
HIS OTHER SIDE ## Sisi Lain Dirinya
Selamat membaca......
*****
Jeff memandangi Jihan yang yang matanya masih terpejam berikut selang infus yang masih tertempel ditangannya dan beberapa alat – alat kesehatan yang berada didekatnya.
Dokter sudah memberikan penjelasan pada Jeff tentang kondisi istrinya itu. Tulang panggul Jihan retak dan bergeser akibat hantaman yang begitu keras.
‘Kalau bisa aku ingin menggantikan posisi kamu sekarang, Sayang ....’ Batin Jeff sambil dirinya mendekati Jihan. Mata Jihan nampak mulai bergerak – gerak. “Hey Mama Bear....” Jeff menyapa Jihan sembari tersenyum saat istrinya itu membuka mata.
“Papa Bear ....” Ucap Jihan pelan sambil memperhatikan wajah suaminya yang memiliki kantung mata dan wajahnya nampak berantakan selain rona kesedihan yang masih nampak terlihat dari raut wajah Jeff. Namun Jeff tetap menampakkan senyumnya dengan begitu teduh pada Jihan. “Apa kamu sudah beristirahat?.”
Jeff masih menampakkan senyumnya. “Sudah Mama Bear ....”
“Kamu terlihat berantakan Papa Bear ....” Ucap Jihan lagi dengan suaranya yang masih terdengar sedikit lemah.
“Aku memang belum mandi. Sedang menunggu pakaian ganti aku.” Sahut Jeff. “Nanti setelah aku mandi, ketampanan aku akan kembali dan kamu pasti tidak akan mau berpaling menatapku.” Canda Jeff dan Jihan terkekeh pelan.
“Kamu yang seperti ini pun tetap mempesona, Papa Bear.” Ucap Jihan lagi dan Jeff semakin melebarkan senyumnya.
“Ulululu .... pagi – pagi udeh mesra aje ..” Suara Fania membuat Jeff dan Jihan spontan menoleh kearah pintu dan tersenyum pada si Kajol.
“Jol, Ndrew ....” Jeff berdiri untuk menyalami dua orang yang ia sebutkan barusan. “Kalian datang sepagi ini?.”
“Nih kita bawain pakaian ganti dan sarapan buat lo.”
Fania menyodorkan dua paper bag pada Jeff yang langsung mengambilnya.
“Makasih ya Jol, kenapa bukan maid aja yang antar?.”
“Ga apa – apa Kak, kayak sama siapa aja lo. Itu juga gue bawain underwear buat Jihan.” Ucap Fania dan Jeff mengangguk. “Jihan udah boleh makan belum?.”
“Sudah.”
“Syukur deh, gue juga bawakan bubur buat dia. Tenang aja, homemade itu. Buatan tangan gue.” Jeff mengangguk lagi sambil mengacak pelan rambut Fania dan tersenyum.
“Thanks once again, Jol."
Fania dan Andrew kemudian mendekati Jihan dan menanyakan kabar wanita itu.
“Lebih baik lo mandi sana! Sebelum si Jihan muntah mencium bau tubuh lo itu.” Celetuk Andrew yang membuat Jeff dan Fania terkekeh dan Jihan tersenyum.
“Iya ... iya ...” Sahut Jeff. “Titip Jihan ya?.”
Fania dan Andrew manggut – manggut. “Jangan lama – lama, main sabun kalau sudah pulang ke rumah saja.” Timpal Andrew dan Jeff tergelak sambil melangkah ke kamar mandi dalam kamar perawatan Jihan. Sementara Fania sudah duduk pada kursi disamping Jihan yang tadi diduduki Jeff.
Andrew berdiri dibelakang Fania.
“Andrew ....”
“Ya?.”
“Apa .... orang yang melakukan hal ini sudah tertangkap?.”
“Lebih baik kamu jangan terlalu memikirkannya, Jihan.” Ucap Andrew.
“Iya Ji. Mendingan lo fokus sama kesehatan lo aja dulu. Jangan mikir yang berat – berat.” Fania menimpali. “Kak Jeff, Andrew dan lainnya juga pasti sudah mengurusnya.”
Fania mengelus pelan tangan Jihan.
“Fania benar, lebih baik lo fokus sama kesembuhan lo agar bisa segera kembali ke rumah.” Sambung Andrew. “Semua orang yang terlibat dengan apa yang lo dan keponakan gue alami hingga ia tidak selamat, akan mendapatkan balasan yang setimpal.”
“Aku hanya penasaran, kenapa mereka melakukan ini semua?.” Ucap Jihan dengan mata yang mulai berkaca – kaca. “Aku sudah mengikhlas kan, tapi aku masih memikirkan kenapa sampai mereka melakukan ini pada kami ...”
“Udah ya Ji, apapun alasannya, mereka sudah melakukan kejahatan. Mereka pasti akan mendapatkan hukuman yang setimpal.” Sahut Fania. ‘Gue si ngeri ngebayanginnya.’ Batinnya.
“Fania benar. Lebih baik fokus agar lo cepat pulih dan bisa segera kembali ke rumah. Kasihan Nathan yang selalu menanyakan kalian. Untung saja ada Varen, Andrea juga Baby Mika untuk menemani dia bermain di rumah, jadi mudah membujuknya untuk tidak datang kesini.” Ucap Andrew panjang lebar.
“Iya....” Jihan mengangguk.
“Lebih baik jangan ungkit hal yang tadi lo tanyakan pada kami di depan Jeff.”
“Iya Ndrew aku tau, makanya aku tanyakan sama kamu. Aku tahu, Jeff sudah cukup kacau dan merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi padaku dan putra kami. Tapi aku juga tidak ingin Jeff melakukan hal – hal diluar batas.... Meski aku tau betapa terlukanya dia saat ini dan sekuat tenaga menunjukkan ke aku, kalau dia baik – baik saja, padahal tidak ....”
__ADS_1
“Ji... ingat girls talk kita waktu di London saat kasus penusukan Kak Ara?.”
Jihan mengangguk.
“Jadi ga usah lo tanya lagi, tentang apa dan kenapa untuk yang sudah terjadi sama lo ini. Kita hanya harus berpikir, bahwa semua yang suami kita lakukan pasti ada alasannya dan pastinya mereka melakukan segala hal untuk melindungi kita.. fokus saja pada hal itu, hem?.”
“Baiklah ....”
*****
“Are you going to let her go? . ( Apa lo akan melepaskannya? ).”
Andrew bertanya pada Jeff saat mereka kini sudah lagi berkumpul dengan tiga saudara lelakinya yang lain. Jeff menjawab pertanyaan Andrew dengan kekehan sinis.
“Menurut lo?.” Jeff balik bertanya. "Apa gue akan melepaskan orang yang sudah meneror istri gue, dan menjadi dalang atas meninggalnya putra kedua gue?."
“Lalu alasan lo menyuruh Omar untuk hanya mengawasi dia untuk tidak sampai keluar dari Jakarta?. Waktu itu lo sendiri yang meminta Omar membawa wanita itu kehadapan lo hidup atau mati.” Jawab Andrew.
“Memang.”
“So?. ( Jadi? ).”
“Gue akan langsung mengurus wanita itu, setelah gue menyelesaikan apa yang tertunda kemarin, Wa.”
“Apa lo tetap mau membunuh pria yang menabrak Jihan seperti apa yang sudah lo lakukan pada temannya itu?.”
“Hahaha!!!!!.”
Jeff tergelak. Gelakan iblis tapi.
“Gue hanya menagih hutang!. Mereka berhutang nyawa pada anak gue, jadi gue harus membuat mereka membayarnya lah!.” Ucap Jeff yang raut wajahnya kembali datar. "Tanpa terkecuali."
Reno hanya geleng – geleng. Tapi pria itu dan John tidak menginterupsi. Tahu Jeff sedang terluka juga murka. Keempat orang saudara lelaki Jeff itu pun tidak bisa melarang atau hanya sekedar menasehati. Mereka juga akan berlaku sama seperti Jeff jika sedang berada diposisi saudara mereka itu saat ini.
“Okelah. Gue ingin menyelesaikan ini dengan cepat, agar gue bisa fokus menjaga Jihan di rumah sakit.”
“John, Ndrew, kalian berdua balik ke rumah sakit. Biar kali ini gue dan Dewa yang ikut dia.” Ucap Reno yang sudah berdiri mengikuti Jeff. John dan Andrew mengangguk.
“Biar gue yang ke hospital, John balik ke rumah. Prita dirumah kan?. Gue akan kembali ke hospital untuk menemani Fania.”
“Okay.”
***
“Berdirikan dia disana.” Ucap Jeff pada Omar dengan suara yang datar sambil menunjuk ke satu arah.
“Baik Tuan.” Sahut Omar patuh. Lalu ia bersama satu orang lainnya membawa pria yang terikat tangan dan kakinya di tempat yang ditunjuk Jeff. Jeff menghisap dalam – dalam rokoknya sekali lagi, kemudian membuang puntung yang belum habis dan berjalan menuju satu mobil yang sudah terparkir lurus dan masuk kedalamnya.
Jeff sudah berada dibalik kemudi mobil yang ia masuki dan menyalakan mesinnya.
“Bahkan bule gila yang tengil sekalipun bisa berubah menjadi psikopat!.”
Dewa terkekeh dari dalam mobil yang ia tumpangi bersama Reno dan Jeff saat ketiga orang itu datang ketempat mereka sekarang. Reno juga ikutan terkekeh sambil menonton saja, apa yang akan Jeff mau lakukan, meski dia dan Dewa juga sudah bisa menduga apa yang akan Jeff lakukan.
“Kalau calon ponakan kita tidak terbunuh, mungkin dia tidak akan sampai seperti ini. Ditambah Jihan sempat koma dan terluka parah.” Ucap Reno dan Dewa manggut – manggut. Mereka berdua tetap duduk didalam mobil sambil melihat apa yang akan Jeff lakukan pada orang yang menabrak istrinya dan membuat saudara mereka itu kehilangan calon anak keduanya yang amat dinanti itu.
***
“I’m such a bad guy .. ( Gue ini pria yang buruk ).”
Gumam Jeff dibelakang setir mobil yang mesinnya sudah ia nyalakan.
“Selain tampan.”
Ia terkekeh sinis sambil tangannya sudah berada dipersenelling mobil dan kakinya sedang memainkan pedal.
“Mereka benar, gue bukan ayah dan suami yang gagal. Gue akan memberikan keadilan untuk anak gue yang malang dan istri gue yang mereka celakai.”
Jeff memundurkan mobilnya.
“Ini untuk Jihan....”
DUAK!!!
Suara hantaman benda yang menabrak depan mobil yang Jeff kendarai dengan cepat terdengar berikut suara teriakan dan erangan yang sayup – sayup didengar Jeff dari dalam mobil. Jeff memainkan perseneling dan memundurkan lagi mobilnya dalam jarak tertentu. Jeff menekan klakson seperti memberi kode pada Omar.
__ADS_1
DUUAKKKK!!!
Suara hantaman terdengar lebih keras karena Jeff membawa mobil dengan lebih laju.
“Dan itu untuk anak kami.”
Gumam Jeff dengan wajah tanpa ekspresi. Kemudian ia menghela nafasnya dan keluar dari mobil. Kembali lagi menyalakan rokoknya.
“Sampaikan pesan gue ini pada wanita itu.”
Jeff berkata pada Omar sambil menunjuk tubuh yang sudah bersimbah darah dihadapannya itu.
“Baik Tuan.”
**
“Sudah puas?.” Tanya Reno saat Jeff sudah kembali ke mobil yang tadi ia tumpangi dengan Reno dan Dewa saat datang.
“Sedikit lagi.”
“Kemana sekarang?.”
“Menengok istri gue tercinta dulu.”
**
“Come out, come out, wherever you are .. ( Keluarlah.... dimanapun kau berada )..”
Bak seperti sedang bermain petak umpet, suara bernada dingin milik seorang pria memecah kesunyian di sebuah daerah yang jauh dari keramaian. Suasana ditempat itu nampak gelap gulita dan dipastikan tidak akan ada orang yang tahu atau bahkan mendengar jika ada sesuatu yang kemungkinan akan terjadi disana.
Srak.. suara sesuatu atau mungkin seseorang yang bersembunyi diantara pepohonan membuat si pria yang bersuara dengan nada dingin barusan tersenyum dan menyeringai iblis. Sembari menoleh kearah suara yang ditangkap telinganya. Ia berjalan dengan santainya menuju sumber suara.
“Berlarilah semampu yang kau bisa .. selagi kakimu kuat..”
Pria itu sudah berdiri dengan santainya diantara pepohonan yang menutupi tempat tersebut, namun wajahnya menyeringai.
“Apa kau sudah lelah berlari, hem?..” Ucap pria tersebut pada seseorang yang nampak tersungkur didepannya karena kaki orang yang berjenis kelamin wanita itu seperti tersandung sesuatu. Wanita itu spontan menoleh dengan mendongakkan kepalanya seraya matanya terbelalak.
Pria itu nampak menyeringai, tatapan matanya menyorot tajam.
Wanita itu segera bangkit, namun kakinya tidak bisa dia pakai untuk berdiri karena terkilir. Ia pun menyeret tubuhnya yang gemetar sambil mundur kebelakang dengan terisak hebat.
“Jangan bunuh gue... gue mohon..” Wanita itu nampak sangat ketakutan. “Gue.. gue hanya berniat menakut – nakuti aja ..”
“Menakut – nakuti lo bilang?..” Pria itu terkekeh sinis. “Lo menyuruh orang untuk menabrak istri gue, hingga dia koma dan bayi kami meninggal!.. LO TERLALU LANCANG!.”
“SEMUA JUGA KARENA KESALAHAN LO!.” Wanita itu berteriak dengan suara yang gemetar. “KARENA LO! INDIRA MENINGGALKAN GUE!.DAN KARENA LO JUGA DIA SAMPAI BUNUH DIRI!.”
“HAHAHAHA!..”
Pria itu tertawa dengan keras. Hanya sebentar tawanya yang dingin itu terdengar, kemudian diam dan kembali menatap tajam pada wanita didepannya itu. Pria itu kemudian berjongkok didepan wanita yang nampak sudah terpojok itu.
“Lo menyalahkan gue karena lo ditinggalkan oleh pasangan sejenis lo itu?!. Benar – benar menggelikan!!.. Dan lo tahu alasan dia bunuh diri? .. Itu karena lo!! .. Karena dia sudah cukup malu dan depresi akibat ayah dan keluarganya sudah tahu kalau wanita itu punya orientasi seksual yang menyimpang!.”
“DIA MENINGGALKAN GUE KARENA DIA JATUH CINTA SAMA LO YANG SUDAH MENIPUNYA! DIA MEMILIH LO YANG HANYA MEMANFAATKAN TUBUHNYA DAN MENINGGALKAN GUE YANG MENCINTAI DIA DENGAN TULUS!!!!.”
“Karena dia sudah merasakan, lebih nikmat bercinta dengan seorang pria daripada dengan seorang wanita..”
“BRENGSEK!!!.”
Wanita itu mengumpat. Dan tepat sebelum ia menghantam sebuah batang kayu yang sudah dia dapatkan, tangannya di cekal kuat hingga batang kayu yang dipegangnya terlepas.
Wanita itu meronta dengan kuat saat satu tangan pria yang berada dihadapannya itu sudah berada dilehernya. Mencengkeramnya kuat. Sangat kuat.
"Gue akan membuat lo bertemu dengan dia yang lo cintai itu, bukankah seharusnya lo bahagia?."
"Ja...ja - ng .."
Pria itu mengetatkan cengkramannya pada leher si wanita. Dan wanita itu mendelik dan mulutnya terbuka. Kakinya sudah bergerak tak beraturan diatas tanah yang ia duduki.
“Dan pastikan lo meminta maaf pada anak gue kalau nanti lo bertemu dengannya.....”
Wanita itu nampak sudah sangat kesulitan bernafas, hingga akhirnya ia lunglai, dan tubuhnya tak lagi bergerak dengan matanya yang masih setengah terbuka.
****
__ADS_1
To be continue ...
Maapkeun lama baru up. Emak lagi Er to the Mpong! Riweuh. Wkwk ...