
♥♥ TUTTO per ME ♥♥ Segalanya Bagiku
Selamat membaca .....
♥♥♥♥
“Jahat kamu, Pi..... Jahat ...” Prita terisak dalam lelapnya, hingga rasanya ia semakin dalam terlelap.
“Maaf ... Sugar...”
Meski samar, suara yang sampai ditelinga Prita itu mampu menjadi alasan Prita tersenyum dalam tidurnya.
“Aku kembali Sugar.....
Sudut bibir Prita melengkung. Dalam tidurnya ia mungkin sedang bermimpi. Dalam rindunya ia mungkin sedang berhalusinasi.
‘Aku mendengar bisikan persis seperti suaramu malam ini. Ingin rasanya aku berbalik, tapi aku takut kalau aku kecewa dalam kesendirian. Mungkin itu hanya suara hati aku, Pi.. yang kupikir adalah suara kamu, karena terlalu berjuang menahan rindu.’
“I Love you....”
Sudut bibir itu masih melengkung. Tidurnya terasa begitu nyaman malam ini. Seperti bersandar pada sebuah dada bidang yang selama ini selalu menjadi sandarannya.
“I Love you too, Pi..” Prita menggumam, namun matanya masih terpejam. Hanya saja ada sebulir air mata yang
jatuh dipipinya. Antara bahagia tapi juga ada yang seperti meremas hati Prita. Rangkulan yang merengkuh pinggangnya itu kian erat, bersamaan harum tubuh yang sering ia hirup di setiap kali ia bersama si pemilik hatinya.
“Thank you.. terima kasih karena tak berhenti mencintai aku .. maaf, telah menyakitimu... membuat kamu menderita seperti ini ..”
Mata Prita mengerjap pelan, perlahan tidurnya terusik. Mimpi yang indah itu terlalu mengusiknya. Tak ingin ia tinggalkan jika matanya terbuka, namun jika terus – terusan mungkin tangisnya bisa pecah. Harapnya terlalu besar dan Prita takut harap itu hanya sebuah kekosongan.
“Aku cinta kamu Pi.. sampai mati pun akan begitu.” Perlahan mata Prita terbuka, bersamaan sebulir air matanya yang menetes lagi. Prita menghapusnya, kini ia sudah terbangun dari tidurnya. Satu tangan Prita terulur spontan keperutnya. Dimimpinya tadi tangan John melingkari perut itu seperti biasanya.
“Akupun begitu, Sugar...”
Prita terhenyak, sekaligus tercengang. Ia tak menyentuh kain dari baju yang dipakainya, melainkan sebuah benda kokoh yang ia kenal setiap lekuknya.
Benda kokoh, yang selalu merengkuhnya seperti ini, bersamaan dengan suara yang juga begitu ia kenali, hanya sedikit lirih suara itu terdengar saat ini. Punggungnya pun tak terasa bebas, tertahan oleh sesuatu yang mampu menyamankan nya selama ini. Dan juga. ada yang sedang bertumpu sedikit dikepalanya, seiring kecupan lembut namun tak berselang menyentuh pucuk kepalanya.
Ragu – ragu Prita mendongak, diantara harap dan takut jika saat ia melakukan itu, semuanya hanya ke - semuan
belaka.
‘Kaulah Bentuk Terindah, Dari Baiknya Tuhan Padaku’
Wajah itu ada begitu nyata saat Prita mendongakkan kepalanya.
Tersenyum dengan teduhnya dengan mata yang berkaca – kaca.
“Papi .. apa... ini... mimpi....?...”
Air mata Prita kini kian mengucur dalam dongak nya. Wajah diatasnya menggeleng bersamaan sebulir air mata yang jatuh dipipi wajah rupawan itu.
“Bukan.. Sugar.. Aku pulang....” Wajah itu bersuara sembari menyentuh wajah Prita yang masih sedikit mendongak itu. “Aku pulang Sugar ... untuk si kembar .. dan untuk kamu...”
“Pa...pi........”
Tubuh Prita bergetar kencang, seiring isakannya yang begitu lirih terdengar. Si kembar yang berada disamping Prita juga nampak mulai terusik dengan tangisan sang Mami, namun Prita bahkan tak menyadarinya. Ia sendiri bahkan seolah membeku diposisinya. Hanya tubuhnya yang kian bergetar dan isakannya yang semakin kencang.
“Hush now Sugar.... ( Jangan menangis Sugar ).. Aku disini ... tidak akan kemana – mana lagi....”
**
‘Kita ga akan ketemu Daddy lagi ya Ma?.’
‘Apa benar Daddy sudah pergi ke surga?.’
Jihan setengah terbangun dari alam sadarnya saat sempat terlelap tadi saat me nina bobo kan Nathan yang tiba – tiba datang ke kamarnya, yang ingin tidur bersama sang Mama.
‘Setiap malam Nathan dan Abang berdoa sebelum tidur. Nathan sama Abang juga berjanji akan rajin beribadah, jadi doanya Nathan dan Abang bisa langsung dikabulkan , supaya semua Daddy ada lagi disini.’
‘Nathan dan Abang janji akan jadi anak baik pada Tuhan. Supaya dia, kembalikan lagi semua Daddy kesini dari surga ..’
Tangisan Nathan dan pertanyaan buah cintanya dengan Jeff terputar lagi diotak Jihan. Ia berbaring terlentang dengan satu tangan yang menutupi kedua matanya.
Percakapan Jihan sebelum tidur dengan putra semata wayangnya itu kembali terputar lagi dikepalanya. Tangannya
tak lagi hanya menutupi matanya, namun sudah menutupi wajahnya. Hatinya terasa diremas lagi dengan kuat hingga rasanya ia sulit bernafas. Jihan kembali luruh, namun ia takut membangunkan Nathan.
__ADS_1
Sejak insiden beberapa waktu lalu, seperti para wanita lain ia pun rasanya hancur, namun berusaha tegar demi
anak – anak. Tapi setiap kali ia sendirian, pertahanannya pun seringnya runtuh. Duka itu tak terelak, sakit akan luka itu begitu hebat. Dan ucapan Nathan tadi begitu mempengaruhi emosi Jihan.
“Bantu aku Papa Bear... bantu aku... jika aku harus bernafas tanpa kamu...” Jihan menggumam pelan dalam tangisnya. Tangis yang terdengar terputus – putus diantara sesak dan tak ingin mengganggu tidur Nathan. Namun getar dibahunya akibat isakan sulit untuk ia
tahan.
“Mama Bear ..”
Sebuah suara membuat Jihan menghentikan isakannya.
“Jangan jahat, Papa Bear.... jangan siksa aku walau hanya dengan suara ..” Jihan menggumam pelan. “Aku sudah
cukup merasa sakit dengan ketiadaan kamu...” Gumamnya lagi. Merasa mungkin dia terkena sindrom halusinasi seperti halnya Fania yang waktu itu sering ia pergoki berbicara sendiri, kala istri Andrew itu sedang menyendiri saat wanita itu masih berada di Save House.
“Maafkan aku....”
Jihan terhenyak suara itu kian dekat, sangat dekat seperti ada diatas wajahnya yang sedang ia tutupi dengan kedua tangannya itu. Suara yang ia rindukan namun sedikit parau dan pelan itu, seperti benar – benar ada. Apa halusinasi senyata ini?. Jika iya, pantas saja Fania selalu melakukannya. Berbicara sendiri, bahkan kadang tersenyum sendiri. Kalau memang iya, tak apa. Jika halusinasi senyata ini, dibilang tak waras pun tak apa.
“Apa kamu begitu membenci aku, Mama Bear.... sampai tak ingin melihat wajahku?...”
Jihan perlahan membuka kedua tangan yang menutupi wajahnya.
“Karena aku, begitu .. merindukan wajah ini .. disetiap incinya ..”
Suara, wajah, bahkan hembusan nafasnya yang ia dapati kala tangan Jihan terlepas dari wajahnya, membuat Jihan terpaku kelu. Belaian lembut diwajahnya dari jemari sosok yang kini sedang menatapnya bukan membuat Jihan tersenyum namun malah sebaliknya.
Tangis yang tertahan tadi, kini sudah tak bisa lagi ia tahan. Air mata yang tadinya hanya turun perlahan itu kini kian meluncur cepat dan deras.
Tubuhnya sudah setengah terangkat, terduduk dalam pelukan erat sosok yang teramat ia nantikan.
“Kamu kurusan Mama Bear ..” Jihan kian luruh, kala sosok itu makin mendekapnya. Kemudian mengecupi setiap
inci wajahnya yang sudah banjir air mata itu. “Maafkan aku... maafkan aku, Mama Bear....”
“Daddy ..??? ...”
Suara seorang bocah membuat dua orang yang berpelukan dalam tangis itu spontan membuat keduanya menoleh ke sumber suara.
“DADDDYYY!!!....”
“Nathan .. sayang.... Jagoan Daddy ...”
“Daddy jangan pergi lagi.. Nathan sama Mama ikut kalau Daddy pergi.. Jangan pergi - pergi lagi Daddy... Nathan janji ga nakal lagi...”
***
“..........”
‘Ah, sepertinya aku mendengar suara Nathan???.’
Mom setengah terhenyak dan tersentak dari tidurnya.
“Andrea?..” Mom yang melirik kearah sampingnya itu menjadi terkejut karena Andrea yang sebelumnya tadi tidur
bersamanya, kini gadis kecil yang merupakan buah hati Andrew dan Fania itu sudah tidak ada.
Mom langsung bergegas turun dari ranjang, dan melihat pintu kamarnya terbuka.
Andrea memang mulai sering terbangun tengah malam sejak Mommanya keluar dari Save House. Hera pernah memberitahukannya hal itu. Malam ini Andrea bilang ingin tidur bersama Gamma nya dan tentu saja Mom mengiyakan.
Selain Mom tak tega pada cucu perempuannya yang kerap selalu bilang betapa ia merindukan Poppa dan Mommanya, selain itu Andrea juga menjadi pengobat rindu pada putra dan menantunya yang tak kunjung datang.
Jika Varen, Valera dan Nathan masih beruntung, karena ibu mereka tetap ada ditempat yang sama dengannya tanpa ayah mereka, tapi tidak dengan Mika dan Andrea. Mika mungkin belum merasakan betul ketiadaan ayah dan ibunya, meskipun ia seringnya menjadi rewel saat mungkin tengah mencari keberadaan Michelle dan Dewa, ayah dan ibu yang sudah lama tidak ia lihat, namun Mika mudah ditenangkan.
Tapi tidak dengan Andrea. Selain gadis berusia sekitar lima tahun itu super aktif seperti sang Momma, namun tangisnya pun lebih lama daripada Mika jika dia sudah menanyakan Poppa dan Mommanya.
Hera bilang, sejak Fania dan Michelle pergi, Andrea yang tidur di kamar yang sama dengan Varen dan Nathan, karena gadis kecil itu sendiri yang memintanya, kerap terbangun tengah malam dan menyelusup ke kamar orang tuanya, yang waktu ia sering tiduri bersama sang Momma sejak Poppanya tak kunjung jua datang.
“Poppa .. Momma .....”
“Andrea?.”
Mom sudah melebarkan pintu kamarnya. Ia buru – buru karena rasanya ia mendengar Andrea terisak.
‘Kasihan Andrea, pasti dia teringat Andrew dan Fania lagi.’ Batin Mom sambil menghapus sebulir air matanya.
__ADS_1
Langkah Mom terhenti saat baru satu langkah ia keluar dari kamarnya, isakan Andrea yang didengarnya itu memang benar. Gadis kecil itu memang sedang terisak. Namun yang membuat Mom begitu terpaku adalah, Andrea tak sedang menangis sendirian.
Gadis kecil milik Andrew dan Fania itu menangis dalam gendongan seseorang berikut dengan satu orang lainnya
lagi yang amat ia kenali, pun ia rindukan. Sambil memegangi dan mengusap lengan Andrea yang sedang digendong seraya didekap oleh sosok bertubuh tegap yang ia kenal dengan sangat, sejak ia lahir kedunia.
“Mom.... apa Mom sehat – sehat?..”
Sosok itu menyapanya.
“An – An.. And-re-w ???...... Fa –.. Fa-ni-a ??? ....”
Dua sosok yang ia sebut namanya itu pun tersenyum.
“Iya Mom, kami pulang.”
Mom menutup mulutnya spontan bersamaan dengan tangisnya, diwajah Mom yang nampak pucat tanpa make up, semakin bertambah pucat karena beberapa waktu belakangan duka itu menghapus rona bahagia diwajah cantiknya.
“An-drew.... ini.... benar kamu .... Nak ......?.”
“Iya Mom, ini Andrew .....” Andrew menyahut pelan sambil menghapus air mata dipipi Mom dengan satu tangannya, karena yang satunya memegangi Andrea.
“Ohhhh Andreeeewwww.....”
Mom luruh dan setengah histeris melihat putranya itu lagi sambil menangkup wajah Andrew dengan kedua tangannya. Andrew setengah memeluknya, Fania juga memeluknya.
“Jangan menangis Mom, kami sudah pulang. Kami semua sudah kembali..”
“Ohhh Faniaaaaa ........”
Mom terus terisak dan kini menyentuh juga wajah menantunya itu.
“Mom pikir .. Mom kehilangan kalian berdua..” Ucap Mom terbata disela tangisannya. “Mom pikir .. kalian semua tidak akan pernah kembali .. “ Ia menangis dalam dekapan Fania.
“Kami kembali Mom, kami semua..” Ucap Fania sambil mengelus – elus lengan Mom. Dan tiba – tiba Mom teringat seseorang.
“Apa.. Dad .... “
“I’m here, My Love.. ( Aku disini, Sayang )......”
Andrew dan Fania sedikit menyingkir.
“Anth- ......”
Mom menutup lagi mulutnya. Kalimatnya tak ia selesaikan kala sosok paruh baya yang masih nampak tampan dan
gagah itu sudah berdiri didekatnya, memberikan senyum menawan favoritnya.
“You .. comeback.. Anthony .. ( Kamu .. kembali.. Anthony .. ).” Tubuh Mom yang lunglai itu hampir saja merosot ke lantai jika Fania tidak memeganginya. Andrew pun juga berusaha memegangi Mom. Dad pun langsung mendekati tubuh yang nampak ringkih itu dan meraihnya. “You comeback .... ( Kamu kembali )....”
“Of course, I come back .. Erna, My Love.. ( Tentu saja, aku kembali, Erna, Sayangku.. ).. Because you are my home ( Karena kamulah tempat aku pulang )..”
Dad membawa Mom yang begitu luruh itu dalam pelukannya.
“How can I bear if you have to live without me ..? ( Bagaimana aku tega jika kamu harus hidup tanpaku..? )..”
Mom tak lagi berkata, hanya tangisnya saja yang semakin kencang nampak jelas terlihat dari tubuhnya yang berada dalam pelukan Dad itu bergetar hebat, dan wajahnya hampir tertutup air mata.
Dad pun kian tercekat. Membawa kembali kekamar dan mendudukkannya disofa tanpa melepaskan pelukannya dari wanita yang sudah menemani dirinya selama puluhan tahun, baik suka maupun duka.
“Forgive me, Erna.. please no more crying.. because your every tears will make me drowned in my guilty feeling to you ( Maafkan aku, Erna.. tolong jangan menangis lagi.. karena setiap air matamu akan membuatku tenggelam dalam rasa bersalah ku padamu ) ..”
Dad menopangkan kepalanya dengan lembut diatas kepala Mom. Merasakan tubuh Mom yang masih bergetar dalam pelukannya.
“I Love you, Anthony ....”
“I Love you more, Erna..”
Dad makin mengeratkan pelukannya.
“Jangan pernah lagi seperti ini Anthony, jangan pernah lagi meninggalkan aku seperti ini lagi..”
“I won’t .. ever.. ( Tidak akan.. tidak akan pernah lagi ).. even if the world divide two, I won’t move from you ( meskipun dunia terbelah menjadi dua, aku tidak akan beranjak darimu ).”
***
To be continue...
__ADS_1