THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 330


__ADS_3

BAGIAN KEGILAAN


***********************


Selamat membaca ...


************************


ITALIA


Sebuah suitan panjang terdengar di dalam sebuah hutan tak jauh dari sebuah bangunan besar dan luas yang klasik, hampir menyerupai sebuah kastil.


Lalu sepersekian detik terdengar suara raungan seperti sebuah sahutan dari suitan yang menggema barusan, di susul dengan suara seperti ada makhluk hidup yang melesat dengan cepat, termasuk suara dari beberapa ranting kayu yang terdengar terinjak juga dengan cepat.


Dan tak lama muncullah seekor makhluk hidup berwarna hitam pekat dan sekilas bulu halus yang berwarna hitam legam itu seolah mengkilat dengan mata hijau yang nampak tajam, dengan mulut yang berlumuran warna merah.


Makhluk berwarna hitam pekat itu kemudian berhenti di depan seorang pria yang nampak sudah menunggunya.


“Pupuma ... Il mio figlio preferito ( Putra kesayanganku ) ...”


Pria itu telah berjongkok didepan makhluk yang dipanggilnya Pupuma itu.


Namun makhluk itu masih bergeming di tempatnya berpijak.


“Haish, Pupuma ... you live in Italy now. Stay here for quite long. You still don’t understand Italian? ( Pupuma ... kamu ini tinggal di Italia sekarang. Sudah tinggal cukup lama disini. Masih belum mengerti juga bahasa Italia? )


Pria itu mencerocos pada makhluk yang nampak sangar, dan menakutkan bagi kebanyakan orang namun kini


wajahnya nampak seperti kebingungan sambil mata hijau nan tajamnya itu menatap sang pria yang sedang berjongkok di depannya saat ini.


"Come here! ( Kemari! ) Come to Papa! ( Mendekat pada Papa! )"


Pria itu berkata sembari mengayunkan tangannya, memberik kode agar makhluk itu mendekat.


Dan makhluk berkaki empat itu pun seolah patuh pada si 'Papa' yang menyuruhnya untuk mendekat, dan ia pun mendekati pria itu pada akhirnya.


“I think I’m going to find a private teacher for you learn Italian ( Aku pikir aku akan mencarikanmu guru privat untuk belajar bahasa Italia )” Cicit pria itu. “How is it? ( Bagaimana? )” Cicit pria itu lagi, yang seolah nampak mengobrol dengan seorang manusia saja.


Seolah paham, makhluk yang dipanggil Pupuma itu kemudian mendekatkan lagi dirinya pada pria yang sedang


mengajaknya bicara itu, lalu meletakkan kepalanya diatas salah satu pundak si pria dan menggosok – gosokkan kepalanya di pundak pria tersebut, seperti seekor kucing yang minta disayang.


“Viziato ( Manja )”


Pria itu tersenyum sembari mengelus – elus kepala hingga setengah tubuh makhluk berwarna hitam yang meletakkan kepalanya disalah satu pundaknya itu.


Tak ada rasa takut sama sekali yang terpancar di wajah sang pria yang sedang berinteraksi sangat dekat dengan salah satu makhluk yang cukup berbahaya yang kadang juga mengincar manusia.


Malah dua orang pengawal pribadi yang menemaninya dan berdiri berjarak dari si pria dan makhluk hitam yang dipanggilnya dengan Pupuma itu, yang nampak ngeri sendiri melihatnya, berikut was – was jika tiba – tiba makhluk itu melakukan serangan pada sang Tuan.


Meski selama ini selalunya tidak. Makhluk yang dipanggil Pupuma itu akan selalu nampak jinak didepan si pria, juga pada dua orang yang kadang menemani pria itu di Mansion Klasik miliknya. Dan pada beberapa orang yang kadang datang yang merupakan orang terdekat si pemelihara Pupuma.


Tak lama kemudian pria itu menangkup wajah makhluk yang dipanggil Pupuma itu. Lalu sejenak terlihat kepala pria itu bergerak ke sisi kiri dan kanan si Pupuma.


“Your mouth look dirty ( Mulutmu nampak kotor )”


Lalu satu tangan pria itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan dari sana.


Kemudian menyeka dengan telaten mulut makhluk berwarna hitam legam itu dengan cekatan.


“Open your mouth! ( Buka mulutmu! )” Titah pria itu pada makhluk yang dipanggilnya Pupuma.


Lagi – lagi pemandangan luar biasa pun terlihat.


Makhluk yang dipanggil Pupuma itu langsung membuka mulutnya setelah pria itu menyuruhnya untuk membuka mulut.


Dan nampaklah rentetan gigi tajam berikut sepasang taring yang akan dengan mudah mengoyak sesuatu, terutama


daging makhluk hidup lainnya dengan mudah. Namun tetap saja pria itu nampak begitu santai menyeka rentetan gigi dan sepasang taring yang ter - bubuh warna merah.


Dua pengawal pribadinya kadang masih tak habis pikir bagaimana sang Tuan dapat menaklukkan seekor makhluk berbahaya seperti itu, meski katanya sudah dipelihara sejak makhluk itu masih kecil.


Belum lagi dua jenis peliharaan nya yang lain yang cukup membuat bergidik juga. Namun tidak seakrab dengan si Pupuma ini. Karena yang dua jenis lagi mungkin sedikit sulit untuk diajak ‘ngobrol’.


Yang satu sekelompok hewan buas yang biasa berada di perairan dengan moncong panjang yang dalam isinya


adalah rentetan gigi – gigi super tajam, yang satu lagi adalah seekor reptil semi – akuatik yang diklaim sebagai ular terbesar di dunia.


Tapi mengingat betapa kejam Bos mereka, selain unik mungkin. Rasanya jika dia memelihara hewan – hewan


seperti itu pun rasanya para bodyguard merasa tidak aneh. Mungkin jika raptor benar ada di dunia ini dan masih ada, dirasa Bos aneh dan kejam mereka itu akan memeliharanya juga.


“Have you finished playing? ( Apa kau sudah selesai bermain? )” Suara pria itu terdengar lagi berbicara makhluk yang dipanggil Pupuma itu, setelah ia selesai membersihkan mulut dan gigi makhluk tersebut. "Your teeth also dirty! I will tell someone to clean your teeth later ( Gigimu juga kotor! Aku akan menyuruh seseorang untuk menyikat gigimu nanti )"


Dua bodyguard sang pria spontan saling tatap, berharap jangan sampai mereka yang disuruh untuk menyikat makhluk yang namanya saja yang imut, tapi bisa membuat mereka kehilangan lengan sebentar saja.


"But promise, don't bite that person who will brush your teeth, hem?! ( Tapi janji, jangan menggigit orang yang akan menyikat gigimu nanti, hem?! )" Ucap pria itu lagi. "I will punish you, if you don't obey me. Understand? ( Aku akan menghukummu, jika kau tidak patuh padaku. Mengerti? )"


Lagi – lagi si Pupuma ini seolah paham dan sekilas nampak mengangguk, entah juga namun nampak cukup takut pada sang Tuan.


“Is she dead already? ( Apa dia sudah mati? )” Tanya pria lagi dan Pupuma nampak seolah lagi mengangguk.


Pria itu tersenyum kemudian pada Pupuma.


“Good boy! ( Anak baik! )”


Dielusnya kepala Pupuma oleh pria tersebut.


“Now bring the dead body of that disgusting woman to me. Papa Lucca want to see her body that you ripped ( Sekarang bawa jasad wanita menjijikkan itu padaku. Papa Lucca ingin melihat tubuhnya yang sudah kau cabik – cabik )”


Pupuma kemudian kembali melesat ke hutan di belakangnya dengan gerakan yang luar biasa gesit dan cepat


dengan keempat kakinya. Dan pria yang adalah Papa Lucca itu pun menegakkan tubuhnya.


Papa Lucca menyeringai, setelah Pupuma kembali dengan menyeret sebuah jasad wanita yang sudah cukup


terkoyak, dengan menggigit salah satu bagian tubuh jasad tersebut agar bisa menyeretnya dan membawanya ke hadapan sang ‘Papa’.


Dimana seringai Papa Lucca kemudian muncul saat melihat apa yang sudah si Pupuma persembahkan untuknya.


“Ohh... my very sweet good boy. You did a great job. How did you like it? Do you enjoy your ‘toy’? ( Putraku yang baik dan manis. Kau melakukan pekerjaan dengan baik. Apa kau suka? Apa kau cukup menikmati ‘mainan’ mu? )”


Pupuma hanya menggosok – gosokkan kepalanya di salah satu kaki Papa Lucca yang kemudian tersenyum dan

__ADS_1


Pupuma duduk dengan posisi seperti kucing manis yang meminta sesuatu.


“You hungry? ( Kau lapar? )”


Papa Lucca merundukkan tubuhnya.


“Hemm ... but I won’t let you eat this piece of s*i*t ( Tapi aku tidak akan mengijinkanmu memakan kotoran ini )”


Papa Lucca mengelus kepala Pupuma.


“You will get a stomachache ( Nanti kau sakit perut )



INDONESIA**


Rumah Sakit


“Adrieanna, Dolcezza ( Manis ). Apakah Papa Lucca menghubungimu?”


Poppa mengajak Adrieanna yang sudah datang ke Rumah Sakit bersama Momma, Mama Fabi, Mommy Ara dan dua orang lainnya itu mengobrol bersamanya dan Daddy R.


“Si ( Iya ) Poppa”


“What time he will arrive here? ( Jam berapa dia akan sampai disini? )”


“Maybe at night ( Mungkin saat malam )”


Poppa dan Daddy R pun manggut – manggut.


“What did he tell you? ( Apa yang dia katakan padamu? )”


“Waiting toy for Pupuma and special food for The Sweet Squad ( Sedang menunggu mainan untuk Pupuma dan


makanan spesial untuk The Sweet Squad )”


Poppa dan Daddy R terkekeh.


"Pantas Papamu sulit ku hubungi" Ucap Daddy R.


"Hemm .. pasti Papa sedang sibuk mengajak Pupuma bermain dan memberi makan The Sweet Squad dengan makanan special"


“Entah bagaimana perasaan sekumpulan Alligator itu menyandang nama macam nama Girlband”


Poppa yang selalunya terkekeh geli setiap kali dia ingat sebutan untuk nama lima Alligator ganas milik Papa Lucca itu berceloteh geli.


“Besar, berbahaya, mematikan. Tapi saat dipanggil, ‘Hey The Sweet Squaadd’.. hahahaha! Aku tak terbayang wajah mereka jika mereka manusia”


Poppa terkekeh lagi bahkan tergelak sampai bahunya bergetar. Daddy R pun sama. Sementara Adrieanna hanya cengengesan saja. “Macam Lo kan?” Celetuk Daddy R sambil menoleh pada Poppa.


“Besar, berbahaya dan mematikan? Of course! ( Tentu saja! )” Sahut Poppa pongah.


Daddy R manggut – manggut. “Besar, berbahaya, mematikan, tapi saat dimarahi adik gue, lo seketika akan menjadi anak bebek”


“As**ol*e!! ( Kampret lo!! )”


“Hahaha!!!! ...”



“Oh Boy, mengapa kau mirip sekali dengan Poppa dan Daddy R mu jika soal geregetan pada orang?”


“Uncle Sean ..” Sapa Varen pada pria yang sedang memegang kedua bahunya sambil menatap Varen dan geleng –


geleng, yang baru saja muncul kedalam Playground mereka.


“Dulu Poppa dan Daddy R  mu yang sering menempatkanku dan almarhum Arya dalam masalah. Sekarang kau”


“Tapi karirmu makin cemerlang kulihat”


“Hahaha!” Uncle Sean tergelak.


Sejenak kemudian Uncle Sean tersenyum pada Varen sembari mengacak – acak rambutnya. Setelah juga  menyalami Daddy Jeff, Nathan dan Papi John.


“Semua berkat Gappa dan para Dad mu”


Uncle Sean pun tersenyum lagi.


“Pilihan sulit untukku. Kalau membunuhku sih tidak mungkin, tapi mereka akan membuatku tidak hanya akan


kehilangan posisi yang sudah kudapat dengan susah payah tapi juga akan mempersulit hidupku yang mana akan berimbas pada keluargaku. Hhhh simalakama sekali...”


Uncle Sean mendengus sembari menggeleng namun terkekeh juga.


“Ah sudahlah. Sudah terlanjur. Daripada aku hidup menderita, lebih baik aku berpihak saja pada keluarga kalian” Celoteh Uncle Sean. “Paket pertama sudah kau terima?”


Varen mengangguk sembari tersenyum tipis.


Uncle Sean manggut – manggut sembari menepuk – nepuk pundak Varen.


“Apa kau sudah selesai dengannya?”


“Sudah”


“Apa kau menghabisinya?”


“Entah”


Uncle Sean mengernyit atas ucapan Varen barusan, bersamaan dengan Celine yang baru saja datang ke tengah – tengah mereka.


“Uncle bisa tanya padanya”


“Ah Celine! Aku selalu bermimpi buruk saat tidur jika bertemu denganmu sebelumnya, gadis beracun”


“Hai Tuan Sean!”


“Apa wanita laknat itu mati Celine?”


“Bagusnya tidak” Sahut Celine. “Hanya kembali pingsan setelah kuberikan ‘formula mantan’ inovasi terbaruku itu”


“Apa itu?”


“Ada lah, Tuan”

__ADS_1


“Aku yakin bukan sesuatu yang bagus untuknya” Sahut Uncle Sean sembari memicingkan matanya menatap Celine yang cengengesan. “Tapi, apa wanita itu bisa aku bawa dan ku kembalikan ke penjara?”


“Kau bisa mengeceknya Uncle”


“Baiklah. Antar aku melihatnya Celine”


“Oke Tuan Seaann”


“Mana paket kedua Uncle?”


“Sudah kusuruh masukkan ke ‘Ruang Kreatifitas’”


Uncle Sean menunjuk ke arah lorong selurusan dirinya.


Lalu Uncle Sean melangkah naik melalui tangga mengikuti Celine.


Tak lama terdengar suara pekikan yang berisikan umpatan Uncle Sean dari lantai dua.


Yang mendengarnya pun terkekeh saja.


**


“Mau kemana kau?”


“Aku ingin ke ruangan istirahat Dad”


“Aku tak mengijinkan!” Daddy Jeff menatap serius pada Nathan yang hendak berbalik dan kembali ke ruangan


tempat dirinya, Papi John dan Daddy Jeff sempat melemaskan otot sejenak.


“Oh ayolah Dad .. aku tidak sanggup melihat apa yang kiranya Abang akan lakukan pada pria yang telah mencoba melecehkan Drea, setelah apa yang sudah dia lakukan pada perempuan diatas tadi”


Nathan berkata dengan malas – malasan pada ayah kandungnya itu. Sementara Papi John hanya mesam – mesem saja sembari mengayunkan langkah menyusul si Abang yang sudah lebih dulu pergi ke sebuah ruangan yang disebutkan oleh Uncle Sean sebelumnya. Nathan memang sudah rasanya enggan kalau harus menyaksikan apalagi kegilaan si Abang yang sedang menyelimutinya itu.


‘Pada perempuan aja si Abang ga ada belas kasihannya, apalagi sama itu laki – laki yang sudah hampir melecehkan Drea coba?. Dimutilasi gue rasa!’ Batin si Tan – Tan. “Lagipula aku lapar!”


“Ikut denganku atau kupatahkan kedua kakimu”


“Tapi Dad ..”


“Jangan kau pikir aku tidak akan mewujudkan ucapanku!”


“Serius aku lapar Dad. Tadi kulihat ada lemari berisi makanan diatas. Setidaknya aku mau mengganjal perutku dulu Dad!..”


Nathan mencoba menghindar.


“Jonathan Alton Smith! Jika kau tidak bergerak kesini, selain akan kupatahkan kedua kakimu, akan kupastikan Via menceraikan mu saat pulang nanti!”


Turunlah ancaman Daddy Jeff dari tempatnya berdiri sekarang disamping Papi John didepan sebuah ruangan.


“Kau cobalah melawanku jika menganggap aku tidak bisa mewujudkan ucapanku!”


Daddy Jeff menatap Nathan dengan pandangan menuntut, dan akhirnya membuat Nathan mendengus pasrah.


Dengan langkah gontai, Nathan mau tidak mau menghampiri Daddy Jeff dan Papi John. “Aku sudah cukuplah Dad, melihat kekejaman Abang..” Ucap Nathan saat ia sudah berdiri didepan sebuah ruangan yang bagian depannya tertutup dengan kaca transparan keseluruhan, jadi apa yang ada didalam ruangan itu terlihat jelas dari tempatnya dan Daddy Jeff juga Papi John berdiri sekarang.


Daddy Jeff mendelik pada Nathan seraya mencebik. “Benar apa yang pernah Little Star katakan tentangmu” Ucap Daddy Jeff. “Mushy! ( Lembek! )”


Nathan menyahut dengan decakan.


“Kau ini pria Adjieran Smith! Mentalmu harus kuat Bocah Tengik Nomor Dua!”


“Tapi Dad..” Nathan hendak menyela. “Aku ..”


“Tegakkan tubuh dan kepalamu!” Daddy Jeff meraih tengkuk Nathan dan mencengkeramnya sedikit kuat, lalu membelokkan kepala Nathan agar ia berdiri menghadap arah dalam ruangan yang disebut sebagai ruangan kreatifitas itu.


Nathan nampak sedikit gugup dan ragu untuk melihat kedalam ruangan, namun tetap ia coba.


Satu per satu hal sudah mulai dilakukan oleh si Abang. Lalu suara pecutan dan jeritan sudah mulai terdengar dari dalam ruangan dihadapannya.


Mata Nathan sudah membulat, sembari ia meneguk salivanya. Mencoba juga membuang pandangannya.


Rasanya Nathan tak sanggup melihat apa yang kini Abang lakukan pada pria yang sedang ia siksa itu.


“Buka matamu lebar – lebar”


Daddy Jeff menurunkan lagi titahnya pada Nathan dan mau tidak mau ucapan sang


ayah yang terdengar dingin dan mendominasi dirinya itu berikut tangan sang ayah yang masih bertengger cukup kuat di tengkuknya membuat Nathan terpaksa membuka matanya menatap kearah depannya.


Pemandangannya mengerikan yang Nathan lihat, yang sedang Abang lakukan sungguh membuat Nathan menahan


nafasnya.


‘Gue menyaksikan orang ditembak tepat dikepala, meski gue sendiri sampai menghabisi satu orang. Lalu gue harus melihat seseorang digunduli dan disiksa dengan air keras, belum lagi melihat orang terbakar sampai mati dan bau daging gosongnya saja masih rasanya tersisa di hidung gue, dan sekarang gue harus melihat ini ..Oh ya Ampuun!’


Nathan mencerocos dalam batinnya.


‘Gue baru minum teh setengah cangkir, makan sandwich juga Cuma setengah. Perut gue sudah rasanya perih sekarang. Tapi setelah melihat semua yang ada disini, yang si Alvarend, Abang gue yang hari ini Gila Mampus! lakukan. Rasanya gue ga sanggup makan nanti..’


Tan – Tan pun menggerutu. - Dalam hati tapi.


‘This.. ( Ini ).. This is So Kampret, You Know?’


*


To be continue..*


Thank You Somad! Buat Kalean Nyang Masih Setia Mpe Sini.


Nih Emak Kasih Bonus Biar Matanya Ga Kiyep


Sekalian Utang Nongolin si Papa Syaiton. Wkwkwkwk


💚PAPA LUCCA💚




SEMOGA MATA RADA KALIAN TERANG


😃😃😃😃😃😃😃😃😃😃😃

__ADS_1


__ADS_2