
♥KAU MILIKKU!♥
Selamat membaca ...
“Aku ingin bicara Jeff.” Ucap Jihan yang memberanikan dirinya memandang pada Jeff yang menatapnya dingin
saat ini. Bahkan mereka masih berada di lobi apartemen.
“Aku sudah tidak ingin bicara apapun dengan kamu, Jihan Shaquita!.” Jeff berkata datar dan dingin. Meski tak habis pikir kalau Jihan nekat datang ke Jakarta dan ke gedung tempat apartemennya berada. Namun rasanya Jeff masih merasa kesal pada wanita didepannya ini.
Jihan nampak menghela nafasnya setelah mendapat penolakan dari Jeff barusan. Sedikit frustasi.
“Aku ngerti kalau kamu marah Jeff. Aku hanya menyampaikan apa yang aku rasa, apa yang aku pikir.”
Jeff tak menjawab hanya menatap Jihan yang juga sedang menatapnya kala wanita itu bicara.
“Ya sudah, aku hanya ingin mengatakan itu.” Jihan berbalik.
“Dengan siapa kamu kesini?.”
“Taksi online.” Jihan membalikkan badannya lagi menjawab Jeff dan berbalik lagi untuk melangkah keluar lobi gedung apartemen tersebut.
“Apa taksi itu menunggu kamu?.”
Jeff bertanya namun tak bergerak dari tempatnya berdiri sekarang.
Jihan menggeleng namun tak menoleh.
‘Ck!.’ Jeff berdecak dalam hatinya. “Aku yang akan mengantar kamu pulang.” Jeff sudah melangkahkan kaki dan tangannya sudah menahan lengan Jihan.
Jihan menoleh kemudian tersenyum.
“Ga usah, ga apa – apa.”
Jeff tak menjawab.
“Eh ....” Jihan sedikit terkejut karena Jeff langsung meraih lengan dan setengah menariknya untuk berjalan mengikutinya.
***
“Masuk!.”
Jeff sudah membawa Jihan ke lantai dimana apartemen yang seperti halnya John lebih tepat dibilang Penthouse.
“Aku tidak akan membiarkan ibu dari anakku berada di jalanan bersama orang asing.”
Jihan hanya terdiam.
“Masuklah.” Jeff membuka pintu Penthouse nya dan mempersilahkan Jihan untuk masuk sekali lagi.
Jihan pun melangkahkan kakinya kedalam Penthouse milik Jeff itu. Perasaannya sedikit berdebar. Teringat kembali saat ia pernah berada didalam Penthouse tersebut satu kali, setelah menghabiskan malam panasnya bersama Jeff kala itu.
Namun saat itu Jihan tak sempat memperhatikan dengan seksama isi Penthouse Jeff yang sepertinya bahkan lebih
besar dari rumah ibunya.
“Kamu sudah makan?.” Tanya Jeff dan membuat Jihan tersadar dari lamunannya. Wanita itu menatap Jeff sebentar lalu menggeleng. Jeff menarik nafasnya.
“Haish, kamu nih!.” Ucap Jeff.
“Tapi aku tidak lapar.”
“Duduklah!.”
“Makasih.”
Jeff mendekat pada interkom dan entah apa yang ia bicarakan. Jihan nampak masih melihat – lihat sekeliling dari duduknya. Ia juga melihat botol minuman keras yang ada dimeja namun isinya masih banyak.
“Tunggu sebentar. Aku sudah memesankan makanan. Setelah itu aku akan mengantarmu pulang.”
“Sudah aku bilang aku tidak lapar.” Sahut Jihan.
“Mau minum apa?.” Tanya Jeff tanpa menghiraukan ucapan Jihan yang barusan.
“Apa saja.” Sahut Jihan lagi. Lalu Jeff melangkah ke arah dalam Penthouse menuju dapur.
“Biar aku saja yang membuatnya sendiri.”
“Duduk dan diamlah!.” Ucap Jeff sambil lalu tanpa menoleh pada Jihan yang sudah berdiri dari duduknya.
Jihan pun duduk kembali. ‘Ngeselin!.’
__ADS_1
“Kamu ijin kemana sama Ibu?.” Tanya Jeff yang sudah kembali dari dapur dengan membawa dua cangkir ditangannya. Lalu meletakkan satu cangkir dimeja depan Jihan. Jeff memperhatikan pakaian Jihan yang sudah berganti dari saat dia mengantar wanita itu pulang beberapa waktu lalu.
“Ke tempat kamu untuk menyelesaikan urusan kita.”
Jihan menatap pada Jeff.
“Aku rasa kita sudah tidak punya urusan selain soal Nathan mulai sekarang.”
Jeff masih dengan sikap datar dan dinginnya menanggapi Jihan.
“Jeff ....”
“Minumlah tehnya sambil menunggu makanan kamu datang.” Ucap Jeff lalu ia melangkahkan kakinya menuju sudut yang lain dengan secangkir kopi ditangannya. Sengaja membuat kopi karena dia akan mengantar Jihan pulang ke Bandung. “Merepotkan!.” Gumamnya pelan namun Jihan mendengarnya.
Mata Jihan memperhatikan Jeff yang berdiri membelakanginya menghadap ke jendela Penthouse milik Jeff sambil memegang cangkir ditangannya.
“Jangan marah lagi.”
Jeff hampir saja tersedak saat sedang menyeruput kopi dari cangkirnya. Bahkan cairan berwarna kopi itu sempat tertumpah sedikit karena tangan Jihan kini sudah melingkar diperut six packnya.
‘Eeeh?....’
“Aku minta maaf, Jeff... maaf kalau sudah menyinggung kamu. Aku tak bermaksud membela Liam tadi. Aku hanya menyampaikan pendapat aku aja. Maaf ....” Ucap Jihan lirih.
“Lepas.” Ucap Jeff datar.
Jihan pun melepaskan perlahan tangannya yang melingkar diperut Jeff dan pria yang sedang sok jual mahal itu pun menjauhi Jihan menuju sofa.
Jihan hanya menghela nafasnya saat Jeff nampak jelas menghindarinya. Menatap punggung Jeff yang sedang berjalan menuju sofa sebentar lalu menatap kearah luar jendela Penthouse milik Jeff.
“Aku sebaiknya pulang sekarang. Maaf sudah ... akh!.”
Belum sempat Jihan meneruskan kalimatnya, Jeff sudah keburu berada lagi didekatnya. Menyudutkan Jihan ditembok samping jendela kaca, mengurung tubuhnya meski sedikit berjarak.
“Je .. mphhhh ....” Jeff membungkam Jihan dengan bibirnya.
Mengecup, hingga m*magut bibir Jihan dengan dalam dan menuntut.
Jihan tak berusaha menghentikan aksi Jeff itu.
“You’re mine Jihan Shaquita (Kau milikku, Jihan Shaquita).” Jeff yang melepaskan ciumannya sesaat melanjutkan lagi p*gutannya dibibir Jihan setalah mengucapkan satu kalimat tadi. Jeff makin merapatkan tubuhnya. Ciumannya makin menuntut, tangannya makin mencengkram kuat pinggang Jihan dan membuat wanita itu sulit menggerakkan
tubuhnya.
“Sialan.”
Jeff baru saja akan bergerak turun hendak menciumi leher Jihan tapi bunyi panggilan dari interkom membuatnya
berhenti.
“Itu pasti makanan kamu.”
“I ..... iya.”
Jeff berjalan menjauhi Jihan menuju interkom sambil menghentakkan kakinya. ‘Kalau tahu begini gue ga usah pesankan dia makanan dulu tadi.’ Gerutu si bule koplak dalam hatinya karena aksinya harus berhenti ditengah jalan.
**
“Apa kamu masih ingin melanjutkan yang tadi?.”
Jeff berbisik ditelinga Jihan yang masih berdiri ditempatnya tadi saat Jeff menyerangnya, hanya wanita itu kembali menatap kearah luar jendela dan nampak sedang memegangi dadanya.
“Ah, aku ..... aku ...”
“Mulai detik ini, kamu adalah milik aku Jihan Shaquita. Camkan itu baik – baik.” Ucap Jeff setelah membalikkan tubuh Jihan dan mengurung tubuh itu lagi sambil berkata dengan penekanan dan menatap pada iris mata Jihan lekat – lekat.
“I ..... iya.”
Jeff mencium bibir Jihan sekali lagi. Kali ini dengan lembut.
“Makanlah. Setelah itu aku yang akan memakan mu.”
Glek!
Jihan menelan kuat salivanya.
****
“Luka kamu, sudah kamu obati?.”
Jihan melirik pada sudut bibir Jeff saat ia tengah memindahkan makanan keatas piring.
“Hanya luka begini, tak perlu obat.” Sahut Jeff yang juga ikut merapihkan makanan yang tadi dipesannya.
Jihan menghela nafasnya.
__ADS_1
“Tapi tetep aja itu luka, Jeff. Perlu diobati. Nanti iritasi.” Ucap Jihan. “Punya kotak obat kan?.”
Sentuhan tangan Jihan dikepalanya membuat Jeff spontan menoleh dan menatap wanita itu. Ada rasa asing dihatinya dengan sikap Jihan ini.
Hanya sentuhan pelan dari tangan Jihan dikepala Jeff, namun sanggup membuat laki – laki itu merasa ada kehangatan yang menjalar dihati dan seluruh tubuhnya.
“Ma... maaf ...” Jihan merasa canggung ditatap Jeff seperti itu. Ia hendak menjauhkan tangannya dari kepala Jeff, namun Jeff menahannya.
“Aku suka.”
“Hmm?...”
“Aku suka kamu memperlakukan aku seperti ini.”
Jihan tersenyum.
“Tangan ini hanya boleh menyentuhku.” Jeff memegang tangan Jihan yang tadi memegang tangannya, lalu mengecupnya sekilas.
‘Eh?.’ Jihan sedikit terkejut karena Jeff tiba – tiba merebahkan kepalanya diatas paha Jihan.
“Lakukan lagi yang seperti tadi.” Jeff menuntun tangan Jihan keatas kepalanya.
‘Apa dia berkepribadian ganda?. Sebelumnya nampak begitu menyeramkan. Tapi coba lihat dia sekarang?. Bahkan Nathan pun kalah dengan manjanya saat ini.’ Batin Jihan yang geli melihat kelakuan Jeff sekarang, namun bibirnya masih mengurai senyum.
“Kau milikku Jihan Shaquita.”
“Iya Jeff....”
‘Pantas saja si Andrew hobi tiduran dipaha Fania sambil dibelai begini. Begini ya rasanya disayang – sayang.’ Si bule gila mesam – mesem ga karuan.
‘Kalau begini gue kapan makannya ini?.’ Batin Jihan sedikit menggerutu.
***
Setelah puas merasakan belaian tangan Jihan dikepalanya. Jeff kemudian bangun dari posisinya.
Itupun setelah Jihan mengatakan kalau kakinya sedikit kesemutan, dan rasa laparnya sudah terasa. Lalu keduanya pun menyantap makanan yang sudah berpindah keatas piring. Malam ini, eh pagi buta ini rasanya makanan yang masuk kemulut Jeff terasa sangat enak.
Jihan hanya tersenyum saat melirik Jeff yang makan sambil mesam – mesem ga jelas.
‘Sumpah dia imut banget kalau begini. Mesam – mesem kayak semar mesem.’ Jihan menggeleng pelan sembari
tersenyum sambil melanjutkan makannya.
‘Apa yang sudah gue claimed jadi milik gue, selamanya akan menjadi milik gue!.’
***
Jihan sudah selesai merapihkan meja sofa yang tadi sempat sedikit berantakan oleh makanan yang mereka santap.
Jihan juga sudah selesai mencuci bekas makan dan minum mereka.
“Aku kan sudah bilang tidak perlu kamu bersihkan semua ini. Nanti juga ada maid yang setiap hari datang untuk membersihkan tempat ini.”
Jihan tersenyum sambil mengelap tangannya.
“Ga betah lihatnya kalau berantakan.”
“Maaf soal apa yang terjadi antara aku dan Liam. Aku cemburu.”
Jeff berbicara sambil menyandarkan tubuhnya di meja dapur sambil mensedekapkan tangannya, dengan wajahnya yang nampak menggemaskan untuk Jihan lihat saat ini.
Jihan kini sudah berdiri dihadapan Jeff.
“Aku lebih senang melihat kamu yang seperti ini, Jeff.” Jihan mengulurkan tangannya dan membelai kepala Jeff. “Jujur aja aku takut melihat kamu kalau marah.”
“Makanya jangan munafik.” Ucap Jeff.
“Ya udah aku minta maaf sekali lagi.” Sahut Jihan. “Aku bukannya munafik, aku hanya ingin kamu paham posisi aku.”
“Ya ... baiklah. Yang penting kamu milik aku seorang sekarang.”
“Ya sudah kalau begitu. Jangan marah lagi. Kamu jadi mau anter aku kembali ke Bandung?.”
Jeff menegakkan dirinya. “Well, karena kamu sudah menjadi milik aku sekarang, dan aku tentunya harus memastikan lagi kamu ga akan berulah.”
“Maksudnya?.”
“Maksudnya aku harus menandai wilayah teritorial aku bukan? Agar kamu berani lagi membuat aku cemburu atau salah paham.”
Glek!. Jihan spontan meneguk kasar lagi salivanya melihat bibir Jeff yang selalu membuat akal sehatnya terbang, kini sedang menyeringai yang membuat Jihan seketika bergidik.
***
To be continue ..
__ADS_1