bilang ada proyek yang ditawarkan buat kita orang sama salah satu pihak label rekaman yang penyanyinya minta Jo dan beberapa dancers untuk video klipnya.”


“Ck.” John berdecak.


“Kenapa sih?. Kok sebel gitu mukanya?. Kan aku sudah bilang juga semalam?.” Tanya Prita yang menghentikan memoles wajahnya lalu mengalungkan tangannya dileher John.


“Boleh jujur?.”


“Ya jujurlah. Masa orang mau ngomong jujur aku larang?.”


“Aku sebenarnya ga suka kamu masih di klub dancer itu. Pakaian yang kamu kenakan itu membuat tubuh kamu terekspose dan aku amat tidak menyukai kalau tubuh kamu itu bahkan sebagiannya terlihat kemana – mana.”


John berkata serius. Prita melipat bibirnya. “Ya mau gimana coba?. Masa aku pake long dress pas nge – dance?.” Sahut Prita.


“Kamu kenapa ga fokus di studio kamu sendiri aja sih?. Toh anak – anak yang sudah mendaftar di studio dance kamu juga sudah banyak. Ga perlu lagi aku rasa aktif di klub dance kamu itu. Kamu juga kan mengurus kafe milik Fania.” Ucap John lagi.


“Di klub dance kan ga setiap hari, aku paling seminggu sekali kesana. Dan aku juga udah jarang ambil proyek untuk


konten dan sebagainya. Dance itu passion aku, sama seperti passionnya Kak Fania ke musik. Kita udah sering bahas ini, kan?.”


“Maksud aku, kamu hanya fokus di studio pribadi kamu dan kafenya Fania saja, Sugar.” Sambung John. “Toh Fania bahkan sudah tidak pernah mengambil job nyanyi lagi sejak menikah dengan Andrew. Paling – paling dia hanya perform di kafenya sendiri, itupun jarang – jarang.”


“Pi, please deh ... kamu udah pernah janji ga akan ganggu soal urusan aku dan klub dancenya Jo. Toh aku juga ga mengabaikan kamu, kan?. Aku tetep menjalankan peran aku sebagai istri dengan baik. Menyiapkan segala kebutuhan kamu, bahkan seringnya aku selalu ada saat kamu pulang kantor.”


Prita berargumen.


"Aku bahkan ga ikut serta dalam Festival Bhangra tahun ini, Pi. Karena kamu melarang juga kan?."


"Oh, jadi kamu ga ikhlas?."

__ADS_1


'Ih, nih orang pagi - pagi udah ngajak ribut.' Batin Prita. "Ya bukan gitu, maksud aku tuh...."


“Terserah kamulah!.”


John beralih dari Prita untuk mengenakan pakaian kerjanya yang sudah disiapkan oleh Prita.


‘Marah deh!.... Sensi banget sih nih orang belakangan ini perasaan gue.’


Selama sarapan hingga John dan Prita sampai ke gedung tempat klub dancenya berada, John tak bicara pada istrinya itu.


**


“Pi!.”


“Hem?.”


“Papi marah?. Dari tadi aku dicuekin!.”


“Sudah sampai ini. Sudah sana, nanti kamu terlambat untuk latihan!.”


John menjawab sedikit ketus pada Prita.


“Ck!.”


“Sudah sana. Aku ada meeting sebentar lagi.”


“Ya udah.”


Prita menyodorkan tangannya untuk salim pada John yang kemudian memberikan tangannya pada Prita dan istrinya itu menyalim takdzim.


“Nanti kamu dijemput Pak Khalid saat sudah selesai disini. Kamu hubungi dia saat sudah ingin dijemput.” Ucap John datar.


“Iya ...” Sahut Prita. "Aku boleh main sebentar ga nanti habis dari sini?."


"Terserah. Kalau dilarang juga nantinya kamu protes!."


'Ya ilah.'


**


“Kenapa lo, berantem sama Prita?.”


“Kenapa memangnya?.”


“Gue hanya sedikit kesal sama si bocil.”


“Kenapa?.”


“Gue minta dia stop di klub dancenya, toh dia sudah punya studio dance sendiri dan sudah punya banyak murid. Buat apa masih ikut klub dance dia yang dulu. Sudah kalau latihannya pakaian begitu, belum lagi gerakannya kadang terlalu eksotis. Kalau hanya didepan gue sih, gue senang. Ini didepan banyak orang, yang notabene ada


prianya juga.”


“Ya, lo jelaskan pelan – pelan lah John, istri lo itu kan masih bocah!.”


“Sudah. Tapi masih berat sepertinya dia meninggalkan itu klub ditambah keras kepala!.”


John menyuap makanannya dengan kesal dan Jeff hanya terkekeh melihat satu saudara laki – lakinya yang sedang uring – uringan itu.


Jeff juga menyuap makanannya.


“Eh iya Jeff, lo tahu ini es apa?.” John menunjukkan satu gambar diponselnya. Jeff meraih ponsel John untuk melihat lebih jelas.


“Es campur?.” Ucap Jeff asal.


“Bukan, stupid!. Gue tahulah gimana bentuknya es campur!.” Celetuk John. “Ga begitu bentuknya.” Jeff mengernyitkan dahinya.


“Loh memang gambarnya aja dicampur begini isinya.” Sahut Jeff. “Lihat aja nih, peanuts, meses, ice, avocado, apa nih .... potongan roti tawar kayaknya, sama entah apa yang berwarna pink dipaling bawah itu.”


“Makanya gue bingung, tadi gue lihat itu di status temannya si Prita. Sepertinya enak, tapi gue ga pernah lihat bentuk es seperti itu sebelumnya.”


“Siapa, Diana?.” Tanya Jeff. “Ini seperti jajanan pinggir jalan.” Jeff masih memperhatikan gambar es yang diberikan John.


“Iya si Diana. Siapa lagi temannya Prita yang gue save nomornya?.”


John sudah selesai dengan santapannya.


Jeff memberikan ponsel John kembali pada siempunya. “Ya lo tanya aja langsung sama si Diana. Pusing amat!.” Ucap Jeff.


“Ah, gengsi banget gue tanya sama dia!.”


“Ya lo tanya aja si Prita kalau begitu.”


“Gue sedang malas bicara sama dia sekarang.”

__ADS_1


Jeff geleng – geleng.


“Coba lo tanya sama Jihan deh, pasti dia tahu. Gue kirim gambarnya ke elo ya!.”


“Ya sudah, cepat kirim.”


“Okay!.” John pun mengirimkan gambar es yang ia sedang cari tahu itu. “Sudah gue kirim tuh, cepat lo tanya si Jihan.”


Jeff manggut – manggut lalu menelpon Jihan kemudian menanyakan gambar yang sudah diteruskannya ke aplikasi


chat Jihan. Tak berapa lama nada notifikasi diponsel Jeff terdengar berbunyi. “Es podeng, kata mamah Jihan.”


“Es podeng?. Cari dimana itu?.”


“Hish ni orang kalau nanya sekalian!.” Protes Jeff yang mengeluarkan lagi ponselnya dari dalam saku jasnya.


John hanya terkekeh. “Sudah cepat lo tanya, beli itu es dimana!.”


Jeff mengetik lagi dan mengirimkan pesan pada Jihan.


Selang tak sampai satu menit balasan dari Jihan nampaknya masuk.


“Jihan bilang, kalau di Jakarta ini dia ga tahu. Kalau di Bandung, di kompleknya dia suka lewat penjual es begitu.”


“Haish, masa gue harus ke Bandung untuk mendapatkan ini es?. Di Jakarta pasti ada, kan?.”


“Yah mana gue tahu. Mana pernah gue beli makanan di penjual pinggir jalan. Gue makan makanan pinggir jalan juga kalau si Kajol sama Andrew yang ajak saat mereka disini.”


“Ah iya! Si Kajol pasti tahu!.”


“Nah iya lo tanya dia tuh. Pasti dia tahu cari dimana. Tempat makan di gang sempit yang ga ada dipeta aja dia tahu.”


“Maklum saudaranya Dora the Explorer.”


“Lo lagian kenapa sih, ingin banget itu es perasaan gue?.”


John mengendikkan bahunya. “Entah, tadi waktu gue lihat gambarnya di status Diana, tiba – tiba gue penasaran


setengah mati dengan itu es!.”


***


Dua J sudah sampai di sebuah Pujasera di daerah selatan Jakarta. Jeff yang memang sudah santai dengan pekerjaannya itu pada akhirnya menemani John berburu es yang membuat si bule koplak itu penasaran setengah mati.


“Lo beli es sebanyak itu untuk siapa?.”


Jeff lumayan terperangah melihat banyaknya es podeng yang sudah dikemas rapih dalam cup dalam jumlah yang cukup banyak, termasuk si bule koplak yang sudah menghabiskan itu es tiga cup sendirian.


“Untuk gue lah!.” Sahut John santai.


Jeff pun sontak membulatkan matanya setelah mendengar sahutan John.


“Hah?! Lo gila, John?!..” Ucap Jeff tak percaya.


John terkekeh. “Enak Jeff.” Ucapnya lagi dengan santai sedang menunggu si penjual membungkus pesanannya


sambil ia menghabiskan es yang sedang ia nikmati itu.


“Ya enak memang, tapi gila aja lo sampai menghabiskan semua es itu, John!.” Sahut Jeff sambil John melakukan pembayaran karena pesanannya dan pesanan Jeff juga, untuk dibawa pulang sudah siap.


“Sudah yuk, panas nih!.”


“Wah lo benar – benar John!.” Jeff terus saja geleng – geleng, karena John tak berhenti menyantap es podeng yang sudah dibeli untuk dibawa pulang itu sembari ia menyetir untuk mengantarkan John lagi ke R Corp.


“Kan gue bilang, ini es enak banget, Jeff.”


“Iya, tapi ga non – stop juga lo makan itu es, John!.” Ucap Jeff. “Lo sudah menghabiskan enam cups, John. Ga sakit itu tenggorokan lo?!.”


“Engga!.”


“Inget istri woy!.”


“Sudah gue pisahkan untuk Prita.”


“Wah, kesurupan setan es podeng lo kayaknya!.”


Jeff lagi – lagi menggeleng tak percaya, karena John kini sudah membuka cup ke tujuh es podeng yang tadi mereka beli.


***


To be continue ..


Harap maklum kalo andaikan Othor lama up, kalo otak emak lagi kaga sinkron. Wkwkwk.

__ADS_1


__ADS_2