THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 360


__ADS_3

Jempol dikondisikan dulu (ehem) sebelum sekerol kebawah ye


**************************************************************************


INI BUKAN AKHIR TAPI AWAL


**********************************


Selamat membaca ..


Author’s POV,


Keluarga


Notabene adalah sebuah anugrah, berkah yang kiranya harus selalu disyukuri jika kita benar-benar memilikinya.


Dan keluarga The Adjieran Smith ini, rasanya sangat-sangat mensyukuri keberadaan mereka yang disebut keluarga dalam hidup mereka itu.


Satu hubungan erat yang terbangun dan berjalan atas dasar rasa saling perduli serta cinta dan kasih. Dan untuk itu setiap anggota keluarganya bekerja keras dalam konteksnya masing-masing namun dengan tujuan yang sama, yakni memberikan yang terbaik bagi keluarga mereka itu.


Apa, makna keluarga sebenarnya?.


Keluarga, adalah tempat untuk tumbuh, dimana ada rasa untuk saling mengasihi, saling menerima perbedaan, kekurangan, hingga saling menyelesaikan masalah dengan hati dan pikiran terbuka dan kiranya tanpa ada sedikitpun percikan permusuhan andai selisih paham terjadi.


Keluarga, sepatutnya adalah tempat dimana seseorang dapat merasa begitu nyaman dengan leluasa menjadi dirinya sendiri.


Tempat dimana seseorang merasa diterima dengan baik, sangat baik bahkan. Karena yang mengelilingi adalah mereka yang tulus menyayangi dan merangkul tanpa pamrih.


Keluarga, kiranya tidak hanya dilihat dan dinilai dari sekedar status keberadaan seseorang sejak lahir. Namun kehadiran sesuatu yang disebut Keluarga dalam kehidupan seseorang, rasanya lebih besar dan lebih berharga dari sebuah status.


Keluarga, dalam lingkup satu keluarga yang bernama The Adjieran Smith khususnya,-


Bagi mereka, keluarga bukan sekedar hubungan yang terjalin atas ikatan darah. Meskipun memang, ada pepatah yang mengatakan jika,-


“Darah Lebih Kental Dari Air”.


Dimana pepatah tersebut biasanya digunakan orang untuk menyatakan bahwa ikatan keluarga dalam satu garis aliran darah yang sama lebih penting daripada hubungan dengan orang-orang yang tidak ‘sedarah’.


Namun, dalam lingkup keluarga The Adjieran Smith, pepatah itu dirasa tak berlaku. Karena yang tergabung dalam keluarga inti mereka bahkan tidak ada hubungan darah sedikitpun.


Lihat saja bagaimana Daddy R diperlakukan sebagai anak sulung keluarga tersebut. Ucapan dan keputusan Daddy R bisa dikatakan sakral.


Daddy R, tidak punya sedikitpun ikatan keturunan langsung dalam silsilah keluarga The Adjieran Smith, namun ucapannya selalu didengar, keputusannya seringkali menjadi keputusan satu keluarga. Jika mengikuti kuasa, sebenarnya Poppa lah yang seharusnya menggantikan Gappa memimpin keluarga tersebut.


Karena Poppa adalah anak sulung Gappa, yang notabene statusnya sebagai penerus klan Adjieran Smith begitu kuat, karena Poppa adalah keturunan langsung dari Gappa, yang berarti, Poppa, memiliki hak penuh untuk menjadi pengganti Gappa. Sebagai satu from ‘The Original’, keturunan langsung satu keluarga yang kekayaan dan kekuasaannya turun temurun sejak dulu kala.


‘Kingsley Smith’, dulunya. Dan di rubah Gappa, menjadi ‘Adjieran Smith’.


Dimana nama Adjieran sendiri bahkan adalah nama belakang ayah angkat Gappa, ‘Putra Adjieran’ yang memiliki andil yang sangat besar dalam hidup dan begitu berarti untuk Gappa.


Dan ayah angkat Gappa itu pun tidak memiliki hubungan darah dengan Gappa, namun perjuangan dan kasih sayang seorang Putra Adjieran pada Gappa, sungguh sulit Gappa ungkapkan dengan kata-kata.


Dan Gappa, jangan ditanya betapa Gappa begitu menghormati dan menyayangi ayah angkatnya itu.


Jadi saat Gappa menunjuk Daddy R sebagai anak yang dituakan dalam keluarga apakah Poppa merasa iri?.


Jawabannya tidak! Tidak sama sekali.


Dan Daddy R juga bukan orang yang serakah, Daddy R cukup tahu diri dan ia tulus menyayangi dan mengasihi dengan sepenuh hati keluarga yang mengangkatnya itu.


Jadi, tugas memimpin keluarga The Adjieran Smith, Daddy R emban bersama Poppa. Yang memang keduanya sudah dekat dan kompak sejak remaja. Hingga kedekatan dan kekompakan keduanya, kemudian menjadi satu peringatan bagi orang-orang yang mengusik keluarga mereka.


The Two Black Drakes, yang kini menciptakan naga-naga lain yang berada dalam lingkup keluarga The Adjieran Smith, para naga jantan yang siap menyemburkan api, menggelapkan langit demi melindungi keluarga mereka. Satu kekuatan yang terbentuk secara kasat mata, namun efeknya luar biasa. Demi melindungi mereka yang dikasihi, meski tidak sedarah.


Hubungan erat yang terbentuk atas dasar ikatan emosional dan individu yang saling menerima, menghargai, menyayangi, melindungi tentunya, serta membutuhkan kehadiran satu sama lain meski hubungan darah itu tidak ada sama sekali.


Makanya dalam keluarga The Adjieran Smith, pepatah ‘Darah Lebih Kental Daripada Air” itu tidak terlalu berarti.


Yang berlaku dalam keluarga The Adjieran Smith, melainkan,-


“Darah Perjanjian Itu Lebih Kental Daripada Air Rahim”


Suatu istilah yang biasanya digunakan oleh para prajurit di medan perang.


Yang mana berarti, ikatan dan kesetiaan dari sahabat seperjuangan justru lebih kuat dari keluarga asli.


Karena dimasa lampau, darah pada istilah tersebut diatas, secara harfiah mengacu pada darah para prajurit yang berkorban di medan perang dimana para prajurit yang biasanya berasal dari tempat yang berbeda itu, akan saling melindungi dalam kelompok mereka, selain bekerja sama untuk menang atau sekedar selamat di medan perang.


Seperti itulah ikatan hubungan dalam keluarga The Adjieran Smith.


Ikatan kuat yang terbentuk secara kasat mata dalam masing-masing anggota keluarga, menjadi rasa yang besar untuk menjaga ikatan tersebut seumur hidup tanpa mengingat asal masing-masing.


Saling memiliki, menjaga dan melindungi dan yang pasti saling menghormati, mengasihi dan menyayangi dengan tulus dan sepenuh hati.


Ikatan yang dirasa begitu dalam dan bermakna.


Author’s POV off


**


Another POV,


Kenyamanan dalam satu keluarga yang dirasakan oleh masing-masing anggota keluarga The Adjieran Smith tidak hanya berasal dari ruang lingkup internal mereka sendiri yang notabene hidup dalam satu lingkungan, bahkan sering tinggal dibawah atap yang sama.


Tetapi ada juga yang berasal dari eksternal keluarga inti mereka. Yakni para kerabat dekat dan sahabat yang sudah terangkul kian erat dan sudah dianggap menjadi bagian dalam keluarga. Dapat dikatakan, adalah teman seperjuangan, atau bahkan mereka yang sedia pasang badan demi membela keluarga tersebut.


Tentunya, mereka yang memang benar-benar tulus dan terbukti jelas kesetiaan dan pengabdiannya. Karena insting masing-masing anggota keluarga The Adjieran Smith dapat memindai mana mereka yang memang tulus dan mana yang tidak. Dan mereka yang setia dan tulus pada keluarga tersebut dalam segala hal, baik situasi maupun kondisi, kini sudah bersama-sama berbagi bahagia dalam kebersamaan.


Yang mana dibungkus dalam satu perayaan, yakni liburan berpesiar selama kurang lebih puluhan hari kedepan, agar kiranya bisa kian mengeratkan hubungan.


POV off


**


Kapal pesiar milik The Adjieran Smith sudah mulai berlayar dari tempatnya bersandar. Membawa satu keluarga yang membagongkan itu berikut mereka yang diundang untuk bersama dalam liburan kali ini, ke tempat-tempat yang pastinya indah yang menjadi tujuan mereka.


Semua orang menghabiskan waktu dalam kamar mereka masing-masing dalam beberapa jam, sekedar untuk mengistirahatkan diri mereka. Namun bebas saja jika memang ingin berkeliaran di area kapal, andai memang enggan tinggal di kamar.


Yang jelas nanti saat waktu makan malam tiba, akan diinfokan karena pada jam-jam tersebut mereka akan berkumpul bersama seraya bercengkrama secara utuh, meski mungkin akan berkelompok juga ujung-ujungnya. Paling beberapa belas menit aja bareng-bareng beneran, abis itu pasti pada melipir ke berbagai tempat dalam kapal, baik berkelompok ataupun berpasangan.


Sehubungan kebanyakan para kerabat yang ikut serta dalam liburan berpesiar nya The Adjieran Smith ini berasal dari luar negara yang harus menempuh perjalanan udara selama belasan jam, jadi para kerabat yang datang dari luar negara, khususnya luar Asia ini, memilih untuk bersantai di kamar mereka masing-masing.


Termasuk juga tamu yang berasal dari negara yang sama dengan para Tuan Rumah, berikut para personel The Adjieran Smith yang memilih untuk berada di dalam kamar sejenak meski mereka hanya menempuh waktu sebentar saja untuk sampai ke Sin dari Indo.


Tapi keriweuhan yang dilewati sehubungan dengan persiapan sebelum sampai ke atas kapal pesiar rasanya membuat mereka sedikit lelah, apalagi ada insiden dua bocil yang ketinggalan di kediaman.


**


Beberapa jam berlalu......


Kapal pesiar The Adjieran Smith sudah menuju ke perairan Penang dan nanti akan sebentar saja bersandar disana. Satu per satu mereka yang tadi berleha-leha dalam kamarnya satu per satu sudah keluar selepas membersihkan diri dan sudah berganti pakaian.


Termasuk seluruh keluarga si empunya kapal.


Hari beranjak sore, dan tempat bersantai yang menjadi pilihan para empunya kapal itu adalah bagian luar kapal yang dekat dengan beragam fasilitas untuk mereka menikmati keseruan.


Dan para kerabat lain yang juga sudah keluar dari kamar mereka menyambangi The Adjieran yang sebagian besar sudah berada di spot santai dengan sofa melingkar sembari menikmati minuman dan kudapan.


“Aku mau ambil kudapan, ada yang mau sekalian aku ambilkan ga?”


Mika yang duduk bersama Valera, Rery, An dan dua kakak mereka yang sedang menimbang-nimbang mau nyobain fasilitas yang mana dulu, sementara sebagian sudah mulai mencoba bermain di Flowrider dan Indoor Sky Diving itu, beranjak dari duduknya.


Karena kudapan tahap pertama mereka yang bersama Mika itu sudah habis dan mulut Mika rasanya masih iseng mau ngemil, termasuk lima saudara-saudari yang bersamanya itu.


“Panggil aja satu waitress sih, biar mereka yang ambilkan”


“Sedikit nanti pasti diambilkannya, mending ambil sendiri, bisa milih!”


“Yak betul!”


“Ambil saja seperti yang tadi Kak Nathan dan Kak Via bawa Mi, Satu piring isi beberapa macam ...”

__ADS_1


“Okaaaayy!!” Sahut Mika pada ucapan Valera itu.


“Bola roti isi kepiting ambil lagi Kak Mika! ....”


“Siap Bos Rery!!! ...”


Sahutan Mika membuat mereka yang bersamanya cekikikan.


Mika yang sudah berdiri dari duduknya itu pun bergegas untuk mengambil tambahan kudapan.


“Aku ikut deh!”


Val ikut beranjak.


Dua gadis remaja belasan tahun itu pun melenggang akrab untuk mengambil kudapan yang tersedia di sebuah meja prasmanan panjang.


**


“Ish!” Desis Mika. ‘Kapan datengnya itu orang?. Kok gue ga lihat dia tadi?’


“Kenapa Mi?” Tanya Val yang mendengar Mika mendesis, berikut wajah ketusnya yang nampak.


Namun Mika sepertinya tidak terlalu memperhatikan Valera yang bertanya padanya itu.


Mika tetap melanjutkan langkah menuju meja prasmanan dan Valera juga mendampinginya.


Sementara Val melipir untuk mengambil piring, Mika mendekati seseorang yang sedang mengambil minuman yang berada di atas meja prasmanan.


“Cih! Sadboy!”


Seruan yang tidak kencang namun terdengar ketus dan sedikit sarkas, kemudian meluncur dari mulut Mika setelah berada di dekat seseorang yang langsung menoleh kala mendengar ada suara ketus yang berbicara di dekatnya itu.


“Masih mengharapkan istri orang?!” Sarkas Mika lagi.


“Waduh bocil judes ga ada sopan-sopannya sama tamu...”


Pria muda yang sedang memegang minuman dalam gelas itu juga langsung menyambar seruan Mika.


“Hai Kak Arya!”


Val menyapa dengan ceria dan ramah sembari melambaikan tangannya pada pria yang disapa Mika dengan cibiran itu.


“Hai Val!” Itu Arya Narendra, adiknya Sony sahabat si Tan – Tan yang ternyata juga ikut serta dalam pesiar kali ini.


“Apa kabar Kak? Tadi ga keliatan kok?”


“Baik Val!. Iya tadi pas pada ngumpul sebelum berangkat pas banget aku baru sampe trus langsung naro koper ke kamar, eh pas balik lagi sebagian sudah bubar...”


“Ooo ...”


“Bulet!” Sambar Arya pada Val yang ber-O ria itu dan Val langsung cekikikan.


“Ya udah aku ambil kudapan dulu ya ...”


“Okey, Val cantikkkk”


“Ngapain ikut sih?!”


Mika kembali berseru ketus pada Arya.


“Heloow, gue undangan Okeeee????!!!!!”


“Cih!”


“Awas sakit hati!”


Mika mencibir.


“Tuh lihat! Betapa mesranya Kak Drea sama Abang!”


Tangan Mika menunjuk ke satu arah dimana Abang sedang membawa Andrea ke bagian luar kapal dengan menggendong belakang Andrea, dan keduanya nampak mesra, meski Andrea sesekali terlihat mencebik.


“So what gitu lohhhh?! ...”


“Gue udah move on okey asal lo tau, Dek Mika yang juedesss!!! .....”


“Heleh!” Cibir Mika.


“Mi! Ini cukup tidak?”


Valera menyela seraya berseru dari satu sisi meja prasmanan sembari mengangkat dua piring di tangannya.


“Cukup!”


“Ya udah ayo!” Ajak Valera pada Mika untuk kembali ke tempat mereka. Dan Mika mengangguk.


“Dah sana! Sana! Bocil judes! Rese pula!” Sambar Arya, yang membuat Mika kembali menoleh padanya, sementara Valera terlihat sedang mengobrol dengan anak kerabat yang sepantaran dengannya, kala ia ditegur.


Dan Valera asik mengobrol, hingga menunda memberikan Mika satu piring berisi kudapan yang sudah di ambilkan oleh Val.


“Ye suka-suka gue dong!. Yang penting gue cantik dan kaya!”


“Amit deh kecil-kecil udah narsis sama pede mampus! Gimana gedenya?!”


“Tetap cantik dan kaya!” Sahut Mika cepat.


“Udah sana! Sana!”


“Heh! Ini kapal gue asal lo tau ya?! Ada juga elo yang gue usir!” Mika menyahut sarkas dengan tetap mempertahankan tampang judesnya, yang ditunjukkan pada Arya.


“Kapal keluarga lo! Bukan punya lo pribadi!”


“Sama aja!”


‘Ckckck .... ini bocil bener-bener!’


Arya membatin.


“Mi, ayo!”


Valera yang sudah selesai mengobrol itu kembali berseru pada Mika yang sudah ia dekati sembari menyodorkan satu piring pada Mika.


“Kak Arya, Val duluan ya!” Pamit Valera yang melambai dengan tersenyum pada Arya dan langsung melenggang kemudian.


“Oke Val....”


“Ish! Sok kecakepan!” Mika memutar bola matanya malas sembari hendak berbalik dan pergi dari hadapan Arya.


“Hey! Buka matamu nona muda judes! Gue emang cakep!” Sambar Arya.


“Pede!” Seru Mika dengan keketusannya yang ia pertahankan itu, sembari berbalik menahan langkahnya, setengah menoleh pada Arya.


“Harus itu! Orang ganteng emang harus pede! Lagian jadi cewe tuh kayak Val, cantik, imut, ramah.....”


“Kurang kerjaan ramah sama sadboy!”


“Berhenti panggil gue sadboy!”


“Never! Ever! ( Engga! Ga akan pernah! ) Weeee!!!! .....”


Mika menjulurkan lidahnya sembari menarik bawah satu kantung matanya mengolok Arya.


“Ye, bocil tambeng!!”


“What-evahh!!”


Mika mengolok lagi dengan gerakan tubuhnya baru ia melenggang beneran menjauhi Arya untuk kembali ke tempatnya tadi.


“Ngeselin!. Bagus bocil tuh cewe, kalo engga gue bawa ke Ancol!” Gumam Arya.


Ngapain dah?

__ADS_1


*****


“Loh, Rery, An, Kak Nathan sama Kak Via nya mana?”


“Mau main flowrider katanya”


Mika hanya manggut-manggut sembari mendudukkan dirinya seperti Valera.


“Eh iya, Kamu kenapa kayaknya sentimen banget sama Kak Arya sih, Mi???.....” Tanya Val saat Mika sudah datang ke tempat mereka tadi, namun kini hanya ada Mika dan Val saja.


Karena empat orang yang bersama mereka tadi, terlihat sedang berdiri di dekat area permainan air yang disebutkan oleh Valera.


“Sebel aja lihat dia, yang ngejar-ngejar Kak Drea. Ish! Jauh banget kalo dibandingin Abang!” Yak, Mika adalah fan girl garis keras Abang Varen.


“Ya udah berhenti juga kali Kak Arya mengejar Kak Drea.....” Sahut Valera.


“Dia masih mengharapkan Kak Drea lah! Tadi aja liatin ga Drea dengan wajah mupeng penuh harap. Ish amit deh!”


“Hati-hati loh Mi, nanti tahu-tahu kamu naksir dia gimana? .....”


“What?!”


“Iya, biasanya kalau awalnya sebal kan, tahu-tahu dimasa depan malah jatuh cinta sama orang yang kita sebal tuh biasanya ..... Lagipula Kak Arya tampan, ga mustahil bukan?”


“Maksud kamu, aku naksir si Arya Narendra itu?!”


“Hu’um.....”


“Coy! Coy! Never!”


“Never say Never ( Jangan pernah bilang ga mungkin ) Sistah..... Kita kan tidak tahu bagaimana masa depan .....”


“Whatever it is ( Apapun itu ), yang jelas jalan aku masih panjang Val!. Aku lebih fokus menjadi wanita karir yang sukses kelak, ga memikirkan soal pria!..... ”


Mika menumpahkan apa yang ada dalam kepalanya pada Valera.


“Lagian kamu nih, Val. Kita ini masih masih teenager! ... Buat apa memikirkan hubungan special dengan pria coba?!”


“Kak Drea saja menikah usia tujuh belas tahun! ... Aku juga mau mengikuti jejak Kak Drea menikah di usia muda!. Seru kayaknya kalau lihat Kak Drea sama Abang!.... Ah, aku jadi ingin buru-buru tujuh belas tahun! Terus ketemu sama pangeran impian aku, jatuh cinta, menikah dan happy ever after ...”


“Haaahhh????????!!”


Mika menganga tak percaya.


“Val! Val! ... kamu terlalu sering menonton film roman picisan!”


“Ish, film juga kan ada yang based on true story, Mi!. Lagipula coba lihat itu our Dads and Moms, mereka sudah bertahun-tahun menikah, bahagia sampai sekarang bukan? Then, Kak Drea and Abang, Kak Nathan and Kak Via, you see?.... Mereka saling mencintai!”


“Ya memang! .....”


“Pokoknya aku mau seperti Kak Drea. Menikah muda!”


Valera berbicara dengan binar percaya dirinya.


“Ya! Ya! Up to you lah, Val!”


Mika memutar bola matanya malas.


“Tuh, kan kamu bilang si Arya, the sadboy itu tampan! Ya udah sana deketin dia, siapa tahu dia juga mau kan nikah cepat, jadi saat kamu tujuh belas tahun tinggal minta dilamar!”


“Oh, No, No, No ... Kak Arya memang tampan, but he’s not my type!”


“Haish....” Mika geleng-geleng saja pada saudarinya yang dewasa sebelum waktunya, alias centil menurut Mika itu.


“Kak Arya kurang ‘matang’! ... Masih terlalu muda!” Celetuk Val


“Excuse me???!!!...”


Mika mendelik pada saudarinya itu.


“Hey! Umur kamu berapa?! Aigooo!!!....”


“Ya memang kenapa? Aku mau menikah muda, tapi aku mau punya pasangan yang jauh lebih tua daripada aku, jadi, kekasihku a.k.a calon suamiku itu akan selalu memanjakan aku dan mengalah sama aku saat kami menikah nanti. Macam Mami sama Papi!”


“Unbelieveable! ( Sukar dipercaya! )”


“Kan katanya pria dewasa itu bijaksana ....”


“Kamu sudah terkena toxic novel-novel yang seharusnya tidak kamu baca Val!”


“Bukan toxic itu Miiii .... tapi ilmu pengetahuan! ...”


Valera menjawab sambil cekikikan.


“Ilmu pengetahuan ... non sense! Mana ada cerita du ...”


“Oh My Goodness! .....” Valera nampak fokus ke satu arah, dengan mengeluarkan komentar yang nampaknya sedang terkagum-kagum akan sesuatu.


“Apa sih?...” Mika mengernyitkan dahinya sembari matanya mengikuti arah mata Valera yang seperti sedang mendamba itu.


“My Prince, Mi!”


Valera dengan cepat mengarahkan telunjuknya ke arah dimana ia memandang.


“Pangeran masa depan aku! Dia sudah datang!” Seru Valera.


Mika memicingkan matanya, melihat pada sesuatu, eh bukan seseorang yang ditunjuk oleh Valera.


“Haaahh????!!!”


Lagi-lagi Mika terperangah.


“Ga salah Valera??!!....”


Mika memekik kemudian.


“Kenapa sih?. Ayo ah kita kesana! Kebetulan Pangeran aku lagi bicara sama para Dad! Ayo Mika!”


Valera langsung melingkarkan tangannya di lengan Mika dan setengah menyeret saudarinya itu.


“Kamu ga salah Val?! Naksir cowok itu?!” Seru Mika seraya bertanya sembari mengikuti Valera yang menyeret pelan tubuhnya itu.


“Keren kan?. Macam para Dad dan Abang serta Kak Nathan?!”


“Ya iya tapi .....”


“Itu siapa sih, kok kayaknya aku ga pernah lihat?”


“Itu Kak Kafeel. Anaknya salah seorang kerabat para Dad yang sudah meninggal. Kamu memang ga pernah ketemu kayaknya”


“Jadi kamu kenal?!”


“Ya kenal. Tapi biasa aja. Ketemu juga jarang sekali. Terakhir ketemu mungkin setahun yang lalu?”


“Benar-benar seperti pangeran impian aku itu dia, Mi! Exactly seperti yang aku mau!”


“Iya tapi Val... You know what?”


“What? ....”


“Kak Kafeel itu seumur Abang!”


“So what?”


“Val, kamu sehat?”


*****


To be continue ....


Road To An End

__ADS_1


Menuju Akhir Cerita


Jangan lupa tinggalkan jejak yang blaem-blaem


__ADS_2