
▫▫ W A K T U ▫▫
Selamat membaca ..
************************
London, England..
“Beneran bukan karena kamu marah sama Abang?.” Fania memastikan.
“Benar Momma. Kan aku harus membiasakan diri juga jauh dari Abang mulai sekarang. Iya kan Momma?.”
Fania tersenyum pada Andrea sambil mengangguk. “Ya sudah kalau begitu. Momma, Poppa dan Rery pergi dulu
ya?.” Ucap Fania.
“Iya Momma. Salam untuk semua ya Mom.”
“Oke deh Kaka!!! ...”
Sesampainya di Mansion Fania dan Andrew langsung menyambangi Reno, Ara, Dad, Mom beserta Lucca dan Fabiana yang juga ada disana. Sementara Rery sudah berlari menghampiri Valera dan Adrieanna dengan sumringah.
“Drea mana Mom?. Tertidur lagi di mobil?.” Varen baru saja muncul ke ruang makan.
“Drea ga ikut, Bang ....”
“Kenapa?. Drea sakit?.” Tanya Varen cemas.
“Bukan, dia sedang mempersiapkan segala sesuatu buat sekolahnya. Ada project untuk para murid baru katanya.” Andrew yang menjawab. Fania mengiyakan ucapan Andrew dengan anggukan sembari tersenyum pada Varen.
“Apa ..... Drea mempermasalahkan kuliah aku, makanya dia ga mau datang?.” Varen menduga – duga.
“Bukan Abang Varen yang ganteng, memang benar yang dibilang sama Poppa barusan.” Timpal Fania. “Dia bilang nanti telpon kamu kok setelah selesai mempersiapkan segala hal untuk proyek sekolahnya itu. Momma mau bantu aja ga dikasih.” Sambung Fania.
Varen terdiam.
“Udah yuk ah, kita makan.” Ajak Fania sambil menggandeng Varen dengan merengkuh bahu si perjaka yang tingginya sudah menyamai Fania. Bahkan mungkin Varen sedikit lebih tinggi dari Mommanya itu.
*“**You both shouldn’t left her alone at home**. ( Kalian berdua tidak seharusnya meninggalkan dia sendirian di*
rumah ).” Dad bersuara.
“Tak apa Dad, banyak orang di rumah.” Sahut Andrew. “Aku tidak akan meninggalkan putriku tanpa penjagaan dan pengawasan. Seperti baru mengenalku saja, Dad.”
Dad dan Mom manggut – manggut. Semua orang sudah mengambil duduk ditempatnya masing – masing. Hanya
Varen yang belum mengambil duduk.
“Sepertinya Gappa benar.”
Varen bersuara.
“Andrea tidak seharusnya sendirian di rumah.”
“Ada Hera yang menemaninya Abang. Maid juga ada, belum penjaga.”
“Sepertinya, aku tidak ikut makan malam dengan kalian ya?.” Ucap Varen. “Aku akan pergi ke rumah Poppa dan
Momma untuk menemani Andrea disana, aku tak tega. Aku juga bisa membantunya mengerjakan project sekolahnya.”
“Ga apa – apa Abang, lagian Drea juga lagi belajar kan ga tergantung sama Abang.”
“Aku tidak bisa Momma.” Sahut Varen. “Kalau Andrea terlalu berat aku tinggal ke Harvard, maka aku tidak jadi pergi. Seperti ini, dia seolah menghindariku dan aku tak suka.”
“Abang, jangan gitu ah. Kuliah Abang itu penting. Buat masa depan Abang.” Ucap Fania.
“Tapi Andrea lebih penting.” Sahut Varen dengan serius.
Rumah Pribadi Andrew dan Fania, Frognal, London
“Ah iya!.”
Andrea menepak jidatnya. Lupa menghubungi Varen seperti yang Mommanya suruh, takut si Abang salah paham
karena Andrea tidak ikut makan malam bersama di Mansion Utama.
“Ditinggal mungkin ponselnya Abang di kamar....”
Andrea sedang mencoba menghubungi Varen. Ingin bilang alasan kenapa dia tidak ikut datang ke Mansion Utama.
“Belum selesai makan apa ya?.”
Andrea melirik jam digital diatas nakas samping ranjangnya
“Drea....”
“A – bang?!.”
Andrea terkejut dengan kemunculan Varen dipintu kamarnya.
“Hei.”
Sapa Varen dengan tersenyum sambil melangkah masuk kedalam kamar Andrea dan mendekatinya si Little Star
kesayangannya itu.
“Abang kok kesini?.”
__ADS_1
“Ga boleh memangnya?.”
“Bukan begitu Abang, Drea kaget aja Abang ada disini. Abang bukan seharusnya sedang makan bersama di Mansion Gappa dan Gamma....”
Varen tersenyum lagi. “Habis kamu ga datang. Abang khawatirlah.” Ucap Varen sambil mengacak pelan rambut
Andrea.
“Abang nih, aku kan ga sendirian disini. Hera, Chen, Stefy dan yang lainnya kan ada....”
“Tetap saja Abang khawatir ....” Ucap Varen. “Sudah makan?.” Tanya Varen dan Andrea menggeleng. “Lihat kan, jika tidak diingatkan kamu pasti akan selalu makan terlambat.”
“He .... He .... tadi Momma sudah ingatkan sebelum berangkat, Hera juga baru saja menyuruh aku makan sebelum Abang datang. Tapi aku belum merasa lapar.”
*“Meski begitu Drea, kalau memang sudah waktunya yang tetap harus makan,**so your epigastrium**( jadi ulu hati kamu ) tidak sakit.”*
Andrea manggut – manggut pada Varen. Kalau sudah urusan kesehatan, wajah si Abang jadi serius.
“Ya sudah ayo kita makan sekarang. Abang juga sudah lapar.”
Varen menarik pelan tangan Andrea yang kemudian ia ajak turun ke ruang makan dan makan bersama disana.
Setelah meminta para Maid menyiapkan makan malam untuk mereka serta mengajak serta para Maid termasuk Hera untuk ikut juga makan bersama dengan Varen dan Andrea yang diajarkan untuk tidak membeda – bedakan status sosial seseorang itu.
Walaupun pada akhirnya hanya Hera saja yang mau ikut serta duduk bersama Varen dan Andrea, sementara Maid
yang lain merasa sungkan. Maklum saja, Hera sudah merawat Andrea sejak gadis itu berusia dua tahun. Setelah bercerai dari suaminya, Hera kembali tinggal bersama Fania dan Andrew hingga sekarang dan ikut membantu merawat Rery.
“Poppa dan Momma bilang kamu ada tugas Proyek Sekolah untuk para murid baru?.” Tanya Varen saat dia dan Andrea serta Hera sudah menyelesaikan makan malam mereka.
“Iya....”
“Proyek Ilmiah?.”
“Iya.”
“Drea mau buat apa?.”
“Aku masih bingung.”
“Ya sudah Abang bantu
pilihkan.”
“Oke Abaaannng.”
***
“Drea ....”
“Iya Abang? ....” Andrea memandangi Varen.
“Benar Abang....”
“Andrea Ga marah?.”
“Engga Abang.... Drea ga marah sama Abang kalau Abang mau kuliah disana dan harus tinggal di Massachusetts. Kan katanya Abang kalau ada waktu pasti akan sering menengok Drea kan?.”
Varen pun tersenyum sembari mengacak pelan rambut Andrea.
“Iya. Tapi Drea juga harus sering – sering hubungi Abang.”
Andrea manggut – manggut sembari tersenyum dan mengangkat satu jempolnya. “Oke Boss!!.”
“Nanti Drea ikut ya ke Massachusetts, lihat – lihat kampus Abang disana. Kan nanti saat Daddy R dan Mommy Ara antar Abang kesana, Abang belum akan mulai kuliah. Penyesuaian dulu dengan keadaan disana.”
“Beneran Drea boleh ikut?!.”
“Boleh dong!. Masa ga boleh?.”
“Asiikkk.”
***
Stansted Airport, Essex, North London, England
Waktu untuk Varen pergi ke Massachusetts untuk berkuliah di Harvard pun tiba.
Meski jadwal perkuliahan belum mulai aktif, tapi Varen sudah harus mempersiapkan segalanya sebulan sebelum perkuliahan nya dimulai.
“Abang berangkat dulu ya, Little Star. Kamu jaga diri baik – baik .... nurut sama Poppa dan Momma serta para Daddies dan Mommies yang lain, juga pada Gamma, Gappa, Ake, Ene, Oma dan Nenek Yuna ....”
Andrea mengangguk sembari tersenyum namun matanya sudah berkaca – kaca.
Varen juga sama sedihnya, tapi tidak semelankolis Andrea.
Anggota keluarga lain yang ikut mengantar Varen yang akan berangkat ke Massachusetts dengan ditemani oleh
kedua orang tuanya serta Nino pun memandang haru pada dua anak tersebut.
“Jangan jahil.... dan jangan galak – galak sama Tan – Tan ....”
Andrea mengangguk, lalu terkekeh kecil namun air matanya sudah turun. Nathan juga sedang berada di London, dan merengek untuk ikut mengantar sang Abang, karena seperti Andrea, Nathan pun sama dekatnya dengan Varen.
“Jangan nangis dong Drea, nanti Abang berat melihatnya ....”
“Maaf .... Aku .... Drea ....”
Bukannya diam si Incess malah jadi terisak.
__ADS_1
“Little Star...”
Varen membawa Andrea yang jauh lebih pendek darinya itu dalam pelukan sambil membelai sayang kepala Andrea. Membiarkan Andrea menangis dengan puas dalam dekapannya.
“Drea.... Drea.... pasti kangen Abang....” Isak Andrea. “Drea, akan berenang, berkuda sendirian.” Varen kian mendekap Andrea erat, membuat anggota keluarga mereka yang lain pun ikut meneteskan air mata. “Drea.... pasti
*kangen Abang**sing me a lullaby**( menyanyikan lagu nina bobo untukku ).”*
*“Andrea ....” Poppa menghampiri Sang Putri. “Sudah ya,**don’t cry baby girl**( jangan menangis sayang ).... kasihan Abang nanti ikut sedih melihat Andrea seperti ini. Kan Drea mau lihat Abang jadi orang sukses?.”*
“Maaf .... Drea ga bermaksud buat Abang sedih.”
“Little Star ...”
Varen benar – benar rasa tak tega.
“Aku ga nangis lagi nih!.”
Andrea langsung mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Menghapus jejak air matanya meski tak terhapus total sambil mencoba tersenyum pada Varen. Andrew, Varen dan yang lain pun menarik sudut bibir mereka.
“Aku janji ga akan nangis lagi. Aku kan kuat .... Iya kan Poppa?....”
*Andrew mengangguk sembari tersenyum. “**Of course you are**( Tentu saja ).”*
“Ya udah Abang berangkat sana ....”
“Senyum dulu ....”
Andrea pun menunjukkan senyumnya.
“Dadah Abang....”
Andrea melambaikan tangannya pada Varen meski si Abang masih berada dekat sekali dengannya. Varen menahan sedihnya dengan senyuman. “Drea baik – baik yah.... Nanti saat sudah sampai Massachusetts, Abang akan langsung hubungi Drea ....”
“Okay!.”
“I love you, Little Star ....”
Varen memeluk Andrea sekali lagi dan menciumi pucuk kepala dan pipi Andrea.
‘Ah gue serasa dalam film AADC.’ Batin Momma.
“I love you too Abang.... Dadah ....” Ucap Andrea sembari tersenyum dan melambaikan tangannya lagi pada Varen yang kemudian juga dihampiri para anggota keluarga mereka yang lainnya termasuk Nathan yang nampak juga terlihat sedih, mengantar si Pewaris Pertama Kerajaan Adjieran Smith sebelum ia naik dan masuk ke dalam Jet Pribadi sang Daddy.
Daddy R dan Mommy Ara yang ikut serta dengan Varen pun ikut juga berpamitan dengan mereka yang ada disana dan menciumi Andrea yang sudah digendong sang Poppa. Meski gadis itu sudah berumur sebelas tahun, namun bagi Andrew, Andrea akan selalu menjadi putri kecilnya. Kali ini Andrea tak menolak digendong sang Poppa, karena sudah sejak lama ia menolak digendong lagi oleh Andrew, kecuali jika sedang bercanda, itupun gendong belakang.
Valera tidak ikut serta mengantar sang Abang ke Massachusetts, toh anak kedua Reno dan Ara sudah mulai bersekolah di usia dini, dan seperti para bocah yang lain di Keluarga Smith, mereka terbiasa tidak terlalu bergelayut pada orang tua mereka. Namun kasih sayang dan perhatian dari para orang tua tentunya tetap mereka rasakan.
Varen menaiki tangga pesawat jet pribadi mereka dibelakang Daddy R dan Mommy Ara.
Sekali lagi ia menoleh dan menatap Andrea dalam gendongan Andrew namun menghadap ke arah sang Momma sambil memeluk erat leher sang Poppa.
“Drea.... lambaikan tangan dulu sekali lagi sama Abang.”
Andrea menuruti sang Momma, masih dalam gendongan Andrew, ia memiringkan tubuhnya menghadap pada Varen lalu melambaikan tangan dan menunjukkan senyumnya. Varen melambaikan juga tangannya pada Andrea. Namun senyum Varen nampak dipaksakan karena Andrea hanya sebentar saja melambaikan tangan padanya kemudian berbalik lagi ke posisinya semula, melingkarkan tangan dileher sang Poppa.
Varen tahu Andrea sedang menangis, meski mereka sudah lumayan berjarak. Varen masih bisa melihat bahu Andrea yang nampak bergetar.
Andrew merengkuh erat Andrea yang kembali terisak dan menolak melihat Varen sekali lagi lama – lama.
Poppa mengelus – elus punggung sang Putri dan Momma membelai kepala Andrea yang wajahnya ia sembunyikan dibahu sang Poppa.
“Yuk kita pulang!.... Habis ini Drea harus rajin belajar, supaya Drea bisa susul Abang sekolah di Harvard! ....” Fania menyemangati sang Putri yang kemudian mengangguk dengan tersenyum meski wajahnya sudah sembab.
“Katanya Wonder Woman!. Masa Wonder Woman cengeng!.”
“TAN – TAN!!! ....”
*****
Masa sekarang .....
Rumah Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia
“DREAAAAA! BERISIIIKKKK! ....”
“🎵SYALALALALA – HIYA HIYA KOTET!. SYALALALALA – HIYA HIYA KOTET!.🎵”
Sementara itu Nenek Yuna beserta orang – orang yang berada di lantai bawah Rumah Utama Keluarga Adjieran
Smith di Jakarta, terkekeh geli mendengar suara gaduh yang berasal dari kamar Nathan.
“Sepertinya sekarang ga susah membangunkan Nathan.” Ucap Nenek Yuna.
“Benar Bu, alarm hidup sudah tiba ....” Sahut Michelle.
“Bukan hanya Nathan saja yang akan terbangun saat alarm itu menyala .... tapi kita semua!.”
Daddy Jeff menimpali sambil menoleh pada John yang terkekeh geli.
“Siapkan telinga, karena suara Andrea lebih louder ( nyaring ) dari si Kajol.” Celetuk John.
“Haish! Anak bebek perpaduan speaker active!.”
Daddy Jeff kemudian geleng – geleng. Membayangkan akan betapa ramainya Rumah Utama mulai hari ini.
*****
To be continue...
LIKE jangan lupa ye my beibeh Bala - Bala Semua
__ADS_1
Loph Loph
😘😘😘