
***Meskipun slow beut update ( harap maklum ya ) ***
Tetep emak mau menghimbau ...
Pencet dulu itu jempol sebelum sekerol kebawah ye. (Maksa). Wkwk
***********************************************************************************
RONGGA
***********
Selamat membaca....
“Tidak!”
Itu Varen yang menyanggah dengan cepat setelah salah satu ayahnya menyampaikan kembali apa yang Dokter
Alan katakan mengenai kemungkinan yang terjadi terkait kondisi Andrea.
“Tidak akan pernah ada cerita, kalau Little Star harus di bawa ke pusat rehabilitasi apapun yang terjadi! Hell No!” Tolak Varen dengan teramat tegas dengan pembawaannya yang masih nampak gusar.
Kembali, Varen sedang bersama para Dad-nya dan Nathan saat ini dan berkumpul di ruangan tempat tadi para Mom berkumpul saat para Dad dan Nathan berikut Varen sedang bercengkrama di ruang billiard.
“Kamu pikir Mom rela kalau Little Star harus di bawa dan menjalani perawatan di pusat rehabilitasi seperti yang tadi dikatakan oleh Alan?” Mommy Ara yang baru saja datang bergabung dengan para pria yang sedang berkumpul itu menimpali kemudian.
“Ya iyalah, kita orang ga bakal pernah rela!...” Mami Prita yang juga ada bersama Mommy Ara ikut menimpali lalu duduk disamping Papi John.
“Lagipula itu baru prediksi Alan kan Bang?”
“Iya memang Mom... tapi tetap saja aku gusar”
“Sudah deh, jangan mikirin yang jelek – jelek dulu. Kan abis ini infusan si Drea kelar dia mau dicek ke RS dulu, lihat hasilnya dulu. Jadi ga usah deh pada parno duluan”
“Ya Nathan benar” Timpal Daddy R “Paling tidak sampai nanti cairan infus Little Star habis, yang jelas dia tidak boleh ditinggal sendirian terlebih dahulu...”
“Iya Dad” Sahut si Abang.
Sisanya manggut – manggut.
***
Beberapa jam sudah berlalu dan setelah cairan infus Andrea habis Varen yang menunggui Andrea tanpa beringsut sedikitpun dari sisi istri kecilnya itu, mencabut perlahan dan hati – hati jarum infus yang tertanam sedikit di punggung tangan Andrea.
“Sakit?”
“Engga Bang ....”
“Drea kuat kalau kita ke Rumah Sakit sekarang?”
“Iya, Drea kuat kok Bang” Ucap Andrea.
Varen menyunggingkan senyum tampannya.
“Tapi kalau nanti pemeriksaannya ternyata banyak dan kamu sudah merasa lelah, kamu tidak boleh menyembunyikannya ya Sayang?”
“Iya Abang”
Varen menyunggingkan senyumnya lagi.
“Ya sudah aku siapkan pakaian kamu dulu”
“Ga usah Abang, biar Drea sekalian mau ke kamar mandi”
“Oh engga, engga. Kamu ga boleh mandi! ....”
“Tapi badan Drea sudah Drea rasa lengket Abang....”
“Aku yang akan bantu membasuh tubuh kamu Little Star”
“Modus ya....?....” Goda Andrea.
Varen pun terkekeh kecil.
Lalu Varen berdiri dan hendak pergi ke walk in closet lalu mengambil peralatan untuk membasuh tubuh Andrea.
“Drea tetap mau ke kamar mandi, Abang. Drea perlu sikat gigi juga. Drea juga ga mau kalau wajah Drea hanya diseka air tanpa menggunakan sabun”
“Ya sudah” Sahut Varen yang langsung mengangkat tubuh Andrea ala Bridal Style.
****
“Abang ....”
“Hem? ....”
“Maaf ya Drea selalu merepotkan Abang”
“Bicara apa kamu Little Star?”
“Memang begitu kenyataannya”
“Please Little Star, jangan bicara seperti itu. Aku tidak suka mendengarnya!”
“............”
“Maaf .... aku ga bermaksud membentak kamu. Maafkan aku” Varen langsung meralat sikapnya yang sedikit berbicara dengan nada tinggi pada Andrea.
“Ga apa – apa Abang. Drea ga tersinggung kok. Ga merasa dibentak juga”
Andrea memandangi Varen dalam duduknya di kursi penumpang belakang saat dalam perjalanan menuju Rumah
Sakit.
Tangan Andrea terulur menyusuri wajah Varen dengan lembut, membuat Varen memejamkan matanya sepersekian detik lalu memberikan pandangannya yang paling teduh pada Andrea. “Justru Drea merasa beruntung punya Abang dalam hidup Drea” Andrea langsung menelusup kan kepalanya di dada si Abang.
“Justru aku yang seharusnya merasa beruntung Little Star”
Tangan kanan Varen terulur ke dagu Andrea selepas ia mengurai pelukan Andrea dengan lembut.
“Karena kamu adalah segalanya yang aku harapkan dan semua yang aku butuhkan” Ucap Varen dengan tulus berikut tatapan yang selalu mampu menghipnotis Andrea.
Hingga si Abang semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Andrea dan menyesap rasa manis bak semangka
seperti biasa bagi Abang pada bibir Andrea dengan bibirnya.
Andrea mengalungkan tangannya di leher si Abang dan menyambut sapaan lembut bibir Varen tanpa keduanya memperdulikan yang lain lagi. Terbuai dengan permainan bibir masing – masing hingga keduanya menginginkan sesuatu yang lebih, meski si Abang tahu pasti kalau untuk sementara waktu Andrea tidak boleh ‘disentuh’ dulu.
Varen dan Andrea tertegun sesaat saling memandang setelah mengurai ciuman mereka. Keberadaan Ammar yang
berada di balik kemudi tidak digubris oleh dua sejoli yang sedang menikmati kemesraan dan sedikit keintiman di kursi penumpang belakang. Hingga kemudian Varen kembali mendekatkan wajahnya dan hendak menyambar bibir manis bak semangka tanpa biji milik Andrea sekali lagi.
__ADS_1
Namun ..
“Ehem!..”
Sebuah suara deheman dari depan membuat Varen melengoskan wajahnya ke arah suara dengan sedikit sinis.
“Sudah sampai Tuan”
“Hish! Jones ganggu aja!”
Varen mendengus kesal pada Ammar.
“Jojoba Tuan”
“Masa bodoh!”
‘Ck! Memang aja dia ga liat – liat tempat kalo udah bermesraan dengan Nyonya Muda Andrea!..’
“Kau kan bisa menginterupsi setelah kami selesai?!”
“Memang sudah sampai di Rumah Sakit kan Tuan”
“Bilang saja kau iri!”
‘Jomblo mana yang ga iri melihat adegan uwu dua insan yang bermesraan, coba?!’
“Makanya cari pasangan! Kau sudah kutawarkan libur berkali – kali tapi menolak terus. Tidak mau punya waktu
bersenang – senang. Itulah makanya kau tidak laku, Ammar!”
“Aku jomblo itu bukan tidak laku, Tuan .. Jomblo itu pilihan. Karena kami para jomblo bisa bebas dan bahagia tanpa repot kabarin siapa – siapa”
“Halah!”
***
Varen membawa Andrea berjalan santai setelah memasuki gedung Rumah Sakit untuk menemui Dokter Alan yang sudah menunggunya bersama sang istri di ruangan Dokter yang bersahaja tersebut.
Setelah mengobrol sekaligus berkonsultasi selama dua puluh menit bersama Dokter Alan dan Dokter Clarissa,
Andrea dibawa untuk melakukan serangkaian tes untuk memastikan kondisinya. Varen tentu saja dengan setia dan cekatan mendampingi Andrea.
***
Satu jam kemudian
“Apa Drea perlu dirawat kembali, Uncle?”
“Dari beberapa hasil yang sudah keluar ini, aku dapat katakan tidak perlu”
“Syukurlah”
Varen tersenyum lega sembari menoleh pada Andrea dan mengusap lembut kepala istri kecilnya yang juga
tersenyum itu.
“Tapi tetap aku akan memberikan resep tambahan, untuk jaga – jaga ..”
“Baik, terima kasih Uncle, Aunt”
“Sama – sama ..” Sahut Dokter Alan dan Dokter Clarissa bersamaan.
Varen hendak berpamitan pada kedua orang tua sahabatnya itu, namun Andrea menahan sebentar karena ada satu
“Uncle, Aunt..”
“Iya Drea?”
“Drea ingin bertanya sesuatu”
Varen mengalihkan pandangan pada Andrea karena dia sendiri kurang tahu apa yang hendak Andrea tanyakan pada sepasang Dokter yang bersahaja itu.
“Silahkan Drea sayang, apa yang mau kamu tanyakan, hm?”
“Drea .. apa-, yang Gi-gita suntikkan ke Drea apa jenis NAPZA?”
Dokter Alan dan Dokter Clarissa tak langsung menjawab.
“Iya”
Kemudian Dokter Alan mengucapkan jawaban setelah ia sempat melirik Varen dan si Abang mengangguk sebagai kode pada Dokter Alan untuk jujur saja pada Andrea. Toh Varen memang tidak ingin menyembunyikan apapun pada Andrea, terkecuali sisi monsternya pada mereka yang sudah mencelakai istri kecilnya itu. Termasuk janin calon buah hati mereka yang pernah ada di perut Andrea.
Hanya saja, untuk yang satu itu Varen memang mencari waktu yang tepat untuk menyampaikannya pada Andrea,
termasuk mempersiapkan dirinya nanti akan reaksi Andrea.
“Apa .. itu tandanya ada kemungkinan Drea akan menjadi pecandu?..”
Dokter Alan dan Dokter Clarissa sama – sama menggeleng sembari tersenyum.
Dokter Alan kemudian menjelaskan semua hal yang terkait dengan kondisi Andrea, dan istri kecil si Abang itu menyimak dengan baik penjelasan dari Dokter bersahaja tersebut.
“Tapi Drea merasakan tubuh Drea sangat dingin dan tulang Drea terasa sakit Uncle waktu itu. Bukankah itu gejala kalau tubuh Drea menginginkan ‘benda’ itu?..” Ucap Andrea. “Ya setidaknya itu yang Drea tahu”
Andrea menatap ragu – ragu pada Dokter Alan dan Dokter Clarissa, lalu menoleh sebentar juga pada Abang dengan wajahnya yang sedikit nampak khawatir akan kondisinya sendiri yang Andrea takutkan akan merepotkan seluruh keluarga besarnya, terutama si Abang.
“Memang biasanya itu gejala dimana seseorang yang memiliki ketergantungan pada suatu zat adiktif.. kurang lebih seperti yang Drea rasakan waktu itu..”
Kembali Andrea menyimak setiap ucapan Dokter Alan dengan seksama. Bagaimanapun, jika ketakutannya benar, setidaknya Andrea bisa mengatasi dan melawan pada reaksi buruk dari beberapa zat berbahaya yang sempat masuk ke tubuhnya itu.
“Tapi kamu jangan terlalu mengkhawatirkan hal tersebut sayang, toh kamu bukan pengguna aktif sebelumnya dan perawatan yang Uncle berikan akan mencegahnya”
“Lagipula Aunt dan Uncle yakin kamu kuat”
“Of course! (Tentu saja!). Istrinya siapa?” Celoteh Varen yang membuat Andrea dan dua Dokter yang bersama
mereka menyunggingkan senyum mereka dan menoleh pada si Abang yang kemudian membawa kepala Andrea untuk ia sandarkan di lengannya dan mengecup pucuk kepala Andrea.
“Apa ada lagi yang ingin kamu tanyakan, Andrea?”
Andrea mengangguk dan menggengam tangan Varen kini.
“Apa Drea masih punya kesempatan untuk mengandung?..”
“.....”
“Karena jujur saja, saat ini Drea rasanya ingin sekali bisa hamil ..”
Deg!
“Terlepas dari Drea yang pernah mengkonsumsi morning after pills, Drea masih terus berharap kalau kebodohan Drea kala itu tidak berakibat fatal pada rahim Drea, Uncle, Aunt ..”
__ADS_1
“Kan, sudah dibilang waktu itu kalau hal tersebut tidak membuat ada masalah atau efek yang mengganggu
kesuburan rahim kamu, Little Star” Varen yang menyahut.
Andrea menyunggingkan senyum menatap pada Varen. “Iya sih, memang. Tapi ya Drea heran aja Abang, kan selama ini kita tidak menggunakan alat kontrasepsi apapun, tapi sampai sekarang ga ada tanda – tanda kalau Drea akan hamil .. jadi Drea khawatir.. Drea sekarang takut, karena katanya obat – obatan terlarang kan bisa mempengaruhi kondisi rahim juga?.. iya kan Uncle, Aunt?..”
Dokter Alan dan Dokter Clarissa menyunggingkan senyum mereka kembali. Dokter Clarissa meraih satu tangan Andrea dan menggenggamnya.
“Jangan khawatir Drea sayang, rahim kamu sehat kok. Meskipun ada beberapa zat berbahaya yang sudah sempat masuk ke dalam tubuh kamu, tapi kondisi rahim kamu sehat”
“Benar begitu Aunt?..”
“Iya, Aunt dan Uncle sudah melakukan pengecekan kondisi tubuh kamu secara keseluruhan. Dan untuk rahim kamu sendiri, tidak ada masalah akan itu. Kamu masih punya kesempatan untuk mengandung bayi lucu buah cinta kalian nantinya ..”
Andrea tersenyum lebar dan merasa lega.
Varen menyunggingkan senyumnya, meski ada sedikit kegelisahan yang mulai menyelimuti hatinya saat ini.
Kala Andrea menoleh dan menatapnya, lalu memeluk Varen dengan sedikit antusias.
“Drea senang dengarnya Abang”
“Jadi kamu jangan berpikir yang tidak - tidak lagi ya?”
“Hmmm, Abang benar tuh! Kamu jangan berpikir macam – macam. Fokus saja untuk memulihkan kesehatan kamu,
Drea”
“Iya, Uncle, Aunt” Sahut Andrea dengan wajahnya yang sumringah.
“Dengar tuh ya? Jangan punya spekulasi buruk lagi yang membuat pikiran dan hati kamu terbebani” Ucap Varen
sembari mengusap kepala Andrea yang masih bergelayut manja padanya itu.
“Iya ..”
Namun masih ada ganjalan yang membebani hati Varen saat ini. Melihat Andrea yang bahagia karena tahu kondisi rahimnya baik – baik saja, membuat Varen merasa bahagia juga. Tapi disatu sisi, ada kekhawatiran dalam hati si Abang tentang satu kebenaran yang hendak ia sampaikan pada Andrea nanti.
‘Apa kamu masih sudi memelukku seperti ini saat kamu tahu, bahwa aku yang menyetujui untuk menghilangkan calon buah hati kita dari rahimmu itu sebelum kamu sempat tahu, Little Star? ..’
“Ya udah, ga ada lagi yang mau Drea tanyakan. Drea senang kalau ternyata Drea masih punya kesempatan untuk
bisa hamil.. Drea rasanya ingin buru – buru hamil!”
Varen tersenyum pada Andrea, namun getir ia rasa dalam hatinya.
“Terlebih, Drea sering bermimpi ada bayi yang wajahnya mirip sekali sama Abang akhir – akhir ini ..”
Varen tersenyum getir.
***
“Abang ..” Panggil Drea saat ia dan Varen sudah berada dalam mobil untuk kembali ke Kediaman
“Iya, Little Star?”
“Ada yang sedang mengganggu pikiran Abang?”
“Tidak. Kenapa memang?”
Andrea menyunggingkan senyum.
“Abaang, kita ini sudah berhubungan dekat selama belasan tahun. Jadi Drea bisa tahu, kalau saat ini ada yang sedang membebani pikiran Abang”
“Tidak ada apa – apa Little Star..” Ucap Varen sembari menyunggingkan senyuman untuk meyakinkan Andrea kalau ia baik – baik saja.
“Share, Abang. Berbagilah sama Drea masalah Abang”
“Abang tidak ada masalah apa – apa, Little Star sayangnya Abaangg..”
“Bohong!” Drea mendelik dengan nada suaranya yang sedikit ketus. Lalu mensedekapkan tangannya dan menyandarkan punggungnya dengan sedikit kasar di sandaran kursi mobil.
“Hey, pelan – pelan dong Little Star. Nanti punggung kamu sakit kalau kamu menyandarkannya dengan keras”
“Habis Abang, ga mau share masalah Abang” Andrea merajuk.
“Memang aku sedang tidak ada masalah”
“Bohong saja terus!”
“Ya sudah, ya sudah”
Varen menyerah. Ia menghela nafasnya sebentar.
Sedang memikirkan sesuatu dalam otak tampannya.
“Begini .. Abang hanya teringat soal .. kenalan Abang”
“Siapa?”
“Emm .. rekan bisnis Abang yang .. yang aku temui di Rumah Sakit waktu kamu dirawat”
“Dia sakit parah?”
“Bukan dia”
“Siapa?”
“Istrinya”
“Lalu?”
“Emm .. dia curhat sedikit sama aku..”
“Apa istrinya sakit parah?” Andrea masih melontarkan pertanyaan.
Varen menggeleng.
“Istrinya tidak sakit parah, tapi.. ada sesuatu hal yang terpaksa dia lakukan dan dia .. bingung harus mengatakan apa pada istrinya ..”
“Soal apa?”
“Istrinya sedang hamil.. tapi.. ada hal yang membuatnya mengambil keputusan untuk mengangkat janin dari perut istrinya, tanpa istrinya ketahui..”
“Hah?!”
“Iya itu karena ..”
“Kok bisa sih dia setega itu pada istri dan calon anaknya? ..”
Deg!
__ADS_1
***
To be continue ...