
♥♥ MENJEMPUT BAHAGIA ♥♥
****
Selamat membaca...
****
“D!!.”
Fania langsung keluar dari mobil yang ia kendarai dan langsung berlari ke arah Andrew.
Michelle pun ikut keluar bersamaan dengan para Pangeran lain yang kini sudah menyusul ketempat Andrew menghabisi Joven.
“D!!!!.” Fania nampak begitu khawatir dengan darah yang mengalir dari bahu Andrew dan pria plontos itu sedang memegangi lukanya, seperti mencoba menahan aliran darah yang keluar dari bahu kanannya itu.
Andrew melemparkan senyumnya pada Fania yang sudah berada didekatnya dan langsung memeluk istri tercintanya itu.
“Aku tidak apa, Heart.”
“Kalau si Donald Bebek bisa selamat dari misil dan granat, satu tembakan dibahu ga akan membuatnya mati, Little F.” Reno sudah juga datang mendekat pada Andrew dan Fania dengan tersenyum lalu mengacak – acak rambut adik kesayangannya itu.
“Iya tapi ini harus segera dikeluarin pelurunya, Kak!.”
“I’m fine, Heart (Aku baik – baik saja, Heart).” Sahut Andrew pada Fania yang masih panik itu. Ia mendekap erat Fania dengan satu tangannya.
“Wow! Lihat itu ....” John datang mendekat dan langsung menunjuk jasad Joven yang mati mengenaskan dengan
pisau tertancap di lehernya itu dan darah segar yang masih merembes dari sana.
“Seharusnya kita kuliti hidup – hidup dulu sampai dia mati dengan perlahan!.” Jeff juga sudah datang mendekat bersama Michelle dan Dewa. “Die like that is too beautiful like him (Mati seperti itu masih terlalu indah untuknya).”
Andrew, Reno, John, Dewa, berikut Vla dan Lucca yang sudah datang mendekat itupun terkekeh mendengar ucapan Jeff. Sedangkan Fania dan Michelle bergidik ngeri melihat jasad Joven yang nampak mengerikan dengan mata terbuka.
Sementara orang – orang mereka sudah juga memulai untuk membersihkan kekacauan yang telah terjadi.
“Ayo D, kamu harus segera diobatin!....” Ucap Fania dan Andrew pun mengangguk dengan tersenyum. Fania meletakkan tangan kiri Andrew dibahunya.
“Ayo kita pulang.”
“Wait! (Tunggu!).” Sahut Reno. “Bring me petroleum ( Bawakan gue petrolum ).”
“What for? (Untuk?).”
“Just give me! (Kasih aja gue sini!).”
“Kasih aja yang dia mau!.” Timpal Jeff.
Dewa mengkode salah satu orangnya untuk mendekat dan membawakan sebuah tabung yang tak begitu besar yang merupakan gas cair yang diminta Reno. Tak berapa lama orang yang disuruh kembali dengan sebuah benda yang nampak seperti tabung semprotan untuk mencegah kebakaran namun berbeda isi dan ukuran.
Dewa kemudian memberikan tabung tersebut pada Reno yang kemudian langsung menyemprotkan gas cair tersebut ke jasad Joven, dan sekaligus meletakkan tabung yang tadi ia pegang disamping jasad Joven.
“Step aside Ladies and Gentlemen, if you guys don’t want to go with to hell (Minggir sedikit Tuan – Tuan dan Nyonya – Nyonya, jika kalian tidak ingin menyertainya ke neraka).” Ucap Reno yang kini sudah memegang pemantik besi ditangannya.
KLIK!
Reno sudah menyalakan pemantiknya, dan melemparkannya langsung ke jasad Joven dan seketika jasad yang
kehilangan nyawa dengan cara yang cukup mengenaskan itupun langsung terbakar. Reno dan semua orang sudah menyingkir dari jasad Joven, lumayan berjarak. Reno menyunggingkan senyum sinisnya sambil menatap tajam pada jasad Joven yang terbakar dalam pandangannya dan semua orang yang berada disitu.
“We need to make sure, right? (Kita harus memastikan, bukan?).”
“Ya. Let’s see if he can ‘wake up’ again after this (Ya. Kita lihat apa dia bisa ‘bangun’ lagi setelah ini).”
Para Pangeran termasuk Vla dan Lucca menatap api yang melahap tubuh Joven dengan tersenyum sinis dari tempat mereka berdiri saat ini.
BAM!
Sebuah ledakan kecil terjadi dari tempat jasad Joven yang terbakar namun tidak sampai mengenai sembilan orang yang sedang berdiri berjajar itu. Meski mereka sedikit mundur dengan spontan saat ledakan terjadi.
__ADS_1
****
“C’mon, let’s go home (Ayo, kita pulang).” Ajak Jeff setelah jasad Joven sudah hangus terbakar didepan mereka, dan api perlahan sudah mengecil. “Beside I’m hungry! (Lagipula gue lapar!).”
Delapan orang lainnya manggut – manggut.
“Ayo!.”
“Setelah ini kita akan harus menjemput mereka yang berada di Save House.” Ucap Dewa. “Gue yakin kalian pasti
sudah tak sabar bertemu dengan para bidadari kalian, kan?.”
Reno dan dua J yang merasa itu pun langsung manggut – manggut.
“It is! (Iya Memang!).”
“Miss those little angels too.. (Rindu juga pada para malaikat kecil ..).”
“Gue sudah sangat tak sabar!.”
“I’m sure you’re all (Gue yakin itu).”
Lucca menimpali dengan tersenyum pada para saudaranya itu.
Mereka pun kemudian berjalan pergi meninggalkan tempat mereka berada sekarang dengan perasaan campur aduk antara lelah namun lebih kepada lega, puas dan bahagia.
Selain dari kerinduan yang membuncah untuk dapat menemui masing – masing belahan jiwanya dengan segera,
juga anak – anak mereka serta seluruh keluarga.
****
Mansion Lucca, Viterbo, Italia........
“Kita harus segera menjemput mereka yang berada di Save House dengan segera.” Ucap Fania saat mereka yang
“Fania was right. We told them to get out off there after a week if we don’t contact them (Fania benar. Kami katakan pada mereka untuk keluar dari Save House jika dalam satu minggu kami tidak mengabari mereka).”
“Ya sudah, kita berangkat ke London setelah ini.” Sahut Reno. “Can you prepare some transportations for us now, Ghost? (Bisa lo siapkan kendaraan untuk kami sekarang, wahai Hantu?).”
“Of course I can!. Ghost can do what human can’t do (Tentu aja gue bisa!. Hantu bisa melakukan apa yang manusia tidak bisa).” Sahut Lucca dan merekapun terkekeh bersama.
“Well I’m sure it is... (Yah gue yakin begitu).” Timpal Jeff.
Mereka semua terkekeh bersama lagi termasuk juga Dad yang sudah berkumpul bersama mereka. Rona bahagia amat terpancar diwajah pria setengah baya namun masih nampak gagah dan berwibawa itu. Tak sabar ingin bertemu dengan matahari hidupnya, serta cucu – cucu tercintanya, berikut seluruh keluarganya yang lain. Dan kebahagiaan atas para putra dan putrinya baik kandung, anak angkat, bahkan para menantu kebanggaannya.
Dan bahagia, sekaligus bangga. Putra kandung pertamanya begitu membela dan mencintai keluarganya. Juga
putri kandungnya, yang meskipun manja namun selain pintar, ia juga selalu menjunjung tinggi arti keluarga seperti sang kakak. Para menantunya pun tak banyak tingkah termasuk keluarga mereka.
Jangan lupakan para putra angkatnya yang rasanya ia tak salah mendidik mereka, yang tahu cara berterima kasih serta juga menjunjung arti keluarga.
“I’ll catch you up later (Gue akan menyusul kalian nanti).” Ucap Lucca saat Dad dan yang lainnya sudah bersiap untuk kembali ke London.
Lucca sudah menyiapkan dua helikopter berukuran diatas standar sebagai transportasi The Smith’s ke London.
Horrrrang Kayahh!!!!..😁
Sebagai seorang yang memiliki kuasa besar seperti halnya keluarga Adjieran Smith, bukan hanya koleksi mobil yang Lucca punya, namun segala jenis kendaraan untuk berbagai medan, dan tentunya juga berkat sokongan dari The Smith family atas apa yang ia miliki sekarang. Dad Anthony dan Andrew serta Reno terutama.
“Of course you are (Tentu saja kamu harus).” Ucap Dad sambil merangkul bahu salah satu putra angkatnya yang merupakan seorang ‘penguasa’ di Italia. “It was your promise to me and them (Itu adalah janjimu padaku dan mereka). Real men never break their promise, especially to you family (Pria sejati tidak mengingkari janjinya, terutama pada keluarga mereka).”
“I’ll never break my promise, especially to my family (Aku tak pernah mengingkari janji, terutama pada keluargaku).” Sahut Lucca.
Dad manggut – manggut sembari tersenyum.
“Thank you, Son (Terima kasih, Nak).”
Dad memeluk Lucca.
__ADS_1
“Grazie mille, Fratello mio (Terima kasih banyak, Saudaraku).”
Andrew dan Reno bergantian berterima kasih dan memeluk Lucca, diikuti dengan dua J, Dewa dan Vla.
“Ah Taci! (Ah diam!). It’s a Brothershood, Dude! (Ini arti Persaudaraan, Bro!).” Celoteh Lucca pada enam pria tersebut. Mereka juga bergantian memeluk dan berterima kasih pada Fabiana, istri Lucca serta berterima kasih juga pada orang – orang Lucca yang ada disana dan sudah membantu mereka.
Fania dan Michelle juga ikut berterima kasih pada Lucca dan Fabiana serta orang – orang kepercayaan mereka.
“You owe me a Limited Huayra, Mrs. Andrew Smith (Kau berhutang padaku sebuah Huayra Edisi Terbatas, Nyonya Andrew Smith).” Ucap Lucca pada Fania setelah mereka selesai berpelukan.
Fania langsung terkekeh. Ia sadar maksud ucapan Lucca karena sudah memakai salah satu koleksi mobil pria Italia
itu tanpa ijin sebelumnya dan kini mobil itu sudah tidak semulus saat keluar dari garasi pribadi Lucca. “Ah that! (Ah itu!).” Sahut Fania sedikit meringis.
Ia memamerkan barisan giginya pada Lucca.
“Better you talk to my husband! (Sebaiknya kamu bicara pada suamiku!).” Fania menunjuk Andrew yang terkekeh pada Lucca.
“We’re Brothers, right? (Kita Saudara, kan?).” Andrew cengengesan. “We don’t owe each other (Saudara tidak saling berhutang). Just car like that ... (Cuma mobil begitu).”
Lucca berdecih dan Andrew tergelak.
“Cih! Donald Duck! (Dasar Donald Bebek!).”
Pada akhirnya mereka sama – sama tergelak, lalu Andrew dan Fania berpamitan sekali lagi pada Lucca dan Fabiana dan langsung berjalan menuju mobil yang akan mengantarkan mereka ke landasan helikopter yang tak jauh dari Mansion Lucca, sehubungan helikopter yang mereka gunakan sedikit besar dan dua unit juga, jadi tak cukup untuk ‘parkir; di Mansion Lucca. Karena landasan heli di Mansion Lucca hanya diperuntukkan untuk heli jenis standar.
“Make sure, you guys don’t ‘blow up’ this time! (Pastikan kalian tidak ‘meledak’ kali ini!).” Seru Lucca sambil
mengangkat tangannya ke arah tiga mobil yang mengantar para personel The Smith. “Oh My Huayra, my poor Huayra (Oh Huayraku, Huayraku yang malang).” Lucca menatap mobilnya yang digunakan Fania.
Bodi mulus mobil sangat terbatas itu sudah tak ada, goresan entah dari apa selain dari peluru sudah menghiasi bodi mobil tersebut. Fabiana hanya terkekeh melihat wajah suaminya yang memelas memandangi mobil yang belum lama dibeli oleh suaminya itu.
‘I even haven’t try it... (Aku bahkan belum mencobanya ...).’ Batin Lucca meratap.
Kesiaan ....
***
“Ya Tuhaan, gue sudah tak sabaaarrr .... bertemu Prita dan the twins ..” John memegangi dadanya dengan mata berkaca – kaca setelah ia sudah berada dalam heli bersama Jeff, Dewa dan Vla.
Sementara Fania bersama Andrew, Reno, Dad dan Michelle di helikopter yang satunya lagi.
“Bukan hanya lo saja John!.” Sahut Jeff. “Gue juga sudah rindu sama Jihan dan Nathan.”
“Tapi lebih banyak rindu ke istri – istri lo kan??? ..”
“Hahaha!. I think they will ‘attack’ Prita and Jihan right after they meet! (Gue rasa mereka akan langsung ‘menyerang’ Prita dan Jihan tepat saat mereka bertemu!).”
“A smart and handsome Russian guy (Cowok Rusia yang pintar dan tampan).”
John terkekeh pada Vla. Termasuk juga Jeff dan Dewa yang ikut terkekeh.
“Our Juniors feel totally cramps already! (Junior kami rasanya sudah kram!).” Celoteh si bule koplak lagi sambil menunjuk dirinya dan Jeff.
“Hell yea! (Bener banget!).”
“Bisa gue bayangkan itu! Hahaha!.”
‘Hhhh Mama Bear... Papa Bear rindu goyang jaipong ...’
Dan si bule gila makin tak sabar.
Julehaaaa ........ sabar ye ..... Rojali coming sooon.... Otw... Otw...
***
To be continue....
__ADS_1