
⏩ INHALE – EXHALE ⏪
( Tarik nafas – Hembuskan )
*********************************
Selamat membaca....
“Terserah Abang deh ah!.”
Bruk!
Andrea menutup pintu kamarnya dengan kesal setelah mendengar sindiran Varen soal kedekatannya dan Arya.
Andrea tak marah sih tapi kesal. Dituduh secara tidak langsung kalau dia punya hubungan spesial dengan Arya.
“Udah tahu gue cinta mati sama dia. Masih aja curiga!.” Gumam Andrea sambil melempar sembarang tas dan
ponselnya diatas sofa, dan langsung menghempaskan dirinya diatas ranjang tanpa melepas dulu sepatunya.
Lima menit
Sepuluh menit
Lima belas menit
Hingga tiga puluh menit Andrea sudah berada di kamar. Tapi tidak ada tanda – tanda seseorang membuka pintu kamarnya.
“Dari pintu masuk ke kamar gue apa butuh setengah jam?!..” Andrea menggumam lagi sambil setengah berbaring
diatas ranjangnya.
Ya Andrea berharap kalau Varen akan mengejarnya. Tapi harap tinggal harap, sudah setengah jam si Abang ga nongol juga untuk membujuknya seperti biasa. Padahal kan kamar mereka bersebelahan. Belok aja sampai kalo kata Ene Bela.
“Benar – benar Alvarend Aditama Smith ngeselin!!!..”
Andrea duduk tegak diranjangnya. Membuka sepatu dan kaos kaki, lalu bangkit dan melangkah ke kamar mandi.
Andrea hanya mencuci muka, dan membasuh badan sekenanya. Gerah sih, tapi sedang malas mandi. Lalu ia pergi
ke walk in closet untuk mengganti bajunya. Bahkan lupa ambil wudhu. Ingatan tentang kewajiban kalah sama emosi.
Eh sudah selesai ini itu, bahkan si Abang ga nongol juga. “Rese!.” Andrea merutuk.
Krucuk ..
“Diem ah!.”
Andrea berbicara pada perutnya yang mengeluarkan tanda kalau ia lapar. Yah memang sedari tadi sudah lapar sejak bel pulang sekolah berbunyi. Dapat kejutan manis kehadiran Abang yang membuatnya sempat berbunga – bunga, sudah terbayang bisa minta suapin Abang.
Eh, taunya Abang malah bikin kesel nyindir – nyindir soal kedekatan Andrea dengan Arya.
Krucuk ..
Perut Andrea berbunyi lagi.
“Masa bodoh!.”
Krucuk ..
“Hish!.”
Andrea kesal sendiri, karena perutnya terdengar rewel sekali.
Andrea berjalan ke arah kulkas kecil dalam kamarnya. Masih ada tersisa satu kotak susu kemasan disana. Andrea mengambilnya. Lumayan buat menyumpal anak anaconda yang rewel dalam perutnya.
**
“Drea..” Sebuah suara berikut ketukan dipintu kamar Andrea sayup – sayup terdengar ditelinga Andrea yang jatuh terlelap setelah meminum susu.
Andrea mengerjapkan matanya. Suara dan ketukan itu mengusik tidurnya.
“Drea..”
Terdengar lagi suara berat yang memanggil namanya. Tapi sepertinya bukan suara Abang.
Andrea membalikkan dirinya dan melirik jam diatas nakas samping ranjang.
“Mati! Telat sekolah!.” Andrea bangun dengan kaget, seketika ia kelimpungan.
“Drea . . “
“Iya masuk ..”
“Hey, Drea, kamu tidur?.” Ah, Daddy Jeff ternyata. Yang nampak mengernyitkan dahinya melihat Andrea yang grabak – grubuk.
“Aduhh! ..” Andrea terdengar menggerutu.
“Kenapa sih?.”
“Daddy nih! Kenapa baru bangunkan aku sih?!. Telat kan nih!.”
“Telat?.”
“Telat sekolah Daddy, ya ampuunnnnn tuh sudah jam tujuh kurang kan?.”
“Ckckck ..” Daddy Jeff menggelengkan kepalanya sambil berkacak pinggang. Ia mendekati Andrea yang sepertinya mau merapihkan buku setelah meraih tas sekolahnya diatas sofa.
Fuh!
Daddy Jeff sudah berdiri didepan Andrea dan menyemburkan tiupan ke wajah gadis itu yang sedikit mengendikkan bahu.
Daddy Jeff memegang kepala Andrea, lalu memutarnya.
Bukan memutar kepala Andrea dalam arti yang mengerikan, namun memutarnya agar gadis itu menghadap balkon
kamarnya yang sedang terbuka.
Agak – agak gelap.
“Makanya, jangan tidur sore – sore!. Mengigau kan?. Ini tuh jam tujuh malam, anaknya Kajoooll ..”
“Hah?! Beneran Dad?!.”
Andrea melongo, lalu pergi ke balkon, lalu mengingat – ingat.
‘Ah iya, tadi kan pulang sekolah dijemput Abang, terus gue cumuk, ganti baju, minum susu, trus ketiduran kayaknya.’
“Ya sudah ayo turun. sejak sepulang sekolah kata Daddy Dewa kamu belum keluar kamar?. Belum makan kan?.
Turun makan, nanti malah sakit.” Cerocos Daddy Jeff.
“Iya Dad.” Sahut Andrea. Daddy Jeff pun kemudian keluar dari kamar Andrea. Dan Andrea ke kamar mandi lagi untuk mencuci mukanya.
****
Krucuk ..
Anak anaconda kasih sinyal lagi.
“Bawel!.”
__ADS_1
Andrea memarahi perutnya. Sudah lapar. Makin berasa.
“Ah, malas!.”
Andrea tak jadi meraih knob pintu kamarnya. Ia berbalik lagi menuju kulkas kecilnya.
Lapar memang, sangat bahkan. Tapi gengsi ketemu Abang. Masih kesel udah dituduh, disindir eh diantepin. Membuat Andrea semakin malas melihat muka si Abang yang ngangenin sekaligus ngeselin saat ini.
Andrea menghela nafas setengah frustasi. Dalam kulkas kecil di kamarnya hanya tersisa beberapa aneka minuman saja, sementara snack nya tak ada. Maklum, bukan cacing diperutnya melainkan anak anaconda yang membuat Andrea doyan makan, doyan ngemil, dan camilan dalam kulkas sudah habis, lupa juga laporan ke Mba Adis biar diisi lagi.
Andrea meraih botol air mineral yang masih bersegel. Tetap kekeh ga mau turun makan, masih berharap bujuk rayu Abang yang tak kunjung datang. Andrea berjalan ke balkon dan menenggak air dalam kemasan di balkonnya.
Melirik sebentar ke balkon sebelah yang cukup berjarak. Namun pintunya tertutup. Sejenak kemudian Andrea memicingkan mata sambil masih berdiri di balkon kamarnya. Ada sesuatu yang bergerak cepat di rerumputan menuju ke suatu sudut.
“Ih Civet! ( Musang! ).”
**
“Kandang apa itu Mas Ipul?.” Tanya Momma yang kebetulan berdiri diantara dapur bersih dan dapur kotor pada
salah satu pengurus rumah.
“Buat tangkap musang Nyonya. Soalnya pada makanin buah – buahan di pohon. Sayang. Apalagi di pohon Matoa
tuh. Non Drea suka marah, kalau matoanya pada rusak. Non Drea kan suka banget sama itu buah. Nah ini kan udah berbuah lagi. Pasti besok minta dipetikin.”
“Oooh.. ya udah tapi jangan dibunuh ya Mas Ipul itu musangnya. Kasian.”
“Iya Nyonya.”
**
“.........”
Momma yang baru selesai membuat minuman didapur itu menoleh kearah luar dapur yang tembus ke salah satu
bagian halaman belakang.
“Mas Ipul ngomong ama siapa itu?. Lagi ngerayu kuntilanak kebon?.”
“.........”
Momma penasaran. Meninggalkan minuman yang ia buat dan berjalan menghampiri dimana pengurus rumah yang tadi menjinjing kandang yang katanya buat nangkep musang itu sedang berdiri, nampak mendongak dan seperti berbicara dengan seseorang.
**
“Non, turun Non! Nanti saya yang dimarahi. Kalau non mau matoa nanti Mas Ipul yang ambilin.”
Momma mengernyitkan dahi saat sudah mendekat ketempat Mas Ipul yang Momma dengar sedang berbicara dengan seseorang, lebih seperti membujuk, dengan suara yang tak keras namun cukup terdengar.
“Non, nanti Mas Ipul nih yang kena semprot. Ada Tuan Varen lagi.”
“Mas Ipul ngomong apa sih?! Ga jelas suaranya!.”
Terdengar suara dari atas puun.
Momma mendongak.
**
“ASTAGFIRULLAHHAL’ADZIIMMMM!!! .... DREAAA!!!”
‘Little Star...’
“YA ALLAH YA RAAAAAAB!!!!.”
Suara Ake Herman terdengar berikut langkah Varen yang terhenti saat melihat Momma, Ake Herman, Ene Bela, Nathan juga Mas Ipul ada dibawah batang pohon Matoa yang usianya udah uzur dan batang bawahnya cukup besar bahkan akarnya sudah terlihat merambat keluar tanah sebagian.
“TURUN GA?!.”
*‘S*t! Itu Drea kan?.’
Varen ikut mendongak karena Momma nampak melotot sambil ngomel dengan kencang. Terlihat memang wajah Momma yang seperti sedang marah pada seseorang karena halaman belakang cukup terang dengan lampu tembak yang terpasang sekitar taman dan halaman.
“Drea?!.”
Dan yah memang Andrea yang sedang dimarahi Momma saat ini, gadis itu ada dibagian atas batang pohon hampir
dipaling atas bahkan.
‘Astagfirullahal'adzim’ Varen mencelos seketika. Bagaimana Andrea bisa sampai diatas sana?. Tak ada tali yang menggantung di pohon matoa besar itu. Tangga pun tak ada. Rasanya juga tangga besi yang ada jika dipanjangkan maksimal tidak aka sampai ke tempat dimana Andrea berada sekarang, kecuali minjem tangga pemadam kebakaran.
Jadi gimana itu anak bisa sampai disana?. itu suara batin Abang yang tak habis pikir.
“Little Star..... hati – hati. Ya Ampun Drea ...” Abang ikut membujuk dengan wajahnya yang cemas.
“JULEHA! TURUN GA?! KURANG KERJAAN APA MANJAT POHON MALEM – MALEM!. TURUN!.”
“ENGGA DREA MAU DISINI AJA, SUNTUK!.”
“Hish nih anak!.”
“Dreaaa .... cucu Ake nyang blaem – blaem, turun neng botoh, Ngapain Drea disitu?. Digigitin Rang – Rang entaar!.”
“Dibilang Drea lagi suntuk Akeeeeee.”
Andrea kekeh. Masih duduk disalah satu batang pohon yang cukup kokoh, sambil memegang beberapa matoa yang tersangkut dalam batangan kecil ditangannya sambil juga mengupas dan memakannya.
“WASAITUK! TURUN GA?! MOMMA LEMPAR WEDGES NIH YA?!.”
Yang dibawah pohon sedang panik dan ribut, Poppa yang berada tak jauh dari mereka yang sedang meneriaki
dan membujuk Andrea terkekeh geli saja melihat kelakuan anaknya bersama dengan anggota keluarga yang lain.
“Turun Dreaaa besok aje kalo mau manjat pohon metik matoa, malem – malem entar kesambet!.”
“Yang ada itu penunggu pohon matoa yang kesambet dia Ne!.”
Nathan nyeletuk asal sambil terkekeh geli. Bukan pemandangan yang aneh buat Nathan kalau Andrea sedang nangkring di pohon matoa sambil uncang – uncang kaki. Bagus aja Andrea ga pake dress warna putih.
Varen langsung memelototi Nathan.
“Drea!!! .. Little Star!!.. turun ya?!. Bahaya Drea ..!!”
“Masa bodoh!.”
“JULEHA!.”
Momma teriak lagi.
“Turun Neng Botoh, Neng Bohay, cucu Ake yang cakepnye Masya Allah.. Drea mau ape ntar Ake beliin. Kesianan itu entar sodaranye Susana minder ada Drea disitu.”
“Hahahaha..” Yang paham tergelak geli.
“NGAPAIN COBA HAH DISITU?. BANTUIN TANTE KUN DANDAN?!. TURUN GA?! MOMMA APUS SEMUA AKUN SOSMED NYA NIH YA?. MOMMA BAKAR NIH KOLEKSI SEPATU KAMU! TURUN GA?! SATU!.”
“Iya Udah iya! Drea Turun! Awas! Drea mau lompat!.”
Ancaman Momma membuat Andrea menyerah. Momma kalau sudah marah kan raja tega. Jangan ditantangin pasti dilakuin. Jiwa nekat Momma sampai ke sum - sum, nurun ke anaknya atu.
“Astagfirullah!.. LITTLE STAR!.” Varen pun teriak pada akhirnya. “TUNGGU DISITU! ABANG NAIK!.” Antara kesal tapi juga cemas melihat Andrea yang nampak berdiri ditempatnya duduk tadi. Varen melepas sendal rumahnya.
__ADS_1
Si Abang juga jago manjat. Biasa disuruh ngambil mangga dulu sama Momma. Paling jangkung soalnya. Naik dikit,
jingke dapet itu mangga.
Srut!
“LITTLE STAR!.”
Sumpah Varen panik karena Andrea nampak merosot. Jantung si Abang rasanya udah sampe lutut, Abang sudah
hampir sampai ke batang kokoh yang pertama. Dua batang zig zag lagi dia bisa meraih Andrea.
Srut!
Syut!
Srak!
Set!
“Ketuker sama anaknya Tarsan Mamah rasa nih anak nye si Kajol.”
Andrea cengengesan mendengar celetukan sang nenek yang geleng – geleng setelah kakinya sudah mencapai tanah dibawah pohon matoa dan langsung dapat jeweran ditelinganya dari Momma.
Andrea sudah sampai tanah saat Varen masih ada diatas pohon.
Sementara Varen .. melongo saja. Masih diatas pohon. Duduk disatu batang kokoh pohon matoa yang pertama
memandangi Andrea yang sudah berada ditanah dan menoleh sambil memandang sinis sebentar padanya.
Si Abang memegang dada kirinya.
‘Little Star .. kalau begini Abang bisa kena stroke dini ..’
Sementara yang lain terkekeh saja melihat si Abang yang kini gantian nangkring di pohon matoa sambil bengong. Dan Andrea sudah digiring Momma ke dalam rumah.
“Woy Bang!. Mau nembak tante kun lo?!.” Seru Nathan sambil ngikik. ‘Baru pohon matoa. Tuh rumah aja udah pernah dipanjat sama itu bocah senget modal iketan muaythay doang dikaki sama tangan.’ Nathan membatin.
Dia masih menunggui Abang yang wajahnya syok sih kayaknya. Dan kini sedang bergerak turun dari pohon. Lalu mengikuti yang lainnya untuk masuk ke dalam rumah.
****
Varen menyusul Andrea yang sudah masuk ke kamarnya, setelah dijewer dan diomeli oleh Momma lalu disuruh
berganti baju kemudian turun lagi buat makan.
Abang mau marah sebenarnya, tapi sudahlah. Nanti Drea melakukan sesuatu yang bisa mencelos kan jantungnya
hingga ke lutut lagi. Sepertinya ada sedikit penyesalan karena terlalu memanjakan Andrea.
Sekarang efeknya makin terlihat. Memang sekarang Andrea mandiri, tak lagi tergantung padanya. Tapi kenapa kelakuannya jadi seperti diluar batas normal. Padahal dulu Drea manis loh sikapnya. Ga pernah aneh – aneh. Judes doang kadang - kadang.
Abang hanya tak habis pikir. Mungkin menyesal juga karena kuliah di Massachusetts dan membuat Andrea jauh
dari pengawasannya. Kalau Abang tetap kuliah dan tinggal dekat Andrea, gadis manis nan patuh padanya itu mungkin masih ada. Tapi sekarang ...
Varen teringat, waktu itu karena kesal di bentak olehnya, Andrea ngamuk sampai menghajar beberapa murid
di kelasnya, well kalau menurut cerita yah anak – anak nakal kakak kelasnya itu yang sedang menguji batas sabarnya Andrea.
Pas momentnya, Andrea sedang kesal setengah mati dibentak sama Abangnya untuk yang pertama kali dalam
hidupnya. Dan para murid nakal itu mencari masalah dengan Andrea, yang sudah jago beberapa kelas martial arts.
Selesai. Ada yang babak belur, bahkan rahangnya bergeser.
Abang? Syok! Sangat.
Dan sekarang, karena cemburu, Varen menyindir Andrea, sedikit menuduh kalau Andrea menanggapi Arya. Tuduhan tak serius, tapi Abang juga sedikit kesal. Eh Andrea yang ngambek. Abang juga ngambek, makanya sengaja ga susul Andrea.
Eh pas disusul itu anak udah ada diatas pohon matoa, dibagian hampir sampai paling atas. Untung saja batang bagian atas tak sekokoh yang dibawahnya. Jadi Andrea hanya nangkring ditempatnya tadi.
Jadi Abang berpikir, kalau dia ikutan mengomeli Andrea, bisa – bisa ngambek sesi berikutnya Andrea manjat tiang Sutet.
“Little Star..”
Abang melunak, mengalah. Seperti biasa.
Andrea tak menyahut.
Mulut Andrea sedang menggigit tiga lembar keju untuk mengganjal perutnya. Setelah tadi mengganjal sedikit dengan buah matoa.
“Ada yang luka?.”
Varen duduk disamping Andrea yang sedang duduk disofa, meraih satu tangannya yang bebas. Mau ngecek apa ada jaring laba – laba disana. Karena Andrea turun dari pohon matoa besar dengan mudahnya.
Bukan deng, Abang khawatir saja tangan Andrea tergores dan mungkin luka hingga berdarah. Mengecek juga kaki Andrea sampai telapaknya.
“Geli ih!.”
Andrea menarik kakinya dan kemudian berdiri setelah keju sudah habis dia telan.
Varen menahan tangannya. “Duduk sebentar, Abang mau bicara.”
Andrea melirik malas. “Mau ganti baju disuruh cepet sama Momma.”
“Iya nanti Abang yang bilang sama Momma, Abang yang tahan kamu sebentar.”
“Lapar.”
“Iya nanti Abang ambilkan makanan dan suapi Drea kalau Drea mau.”
“Ya sudah bicara.”
“Abang itu ga suka Drea, ada barang pemberian laki – laki lain yang menempel di tubuh Drea, selain pemberian Abang atau keluarga kita.”
“Lalu?.”
“Kalau Abang minta Drea lepas gelang pemberian Arya, boleh?.”
Andrea memandangi Varen yang juga sedang memandanginya sebentar.
“Nih sudah Drea lepas.”
Varen tersenyum setelah Andrea melepaskan gelang pemberian Arya dan meletakkannya di meja.
“Ini perlu Drea lepas juga?.” Tanya Andrea. Varen mengernyitkan dahinya sedikit?. Bukankah Arya hanya memberi
gelang?. Memang ada lagi?. Kiranya begitu batin Varen.
“Memang ada lagi selain gelang yang Arya beri ke kamu?.”
“Ga ada. Tapi kaos ini kaos endorsement. Ownernya cowok. Pemberian cowok lain kan hitungannya?. Perlu Drea
lepas sekarang nih?.”
Abang melongo.
“Jawab. Kalau Abang suruh, Drea lepas nih kaos endorsement yang sedang Drea pakai depan Abang, biar ga curiga lagi.”
Oh Astaga. Abang rasanya mau jalan ke pintu kamar Andrea dan menguncinya dari dalam.
__ADS_1
****
To be continue ......