
⭕ MENEMUKAN ⭕
**********************
Selamat membaca....
************************
“Than bawa Via pulang” Ucap Papi John karena tidak tega melihat Kevia yang basah kuyup.
“Tapi Pi..”
Nathan juga sebenarnya tidak tega melihat Kevia yang basah kuyup. Kevia pasti kedinginan meskipun sudah ada
jaket yang membalut tubuh bagian atasnya. Untuk sekedar mengurangi jika Kevia kedinginan.
Tapi Nathan juga rasanya berat untuk beranjak, sebelum tahu bagaimana keadaan Andrea.
“Kamu bawa Via pulang Than. Nanti dia sakit..” Timpal Daddy Dewa.
“Aku mau disini aja Pi, Dad. Aku ga tenang sebelum tahu keadaan Drea”
Kevia bersuara.
“Kami mengerti kalian mengkhawatirkan Little Star, tapi kondisi kamu juga harus diperhatikan Via”
“Ga apa Pi, benar Via ga apa. Via ga mau pulang sebelum lihat Drea”
“Ya sudah..”
“John! Itu sepertinya Abang memisahkan diri dari speed boat dan pindah ke jet ski!”
“Iya benar!”
“Berarti jasad itu bukan Drea!”
“Syukurlahh ..”
“Vi! Tunggu sini! Aku susul Abang!”
Nathan berucap dengan cepat sembari kepalanya celingukan.
“Tuan! Sepertinya ada penembakan!”
Salah seorang anak buah mereka berteriak.
“Cari Jet Ski atau Speed Boat lagi! Cepat!”
Daddy Dewa berteriak dan memberikan perintah cepat sambil kepalanya juga celingukan mencari kendaraan untuk menyusul Abang dan tiga orang mereka di Speed Boat.
Dua buah Jet Ski lagi sampai dihadapan Daddy Dewa, Nathan, Kevia dan Papi John.
“Vi! Kamu tunggu sini!” Nathan bergegas. Viapun mengangguk cepat.
“Biar kami yang mengejar Tuan!” Ucap salah seorang yang membawakan Jet Ski.
“Sudah minggir!” Nathan menggeser cepat salah satu anak buah mereka dan menaiki Jet Ski dengan cepat juga lalu melajukannya dengan kecepatan penuh.
“Than mending kamu disini temani Via!” Seru Papi pada Nathan yang sudah merebut salah satu Jet Ski.
“Titip Via Pi!”
“Ga apa – apa Pi! Biar Jo bantu Kak Varen selamatkan Drea!” Ucap Kevia.
“Wa! Jaga Via!” Seru Papi John pada Daddy Dewa yang langsung mengangguk.
Kemudian Papi John juga bergegas menaiki salah satu Jet Ski dan dua orang anak buahnya mengikuti dengan
berboncengan disalah satu Jet Ski tersebut.
“Ayo, Vi. Lebih baik kamu menunggu di mobil saja. Supaya tubuh kamu lebih hangat” Ajak Daddy Dewa pada Via. “Mereka pasti bisa menyelamatkan Drea” Tambah Daddy Dewa lalu menyuruh anak buahnya untuk membawa satu mobil lebih mendekat pada mereka.
***
Varen menghela panjang nafasnya saat dia dan dua anak buahnya yang tadi menyelam membalikkan jasad yang
terapung di air dan ternyata adalah jasad seorang pria.
Meski dirasakan oleh Varen kakinya begitu lemas kini.
Akibat sesaat Varen sempat takut sekali jika jasad itu adalah Andrea.
Tak perlu diduga atau dikira – kira akan bagaimana gilanya Varen nanti jika Andreanya sampai kehilangan nyawa.
‘Berarti Drea masih berada didalam yacht!’
Varen membatin.
“AWAS!”
Varen memberi perintah pada anak buahnya yang berada di atas Jet Ski untuk menyingkir karena Varen mau
mengambil alih Jet Ski tersebut, untuk secepatnya sampai ke yachtnya Dilara yang mungkin hampir mencapai sebuah Pulau.
“KAWAL TUAN MUDA ALVAREND!!!”
Salah seorang anak buah Varen berteriak pada rekannya yang memegang kemudi Speed Boat dan langsung melajukannya dengan cepat untuk menyusul Varen yang sudah bergerak kasar di atas perairan, karena ia memacu Jet Ski yang ia gunakan dengan cepat.
***
Varen memacu kencang Jet Ski yang ia gunakan.
Ada dua kendaraan air lain di depannya kini. Yang Varen duga ada adalah anak buah Dilara.
__ADS_1
Varen langsung meraih senjata apinya yang tadi ia selipkan di pinggang belakang, saat matanya melihat satu orang di atas Speed Boat sedang mengarahkan sesuatu yang bisa Varen pastikan adalah senjata. Ia sedikit kerepotan untuk menembak karena Jet Ski sedikit berbeda dengan sepeda motor.
Belum lagi permukaan air yang bergelombang, yang tidak bisa membuat Jet Ski diam dan Varen tak mau juga berhenti. Hanya ada Andrea di otak tampannya kini.
Varen dengan cepat menghindar saat desingan senjata dari depan terdengar dan berusaha memberikan tembakan balasan dengan memegang pistol pada satu tangannya.
DOR!
DOR!
DOR!
Tiga tembakan Varen lepaskan.
Namun sayang meleset, karena posisinya yang tak stabil diatas air sedikit tidak menguntungkan baginya dan ia tidak bisa membidik dengan tepat.
"***!"
“BIAR KAMI YANG TANGANI TUAN!”
Beruntung tak lama kemudian anak buah Varen sudah berada dibelakangnya kini dengan dua orang yang sudah mengarahkan senjata mereka pada Speed Boat yang menembaki Tuan Muda mereka tadi.
Memang para Pangeran dan Pangeran Muda keluarga Adjieran Smith selalu menempatkan orang – orang yang
kompeten di bidangnya disekitar mereka. Terlebih lagi mereka yang menjadi pengawal pribadi, adalah orang – orang terbaik yang terpilih dengan sangat cermat dan teliti.
Varen menambah kecepatannya untuk menghampiri yacht utama. Sementara dibelakangnya, anak buahnya sudah
menembaki Speed Boat yang tadi menembaki Varen sambil mendekat.
Tak mau ambil pusing apa yang terjadi dibelakangnya, Varen melaju untuk sampai ke yacht utama, termasuk
menghindari yacht kecil yang sepertinya ada orang yang bersiap untuk menembaknya bersamaan dengan bunyi ledakan yang terdengar dibelakangnya.
Varen bahkan tidak menyiapkan senjatanya meski ia melihat ada orang yang mau menembaknya. Ia hanya
memposisikan jarak agar tembakan tidak mengenainya.
Namun tidak ada tembakan yang melintas kearahnya, meski ada suara tembakan yang terdengar.
Sekali lagi Varen tak mau ambil perduli. Ia hanya fokus untuk segera bisa menemukan Andrea.
***
Varen memperlambat laju Jet Ski yang ia gunakan, saat sebuah yacht berukuran medium sudah terlihat di matanya.
Varen memperhatikan sebentar. Merasa sedikit aneh, karena yacht itu nampak sepi. ‘Apa mereka sudah mencapai pulau?’
Varen membatin sembari mematikan mesin Jet Ski.
‘Tidak mungkin. Jarak ke pulau masih lumayan. Tapi mengapa yacht itu berhenti?’
Namun seketika matanya membulat saat ada seseorang, dua tepatnya yang berada di atas yacht tersebut.
Seorang wanita yang nampak ditarik paksa dalam cengkraman seorang pria, membuat Varen berpikir itu adalah
Andrea.
Varen berenang dengan cepat.
Hanya butuh kurang dari dua menit saja Varen berenang dari tempatnya untuk mencapai yacht tersebut.
Lalu menaikinya sembari mengendap – endap untuk melihat keadaan.
Sepi memang ternyata. Dan Varen berdiri dengan tegak dengan sudah memegang senjatanya yang sudah ia pegang saat berenang tadi.
Untung saja pistolnya memang dibuat dengan sedemikian rupa untuk bisa digunakan dalam keadaan apapun meski
dibawa berenang dalam air. Pistol yang memang hasil rancangannya itu memanglah khusus dibuat untuk para pria – pria Adjieran Smith.
Logo yang tercantum juga menjadi pembeda bahwa pistol tersebut tidak beredar di pasaran.
Varen bergerak hati - hati ke sisi tempat dimana tangga yacht berada.
Ada beberapa orang yang tergeletak di lantai yacht.
Varen mendekati mereka dengan perlahan, berjongkok sebentar untuk memeriksa nadi.
Yang satu masih bernafas dan mulai bergerak namun langsung dihantam kepala belakangnya oleh Varen dengan
gagang pistolnya.
“Lepaskan!” Suara itu berasal dari atas yacht yang membuat Varen mendongak. Namun Varen sangat tahu itu bukan suara Andrea.
Namun begitu Varen tetap melangkahkan kakinya menaiki tangga yacht di dekatnya, seketika ia berhenti sejenak karena ia mendengar suara lain dari dalam yacht.
Suara seorang wanita, tapi juga bukan suara Andrea.
Jadi Varen meneruskan langkahnya ke lantai atas yacht dengan mengendap endap.
‘Tara?’
Varen mengenali gadis yang sedang meronta dalam cengkraman pria yang sepertinya ingin berlaku tidak senonoh pada gadis itu.
Matanya menangkap dua gadis lagi yang bersandar di dinding yacht dan nampak ketakutan, juga memastikan bahwa tidak ada Andrea diantara mereka.
“Hoy!”
Varen kini sudah berdiri di belakang pria yang hendak melecehkan Tara.
Bugh!
Varen langsung menghantam wajahnya pria itu dengan gagang pistol dan tanpa pikir panjang langsung meraih kepala pria tersebut dengan cepat.
__ADS_1
Kreekk!!
Suara tulang yang dipatahkan hingga kepala si pria lunglai seketika.
“MANA DREA?!” Varen meraih kasar lengan Tara yang nampak shock karena hampir diperkosa, sekaligus shock
melihat Varen yang wajahnya sudah penuh amarah itu membunuh seseorang didepannya.
“Di-dia di-bawah .... Gi-ta ..”
Varen langsung melesat kembali ke lantai bawah tanpa menunggu Tara menyelesaikan kalimatnya.
***
“Cewek sialan! Lo pikir lo bisa kabur hah?!” Suara itu terdengar jelas di telinga Varen, bersamaan dengan guncangan sedikit kuat yang membuat yacht itu bergoyang hingga Varen sedikit hilang keseimbangan dan menjatuhkan pistolnya.
“Kenapa nih Mba Git?!” Satu suara terdengar lagi milik seorang pria.
“Alah! Paling itu anak buah ibu yang nyusul! Udah cepetan lo garap ini perempuan! Nanti gue suruh mereka garap juga, biar abis ini cewe satu dan lakinya bakal jijik sejijiknya sama dia!”
Kemudian tawa perempuan yang barusan berbicara itu terdengar membahana.
‘Little Star!’ Varen membatin sembari melesat cepat menuju sumber suara dan menghiraukan pistolnya yang jatuh ke lantai bersamaan dia mendengar suara mesin Speed Boat dan Jet Ski yang sudah mengitari yacht.
Tak Varen perdulikan. Masa bodoh teman atau lawan yang datang, saat ini Andrea yang paling penting.
BRAAAAAKKKKK!!!...
Pintu tempat suara yang didengar Varen berasal yang memang terbuka itu, Varen lebarkan dengan kasar.
Membuat dua dari tiga orang yang ada didalamnya seketika tersentak kaget dan menoleh.
Wanita yang adalah Gita itu langsung membelalakkan matanya saat mengenali siapa yang datang ke dalam kamar,
dengan raut wajah mengerikan berikut matanya yang nampak merah menyalang, melihat kearah tempat tidur.
“Alv-Alva-rend ..” Gita tergagap. Dan kini, wajahnya begitu ketakutan.
Gadis itu Varen abaikan karena dengan cepat ia bergerak mendekati ranjang dengan nafasnya yang memburu
emosi melihat wanitanya yang nampak tergolek tak berdaya diatas ranjang dengan bagia atasnya yang hanya tinggal dalaman saja dan seorang pria sudah mengukungnya.
“SIAPA LO?!” Pria yang mengukung tubuh Andrea itu bangkit dengan cepat menunjuk pada Varen yang langsung meraih tangannya dengan cepat juga.
“BAANNNGGGGSSSAAAAATTT!!!!”
Emosi Varen sudah sangat meledak sekarang. Wajah dan hatinya sudah tak karuan.
Diraih dengan kasar lalu dipukuli oleh Varen dengan membabi buta, pria yang tadi berada di atas Andrea.
Amarah Varen sudah tak tertanggung sekarang. Hingga sebuah tangan menghentikan aksinya.
“Jangan kotori tangan lo Bang!!!!”
“LEPAS THAN!”
“Amankan Drea dulu Bang!”
Kalimat Nathan seolah seperti guyuran air dingin di kepala Varen yang langsung menoleh pada Andrea yang masih tergeletak tak sadarkan diri diatas ranjang.
“Little Star...” Varen sudah bangkit dari tempatnya dan dengan cepat ia menyelimuti tubuh Andrea yang terekspos sebagian dengan selimut yang berada di ranjang tersebut.
Dengan cepat juga tubuh Andrea yang tak berdaya itu diangkat oleh Varen dan dibawa untuk meninggalkan Yacht dengan salah satu Speed Boat yang ada. Nathan dan beberapa anak buah mereka sudah menguasai yacht Dilara.
Menyisir dan mengamankan setiap sudut yacht, lalu mengumpulkan semua orang yang mereka temukan baik yang
masih hidup maupun tidak.
Gita yang sempat ingin melarikan diri saat melihat kedatangan Varen dengan amarah yang luar biasapun tak pelak ikut diamankan oleh anak buah Varen dan Nathan yang menyusul ke atas yacht.
***
“Little Star.. sayang .. maafkan aku ..” Varen melirih pedih melihat Andrea yang tak sadarkan diri dalam pangkuannya di atas Speed Boat yang dikemudikan salah satu orangnya dan satu lagi ikut mengawal.
Sementara Nathan mengambil alih urusan Yacht.
Walau yakin Andrea tidak sampai sempat dinodai, namun keadaan sang istri kecilnya saat ia temukan membuat hati Varen kian bergemuruh antara geram dan sakit hati atas apa yang menimpa Andrea.
“Akan aku buat mereka membayar untuk ini!” Lirih Varen sambil mendekap Andrea yang nadinya sedikit melemah itu.
Varen kemudian memberikan perintah dengan keras dan tegas pada si anak buah yang mengemudikan Speed Boat, karena Andrea yang nampak begitu lemah dan tetap tidak bangun meski Varen sudah berusaha untuk membangunkannya.
“CEPATLAH!”
***
To be continue..
Noted :
Protes kalo emak updatenya lama, it’s okay. Emak terima.
Namun bahasa dikondisikan iyeeee. Nulis nopel itu ga ujug – ujug asal nulis aje. Emaknya Queen, khususnya. Ga tau kalo othor laen dah.
Yang jelas emak ga mao asal nulis adegan ditiap episode.
Gitu aje. Reader setia pasti paham dah yak.
Saking setianya kalian dengan komen yang bikin emak zeneng kadang cekikikan, ampe emak apal nama – namanya. Wkwkwk.
Biar kate ini nopel kaga bagus juga. Jadi kalau masih mau sabar, silahkan. Engga kaga nape, yuk dadah babay silahkan aje.
Emaknya Queen, sok banget ye?
__ADS_1
Eimbeeeeerr ...