THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 370 - END OF THE JOURNEY


__ADS_3

Jempol dikondisikan dulu (ehem) sebelum sekerol kebawah ye


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


THIS I PROMISE YOU


(Aku Janjikan Ini Padamu)


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Akhir Perjalanan


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Selamat membaca ......


“Sudah dong jangan menangis terus Little Star..” Varen mengusapi pipi Andrea yang sesenggukan dalam dekapannya.


“Siapa yang menangis coba? ..” Sahut Andrea dengan sesenggukan pelan.


“Nah ini air mata kamu ga berhenti-berhenti terus terisak begini ..”


“Drea kan masih terharu Abaang!!..”


Andrea berkilah dengan mencebik manja dan Varen menarik sudut bibirnya seraya geleng-geleng.


Sementara itu, dua orang lain yang merupakan pasangan juga terkekeh kecil melihat Andrea yang sedang sesenggukan dan mencebik manja pada si Abang itu.


“Ya sudah dong”


Varen menyeka wajah Andrea dengan lembutnya.


“Minum dulu” Varen mengambil gelas berisikan teh hangat didalamnya yang ada diatas nakas disamping sofa yang ia dan Andrea duduki.


“Besar banget ya cintanya para Dad ke Moms..”


Andrea berbicara setelah meneguk sedikit teh hangat yang diberikan Varen barusan.


“Lah, apa katanya gue sama Abang coba??!!” Tukas Nathan. “Sama kek mereka lah kita berdua ini, kek apa besarnya Abang ke elo, coba? Cinta gue ke Via juga ga kalah besarnya!”


Varen sontak langsung menyambar untuk mengiyakan ucapan Nathan.


“Iya, iya ... percaya ...”


Andrea menyahut malas.


“Semoga kita berempat ini, hubungan pernikahan kita ini bisa seperti para Dad dan Mom ya? Kamu, aku ..”


Kevia menunjuk dirinya, lalu menyentuh pipi Nathan yang tersenyum spontan.


“Juga Abang dan Drea ..” Lanjut Via.


“Pasti dong Cintaa!!!!!!!...... Pasti lah kisah kita yang saling mencintai ini pasti sama macam The Dads and The Moms!”


Nathan menyambar antusias ucapan Via barusan.


“Kalau orang Indonesia punya Garuda di dadanya, ya aku punya kamu di dadaku!”


Eyyaaa! ..


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


🎹🎹🎹


When the visions around you,


(Ketika pemandangan di sekelilingmu)


Bring tears to your eyes


(Membuatmu meneteskan air mata)


And all that surround you,


(Dan semua yang di sekitarmu)


Are secrets and lies


(Hanyalah rahasia dan dusta)


I'll be your strength,


(Aku kan menjadi kekuatanmu)


I'll give you hope,


(Kan kuberi kau harapan)


Keeping your faith when it's gone ..


(Menjaga keyakinanmu saat hilang)


The one you should call,


(Orang yang harus kau panggil)


Was standing here all along..


(Berdiri di sini selalu)...


🎹🎹🎹


And I will take you in my arms


(Dan akan ku rengkuh engkau di lenganku)


And hold you right where you belong


(Dan mendekapmu erat di tempat seharusnya)


Till the day my life is through


(Hingga akhir hidupku)


This I promise you


(Ini janjiku padamu)


This I promise you..


(Ini janjiku padamu) ..


🎹🎹🎹


Suara merdu Varen terdengar di ruangan tempat dirinya, Andrea, Nathan dan Via berada, karena mereka berempatlah yang masih tetap tinggal di ruangan tadi tempat seluruh anggota keluarga mereka bercengkrama sebelum masuk kedalam kamar mereka masing-masing untuk beristirahat.


Varen memainkan jemarinya diatas tuts piano dengan suaranya yang melantunkan satu nyanyian untuk Andrea yang duduk disisinya, pada bangku duduk piano.


“Abang, akan selalu mencintai kamu sampai kapanpun Little Star ....” Ucap Varen disela permainan pianonya yang belum usai. Andrea tersenyum bahagia. “Ini janji Abang untuk Drea, yang akan selalu Abang genggam hinga akhir nanti”


Cup!


Satu kecupan Andrea layangkan di pipi Varen.


“Makasih Abang, I love you....”


“I love you more, Little Star ....”


Andrea menyandarkan kepalanya di bahu Varen kemudian, sama seperti halnya Via yang sedang bersandar manja pada Nathan yang sedang duduk di sofa di tempat mereka duduk sedari tadi sembari mendengarkan dentingan merdu suara Varen berikut dentingan nada melow dari tuts piano yang sedang dimainkan oleh si Abang untuk dipersembahkan pada si istri belia tercintanya itu.


“🎹 I loved you forever, in life times before.... 🎹”


Varen memulai lagi berdendang, karena lagu yang ia persembahkan untuk Andrea itu memang belum selesai.


“🎹 And....”


“Hoy! Berisik bocah tengik! Suara sumbangmu mengganggu tidurku!”


Dan nyanyian Varen pun terhenti karena Daddy R meneriakinya dari lantai atas.


****


EPILOG

__ADS_1


🌷🌷


Dua tahun kemudian..


Kehidupan yang berjalan dalam keluarga The Adjieran Smith selama dua tahun ini begitu selaras.


Mereka yang berdomisili didua negara yang berbeda, tetap tinggal seperti sebelumnya.


Gappa, Gamma, Poppa, Momma, Rery, Daddy R, Mommy Ara, Val, Papa Lucca, Mama Fabi, Ann dan Oma Anye masih tetap berdomisili di London namun sering berkunjung ke Indonesia.


Sisanya, tinggal di Kediaman Utama yang berada di London, begitu juga sepasang pentolan Keluarga Cemara, masih tetap tinggal di rumah mereka yang berada di Bekasi dan mereka yang tinggal di Kediaman Utama juga sering menginap di rumah Keluarga Cemara, terutama Mami Prita, Papi John serta Varen dan Andrea yang paling sering untuk menginap dan menemani sepasang suami istri yang sudah memasuki usia senja itu.


Poppa dan Momma juga akan sering menginap di tempat Ake Herman dan Ene Bela jika mereka sedang berkunjung ke Indonesia. Berikut Rery dan Ann juga yang pastinya akan ikut menginap jika Poppa dan Momma sedang menginap di rumah Keluarga Cemara.


Tidak hanya Poppa dan Momma keluarga yang berdomisili di London yang seringnya menginap di rumah Keluarga Cemara jika mereka sedang berkunjung ke Indonesia, tetapi yang lain juga, termasuk Gappa dan Gamma.


Tapi seringnya memang The Adjieran Smith featuring Keluarga Cemara akan seringnya berkumpul di Kediaman Utama yang berada di Jakarta, jika semua personel lengkap adanya.


***


Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia...


“Abang, ke Dokter aja yuk?. Wajah Abang pucet banget deh! ....”


“I’m okay (Aku baik-baik saja), Little Star ....”


Varen menjawab seraya menggeleng dengan memeluki Andrea yang berbaring disisinya yang bahkan tidak si Abang biarkan pergi darinya walau sebentar.


“Atau Drea panggilin Kak Marsha aja ya?, atau Uncle Alan? Biar Abang diperiksa gitu? Abang kan juga dari kemarin Drea perhatikan Cuma sedikit makannya.... Tadi pagi juga, Abang Cuma makan tiga suap aja”


“I’m okay (Aku baik-baik saja), Little Star ....”


Jawaban yang sama seperti sebelumnya kembali terlontar dari mulut Varen yang terus saja memeluki tubuh Andrea dan mengusel-ngusel macam anak kucing yang lagi ngusel ke induknya.


“Abang tunggu sini sebentar deh ya, Drea buatkan teh sama roti panggang ....” Andrea hendak beringsut dari tempatnya.


“No!” Namun Varen menahan tubuhnya. “Jangan kemana-mana, disini saja ....”


‘Abang aneh banget deh dari semalam, maunya pelukin gue melulu. Seneng sih dipelukin Abang gini, tapi ga biasa-biasanya Abang manja banget begini sampe gue ga boleh jauh-jauh, ga boleh ngapa-ngapain pula!’


Andrea membatin.


“Drea ini khawatir Abang.... Abang kan ga makan dengan baik dari kemarin, trus dari tadi pagi Drea perhatikan wajah Abang semakin pucat.... Tambah Abang ga mau ke Dokter, Drea panggilin Kak Marsha atau Uncle Alan juga Abang ga mau .... Jadi Drea buatkan Abang teh sama roti aja ya?”


Andrea bicara panjang lebar seraya membujuk si Abang yang tak berselera makan sejak kemarin, dan hari ini manjanya berdobel-dobel. Untung saja hari ini adalah hari sabtu. Jadi memang bisa santai saja menikmati waktu libur.


“Ya?”


“I’m okay (Aku baik-baik saja), Little Star ....”


“I’m okay, I’m okay.... Abang nih....” Gumam Andrea yang sedikit sebal mendengar jawaban Varen yang sama dari tadi.


“Memang Abang okay ....” Sahut si Abang. “Aku hanya mau sama-sama kamu terus, Little Star ....”


“Iya, Drea ga akan kemana-mana Abang .... tapi Drea kan ga mau Abang jatuh sakit nanti....”


Drea menangkup wajah Varen.


“Nih wajah Abang saja sudah semakin pucat!.... Paling engga Drea ambilkan sedikit kudapan untuk mengisi perut Abang, ya? Abang juga bilang tadi katanya sedikit pusing kan?. Itu karena Abang kurang asupan....”


“Perut aku itu mual kalau diisi banyak-banyak. Aku malas kalau nanti sampai muntah ....”


“Masuk angin kali ya Abang nih?. Drea kerokin ya?....” Usul Andrea dan Varen segera menggeleng.


“I’m okay, merasa okay dengan memeluk kamu begini, harum tubuh kamu enak, buat Abang nyaman, dan buat pusing Abang hilang ....”


“Abang aneh deh ....”


Andrea menggumam.


Sementara Varen terus saja mengusel pada Andrea.


***


“Non Drea cari apa? ...”


Setelah drama manja Varen sedari pagi, pada akhirnya Varen yang merasa perutnya dirasa lapar dan ingin memakan sesuatu yang spesifik itu, membuat Andrea keluar dari kamar pribadinya dan si Abang untuk mengecek kesediaan makanan yang diminta si Abang tadi.


“Kita punya stock chicken wings ga sih, Mba Adis?...”


“Ada, Non” Jawab Mba Adis.


“Mana, Mba?” Tanya Andrea lagi.


Mba Adis pun langsung berjalan mengarah ke lemari tempat penyimpanan bahan makanan yang khusus untuk makanan beku, kemudian mengeluarkan apa yang barusan Andrea minta padanya.


“Satu box aja Mba” Ucap Andrea yang memberikan dua box berisikan chicken wings siap goreng pada Mba Adis.


Mba Adis mengangguk dan mengambil kembali dua box chicken wings beku untuk ditaruh lagi ke tempatnya dan Andrea berjalan menuju area untuk memasak.


“Biar saya aja sini yang gorengin, Non” Ucap salah seorang asisten rumah tangga lainnya ketika melihat Andrea meraih sebuah pan berukuran sedang dan sudah meletakkannya diatas kompor.


“Ga apa, Mba Arum, aku aja”


Andrea menolak halus tawaran salah satu asisten rumah tangganya itu dan dia sendiri yang menggoreng chicken wings siap masak yang tadi diberikan oleh Mba Adis padanya.


***


“Apa itu, Little Star?....” Andrea berpapasan dengan Daddy Jeff yang datang ke arah dapur, tepat disaat Andrea sudah selesai menggoreng chicken wings  setelah menatanya di piring saji dan meletakkannya diatas nampan yang berisikan satu macam selai dan segelas teh hangat.


“Eh, Papa Bear...” Sapa Andrea. “Ini, Abang minta chicken wings”


“Nah itu peanut jam?. Rotinya ga sekalian kamu bawa?..”


Daddy Jeff menunjuk selai kacang dalam toplesnya yang juga ada diatas nampan.


“Abang katanya mau makan chicken wings sama selai kacang?! ..”


“Hah? ......” Daddy Jeff keheranan.


Bersamaan dengan sebuah pekikan dari arah luar dapur yang membuat Daddy Jeff tidak jadi berkata lebih lanjut.


“Little Staaarr ..”


Varen datang ke arah dapur.


“Lama banget sih!” Seru Varen.


“Iya, ini baru mau Drea bawain ke atas! ....”


“Aku makan di ruang santai aja deh Little Star ....”


Andrea mengangguk dan Varen langsung menyambar nampan yang tadinya hendak dibawa Andrea.


***


Varen mengambil tempat di ruang santai keluarga dengan makanan yang tadi di pintanya pada Andrea. Ada tiga pasang orang tua yang ada bersama keduanya yang juga sedang duduk-duduk bersantai karena memang tidak ada kegiatan weekend ini.


Sementara para adik yang tinggal di Kediaman Utama sedang bermain di kolam renang, ditemani oleh Nenek Yuna.


Rasa heran tidak hanya hinggap pada diri Daddy Jeff yang juga sudah ikut duduk bersantai di ruang santai keluarga bersama Mama Jihan, dan dua pasang orang tua lainnya yang memang tinggal di Kediaman Utama yang berada di Jakarta, termasuk Nathan dan Via yang juga ada ikut duduk bercengkrama sembari menonton acara di televisi.


Mereka semua keheranan melihat menu makanan si Abang yang rasanya aneh bagi mereka. Dan si Abang nampak lahap memakannya, dengan Andrea yang duduk disisi si Abang yang duduk ngedeprok di karpet.


“Apa rasanya itu chicken wings sama peanut jam, coba?? ..”


Papi John nyeletuk dengan raut wajah yang nampak keheranan.


“Enak!” Sambar si Abang yang nampak memang menikmati pasangan makanan yang ga sinkron itu.


“Ih!”


Papi John langsung mengendikkan bahunya denga raut wajah yang seolah mengatakan jika dia tak ingin mencoba pasangan makanan ga sinkron yang sedang di makan si Abang dengan lahapnya itu.


“Biarin si Pih!”


Mami Prita bersuara.


“Ya aneh aja Sugar, ga kebayang rasanya gimana itu... Pisang goreng pakai sambal saja sudah aneh menurut aku, ini ada lagi yang lebih aneh!...”


Mami Prita dan dua pasang orang tua lainnya, berikut Nathan dan Via mendengus geli mendengar celotehan Papi John barusan.


“Suka-suka aku lah, Pih ...”

__ADS_1


Abang menyambar santai dan Papi John pun berdecih.


“Kamu ga mau coba, Little Star? ..” Tawar Varen ke Andrea yang sedang menonton acara di televisi dan Andrea pun langsung menoleh.


“Enak memang ya, Bang?”


Varen pun dengan cepat mengangguk, menjawab pertanyaan Andrea.


Kalau Andrea sih ga merasa aneh kalau si Abang memakan makanan yang ga sinkron.


Pasalnya Andrea sendiri, juga Nathan sering mencoba makanan-makanan aneh. Jadi saat sia Abang bilang ingin makan chicken wings sama selai kacang, Andrea tidak merasa gimana-gimana.


Mungkin Abang melihat ada yang memakan itu entub, dimana banyak kreator kuliner aneh-aneh.


Andrea pun tergoda untuk mencoba. Mengambil satu potong chicken wing dari piring Varen, dimana diatas meja sudah ada lagi beberapa potong chicken wings dalam piring saji yang lain,  yang akhirnya diminta Mama Jihan untuk digorengkan lagi oleh asisten rumah tangga mereka sebagai kudapan untuk menemani menonton televisi.


“Enak, kan?” Tanya Varen setelah Andrea memakan chicken wings dengan cara yang sama Varen memakannya, dioleskan selai kacang. Andrea manggut-manggut dengan wajah yang nampak menikmati sensasi rasa baru di mulutnya.


“Enak, Cute Girl?...”


Nathan yang memang sama seleranya kalau soal makanan dengan Andrea itu akhirnya ikut penasaran untuk mencoba.


Kalo mulut Andrea bilang enak, biasanya emang enak itu makanan bagi Nathan yang sama seperti Andrea, yakni Omnivora. Pemakan segala.


“Enak juga ternyata, Tan!”


Setelahnya, Nathan akhirnya tergoda untuk mencoba dan Andrea melanjutkan makannya untuk menggigit sepotong chicken wing yang sudah diambilnya tadi.


Namun Andrea mengernyitkan dahinya kala melihat bagian potongan chicken wings yang sudah ia gigit.


‘Eyyuh, masih ada darahnya gini sih?’


“Kenapa? ...”


Varen sontak bertanya karena Andrea yang nampak langsung berdiri dari duduknya.


'Nanti kalo gue bilang mau muntah, Abang jadi ga selera makan lagi .. Kasian kan Abang makannya kurang dan ga teratur dari kemarin'


Andrea membatin.


“Ambil air es!”


Andrea akhirnya menjawab asal saja sambil berlalu dan berjalan cepat.


“Aku juga mau ambil jus lagi deh!”


Kevia ikut berdiri.


“Ada yang mau tambah?”


“Bawa saja satu pitcher kesini, Sayang”


“Oke Mom Ichel!”


“Sekaligus minta Mba Adis atau siapa gitu untuk menggoreng kan ini chicken wings untuk anak-anak di halaman belakang ya Vi?”


“Siap Daddy Dewaaa! ...”


***


“Drea?”


Via yang berjalan di belakang Andrea itu serta merta nampak khawatir karena Andrea yang katanya ingin mengambil air es, nampak berlari ke arah wastafel belakang dengan menutup mulutnya.


Dan nampak Andrea sedang memuntahkan isi perutnya ke dalam wastafel.


“Kamu baik-baik aja, Drea?”


Via bertanya sembari menyodorkan beberapa lembar tisu pada Andrea untuk menyeka mulutnya, kala Andrea nampak sudah selesai memuntahkan isi perutnya di wastafel tadi setelah Andrea membersihkan muntahan didalam wastafel.


Andrea manggut-manggut sembari menyeka mulutnya, lalu meminum segelas air yang dibawakan oleh Mba Adis.


“Aku baik-baik aja Vi. Tadi tiba-tiba aja aku mual pas lihat kayak ada sedikit darah di chicken wing yang habis aku gigit ..”


“Tapi muka kamu pucet, Drea ...”


“I’m okay, Cuma akhir-akhir ini aku kalo lihat makanan yang ga dimasak dengan sempurna itu, perut aku jadi mual, Vi ...”


“Drea...”


Kevia seperti ingin mengatakan sesuatu, namun nampak sedikit ragu-ragu.


“Apa kamu sudah datang bulan?”


Kevia pun melontarkan pertanyaannya pada akhirnya.


Andrea nampak berpikir, namun kemudian ia menggeleng.


“Belum sih kayaknya seinget aku, perasaan aku digarap hampir tiap malem sama Abang sebulan ini ..”


Andrea memasang tampang polos seraya menggumam dengan telunjuknya yang ia ketuk-ketuk kan pelan di dagunya.


“Abang Vareenn!!! ..” Tahu-tahu Via berseru kencang.


“Ada apa???!!” Varen yang mendengar teriakan Via yang memanggil namanya itupun segera berlari kencang dengan panik kearah dapur, mengingat Andrea juga tadi bilangnya mau ambil air es.


Semua orang yang tadi berada di ruang santai juga ikut bergegas kearah dapur, karena ikutan panik mendengar teriakan Via.


“Drea muntah-muntah barusan..” Ucap Via saat Varen sudah ada ditempatnya bersama Andrea berdiri.


“Hah?!”


Varen yang kemudian menjadi nampak khawatir itu langsung merengkuh Andrea dan mengecek suhu badan Andrea dengan tangannya.


“Kamu kenapa??? ... Ga enak badan?!”


“Drea lagi isi tuh!”


Via langsung menyambar sebelum Andrea sempat menjawab pertanyaan Varen perihal kondisinya.


Dimana Andrea langsung membulatkan matanya, memandang Via yang mesam-mesem.


“Isi?? ..”


“Hu’um!”


“Isi .. maksudnya?..”


“Istri kecil Abang sedang hamil!!!”


Varen sampai terpaku di tempatnya mendengar celetukan Via barusan, dimana Andrea menutup mulutnya dengan wajah yang tak percaya.


“Benar, itu Little Star???!!” Pada akhirnya Varen pun berpaling dengan raut wajah tak percaya namun rona sumringah menempel disana.


“Yakin benar. Drea muntah-muntah, sering mual, dan dia belum datang bulan katanya ... Iya kan, Drea? ..”


Via masih mesam-mesem.


Andrea dengan cepat mengangguk.


“Wah! Wah! Kita mau punya peternakan bebek ini!”


***


🌺🌺🌺🌺 END OF THE ROAD 🌺🌺🌺🌺


Cerita keluarga nan cetar membahenol sampai sini ya reader emak yang blaem-blaem.....


Ma acih tak terhingga untuk kalian semua yang sudah setia sama emak, yang udah rajin kasih jempol, komentar, juga bunga berikut Vote.


Yang rajin komentar ama yang ga pernah komentar tapi tetep setia baca.


I love you all soo much!!!


Noted:


Akan ada Ekstra Part yang emak kasih setelah ini.


Jadi jangan di hilangkan dulu novel ini dari rak buku kalean kalo masih mau baca cerita tambahan yang emak kasih,  okehhh?.


Salam Sayang,


Emaknya Queen

__ADS_1


__ADS_2