THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 248


__ADS_3

◽ BETTER TO SHUT UP! ◽


    ( Lebih Baik Diam! )


◽◽◽◽◽◽◽◽◽◽◽◽◽◽◽


Selamat membaca.....


“Cewek kurang ajar lo! Berani – beraninya lo siram tante Inggrid pakai teh panas dan nyakitin nenek gue?!. Ga tau diri! Pecun murahan seperti yang tante Inggrid bilang, sama kayak mama lo!”


BUGH!


Bukan tamparan yang seketika melayang dari tangan Andrea, tapi tinju yang mendarat tepat dihidung Gita yang


kemudian terhuyung lalu tak lama ada darah yang keluar dari hidungnya.


“AAKHH!!...”


Gita spontan memegangi hidungnya.


“PEREMPUAN SIALAN!”


Gita hendak menjambak rambut Andrea meski darah segar sudah mulai keluar dari hidungnya.


Tapi sayang sungguh sayang, si jago beberapa cabang martial arts itu sudah keburu menangkap tangan Gita yang tidak sampai ke rambutnya. Lalu diputarnya tangan Gita kebelakang, bak seorang kriminal yang ditangkap polisi.


Dan lebih dari itu ..


Bruk!


Andrea langsung menjatuhkan Gita ke atas lantai dibawah kakinya. Beruntung, Gita keburu menolehkan kepalanya, jika tidak, bisa jadi hidungnya patah. Pipi Gita yang nampaknya terhantam ke lantai, namun cukup keras juga sepertinya.


Gita memekik kesakitan. Entah karena pipi berikut rahangnya yang ber hantaman dengan lantai, atau mungkin karena tangannya diplintir Andrea. Entahlah. Yang jelas Gita memekik kesakitan. “AAKKHH!! ..”


“GITA!!!”


Tara dan neneknya berteriak dengan spontan saat Gita dijatuhkan Andrea. “Lo bilang apa tadi tentang Ibu gue???? ...” Andrea sudah membalikkan tubuh Gita dan kini sudah menduduki perut Gita.


“Nyo....nya.....”


Ammar dan Niki sampai terperangah. Ammar tahu Andrea pernah berkelahi disekolahnya dulu. Tapi baru liat Live-nya sekarang.


“Mundur”


Andrea berkata datar pada dua bodyguardnya tanpa menoleh. Ammar dan Niki menjaga jarak.


Sret!


Andrea menarik cepat bandana kain yang ia pakai.


“Apa – Apaan?! Lepasssss!... Perempuan Gilaaaaa! Lepasin gue!!”


Gita panik sekaligus berusaha berontak saat Andrea memegang kuat kedua tangannya lalu diikat dengan bandana yang Andrea lepaskan dari kepalanya.


“Andrea ..”


Tara melirih, hendak menolong Gita tapi cukup takut juga pada Andrea saat ini yang berwajah dingin sambil mengikat tangan Gita sembari menduduki perut sepupunya itu.


Plak!


“Berani bilang Ibu gue perempuan murahan?!” Ucap Andrea setelah melayangkan satu tamparan di wajah Gita.


Plak!


“Nenek lo yang murahan!”


Plak!


“APA KAMU BILANG?!”


Neneknya Tara yang merasa itu, berteriak pada Andrea.


“KURANG AJAR! BERANI KAMU BILANG SAYA MURAHAN!” Pekik Nenek Tara sembari melotot dan mendekati Andrea. “AKAN SAYA BERI PELAJARAN KAMU!” Rambut Andrea ditarik kencang oleh neneknya Tara.


“NEK!”


Kepala Andrea sempat ikut tertarik karena neneknya Tara menarik rambutnya.


Tapi hanya kepala Andrea saja yang bergerak sebentar, sementara tubuhnya yang menduduki Gita bergeming


ditempatnya.


Sret!


Satu tangan Andrea yang tadi digunakan untuk menampar Gita kini sudah mencengkram tangan wanita tua itu dengan ketat. “Akh!” Neneknya, Indri langsung memekik kesakitan, karena tak hanya dicengkram, Andrea juga sedikit memutarnya. “Lepas! Anak sialan!” Pekik Indri lagi. “Akh! Tolong nenek Tara!”


“Tolong ... lepaskan nenekku Andrea...”


Tara kembali melirih dan memohon dengan mata yang sudah berkaca – kaca. Dimana Ammar dan Niki sudah bingung harus berbuat apa. Nyonya muda mereka menyuruh mereka mundur, tapi rasa hati ingin melerai, tapi urung lagi karena Nyonya muda mereka nampak memang sedikit menakutkan.


Nanti kalau mereka melerai, Nyonya Andrea malah ngamuk pada mereka - bahaya - pemecatan tak terhormat didepan mata - Pikir Ammar dan Niki.


Syut!


Bruk!


Andrea melepaskan nenek tua itu dengan sedikit dorongan, namun dorongannya yang sedikit itu sukses membuat


Indri jatuh nge deprak dekat sofa.


“Aaaaa ....” Pekik Indri. Tara dan seorang asisten rumah tangga mereka langsung menolong nenek tua itu, namun tak berani mendekati Andrea. Kebingungan sendiri, meski ingin mencoba melerai.


“Aakkkhh”


Gita yang melihat Andrea sedikit hilang fokus mencoba melepaskan diri dari kuncian Andrea. Berhasil sedikit, Andrea goyah, namun tak sampai Gita berhasil Andrea sudah mendudukinya lagi setelah menarik kaki Gita. Mohon maaf, ini anaknya Thanos, tenaganya rada gede.


“Minta maaf! Bilang lo menyesal menghina Ibu gue!”


“PEREMPUAN SIALAN! AKAN GUE BUAT ALVAREND NINGGALIN LO!”


Plak!


“DASAR AN – ( tiiiiiit ) – sensor” 😤


Plak!


“Mulut lo kotor”


Greb!


Andrea mencengkram kuat rambut Gita kini yang lagi – lagi orangnya memekik kesakitan. Andrea tak lagi


menduduki perutnya, tapi sudah beringsut ke dada Gita dan sekaligus menduduki kedua tangan Gita yang terikat.


Bruk!


“Arrrrggghh!...”

__ADS_1


“Menghina gue, Merendahkan Ibu gue, mengancam gue dengan membawa – bawa suami gue...”


Andrea mengangkat lagi kepala Gita dengan cengkramannya pada rambut wanita itu.


“Lo terlalu menguji sabar gue” Andrea gusar.


“LEPAAAASSS!!.. AAHHH!! .... TOLOONG!!....”


Dan mereka yang berada didekat Andrea sedang mencoba melerainya.


“LEPASKAN DIA! YA TUHAAN!!” Indri sudah histeris. Tara dan irt mereka membeku dan gemetar.


Ammar dan Niki sedikit menahan nafas, karena sang Nyonya Muda tadi sudah membenturkan kepala wanita


dibawahnya itu kelantai, meski tak keras. Tapi kini kepala Gita sudah diangkat lagi oleh Andrea sedikit tinggi. Jika dihantamkan lagi ke lantai, pasti akan lebih keras benturannya. Bisa – bisa...


“LITTLE STAR!”


Varen yang nampak sangat terkejut itu langsung menghampiri dan mengangkat tubuh Andrea dengan segera,


hingga cengkraman Andrea terlepas dari kepala Gita, yang kemudian mendorong tubuhnya yang terbaring hampir tak berdaya itu menjauh dari Andrea.


“KENAPA KALIAN DIAM SAJA?!” Varen berteriak pada dua bodyguardnya dengan wajah marah.


“Ma-maaf Tuan, Nyonya Andrea yang melarang kami untuk mendekat”


“Hish!”


Tubuh Andrea yang sudah diangkat Varen dari atas tubuh Gita itu dihadapkan pada dirinya.


“Ada apa ini Little Star?”


“Di..”


“Istrimu merasa tersaingi olehku. Hu-uu.. Dia lalu menyerangku tanpa alasan.. Hu-uu.. Dia bahkan menyiram wajah tante Inggrid dengan teh panas karena Tante mencoba menjauhkannya dariku setelah menyerangku... Hu-uu..”


“Apa benar begitu, Little Star ..?”


“Istrimu begitu kasar dan menakutkan.. Hu-uu... dia tidak pantas menjadi pendampingmu .. seharusnya dia menghormati kami karena kami keluargamu bagaimanapun juga, Alvarend.. Hu-uu” Gita mengoceh sembari menangis, memasang wajah melas dan tertindas.


“Little Star?.... “ Varen menangkup wajah Andrea sambil menatap wajah istri kecilnya itu yang dadanya nampak kembang kempis namun wajahnya nampak datar. “Apa benar kamu menyiram teh panas pada ibunya Tara?” Tanya Varen.


“Benar” Jawab Andrea.


“Kenapa?”


“Mereka ...”


“Istrimu benar – benar keterlaluan Alvarend!” Neneknya Tara berseru marah sambil menunjuk – nunjuk dengan emosi ke arah Andrea sembari ia membantu Gita bersama Tara dan irt mereka.


Varen spontan menoleh ke arah wanita tua itu.


“Dia sudah menyiram wajah putriku dengan teh panas, lalu memukuli cucu keponakanku sampai seperti ini!” Pekik Indri lagi dengan emosi.


“Apa kamu terluka?”


“Tentu saja aku terluka! Apa kamu ga lihat perbuatan istrimu padaku?!”


Gita memekik sembari mengelap darah di hidungnya denga tisu lalu berusaha berdiri, dibantu Tara dan Indri.


“Aku tidak bicara padamu!” Varen menatap sinis pada Gita yang nampak terkejut. Termasuk Tara dan neneknya.


“A – apa??...”


“Apa kamu terluka, Little Star?”


“Engga ....”


Gita menggumam sembari menatap heran pada Varen yang seolah tidak memperdulikannya.


“Dia yang memukuliku! Seharusnya kamu bertanya dengan kondisiku! Lihat apa yang  ia lakukan padaku! Belum lagi dia pasti sudah merusak wajah Tante Inggrid!” Gita berkata dengan sangat emosi sembari mendekat pada Varen dan Andrea. “Aku, yang seharusnya kamu kasihani Alvarend..”


Nada suara Gita berubah lembut sembari menyentuh pelan sebelah lengan Varen.


“Istrimu itu Perempuan Gila!”


Srek!


“A-KH! .... Lep-hh..”


“Siapa yang kau bilang gila?!”


Tangan Varen sudah mencengkram leher Gita.


“SIAPA YANG KAU BILANG GILA??!!” Varen berteriak tepat diwajah Gita yang ia cengkram lehernya.


“To - ...long... lep ...” Gita merintih.


“Ya Tuhaannnn!! ..Alvarend ..... tolong, lepaskan Gita .. kami ini keluargamu ....”


Indri mendekati Varen dan mengiba pada lelaki yang menatap nyalang pada cucu keponakannya sambil tangannya mencengkram leher wanita muda itu, yang sudah mulai terlihat sulit bernafas. Sisanya hanya membeku kelu ditempatnya.


Andrea cukup kaget juga, namun ia tak berusaha menghentikan Varen saat ini. Dirinya sudah kadung sakit hati karena mereka Gita dan Indri menghina dan merendahkan Mommanya tadi.


“Oh Tuhan ... a – ada apa ..? ..” Ayah Tara nampak sangat syok mendapati pemandangan didepannya setelah


kembali lagi ketempat tadi ia berada setelah menolong Inggrid yang wajahnya disiram teh panas oleh Andrea.


“BERANI KAU BILANG ISTRIKU GILA?!”


Varen mengetatkan cengkramannya di leher Gita. Nampak geram, dengan rahangnya yang kian mengetat.


“A.. k-ku .. tol- ....”


“Naaak.... Alvarend .. tolong lepaskan dia.... om mohon... kamu ... kamu bisa membunuhnya.....”


Ayah Tara yang kini mengiba, melihat wajah keponakannya yang sudah nampak pias selain raut ketakutan yang


begitu nampak.


“Al – Alvarend.. tolong...... ampuni dia ..”


“Abang ...” Ucapan ayahnya Tara membuat Andrea kemudian sadar kalau Varen bisa saja membuat gadis itu


kehilangan nyawa akibat kehabisan nafas, melihat wajah Gita semakin pias, seolah aliran darahnya terhenti. “Lepaskan dia ...” Andrea menyentuh pelan lengan Varen yang sedang menekan leher Gita.


“Uhuk! Uhuk! ...” Gita langsung jatuh lunglai kelantai sambil terbatuk dan memegangi lehernya, serta berusaha menghirup udara banyak – banyak. Setelah Varen melepaskan cengkramannya dari leher gadis itu setelah Andrea menyentuh lengannya.


“Kalian! Tidak belajar dari kesalahan!”


Varen menatap anggota keluarga Alexander satu per satu dengan mata elangnya yang menyorot tajam.


“Dulu Kau!” Varen menunjuk pada Indri. “Menghancurkan kebahagiaan almarhumah nenekku! Lalu kedua anakmu


mencoba menyakiti ibuku dan sampai membuat bayi dalam kandungan ibuku yang lain meninggal!”


“....”

__ADS_1


“Sekarang Berani Kalian menghina istriku?!”


“Maaf Alvarend, maaf atas kelakuan ibu mertuaku, istri dan keponakanku. Inggrid dan Gita... biar aku yang memberi mereka pelajaran” Ucap Ayah Tara pada Varen.


“Camkan ini baik – baik!!!”


Varen mengangkat telunjuknya.


“Jika Kau! Kau! Termasuk Kalian Berdua!” Varen menunjuk Indri, Gita, Tara juga ayah Tara bergantian. “Termasuk Seluruh Penghuni Rumah Ini Berani Menghina Istriku, Merendahkan Keluargaku, Akan Ku bakar Kalian Hidup – Hidup Didalam Rumah Ini!”


Suara bariton itu terdengar lantang dan mendominasi.


Gluk!


“TANPA TERKECUALI!!”


Keempat anggota keluarga Alexander itu menelan ludah mereka dengan kasar. Wajah tampan yang kini terlihat bengis serta suaranya yang lantang dan mendominasi, nampak tidak main – main dengan ucapannya.


“APA KALIAN MENGERTI?!”


“I.. i-iyyaa ... kami mengerti ... maafkan kami .....”


Tara bersuara, seolah mewakili keluarganya untuk menjawab ucapan Varen, meski wanita itu nampak gemetaran.


“Aku pribadi memohon maaf padamu, Nak. Atas ketidak - sopanan ibu mertua, istri serta keponakanku pada istrimu. Sungguh.. aku sendiri juga tidak menyangka kalau mereka sampai berlaku seperti itu .. Aku benar – benar memohon maaf..”


Varen tak menyahuti ucapan ayahnya Tara yang nampak terlihat tulus dengan ucapannya. Rahangnya masih


mengeras, namun ia sudah merangkul pinggang Andrea yang mengelus pelan dada Varen dari balik kemejanya.


“Lebih baik kita pulang Abang..” Ucap Andrea pelan.


“Sekali lagi ku ingatkan. Peringatan keras untuk kalian. Jangan mencoba emosiku. Atau aku tidak akan segan menghancurkan kalian tanpa sisa. Aku tidak akan pandang bulu”


Sekali lagi Varen menatap tajam empat anggota keluarga Alexander itu satu per satu.


“Kamu.. tega berbicara begitu pada kami.. mengancam kami seperti itu.... kami ini juga keluargamu!” Indri menunjuk Varen.


“Diam!” Seru Varen.


“Aku ini istri kakekmu! Seharusnya kamu menghormatiku sebagai nenekmu! Jangan kamu ikuti ayahmu yang


bahkan tidak menghargai kakekmu sebagai ayah kandungnya dan dengan kejam membunuh Irvin, putraku!”


“SUDAH KUBILANG DIAM!” Varen berteriak pada Indri yang kemudian langsung diam. Tak hanya Indri, tapi semua


orang juga sampai mengendikkan bahu mereka. “Tempat yang kau miliki sekarang, adalah milik almarhumah nenekku seharusnya. Rina Aditama! Sekali lagi kau bicara, akan kukirim sekarang juga ketempat dimana nenek Rina berada”


“....”


“Oh Tidak! Nenek Rina berada di surga. Kau! Tidak pantas berada disana!”


Varen mendominasi Indri dengan tatapannya. Melepaskan perlahan tangannya dari pinggan Andrea, yang


mencoba menahannya tapi tidak bisa. Karena Varen sedang melangkah memojokkan Indri yang spontan berjalan mundur dengan takut melihat sikap dari cucu kandung suaminya itu.


“Kau! Seharusnya berada di neraka bersama putramu yang sudah lebih dulu ayahku kirim ke neraka meski tanpa


sengaja!” Ucap Varen. “Apa kau rindu padanya??? Aku bisa mengirimmu kesana lebih cepat dari waktumu yang tersisa didunia”


“Abang.....”


“Putra dan putrimu itu, hampir mencelakai Mommyku dulu saat ia tengah mengandungku. Tapi sayangnya tidak berhasil, karena ibu dari istriku yang menolongnya. Hingga kedua orang tua istriku harus berduka atas kehilangan anak pertama mereka. Ayahku memberi pelajaran yang setimpal untuk itu. Untuk perbuatanmu, dua anakmu, bahkan kakek Peter”


“......”


“Jika menurutmu ayahku kejam, dia tidak sekejam itu”


Varen belum terlihat akan berhenti bicara.


“Dia masih memberikan kesempatan padamu, kakek dan keluarga kalian hidup yang masih bisa dibilang layak, meski  dia sudah membuang kakek Peter sebagai ayahnya. Tapi aku, tidak akan sebaik ayahku. Sekali lagi kalian


mencari masalah denganku, terlebih berusaha menyakiti istriku .. Akan ku pastikan, kalian semua, tanpa terkecuali, enyah dari muka bumi ini dengan cara yang paling menyakitkan”


“Abang.. sudah ..”


Andrea menggenggam tangan Varen sembari menarik suaminya pelan, agar menjauh dari Indri dan itu berhasil.


****


“Kakek Peter ingin bertemu denganmu sebentar”


Varen berkata pada Andrea setelah menjauh dari Indri yang masih membeku ditempatnya, juga Tara, ayahnya dan Gita.


“Iya...”


“Ayo”


Varen mengeratkan genggaman tangannya pada Andrea.


“Kalian tunggu disini” Ucap Varen pada Ammar dan Niki yang langsung menjawab sigap seraya mengangguk patuh.


“Awasi mereka, terutama dua orang itu”


Tunjuk Varen pada Indri dan Gita.


“Jika mereka berkata buruk lagi tentang istriku atau keluarga kami, habisi saja tanpa ragu”


****


To be continue ....


Noted dari Emak:


Yang jelek jangan diambil. Ini hanya bacaan jangan terlalu dipusingin. Nanti ada komen yang bilang lagi ‘maksudnya penulisnya bikin cerita begini apa sih?’ Terus bilang juga ‘Ga mendidik lah’.


( Inget ada komen yang begitu di BSS, jadi inget bikin noted begini dah sekarang )


Wes emak bukan guru hanya penulis receh, ini novel – fiksi – cerita Kehaluan belaka, bukan buku pelajaran.


Bicara soal novel yang mendidik, apa kate novel yang ceritanya soal hubungan – hubungan terlarang begitu, coba? ( Sekedar contoh ). Koreksi kalo emak salah.


Emak menghargai setiap komen, sangat!.


Tapi komentar dan cemoohan serta penghakiman dari satu sudut pandang itu berbeda loh ya.


Silahkan kritik, tapi tolong jangan dengan bahasa yang menyakitkan para penulis, yang menjudge  kami secara pribadi.


Kasihanilah emak, jangan sampe emak darting.


Kan namanya ide nyantol aje ye gitu, kek pikiran jorok yang tau – tau nemplok ye kaann?.


Ah, syudahlah... kesyel kalo dipikirin. Rasanya reader model begitu emak pengen ajak piknik.


Abis itu ceburin ke kandang buaya. Wahaha... ( Ah emak dasar )


Terima kasih lah pokoknya untuk semua support dari reader positif emak yang ngikut kesini dari sejak di BSS, ataupun yang langsung cus kesini sebelom kenal BSS hingga hari ini dan seterusnya. Terima kasih serta love tak terhingga.

__ADS_1


💗💗💗💗💗💗💗


Panjang kan tuh curcol😄


__ADS_2