THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 207


__ADS_3

PREROGATIF


Selamat membaca ...


************************


Beberapa hari berlalu


Jakarta, Indonesia


“Kak Andrew.” Mami Prita bersuara. Masih dimeja makan dengan beberapa orang yang hari ini nampak belum


kelihatan beraktifitas.


“Hem?. Kenapa?.”


“Itu ga apa – apa, si Drea masih deket sama Arya?. Kalo Abang tau ga apa – apa emangnya?.”


“Memang kenapa?. Mereka hanya berteman kan?.”


“Ya kan Drea sekarang itungannya udah jadi pacarnya Abang.”


“Ya tidak ada salahnya kan Andrea punya teman meskipun sudah jadi pacar anaknya si R itu?. Fania berteman


dengan Vla, Bry dan Arman dulu dan setelah bersama gue juga mereka masih berteman. Dengan beberapa laki – laki di FC pun gue ga masalah.”


“Iya sih. Tapi kayaknya si Arya tuh suka ya sama Drea?.”


“Wajar lah banyak yang suka sama anak gue. Cantik begitu seperti Mommanya. Belum lagi Poppanya yang mempesona. Perpaduan yang indah dalam diri Andrea juga Rery.” Sahut Andrew santai namun terdengar pongah, membuat yang mendengar memutar bola mata mereka malas.


Prita geleng – geleng malas. “Aer laut siapa yang ngasinin?.”


“Haknya si Arya mau suka sama Drea. Toh ga mungkin Drea selingkuh juga dari Abang.” Timpal Daddy Jeff.


“Betul itu. Kalian sendiri tahu anak gue itu cinta mati sama anaknya si R. Lagipula sebelum pacaran, Abang juga tahu kan kalau Drea suka diantar dan dijemput Arya?. Abang juga kenal Arya dan Sony sejak mereka kecil.”


“Ya iya sih. Tapi dari penglihatan aku, sekarang kayaknya Arya agak gencar deketin Drea.”


“Mereka hanya berteman kan, Than?. Ga pernah sempat pacaran, atau sedang pacaran saat Abang belum menyatakan perasaannya pada Andrea?.“


“Yap!. Tapi setahu aku si Arya sudah nembak Drea.” Sahut Nathan menjawab pertanyaan Poppa. “Tapi ya Dreanya biasa aja. Bener itu kalau si Drea memang cinta mati sama Abang. Kalo engga udah banyak mantannya kali.”


“Nah ya sudah, toh nanti juga Arya akan mundur dengan sendirinya setelah pesta ulang tahun Drea.”


“Iyalah. Mau mati dia kalau masih gencar si Drea?.” Timpal Daddy Jeff atas ucapan Poppa barusan.


“Anak lo berubah pikiran ga tuh, R?!.”


“Heh, Donald Bebek! Lo ga berkaca diri sama si Abang?. Dia itu refleksi gue, elo, dua J, Dewa, bahkan Lucca sekarang. Mana dia ga pernah serius sama kata – katanya?. Apalagi soal Andrea.” Sahut Daddy R.


“Ya who knows?. ( Ya siapa tahu? ). Dia berubah pikiran. Human ( Manusiawi ). Gue pun bisa memahami.”


"As I said ( Seperti yang gue bilang ), macam kitalah. Apa yang sudah menjadi keputusannya, terlebih tentang Little Star, tidak akan pernah berubah. Toh sudah dari dulu kan Abang selalu bilang pada kita, kalau dia tidak akan pernah membiarkan Andrea pergi dari sisinya?"


"Ya gue ingat."


“Terus Abang hari ini pulang jam berapa?. Jadi pulang kan?. Masa dia melewatkan acara ulang tahun Drea besok


karena pekerjaannya?.” Ucap Mami Prita.


“Entah nih, dia belum memberi kabar. Waktu itu sih dia bilang selambat – lambatnya Jum’at pagi sudah berada disini.” Sahut Daddy R lagi. Mami Prita pun manggut – manggut. “Ga akan mungkin dia melewatkan acara ulang tahun Drea. Dia sendiri yang mengaturnya kan?. Bukan begitu, besan?.”


“Hahahaha...” Poppa sontak tergelak berikut para Daddies yang sedang bersamanya.


**


“Little Star...”


“Ya Abang...”


“Setelah ini, kamu jangan hubungi Abang dahulu sebelum Abang menghubungi kamu ya?.”


“Abang sibuk banget ya?.”


“Lumayan.”


“Seharusnya Abang istirahat dulu saat sampai jangan langsung bekerja. Nanti Abang sakit, malah Abang ga datang ke Pestanya Drea.”


“Abang pasti datang ke Pesta kamu. Abang tak pernah ingkar janji pada kamu, kan?. Jadi jangan meragukan Abang.”


“Ya udah iya..”


Andrea sedang duduk termenung didalam kelasnya. Sesekali melirik ponselnya.


‘Abang sibuk apa sih?. Masa dari kemarin ponselnya ga aktif?. Jadi pulang ga sih hari ini?. Awas aja kalo engga.’ Andrea membatin sambil memandang sebal ke ponselnya.


Sisa satu pelajaran lagi dan gurunya berhalangan hadir, jadi Andrea dan teman – teman sekelasnya diberi tugas, tapi Neng Drea sedang tidak mood mengerjakan tugasnya, akibat Varen yang susah dihubungi sejak kemarin.


‘Tapi terakhir Abang bilang, diusahakan Kamis atau Jum’at pagi selambatnya datang. Tapi kenapa ponselnya ga diaktifkan coba...? Abang ... Abang ga selingkuh kan dari Drea?...’


Andrea memainkan bandul kalungnya.


‘Awas aja kalau berani selingkuh!. Drea patahkan tulang Abang!. Drea mutilasi selingkuhan Abang!.’


KREEEK..

__ADS_1


Suara benda dipatahkan terdengar dari satu tangan Andrea.


“Dr-ea ...” Teman disebelah Andrea memanggilnya dengan suara yang nampak gugup.


“Apa?!.” Sahut Andrea ketus sambil menoleh dan melotot padanya.


“Eng – ga apa – apa... gue Cuma tanya... sorry sorry...” Sahut teman Andrea dengan cepat melihat wajah Andrea yang seketika berubah horor.


Seketika suasana kelas yang tadinya sedikit ricuh itu jadi sunyi akibat mendengar suara Andrea yang sedikit kencang dan ketus. Maklum, track record Andrea yang pernah menghebohkan sekolah saat kelas satu masih teringat jelas dimemori teman – teman seangkatannya, yang beberapa juga kembali sekelas dengan Andrea di tahun terakhir mereka.


Masih dan akan selalu mereka ingat kalau Ketua Osis mereka yang sebentar lagi lepas jabatan itu anaknya Thanos atau Hulk, karena bisa menghajar habis – habisan kakak kelas yang pernah mencoba menyerang dirinya.


“Gue... ga nyinggung ... elo kan...?...” Tanya teman Andrea itu ragu – ragu, karena melihat Andrea mematahkan pulpen ditangannya, berikut wajah Andrea yang nampak kesal.


**


Waktu terasa lama bagi Andrea dari sejak ponsel Varen sulit dihubungi. Dan akhirnya waktu pulang sekolah sudah tiba. Tidak ada kegiatan tambahan hari ini di Sekolah, jadi bisa sampai rumah lebih awal.


Drea berpamitan pada temannya untuk keluar kelas lebih dulu, karena ingin cepat – cepat sampai rumah. Pengen rebahan, sambil lagi mencoba menghubungi Varen. Selain perutnya terasa keroncongan.


“Hai!.” Sebuah suara sapaan mengejutkan Andrea, karena sosok si pemilik suara tau – tau nongol didepannya.


“Loh Kak Arya?.”


“Sendirian?. Biasanya keluar bertiga?.” Tanya Arya yang biasanya melihat Andrea berjalan bertiga dengan temannya. Dan kini Andrea berjalan sendirian, selain sebagian murid - murid lain yang juga sudah berhambur keluar dari kelas mereka.


Arya yang tampan itu memang selalu jadi pusat perhatian setiap kali ia datang menjemput atau mengantar Andrea ke Sekolah.


“Iya, tadi gue pamit duluan. Selesai tugas duluan.”


“Dan tugas kamu pasti lagi di gang bang sama teman – teman kamu ya?.”


‘Eh? ... sejak kapan dia pake aku – kamu ngomong sama gue?.’ Andrea membatin.


“Hey! Malah bengong.” Arya menjentik kan jarinya didepan wajah Andrea yang seketika tersadar dari lamunannya.


“Ah – eh.”


Andrea tergagap, namun kemudian tersenyum.


“Loh bukannya Kak Arya sedang  ada acara seminar di luar kota dan besok baru balik ke Jakarta?. Kok tahu – tahu ada disini?.”


“Karena aku sulit menghubungi kamu.”


“Sulit?.”


“Apa aku begitu mengganggu kamu, sampai kamu memblok nomor aku, Drea?.” Tanya Arya dengan wajah yang sulit diartikan. Andrea mengernyitkan dahinya.


“Apa?. Gue?. Block nomor Kak Arya?!.”


“Ya ampun Kak, gue ga merasa mem-blocked nomor Kak Arya deh. Kak Arya salah kali...”


“Kita bicara sambil jalan bisa?.” Pinta Arya sambil menunjuk mobilnya. “Mau sekalian cari tempat makan dulu ga sebelum pulang?. Aku sedikit lapar soalnya.”


“Iya boleh.”


“Sekaligus aku mau bertanya dan memastikan soal waktu itu...”


“Soal apa, Kak?.”


“Soal kesempatan yang aku minta, buat dekat sama kamu.” Ucap Arya dengan raut wajah yang nampak serius.


“Soal itu ya Kak ... ya ... kebetulan juga sih, lo mengingatkan soal itu. Gue ...”


“Kita bicara di mobil aku, sambil anter kamu balik aja ya?.” Arya menawarkan.


Andrea mengangguk.


“Gue ke Ammar dulu kalau gitu, ya?.”


“Kayaknya supir merangkap bodyguard kamu itu belum datang. Aku ga lihat tadi saat masuk.” Ucap Arya. Andrea manggut – manggut.


“Ya sudah gue telpon Ammar dulu kalau gitu.” Sahut Andrea sambil mengeluarkan ponsel dari saku seragamnya.


“Kita masuk mobil dulu deh ya?” Ajak Arya.


Andrea mengangguk dan berjalan berdampingan dengan Arya.


Tik!.


‘Eh?.’


Andrea sedikit terkejut karena sepertinya pergelangan tangan kirinya tertarik hingga gelang pemberian Arya sebagai kado ulang tahunnya itu menempel pada sesuatu. Andrea spontan mendongak, saat ia lihat gelang pemberian Arya menempel disatu benda yang sama dengan yang dipakai Andrea.


“Kok ...?.”


Arya tersenyum. “Sebenarnya ini gelang couple. Hanya yang aku berikan ke kamu itu aku tambahkan ukiran nama


kamu ...”


“Ha – h ...?.” Andrea benar – benar terkejut. “Ta – pi ...”


“Ini magnetic bracelet ( gelang magnet ).”


Arya mengangkat sedikit tangannya dengan gelang Andrea yang masih menempel digelang yang dipakai Arya.

__ADS_1


“Sengaja aku pesan, ya siapa tahu kita jodoh ya kan?. Siapa tahu juga magnet digelang kamu itu beneran bisa membawa kamu dekat dengan aku meskipun nomor aku sudah kamu blok. Mungkin aja kamu ga sengaja soal itu, ya kan?” Arya terkekeh kecil.


“Iya ... Ta...”


“Little Star ...”


**


“Loh Ammar, kamu ga menjemput Andrea?.”


“Tadi Tuan Varen menghubungi saya agar saya kembali saja ke sini Tuan.” Sahut Ammar yang baru memarkirkan mobil yang biasa digunakan untuk mengantar dan menjemput Andrea kemana – mana, pada Daddy Jeff yang sepertinya hendak keluar bersama Mama Jihan.


“Varen?.”


“Iya Nyonya.” Sahut Ammar lagi dengan sopan pada Mama Jihan. “Tuan Varen bilang dia yang akan menjemput Nona Andrea di sekolahnya.”


**


“Sengaja aku pesan, ya siapa tahu kita jodoh ya kan?. Siapa tahu juga magnet digelang kamu itu beneran bisa membawa kamu dekat dengan aku meskipun nomor aku sudah kamu blok. Mungkin aja kamu ga sengaja soal itu, ya kan?” Arya terkekeh kecil.


“Iya ... Ta...”


“Little Star ...”


“Abang??.”


Andrea menutup mulutnya dengan matanya yang membola, suara ricuh pun terdengar saat para murid yang memang sudah berhamburan karena jam pulang sekolah sudah tiba itu, melihat sosok pria yang nampak lebih dewasa dari Arya, yang sudah sering mereka lihat. Bahkan lebih tampan. Nampak cool dan elegan.


“Ya ampun Pangeran gue ...” Suara kasak – kusuk yang seliweran.


“OMG! Edward Cullen.”


“Cakepan ini. Ga pucet mukanya!.”


Andrea mengabaikan kasak – kusuk yang heboh karena laki – laki yang sedang tersenyum padanya saat ini. Yang tak disangka Andrea akan muncul dihadapannya sekarang.


“Abaaanggggg...”


Andrea spontan berlari ke arah Varen dan memeluknya. Tak memperdulikan yang lain lagi termasuk Arya. Karena Abang selalu bisa mengalihkan dunia Andrea. Aish


Varen memeluk Andrea dengan sembari tersenyum lebar.


“Abang kok ga bilang, mau jemput?. Tahu - tahu udah disini aja?. Terus ponsel Abang kenapa ga aktif sih?.” Cerocos Andrea setengah mencebik setelah melonggarkan pelukannya.


“Iya maaf, mau kasih kejutan.”


Sementara Arya hanya tersenyum tipis melihat pemandangan didepannya.


“Hai Bang Alva.” Arya mendekati Varen dan Andrea. Menyapa Varen dengan berdiri disisi kiri Andrea.


Tik!.


Tangan Andrea dan Arya tertempel secara tidak langsung akibat gelang magnet pemberian Arya di pergelangan tangan Andrea.


Andrea buru – buru melepaskan gelangnya yang menempel dengan gelang Arya. Namun mata si Abang yang jeli itu sempat menangkap pemandangan adegan gelang yang menempel ditangan Andrea dan Arya.


“Hi, Arya...”


Varen menyahut datar dengan tersenyum tipis pada Arya. “Lo baru datang dari Massachusetts?.”


“Begitulah.”


Arya manggut – manggut. “Kalau boleh gue minta ijin sekalian biar gue yang antar Andrea pulang. Kayaknya muka


lo lelah banget, Bang. Gue sama Andrea mau cari tempat makan dulu, ya kan Drea?. Jangan khawatir, gue pastikan gue akan antar Andrea pulang dengan selamat. Gue bakal jagain dia kok Bang.”


“Thanks a lot. ( Makasih banyak ). Tapi gue kesini sengaja untuk menjemput Andrea.”


Varen menoleh sembari tersenyum pada Andrea yang juga nampak tersenyum, namun juga terlihat kikuk.


‘Kenapa aura sekitar jadi ga enak begini ya?.’ Batin Andrea.


“Yuk, Little Star.”


Varen mengacak pelan rambut Andrea, mengajaknya untuk berjalan dan Andrea mengangguk.


“Kak Arya, sorry ya gue pulang bareng Abang.” Pamit Andrea. “Makasih sebelumnya ya Kak. Sorry jadi ngerepotin Kak Arya yang sudah kesini.” Sambung Andrea lagi dengan tersenyum.


“Iya ga apa – apa, Drea. Next time ( Lain waktu ) kan bisa.” Sahut Arya sambil menunjukkan senyumnya pada Andrea.


‘Hell no next time ( Ga akan ada lain waktu ) untuk lo Arya Narendra.’ Batin Varen.


“Bye Kak.” Ucap Andrea sambil mengangkat tangannya pada Arya.


“Bye Drea.”


“Ah, iya.”


Varen yang tadi sudah merengkuh pundak Andrea untuk berjalan menuju mobilnya itu menghentikan langkahnya dan setengah berbalik menghadap Arya.


Andrea ikut menghentikan langkah sambil memandangi sang Abang yang kini sedang menatap Arya dengan tersenyum tipis.


“Lo ga perlu menjaga Andrea. Karena ada gue yang akan selalu menjaga dia.”


**

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2