THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 263 – TENTANG NATHAN


__ADS_3

♣  STRIKING HEART  ♣


( Menghujam Jantung )


♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣


 


Selamat membaca..


♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣


Dulu.... karena cinta satu malam Daddy Jeff dan Mama Jihan, maka hadirlah Nathan. Dulu juga, Mama Jihan


menyembunyikan tentang Nathan dari Daddy Jeff, dari sejak Nathan dalam kandungan, hingga Nathan lahir.


Sampai saat Nathan kecil berumur tiga tahun, barulah Daddy Jeff menemukan fakta bahwa dia memiliki seorang Putra.


Dulu alasan Mama Jihan hanya satu, tak ingin dicap sebagai wanita pengejar harta, kala Dokter mengatakan bahwa ada janin di rahimnya.


Yang Mama Jihan tahu benar siapa ayahnya, salah seorang Petinggi di Perusahaan tempatnya bekerja saat itu


yang tak disangka terlibat cinta satu malam pada akhirnya. Tak ada keinginan Mama Jihan untuk mencari Daddy Jeff dan meminta pertanggung jawabannya.


Karena dari awal Mama Jihan sudah menolaknya, saat Daddy Jeff menawarkan pertanggung jawaban atas ‘mahkota’ Mama Jihan yang telah direnggutnya. Daddy Jeff yang memang seorang Casanova saat itu pun santai saja. Toh dia sudah menawarkan pertanggung jawabannya, meski cinta satu malam itu dilakukan atas dasar suka sama suka, mau sama mau, tanpa paksaan didalamnya.


Yah walau alkohol pun mendominasi juga.


Jadilah Mama Jihan hamil diluar nikah, menjadi single parent untuk putra hasil dari cinta satu malamnya dengan Daddy Jeff.


Daddy Jeff yang memang seorang petualang cinta itu pun, melanjutkan petualangannya. Dan Mama Jihan memilih


untuk pergi jauh darinya dan tak pernah berusaha menemuinya hinggan sampai Nathan lahir ke dunia, tumbuh dengan lucunya.


***


Serupa, tapi tak sama.


Namun sejarah kisah Daddy Jeff dan Mama Jihan seolah terulang.


Nathan terlibat cinta satu malam atau apalah itu, yang jelas hingga menyebabkan gadis itu hamil. Sama, seperti sang Daddy yang menghamili Mamanya.


Bedanya, sang Daddy tak tahu ada kehamilan yang disembunyikan darinya. Ada anak yang tak pernah dimintai


pertanggung jawaban padanya oleh sang Ibu anak itu sendiri.


Tapi Nathan? Ia tahu. Tahu dengan pasti bahwa gadis yang pernah ia bawa ke atas ranjang itu hamil. Yang tak Nathan ragukan kalau itu anaknya. Karena memang Nathan lah yang pertama menyentuhnya. Oh bukan, merusaknya. Merusak anak gadis orang, dengan alibi terbawa suasana, hingga larut dalam khilaf bergelung dosa yang terasa nikmat baginya.


Gadis bernama Kevia, yang Nathan renggut ‘mahkota’ nya, meski sama, saat itu Nathan juga melepas


keperjakaannya. Lupa pesan Mama Jihan untuk tidak merusak wanita. Lupa juga kalau mereka masih sekolah dan masih panjang jalan untuk mereka lalui didepan.


Nikmat yang Nathan rasa terlalu membuai nya. Sampai saat Nathan merasa pusat intinya didekap erat oleh milik Kevia, hingga detik dimana Nathan melepaskan banyaknya sel – sel yang kemungkinan akan bisa jadi penerusnya. Itu, yang Nathan lupakan. Pembuahan ...


Sesaat semua Nathan rasa baik – baik saja, hubungannya dan Kevia berjalan seperti biasa, hingga hari dimana Kevia berkata padanya, “Jo, aku hamil”


**


“Katakan”


Itu suara Daddy yang memulai pembicaraan kala ia, Mama Jihan, Nathan, Andrea, Varen, Nenek Yuna dan dua


pasang Moms dan Dads yang memang tinggal di Kediaman Utama bersamanya, sudah berkumpul di ruang keluarga.


“Katakan dengan lantang apa yang sudah kau akui tadi” Daddy Jeff memandang pada sang Putra yang sedang


duduk bersebrangan dengannya. Yang mencengkram erat kedua tangannya yang saling menggenggam.


Yang kemudian mengangkat kepalanya, kala ia sadar kalau sang Daddy sedang bicara padanya, menunggu


pengakuannya. “Aku ... pacaran dengan Kevia”


Semua mata yang bersama Nathan memandang padanya, belum ada yang menginterupsinya.


Nathan sedang merangkai kata. Bingung harus mulai menjelaskan dari mana.


“Apa yang kalian dengar dari mulut Drea tadi .. tentang aku dan Kevia ... tentang kehamilannya .. itu benar...”


“Ya Allah Nathaannn!!......”


Mama Jihan melirih lagi. Matanya kembali lagi dibasahi air mata, didekap oleh Nenek Yuna dan Mom Ichel dikedua


sisinya.


“Maaf ..”


“Maaf?! Setelah hampir empat tahun anak gadis orang kamu rusak lalu kamu telantarkan?!!! ..”


Mama Jihan histeris lagi, menunjuk sang Putra dari duduknya dengan emosi. Sedih dan frustasi, dengan fakta


tentang perbuatan tercela putranya dan Daddy Jeff. Nathan tertunduk lagi. Sadar diri kalau bisa dibilang, kasarnya, dia sudah merusak hidup seorang gadis. Yang seharusnya ia lindungi karena gadis itu Nathan sayangi.


Tapi tidak, kenyataan kehamilan dari buah perbuatannya itu bukan membuat Nathan merengkuh sang gadis untuk ia rangkul dan lindungi.


Kenyataannya Nathan menolak, meski halus namun Nathan  menolak, dengan alasan tidak siap. Iming – iming pertanggung jawaban itu diberikan Nathan pada Kevia, tapi nanti dimasa depan, ga sekarang. -  Yang Nathan katakan saat itu pada Kevia.


Meski yah, Nathan tak pernah berniat meninggalkan Kevia. Nathan tak hanya sayang, tapi juga cinta. Namun


kalau harus menjadi seorang Ayah, bahkan baru mau masuk bangku kuliah, Nathan tak bisa. Ia punya cita – cita.

__ADS_1


Hingga saat Kevia memilih pergi, Nathan memilih pasrah. Meski tak putus juga berusaha mencari informasi tentang Kevia. Pernah juga Nathan putus asa, berpikir untuk melupakan Kevia, memulai baru lembaran hidupnya. Tapi nyatanya tidak bisa. Rasa cintanya, perasaan bersalahnya yang lebih – lebih, membuat nama Kevia seperti dipatri


secara permanen dihatinya.


“Aku tidak pernah bermaksud menelantarkan Kevia, Ma ..”


“Lalu yang kamu lakukan itu apa, hah?! Apa dia bergilir, jadinya kamu ragu dengan anak dalam kandungannya?!”


“Engga Ma! Engga!”


Nathan langsung menyanggah ucapan Mama Jihan barusan.


“Kevia bukan wanita seperti itu. Dia gadis baik .... aku yang pertama menyentuhnya, Kevia.... anak dalam


kandungan Kevia kala itu, memang anak aku. Via.... gadis baik – baik, Ma .... aku yang membujuknya.... aku yang brengsek ....” Ucap Nathan dengan terbata.


“Baru sadar kamu sekarang hah?! Baru sadar diri kamu brengsek sekarang?!” Mama Jihan masih emosi.


Nathan menundukkan lagi kepalanya. Ia pasrah, terserah mau di maki seperti apa, mau dihujat dengan semua sebutan buruk yang mungkin bikin panas telinga. Memang Nathan merasa salah. Sudah dari dulu. Dari sejak ia menolak anaknya yang dikandung Kevia.


“Apa kamu memaksanya?”


Daddy Jeff terdengar lagi bersuara. Ia sama terguncangnya dengan sang istri. Namun Daddy Jeff hanya


menyimpannya dalam hati. Tak ia tunjukkan, meski kecewanya juga besar.


“Engga Dad, kami melakukannya atas dasar suka sama suka”


Nathan menjawab dengan suara parau nya yang mulai terdengar bergetar. Tiga orang itu saja yang mendominasi


pembicaraan, sisanya hanya bungkam. Tak mau bicara jika tak dimintai pendapat. Lagipula situasi masih tegang antara Nathan dan kedua orang tuanya saat ini.


Andrea pun sudah tak lagi bicara. Varen masih mendekapnya. Tak juga beranjak dari ruang keluarga.


Bagaimanapun, ini juga masalah keluarga. Tak mungkin meninggalkan Nathan, Daddy Jeff dan Mama Jihan bertiga saja.


“Kenapa? Kenapa kau menolak anak yang kau yakini itu adalah anakmu?” Tanya Daddy Jeff. Ia sedikit geram


sebenarnya, tapi tak mampu untuk menghakimi Nathan secara berlebihan, tak merasa dirinya lebih baik dari pada Nathan.


“Aku bahkan baru lulus waktu itu, Dad ....” Jawab Nathan memandang pada Daddy yang terus menatapnya,


menunggu penjelasan.


“Lalu gadis itu?! Ga kamu pikirkan dia yang bahkan masih harus terus bersekolah seharusnya?!” Lagi, Mama


Jihan menyela bagian sang Putra yang bicara. “Kamu pikirkan ga?!” Seru Mama Jihan lagi dengan histeris.


“Iya, aku salah ..”


“Baru sekarang sadar salahnya?! Kamu tega membiarkan gadis yang mengandung anak kamu hidup luntang –


Nathan menggeleng. “Dari sejak Kevia bilang kalau dia hamil lalu aku menolak untuk memilikinya, aku sudah


menyadari kesalahanku, Mam .. Dad ..”


“Dad tidak pernah mengajarkan kamu jadi pengecut, Than!”


“Iya, aku tahu, Dad ....”


“Apa kamu tak ingat diri kamu sendiri? Saat kamu belum bertemu Daddy? Bukan salah Daddy kamu memang, Mama yang salah. Yang membuat kamu tak merasakan kehadiran seorang ayah selama tiga tahun lamanya”


Mama  Jihan berbicara, memandangi sang putra dengan nada suara yang tak lagi emosi, namun raut wajahnya begitu suram.


“Meski kamu tidak terlalu mengingatnya, tapi kamu pernah hidup tanpa sosok seorang ayah, tahu kan gimana


rasanya?”


“....”


“Dan sekarang, kamu malah melakukan itu sama anak kamu sendiri? Setega itu, anak Mama?!”


Nathan mencengkram kembali tangannya yang masih ia genggam.


“Apa yang kau takutkan, Boy?. Kau bisa meraih cita – citamu, tanpa harus menelantarkan gadis itu dan anakmu. Apa kau lupa seperti apa keluargamu?!”


“Aku sudah katakan tadi, umurku berapa saat itu? Yang ada dipikiranku hanya kepanikan, ketakutan atas


cemoohan yang mungkin datang. Membayangkannya saja aku takut. Aku tak siap,  sangat tak siap, untuk memiliki seorang bayi”


"Tak siap memiliki seorang bayi! Tapi kamu berani meniduri seorang gadis!" Mama Jihan geram sekali. Daddy Jeff menghembuskan nafasnya dengan berat.


“Apa kau benar – benar menyesal sekarang?”


“Sangat Dad.. Sangat.. jika diberi kesempatan aku ingin menebus kesalahanku pada Via..”


Daddy Jeff menghela nafasnya panjang dan berat sekali lagi. Sementara Mama Jihan geleng – geleng seraya menatap anaknya dengan kecewa dihatinya. “Ganti bajumu, kita ke rumah Mustafa hari ini juga”


Daddy Jeff kemudian berbicara pada Papi.


“Kau berikan semua informasi tentang putrinya Mustafa itu. Dad akan menyuruh Omar mencarinya. Kau bisa menebus kesalahan dengan bertanggung jawab pada gadis bernama Kevia itu dan anak kalian”


Lalu Daddy Jeff kembali berbicara pada Nathan.


“Langsung saja ke rumah Mustafa jika begitu, siapa tahu anak gadisnya sudah pulang kesana”


“Dia tidak berada di rumahnya, Pi” Andrea bersuara. Menyahut atas saran Papi. Kini semua mata memandang padanya.


“Kok Drea tahu?”

__ADS_1


“Dia panggil papanya dengan sebutan ‘Pak’ saat aku bertemu dengan Kevia. Jadi Drea rasa, hubungannya dengan


Om Mustafa belum kembali baik”


Semua orang terkesiap, namun Nathan yang nampak lebih terlihat terkejut. “Kamu, bertemu Via, Drea? ..”


“Iya, aku bertemu dengan Kevia”


Nathan baru engeh, lupa bertanya sebelumnya bagaimana Andrea sampai tahu aib yang ia simpan rapat – rapat selama kurang lebih empat tahun ini?.


‘Pantas Drea tahu, dia bertemu dengan Kevia. Tapi kapan?. Apa .... Kevia juga cerita soal...’


“Drea tahu Kevia tinggal dimana?” Suara Mama Jihan yang bertanya pada Andrea membuat Nathan tak


meneruskan kalimat dalam hatinya.


“Engga. Aku tak sengaja bertemu kemarin. Tak kepikiran menanyakan dimana dia tinggal sekarang”


“Kamu bertemu dimana?” Tanya Mama Jihan pada Andrea.


“Di PP, Mam ....” Jawab Andrea.


“Dia dengan siapa, Drea?...”


Mama Jihan bertanya pada Andrea, seperti ada harap di raut wajahnya.


“Apa .. dia membawa anaknya dan Nathan ..?.. cucu Mama?” Tanya Mama Jihan dengan sedikit tercekat. Andrea


menggeleng. Lalu ia menoleh pada Nathan.


“Lo belum cerita semua Tan” Ucap Andrea, menimbulkan tanda tanya di hati semua orang. Sementara Nathan kembali nampak tegang. “Iya kan? Atau mau lo simpan lagi?”


**


“Apa? Apa yang belum diceritakan semua?”


Suasana yang tadinya hampir mulai tenang itu kini kembali menegang. Masih ada hal lain lagi, kalau menangkap dari ucapan Andrea barusan. Kini semua mata kembali lagi beralih ke Nathan.


‘Apa lagi, Ya Tuhan?’ Varen membatin dia tak bicara sama seperti yang lain selain Nathan, Daddy Jeff dan Mama Jihan. Andrea baru bersuara lagi barusan. Masalahnya Nathan, tapi Varen yang deg – deg an. Varen bertanya pada Andrea dengan kode matanya. Andrea hanya menampakkan senyumnya pada Varen.


“Ngomong Nathan!. Apa lagi yang belum kamu ceritakan?. Jangan bilang ada Kevia – Kevia lain yang menjadi


korban kamu?! Jangan bilang ada lebih dari satu anak gadis yang sudah kamu rusak dan bukan hanya gadis itu yang punya anak dari kamu?! Ngomong! Nathan!”


Nathan menggeleng cepat.


“Kevia satu – satunya”


“Lalu? ....” Mama Jihan menatapnya tajam.


“Kevia memang hamil karena perbuatan kami .... anak aku....”


“Bicara langsung pada intinya, jangan berbelit – belit”


“Kevia hamil. Pernah.... tapi anak kami tidak pernah lahir”


“Jangan bilang....”


Entah kenapa Daddy Jeff mulai menggigil, ia punya dugaan yang membuatnya was – was, jantungnya berdetak


makin cepat.


Mama Jihan pun kurang lebih sama, mencium bau ketidak beresan dari ucapan Nathan. Membuatnya memiliki


ketakutannya sendiri.


Hingga saat apa yang keluar dari mulut Nathan terasa begitu menohok Daddy Jeff dan Mama Jihan. Bak bilahan


pisau tajam yang terasa menghujam jantung keduanya.


“Karena aku memaksa Kevia untuk menggugurkan, dan ya anak kami tidak pernah lahir ke dunia. Aku penyebabnya .... Aku memberi Kevia obat aborsi, tanpa ia sadari”


“NATHAANN!!....”


“JI!”


Dengan cepat Daddy Jeff menangkap tubuh sang istri sembari berucap kencang. Menahan Mama Jihan yang


nampak begitu ingin mencabik – cabik Nathan. Bersamaan dengan pekikan semua orang.


“MA!”


“JIHAN!”


“KAK!”


Nathan tak berusaha menghindar, namun Daddy Jeff tetap menahan tubuh Mama Jihan, yang kembali histeris, nampak ber api – api. Begitu murkanya Mama Jihan pada Nathan.


“SEBEJAT ITU KAMU JONATHAANNN??!!....”


Mama Jihan dengan kehisterisannya, tak bisa lagi memilah kata – katanya. Terlalu geram hingga matanya


sudah memerah bersamaan dengan bulir air mata yang turun akibat rasa kecewanya yang teramat sangat pada sang putra berikut hatinya yang dirasa hancur.


Air mata Nathan pun luruh pada akhirnya


“Iya, Ma .... Sebejat itu, memang, anak Mama....”


**

__ADS_1


To be continue ....


__ADS_2