THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 313


__ADS_3

RINTANGAN


Selamat membaca....


⚫⚫⚫⚫⚫⚫⚫⚫⚫⚫


‘Oh Tuhan...’


Via merasakan kaki dan tangannya mulai kram serta nafasnya sudah mencapai batas dada. Rasanya Via hampir tak sanggup melanjutkan, dan dayungan tangannya mulai melemah.


‘Jo ....’


Kevia semakin merasa lemas.


‘Aku.. hampir ga kuat..’


Kevia melirih dalam hati karena kakinya terasa kram kini.


Kayuhan kaki Kevia berhenti, namun disisa tenaganya ia tetap berusaha mengambang karena ia melihat samar –


samar kerumunan dan teriakan yang tidak jelas terdengar.


Kevia takut itu adalah anak buah Dilara yang berada disana. Namun sudah habis memang tenaga Kevia dan kini


ia hanya pasrah.


*‘I love you, Jo..’***


“Banyak orang yang mengarah kesini dari Resort yang ada di sebelah kiri, Va!” Seru Rendy dari dalam mobil


pada Varen yang berada disampingnya, namun diluar mobil. Varenpun mengangguk.


Daddy Dewa dan Papi serta beberapa orang mereka sudah mendekat pada Varen dan Nathan.


“Kau pergilah kejar mereka dan selamatkan segera Little Star dan Via!” Daddy Dewa berseru pada Varen setelah ia juga mendengar apa yang barusan Rendy katakan.


“Bagian sana sudah kami bereskan! Cepat kau pergi selamatkan Little Star dan Via!”


Papi John menimpali dengan cepat, Varen pun mengangguk dan memundurkan kakinya lalu berbalik dan berlari ke arah fender dermaga dalam Marina.


“Sepertinya ada seseorang di dalam air yang sedang berenang menuju kesini Tuan!”


Salah seorang anak buah mereka menunjuk ke arah perairan. Bersamaan dengan suara desingan senjata dari pihak lawan yang berdatangan.


Daddy Dewa, Varen, Nathan dan Papi John sempat memicingkan mata mereka saat salah seorang anak buahnya


itu mengatakan ada seseorang yang sedang berenang menuju ke tepian Marina.


Namun fokus mereka beralih lagi untuk memberikan tembakan balasan pada pihak lawan, dibantu Ammar dari dalam mobil.


“Cepatlah kalian kesana! Pastikan siapa yang sedang berenang itu!” Seru Daddy Dewa.


“Mereka biar kami yang bereskan!” Timpal Papi John. “Perkara mudah mereka ini!” Papi John menunjuk pada anak buah Dilara yang baru berdatangan dari arah Resort yang dibilang Rendy tadi.


Varen dan Nathan mengangguk cepat lalu berlari dengan sedikit merunduk ke arah fender dermaga kecil dalam


Marina tersebut.


***


“Satu speed boat dan satu yacht kecil tadi juga ada yang bergerak dari sana Tuan Muda”


Varen dan Nathan menerima laporan lagi sembari berlari.


Keduanya pun mengangguk lagi dan sudah mendekati fender dermaga.


“TUAN ADA SESEORANG DALAM AIR MENUJU KESINI!”


Varen dan Nathan disambut seruan satu anak buahnya yang berseru kencang.


“CEPAT PERIKSA!”


“Apa hanya satu orang?!”


“Iya hanya satu sepertinya Tuan”


“Dilara?”


Varen dan Nathan sama - sama menoleh dan saling bertanya bersamaan. Wajah keduanya juga diliputi tanda tanya.


“ITU NONA KEVIA!!!”


Salah seorang anak buah Varen dan Nathan berteriak kencang dan yakin setelah memastikan apa yang dilihatnya itu.


Perasaan Nathan dan Varen seketika campur aduk.


Byurrr!...


Namun mendengar nama Kevia tanpa pikir panjang lagi Nathan langsung menceburkan dirinya. Ditambah lagi


sepertinya seseorang yang diduga adalah Kevia itu sudah mulai tenggelam.


Bersamaan dengan dua orang anak buah para Pangeran Adjieran Smith yang sudah ikut menceburkan diri mereka


untuk menyelamatkan salah satu Nona Muda mereka.


“LALU ISTRIKU?!”


Varen bertanya dengan keras.


"APA KALIAN MELIHAT ISTRIKU?!!!!! ...."


“Hanya terlihat Nona Kevia, Tuan Muda!”


‘Little Star....’


Varen membatin lirih dan takut, meski tidak tahu apakah Andrea juga berada ditempat yang sama dengan tempat dimana Kevia disandera dan dibawa.


“CARI!” Perintah Varen dengan keras dan dia sendiri hendak menceburkan dirinya untuk mengecek sendiri keberadaan Andrea yang mungkin saja ada di belakang Kevia, atau bahkan karena sesuatu hal Andrea tenggelam.


Berbagai spekulasi mendadak muncul di kepala Varen yang khawatir setengah mati. Meski sangat tahu Andrea jago berenang, dan kecepatan renangnya pasti melebihi Kevia.


Pasti Andrea tidak akan jauh -  jauh dari Kevia bukan?. Atau bahkan, mengingat ketahanan Andrea dalam air, seharusnya Andrea yang menggiring Kevia dalam air untuk berenang.


Tapi bagaimana jika Andrea terluka dan tidak memungkinkan dirinya untuk berenang lagi hingga tenggelam?.


Namun juga Varen masih bertanya – tanya sendiri apakah Andrea benar bersama Kevia dan bersama – sama


dibawa oleh Dilara.


“Bang!”


Nathan yang sudah berhasil membawa seorang gadis yang benar adalah Kevia keluar dari perairan itu berseru


memanggil Varen yang tadinya hendak menceburkan dirinya untuk mencari Andrea.


Akhirnya Varen urung untuk melompat kedalam air dan ia bergegas untuk membantu Nathan yang sudah mengangkat Kevia dari air lalu membaringkannya di atas pasir.


“CARI ISTRIKU DIDEKAT KALIAN MELIHAT VIA!  KALIAN MENYELAM LEBIH DALAM!”


Varen yang frustasi itu kembali menurunkan perintah dengan keras dan dua anak buahnya menceburkan diri mereka lagi ke air lalu berenang sedikit jauh kemudian menyelam.


Sementara di tempat awal tadi desingan senjata sudah tak lagi terdengar.


“Via.. Sayang..” Nathan menepuk – nepuk pelan pipi Kevia karena sang istri tak sadarkan diri. Varen memeriksa nadi Kevia.


“Berikan Via CPR Tan!. Bisa kan?!” Tanya Varen dengan cepat dan Nathan juga langsung mengangguk lalu langsung melakukan apa yang disuruh si Abang.


Nathan lalu menopang tindih kan tangannya lalu meletakkan bawah telapaknya dibagian tengah dada Kevia lalu memeriksa nafas Kevia melalui hidung istrinya tersebut.


Karena belum ada respon, Nathan pun membuka mulut Kevia dan meniupkan udara kedalamnya.


“Uhuk! Uhuk! Uhuk!”

__ADS_1


Dada Nathan dan Varen serta anak buah mereka yang berada dekat dengan dua Tuan Muda dan satu Nona Muda


mereka pun rasanya lega saat perbantuan nafas yang diberikan Nathan pada sang istri berhasil.


“Vi!” Nathan memekik lirih lalu memeluk Kevia dengan spontan.


“J-o...” Kevia melirih pelan setelah mengeluarkan sedikit air dari mulutnya. Hingga kemudian ia terisak karena bahagia bisa selamat dan diselamatkan oleh sang suami.


Nathan memeluk Kevia dan mengelus – elus punggung Kevia untuk menenangkan istrinya itu.


“Tarik nafas pelan – pelan dan hembuskan perlahan Via” Ucap Nathan dengan lembut.


“Carikan air minum!”


“Baik Tuan!” Sahut salah seorang anak buah Varen yang berlari dengan cepat menuju mobil karena memang ada air mineral botol yang selalu tersedia didalamnya.


“Vi... Drea mana? ... Apa Andrea disandera bersama kamu?...” Tanya Varen dengan suara yang pelan namun sarat menuntut akan jawaban Via.


“I ... ya...”


“Lalu?! Mana?! Mana Drea?! Kenapa kalian tidak bersama?!”


Varen sangat gusar.


“Drea.. masih berada diatas kapal saat dia suruh aku untuk loncat duluan, Kak...”


“Apa??”


“Ma-af Kak... Via ga bisa bantu Drea..”


Via terisak Nathan mengelus – elus lengan Kevia.


“Drea menyandera Dilara, dan wanita itu masih dicengkram Drea saat aku loncat”


“Ya Tuhan Little Star ...” Varen mengusap wajahnya dengan kasar. “AM-...”


“TUAN SEPERTINYA ADA SATU ORANG LAGI DALAM AIR! LIHAT!”


Varen spontan berdiri saat mendengar salah seorang anak buahnya berteriak sambil menunjuk lagi ke arah perairan yang agak jauh.


Namun nampak jelas ada benda yang terombang – ambing diatas air, yang menyerupai tubuh manusia.


“TAPI SEPERTINYA SUDAH TIDAK BERNYAWA TUAN!”


Demi Tuhan Varen sudah benar – benar tak karuan. Campur aduk sudah perasaan tak mengenakkan dalam hatinya sekarang.


Nathan dan Via pun sama takut dan khawatirnya dengan Varen. Nathan membantu Kevia untuk berdiri dan tubuhnya sudah dibalut dengan jaket yang dikenakan Nathan.


“CEPAT PERIKSA TUNGGU APALAGI! AMBIL SPEED BOAT YANG ADA!”


Varen sudah sibuk mengerahkan perintah dan bergerak cepat ke arah speed boat yang tertangkap mata.


“Bawa Via keluar dari sini Tan!” Varen berbicara cepat pada Nathan.


“Tapi Drea Bang..” Nathan ragu untuk pergi karena sangat mengkhawatirkan Andrea.


Tetapi sepertinya Varen tak memperhatikan sahutan Nathan, karena dirinya sudah sibuk sendiri bersama orang - orangnya.


Sementara Kevia yang mendengar kalau ada jasad di air dan katanya sudah tak bernyawa makin melirih dalam isakannya.


Via takut hal yang buruk terjadi pada Andrea. ‘Jangan Andrea Tuhan.. jasad itu tolong jangan Drea... Aku mohon..’ Batin Via yang melirih dalam.


“VIA!”


Daddy Dewa dan Papi John yang berlari dari arah mereka tadi sama – sama berseru saat melihat Kevia yang tubuhnya benar – benar basah dan wajahnya yang pucat.


“Syukurlah Sayang...” Ucap kedua Daddy tersebut sembari mengusap kepala dan lengan Kevia. “Ada apa?!” Tanya Daddy Dewa yang melihat kepanikan Varen. “Apa Drea bersama kamu Via?!” Tanya Daddy Dewa lagi.


Kevia mengangguk lalu Nathan mengulang apa yang tadi Kevia beritahukan padanya dan Varen. Juga  tentang jasad yang sedang ingin dipastikan oleh Varen yang sudah menaiki sebuah speed boat dan melaju kencang ke tempat jasad yang mereka lihat.


Tak ayal lagi Daddy Dewa dan Papi John langsung gusar dan ketakutan sembari menutup mulut mereka.


Menunggu dengan sangat cemas, khawatir juga takut perihal jasad yang ditemukan itu.


**


Andrea sudah bagian paling atas yacht pribadi milik Dilara.


Andrea memperhatikan dengan cepat sekelilingnya. Ternyata bagia atas yacht pribadi milik Dilara itu tidak lowong.


Ada beberapa kursi santai disana. Dan ternyata ada beberapa orang diatas yacht itu selain dirinya, Dilara dan orang – orangnya.


‘Ya Tuhaan ...’


Andrea membatin prihatin dengan apa yang dilihatnya.


Ada tiga orang dibagian paling atas yacht tersebut. Dan ketiganya adalah gadis muda seperti Andrea.


Tapi yang membuat miris adalah, ditangan mereka seperti ada ikatan yang dibuat untuk menyuntikkan sesuatu yang Andrea yakini sebagai ritual para pemakai narkoba.


Andrea tidak memperhatikan wajah – wajah tiga gadis tersebut yang sepertinya sedang ‘fly’.


Begitu kalau ga salah istilahnya yang Andrea tahu jika seseorang pecandu habis menggunakan barang yang membuat mereka candu itu.


“MAU KEMANA KAMU SEKARANG, HAAH??!!”


Perhatian Andrea dengan cepat teralih setelah mendengar suara pria berbicara barusan.


Hampir saja ia lupa dan lengah pada tiga pria anak buah Dilara yang tersisa di yacht tersebut.


Ia juga melirik pada dua kapal yang sedang menuju ke arah yacht tersebut yang Andrea yakini adalah anak buah Dilara juga.


Dan lumayan membuat hati Andrea ketar – ketir.


Kalah jumlah dengan telak. Andrea menduga dengan yakin. Tapi sudah Andrea akan menghadapi tiga orang ini


dulu saja. Dan sepertinya yacht tempat Andrea berada ini sedang berhenti karena sisi kanan dan kiri tidak terlihat terlalui.


Hanya sedikit bergoyang karena mungkin diakibatkan oleh ayunan air dibawah yacht.


“CIH!”


Andrea berdecih sinis.


Empat orang anak buah Dilara itu sudah mengepung Andrea.


Satu orang maju untuk menyergap Andrea.


Yang tentu saja tidak berhasil karena Andrea langsung mengayunkan kakinya untuk menendang pria tersebut dengan sangat keras hingga pria itu ambruk seketika dan tak menunjukkan respon untuk bangun, setelah terpental ke reling bagian atas yacht dan punggungnya terhantam dengan keras.


“Ga belajar dari pengalaman!” Gumam Andrea sembari menyungging sinis pada pria yang langsung terkapar


menelungkup itu.


Membuat tiga rekannya yang lain pun geram dan maju bersamaan. Tapi Andrea yang tetap dalam posisi siaga


setelah memberikan satu serangan tadi sudah mengepalkan tinjunya dan kakinya sudah membentuk kuda – kuda.


Syut!


Andrea mengayunkan tubuhnya  dengan merunduk untuk menghindar kala satu pria hendak menyergapnya.


Kemudian Andrea sedikit merunduk lagi lalu mengayunkan tiga tinjunya dengan cepat pada pria yang hendak


menyergapnya barusan.


Dua rekan pria itu langsung maju dengan geram untuk membekuk Andrea setelah melihat temannya ambruk akibat


ditinju Andrea.


Namun dengan cepat juga Andrea menghindar, lalu mengayunkan satu kakinya menyapu lantai dibawahnya dan dua orang yang lain pun langsung jatuh didepannya, karena sapuan kaki Andrea menyambar kaki mereka.


Perkelahian sengit pun dengan cepat terjadi karena satu orang yang tadi Andrea tinju perutnya kemudian bangkit kembali dan ikut menyerangnya bersama dua temannya yang sempat jatuh tadi.

__ADS_1


Andrea tidak kalah cepat untuk menghindar, merunduk, meninju lagi bahkan berguling untuk menghindar.


TASH!


Andrea menangkis tangan salah satu pria dari empat orang yang ingin melumpuhkannya itu dan kini tersisa tiga orang.


Dengan secepat kilat hantaman sisi tangannya sampai ke batang leher si pria yang membuatnya kelojotan dan sempoyongan lalu ambruk.


‘Heh! Ga sia – sia sering nonton IP Man!’ Batin si Juleha bangga sendiri.


Perkelahian tetap berlanjut dengan dua orang lagi.


Greb!


Andrea diringkus dengan cepat dari belakang oleh salah seorang dari dua yang tersisa, dan temannya sudah bersiap juga didepan Andrea untuk meringkusnya.


Tapi Andrea tidak diam begitu saja.


Andrea mengangkat tubuhnya sendiri lalu mengayunkan kedua kakinya dan mendaratkan satu tendangan tepat di


atas kepala orang didepannya yang seketika langsung ambruk tak berdaya.


Greb!


Tangan Andrea yang bebas meraih dengan cepat kepala orang yang memegangi tubuhnya dari belakang lalu


membantingnya dengan keras ke depannya hingga punggung orang tersebut jatuh menghantam lantai dan langsung juga melayangkan bogem mentah yang bertubi – tubi ke wajah pria tersebut.


Andrea berhenti saat wajah pria itu sudah babak belur dan berdarah – darah, juga sepertinya sudah tak sadarkan


diri seperti pria yang satunya, yang kepalanya terkena hantaman kaki Andrea dengan telak.


Satu orang yang pertama dilumpuhkan Andrea juga terlihat belum bergerak.


Namun yang satunya masih sadar, hanya saja dia meringkuk sambil memegangi lehernya dan terdengar merintih kesakitan.


Andrea masih berdiri dengan memasang kuda – kuda sembari memperhatikan empat orang anak buah Dilara yang


sudah berhasil ia lumpuhkan tersebut.


Masih berjaga – jaga jika ada kemungkinan mereka bangkit dan berusaha menyerang untuk menangkapnya lagi.


Peluh sudah mulai bercucuran di dahi Andrea. Cukup besar tenaga yang ia kerahkan untuk melawan orang - orangnya Dilara yang kesemuanya adalah pria.


Andrea tetap berusaha mengatur nafas agar jangan sampai kelelahan dulu hingga lengah saat ini. Karena Andrea berpikir kalau ia mungkin saja masih membutuhkan tenaganya, jika ada tambahan serangan dari orang - orangnya Dilara yang menyusul.


Setelah merasa yakin kalau empat anak buah Dilara itu tidak akan bangkit lagi. Andrea tak lagi memasang kuda


– kuda.


‘Ah nanti saja!’


Andrea membatin setelah menoleh pada tiga gadis muda yang sepertinya masih dalam pengaruh obat – obatan


terlarang yang Andrea bisa yakini jenisnya dengan melihat cara mereka memakai obat – obatan tersebut.


‘Empat orang .... seingat gue tiga sisanya. Salah satunya mungkin yang mengemudikan yacht ini’


Andrea mengangguk sendiri lalu hendak turun ke bagian kemudi yacht, namun langkahnya terhenti.


“An.... An-drea ...? ....”


Karena sebuah suara yang memanggil namanya dengan nada lemah.


“TARA?!!!”


Andrea sontak menghampiri gadis yang memanggilnya dengan lemah tersebut lalu melayangkan pandangannya ke


tempat dimana ia melihat tiga gadis tadi.


Sisa dua orang. Berarti salah satunya adalan Tara. “Ya Tuhan Tara!”


Andrea ingat kalau Ammar pernah melaporkan bahwa orangnya Abang mendapatkan gambar foto Tara di sebuah


Hotel dimana dia, Via dan Niki membuntuti Dilara.


“Apa yang terjadi Tara?!” Tanya Andrea yang menopang tubuh Tara yang nampak lemah dan kacau itu. Andrea


melirik ke lengan Tara dan ada tanda suntikan disana.


“Per-gi An-drea...” Lirih Tara yang nampak lemas itu, namun ia masih berdiri dengan dipegangi Andrea.


Andrea menduga – duga jika Tara juga menjadi korbannya Dilara.


Karena seingat Andrea, dia mendengar Abang bicara waktu itu kalau keluarganya Tara sudah lama tidak mendengar kabar dari gadis tersebut setelah ia pamit untuk tinggal di luar kota setelah mendapatkan pekerjaan disana.


“Per-gi An-drea... per-gi da-ri si-ni ...”


“Aku akan menyelamatkan kamu juga Tara!”


Tara menggeleng.


“Ce-pat per-gi ... hati – hati ... ada G- ...”


“Akh!”


Andrea memekik saat ia merasakan sesuatu seperti jarum menusuk tengkuknya. Andrea pun spontan berbalik.


“An-drea! .....”


“KAMU!!!!”


Andrea membelalak kaget sembari memegangi tengkuknya.


“APA YANG KAMU LAKUKAN HAH?!”


Andrea berteriak namun orang yang berada di hadapannya itu menyeringai licik.


“Menjadikan lo perempuan murahan!” Orang itu bersuara kemudian.


“MEMANG LO PEREMPUAN SIALAN!”


Greb!


Andrea dengan cepat memegang leher perempuan di depannya itu dan mencengkeramnya.


“LO!.... Lo ...” Andrea menggoyangkan kepalanya. Sejenak pandangannya mulai kabur. ‘Ini, ini kenapa ...?’


Andrea merasakan tubuhnya mulai lemas. Sangat lemas, hingga tangannya terlepas sendiri dari wanita yang


ia panggil perempuan sialan tadi.


“L-o...”


Andrea ambruk diatas lututnya


“A-pa yang ..... l-o ... la-ku-kan...”


Tubuh Andrea dirasakannya lemas seolah tak bertulang, hingga dirinya benar – benar ambruk kesamping dan


pandangannya benar – benar sudah mengabur.


“An-drea! .....”


Mata Andrea perlahan mulai terpejam tanpa sanggup ia tahan, hingga perlahan ia hilang kesadaran.


Hanya sayup – sayup pekikan Tara yang sempat Andrea tangkap di telinganya.


“Le-paskan dia! .... Gi-ta!...”


Andrea benar – benar hilang kesadaran.


**

__ADS_1


To be continue....


__ADS_2