
⭕ TENTANG SESUATU ⭕
********************************
Selamat membaca...
***********************
Pagi menjelang ..
Dua insan yang kemarin sedikit berseteru sama – sama sudah terbangun dari tidur mereka.
Meski hari baru menunjukkan jam sembilan pagi waktu setempat, hitungannya mereka Andrea dan Varen bangun
kesiangan.
Melewatkan waktu Subuh, bukan karena main kuda – kudaan, tapi karena tidur yang kelewat larut semalam,
mengobrol panjang lebar.
“Morning ( Pagi )”
Varen mengeratkan pelukannya dan menghirup dalam – dalam aroma tubuh Andrea yang berada dalam dekapannya.
Ga jadi pisah kamar nih yee ....
“Morning juga Abang....”
“Sebentar ya, aku recharge ( nge - cas ) dulu”
Varen mengeratkan dekapannya pada Andrea, lalu memeluk istri kecilnya itu seolah tubuh Andrea adalah guling
hingga membuat Andrea terkekeh kecil dan memeluk balik Varen.
“Take your time, Abang.... ( Silahkan, Abang .... )”
*****
Sebuah Rumah Sakit Swasta, Jakarta
“Memang Abang buat janji dengan Aunt Clarissa jam berapa?”
“Jam sepuluh”
“Ya Tuhaaann Abang.. ini sudah jam satu siang” Andrea mendelik saking terkejut.
“Hehehe..”
Varen menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.
Andrea hanya geleng – geleng saja lalu tersenyum tipis.
“Ya, kita saja tadi bangun jam sembilan”
“Abang kenapa ga bilang sih, kalau kita jadi ke Rumah Sakit hari ini dan janjian dengan Aunt Clarissa?. Drea pikir ga jadi malah”
“Tak ingat”
Andrea geleng - geleng lagi.
“Kalau Rendy tidak menghubungi mungkin Abang akan melewatkan janji dengan Aunt Clarissa hari ini”
“Tapi memang Aunt Clarissa masih ada jam segini?”
Varen mengangguk.
“Tadi Aku juga sudah menghubungi beliau. Sekaligus minta maaf. Dan Aunt Clarissa bilang dia mau kok menunggu kita”
“Ya sudah kalau begitu” Ucap Andrea, dan Varen pun menggandengnya hingga sampai ke depan ruangan salah satu Dokter kepercayaan keluarga mereka itu.
***
“Nah muncul juga lo!” Seorang pria seusia Varen yang menggunakan Snelli serta stetoskop yang ter-kalung dilehernya nampak sudah menunggu kedatangan Varen dan Andrea. “Ckckckck!.. ngaret sampai tiga jam!”
Pria yang dipastikan adalah seorang dokter itu berkacak pinggang di depan Varen dan Andrea depan ruangan.
Rendy namanya, teman Varen dan cukup kenal juga oleh keluarganya, karena ia merupakan anaknya Dokter Clarissa, yang dulu membantu persalinan Valera, Si Kembar dan Aina
“Harap maklum, pengantin baru!”
“Pengantin baru apaan! Nyokap dah nungguin tuh! Sampe bela – belain menunda makan siangnya gara – gara lo!”
“Iya bawel! Lo minggir! Gimana gue dan Andrea bisa masuk kalau lo berdiri disitu?!”
“Ck!” Rendy pun berdecak sebal pada Varen. “Eh, Adik Andrea yang cantik jelita. Apa kabarnya?” Rendy mengulurkan tangannya.
“Halo Ka Rendy, kabar baik..”
__ADS_1
Andrea hendak menyambut uluran tangan Rendy.
“Ck! Hah! Awas!” Namun Varen keburu menepis tangan Rendy dan menggeser tubuh temannya itu dari depan pintu
ruangan Dokter Clarissa.
“Heleh! Pelit banget ketimbang gue mau salaman doang sama Andrea aja ga boleh, lo!”
“Maaf ya Kak ..” Ucap Andrea pada Rendy sembari tersenyum kala Varen sudah menggandengnya sambil membuka pintu ruangan Dokter Clarissa.
*****
Andrea sudah menjalani dua macam tes yang berhubungan dengan kondisi rahimnya.
HSG ( Histerosalpingografi ), yakni tes untuk mengambil gambar dalam rahim, serta Histeroskopi yang kurang lebih sama dengan HSG namun Histeroskopi dijalankan dengan alat berupa selang tipis dan fleksibel untuk lebih dapat mengetahui kondisi dalam rahim Andrea setelah ia mengkonsumsi morning after pill secara rutin itu.
( Mohon maap Emak bukan Dokter, jadi Cuma segitu aje pengetahuannya. Harap maklum )
Kini Andrea dengan ditemani Varen tentunya sudah kembali lagi ke ruangan Dokter Clarissa bersama si Dokter cantik itu sendiri. Sementara Rendy tadi sedang ada tamu dan pamit undur diri sebelum Andrea melakukan tes.
“Mungkin sekitar tiga puluh menit hasil tesnya sudah bisa keluar Andrea, Varen”
“Iya Aunt”
“Jangan gegabah lagi ya Andrea Sayang”
“Iya Aunt”
“Komunikasi itu penting Sayang, apalagi kalian kan pasangan muda. Soal anak memang biasanya sensitif. Sudah biasa bagi para pasangan muda yang memang mau menunda punya momongan dengan alasan ketidaksiapan, baik mental maupun materi”
“Iya Aunt” Sahutan yang sama dari Andrea dan Varen.
“Yah Aunt juga tidak mau banyak bicara. Hanya sekedar saran saja. Anak itu kan rezeki, kepercayaan yang Tuhan kasih, dimana tidak semua orang bisa mendapatkan rezeki itu. Jangan ditunda kalau bisa”
Andrea dan Varen mendengarkan baik – baik ucapan Dokter Clarissa.
Dokter Clarissa menunjukkan senyumnya sambil meraih satu tangan Andrea. “Tapi Aunt juga mengerti kalau Drea
masih muda, masih sangat muda. Wajar jika Drea punya ketakutan Drea sendiri”
“...”
“Tapi pasangan Drea itu kan bukan pria biasa. Pria hebat seperti para Dads kalian, yang bucin of course, - ....”
Dokter Clarissa terkekeh, begitupun Andrea dan Varen.
seperti halnya Dads kalian juga, adalah pria bertanggung jawab”
“...”
“Saat dia mengatakan kalau dia siap menjadi seorang Ayah, itu berarti suami kamu ini sudah memang siap dengan segala konsekuensinya. Tapi jika memang Andrea sendiri memang dirasa masih belum siap, Abang Varen yang tampannya bukan main ini juga tidak akan memaksamu untuk hamil buru – buru. Bukan begitu, Abang Varen?”
“Aunt sangat benar”
Dokter Clarissa dan Varen pun terkekeh kecil, sementara Andrea tersenyum dan mengangguk.
“So communication is important bagi suami dan istri”
Andrea dan Varen mengangguk paham. “Thanks Aunt”
“Sama – sama”
“Lalu mengenai pemeriksaan Andrea tadi, Aunt. Apa semuanya baik – baik saja?”
“Sejauh yang Aunt lihat tadi sih, sepertinya tidak ada masalah. Kondisi rahim Drea so far so good. Tapi untuk meyakinkan tunggu sampai hasilnya keluar”
“Iya Aunt” Sahut Andrea dan Varen bersamaan. “By the way, anak Aunt yang cerewet itu masih ada jam praktek?”
Varen yang bertanya. Dokter Clarissa langsung melirik arlojinya. “Seharusnya sudah habis. Hanya tinggal menunggu jam kerjanya selesai saja, jika dia tidak ada jadwal operasi atau ada pasien gawat”
“Humm, aku ingin mengajak kalian makan siang sebenarnya” Ucap Varen.
“Kalian saja. Aunt sudah mau pulang. Aunt akan makan siang di rumah. Uncle Alan sedang tidak praktek hari ini, jadi Aunt akan makan siang bersamanya di rumah. Tapi menunggu hasil tes Andrea keluar dulu.”
“Tidak apa jika Aunt mau pulang sekarang, kami sendiri yang akan menunggu hasil tesnya keluar”
Dokter Clarissa tersenyum. “Aunt kan harus menjaga kredibilitas Aunt sebagai Dokter yang bertanggung jawab, lagipula kalian kan pasien VIP ku. Jadi harus Aunt berikan pelayanan terbaik” Ucapnya.
Andrea dan Varen terkekeh kecil.
“Jika ada keluhan dari kalian, nanti aku pasti disomasi oleh keluarga kalian, terutama Poppa dan Daddy R kalian itu” Ucap Dokter Clarissa, Andrea dan Varen tersenyum.
“Aunt”
“Ya? Ada lagi yang kamu ingin tanyakan, Varen?”
“Tidak. Mengetahui dari mulut Aunt kalau Drea baik – baik saja, aku sudah bisa tenang. Hanya tinggal menunggu hasil tes saja untuk memastikan nya kan, seperti yang Aunt bilang?” Ucap Varen.
Dokter Clarissa mengangguk.
__ADS_1
“Aku hanya ingin bilang, kalau soal ini, tentang Andrea yang sempat mengkonsumsi morning after pill itu, kalau
bisa Aunt jangan ceritakan pada Mom ku, Momma dan mereka yang berada di London. Aku tidak ingin mereka khawatir, terlebih aku tak ingin Drea sampai dimarahi oleh Poppa dan Momma” Jelas Varen. "Aku akan kesulitan membela istri kecilku ini, jika Poppa dan Momma sudah memarahinya"
Mereka bertiga terkekeh lagi.
“Baiklah”
Varen menampakkan senyumnya, Andrea menatapnya penuh arti. “Terima kasih Aunt” Ucap Varen lagi.
“Sama – sama”
Telpon diatas meja kerja Dokter Clarissa terdengar berbunyi.
“Sebentar” Dokter Clarissa menerima panggilan tersebut.
*****
Panggilan yang Dokter Clarissa terima adalah pemberitahuan kalau hasil tes Andrea sudah keluar. Selang beberapa waktu, seorang perawat yang merupakan asisten Dokter Clarissa pun datang dengan membawa hasil tes Andrea.
Dokter Clarissa menjelaskan setiap detail yang tertera dihasil lab Andrea. Sedikit banyak mampu Varen pahami, meski ia bukan lulusan Kedokteran.
Seperti apa yang dibilang Dokter Clarissa berdasarkan pengamatannya selama Andrea menjalani dua tes untuk
mengecek kondisi rahimnya, hasil tes ternyata memang mendukung pernyataan Dokter Clarissa pada Andrea dan Varen. Tak ada masalah, rahim Andrea baik – baik saja. Namun Dokter Clarissa menuliskan resep vitamin untuk dikonsumsi Andrea.
Serta Dokter Clarissa menyarankan agar Andrea melakukan pemeriksaan berkala.
“Apa ada yang mau kalian tanyakan?”
Dokter Clarissa bertanya. Andrea dan Varen kompak menggeleng.
“Baiklah jika semua sudah cukup jelas. Kembalilah saat vitamin nya nanti habis, atau jika kalian sudah mengambil keputusan kalian soal anak, ya?. Kamu bisa langsung menghubungi Aunt ya, Varen?”
Varen pun mengangguk. “Iya Aunt. Terima kasih sekali lagi. Salam untuk Uncle Alan, kami akan main lain kali”
Dokter Clarissa manggut – manggut. “Akan Aunt sampaikan salam kalian pada Uncle kalian” Dokter Clarissa
tersenyum. “Mau Aunt hubungi Rendy ke ruangannya?” Ia menawarkan.
Varen menggeleng pelan. “Tidak perlu Aunt, aku tidak ingin mengganggunya jika memang dia sedang sibuk dengan pasiennya”
“Baiklah”
“Sampaikan saja salam aku dan Abang pada Kak Rendy, ya Aunt?”
Dokter Clarissa manggut – manggut lagi.
“Akan Aunt sampaikan” Sahut Dokter Clarissa yang sudah berdiri dari kursi kerjanya lalu berjalan berdampingan dengan Andrea dan Varen. “Jangan lupa berkunjung ke rumah loh ya? Kami tunggu” Ucap Dokter Clarissa pada Andrea dan Varen setelah mereka mencapai ambang pintu ruang praktek Dokter tersebut.
“Iya. Kami permisi”
Andrea dan Varen kemudian bergegas meninggalkan Dokter Clarissa setelah cipika cipiki dengan Dokter yang
punya hubungan baik dengan keluarga mereka itu.
*****
Andrea dan Varen sudah berada didalam mobil Varen yang ia kendarai sendiri. Sudah hendak meninggalkan Rumah Sakit dan sedang berjalan ke arah keluar Rumah Sakit tersebut. “Itu Kak Rendy, bukannya ya Abang?”
Andrea menunjuk ke satu arah.
Varen menoleh untuk memastikan apa yang dilihat Andrea dalam sebuah Coffee Shop yang berada dalam area Rumah Sakit tersebut.
“Iya itu Rendy” Ucap Varen dengan tetap menjalankan mobilnya namun sangat pelan.
“Mau turun?” Tanya Andrea.
“Tidak usah. Nanti kita malah mengganggunya” Ucap Varen karena melihat temannya itu sedang bersama seorang wanita dan nampak akrab.
Andrea manggut – manggut namun matanya tetap memperhatikan Rendy dan wanita yang duduk disampingnya.
‘Eh, itu seperti ...’ Andrea membatin. Ia seperti mengenali wanita yang sedang bersama Dokter muda, teman si Abang itu.
Andrea menautkan alisnya.
‘Iya benar! Itu kan, Kevia!’ Andrea mengenali wanita yang bersama Rendy pada akhirnya. ‘Iya, gue yakin itu dia! Wajahnya persis seperti dengan yang difoto!’
*****
Oh, Oh , siapa Kevia?
*****
To be continue......
Jempol jangan lupa
Scroll ke bawah deh, abis kasih jempol
__ADS_1