THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 137


__ADS_3

🌈    ANGELS HAVE COME DOWN    🌈    Para Bidadari Sudah Turun


**************************


Selamat membaca...........


 


“What is it, Vla? (Ada apa, Vla?).”


“I think we have company behind (Gue rasa kita kedatangan tamu dibelakang).”


******


“I’ll hold our ‘guest’ behind (Gue tahan ‘tamu’ kita dibelakang).”


Vla sedikit membawa mobilnya ke sisi kanan yang bertujuan untuk memblok jalan sebuah mobil yang nampak datang dari belakangnya. Ia pun sudah mempersiapkan senjatanya.


“See how many cars behind Vla, Fab! (Lihat ada berapa mobil dibelakang Vla, Fab!).” Seru Andrew.


Terdengar Fab mengiyakan dialat komunikasi mereka.


“Weird ..... (aneh....).”


“What is it, Fab? (Kenapa, Fab?).”


“There’s only one car that come from behind (Hanya ada satu mobil yang terlihat dibelakang).”


Semua orang yang terhubung dengan Fabiana sedikit merasa aneh juga kalau ternyata hanya ada satu mobil yang kiranya akan menghadang misi mereka, namun semua tetap diposisinya sebelum ada serangan.


***


‘Like I know that car .. (Itu mobil sepertinya gue kenal).’


Vla menatap spion tengah mobilnya, hingga tak lama mobil dibelakangnya pun mendekat.


‘What the .... (Apa – apa...) ...’


Vla membatin, matanya membola seketika ketika mobil yang tadi berada dibelakangnya, kini sudah berada sejajar dengan mobilnya sekarang.


***


John juga menatap kaca spion ditengahnya. Mobilnya berjalan didepan mobil Vladimir. John mengernyitkan dahi saat mobil yang datang dari belakang itu sudah berada disamping mobil Vladimir dan mobil pria Rusia itu juga berjalan stabil. Namun John tetap mempersiapkan senjatanya.


John hendak menghadang mobil yang tadi sebentar berada disisi kanan mobil Vla. Sama seperti Vla, mata John juga membola saat mobil tersebut kini sudah disisinya, dengan kaca mobil samping pengemudi yang terbuka.


***


‘Mirip mobil Lucca....’ Jeff membatin saat mobil yang Vla bilang adalah tamu tak diundang itu terlihat sudah berada di sisi mobil John sebentar kala ia melirik spion tengahnya. 'Siapa yang menyusul?. Sepertinya tidak ada informasi tentang ini?.'


“Call it up about the ‘company’ behind, Vla (Gimana ‘tamu’ yang dibelakang, Vla? ).”


Namun suara Andrew terdengar sebelum Jeff menggerakkan setir untuk bergerak lebih ke kanan.


 “Wa, get ready to get inside the truck! (Wa, siap – siap untuk masuk ke bawah truk).”


“Okay, R!.”


Suara Reno pun ikut terdengar, berikut suara Dewa.


“Jeff pindah kesamping Dewa dan berikan peledak yang ada sama lo ke dia!.”


Suara Andrew juga terdengar lagi dan memberikan perintah untuknya.


“Got that! (Oke!).”


Jeff mengabaikan mobil yang ia pikir mirip seperti mobil Lucca itu dan langsung melajukan mobilnya kesamping mobil Dewa untuk melakukan apa yang tadi Andrew suruh. Setelahnya dengan cepat ia kembali ke posisinya lagi dibelakang mobil Dewa dan mobil Dewa kini akan melaju untuk lebih mendekat ke arah truk yang menjadi target mereka.


***


“Hurry up Wa! (Cepat Wa!).”


Suara Reno terdengar tak sabar dialat komunikasi saat Dewa sudah berada tepat dibelakang truk namun tak jadi masuk ke dalam kolong truk tersebut. Ia memundurkan mobilnya lagi seperti akan menstabilkan posisinya kembali agar mendapatkan posisi yang tepat untuk masuk ke kolong truk dan tak merugikan dirinya sendiri.


“Hold on R (Bentar R). Gue harus memposisikan dengan tepat kalau engga gue bisa mati konyol terlindas itu truk.”


“Setelah itu lo langsung keluar dan menjauh. Sisanya biar gue dan Andrew yang melakukan.”


“Lama lo Wa!. Bergerak kesamping mobil gue, dan berikan peledak itu sama gue!.”


Suara tiga orang pria dalam alat komunikasi terdengar seperti berdebat.


“Gue bisa.” Suara Dewa terdengar siap.


SREEKKK!!!!....


Sebuah Huayra ceper sudah memepet mobil Dewa yang hendak melaju ke bawah truk.


“What the .... (Apa – apa...) ...” Dewa menggumam, namun gumamannya itu tetap terdengar di alat komunikasi mereka.


“Kenapa, Wa?!.”


Suara Reno terdengar penasaran bercampur sedikit panik.


“Sit down and pamper your eyes.... (Duduk dan manjakan matamu)....” Suara Vla terdengar kalau pria Russia itu setengah terkekeh.


“Angels have come down from the sky (Bidadari sudah turun dari langit).” Suara John pun terdengar sama seperti


Vladimir.


“What???? .... (Apa???? ...).” Suara Andrew, Reno terdengar keheranan.


“Just open the way for the angels.... (Buka saja jalan untuk para bidadari itu) ...”


***


“What the .... (Apa – apa...) ...”


“Hello, Boo – Boo ...”


***


“Come on Guys, let’s move up! (Ayo semua, kita sudah harus segera bergerak).”


“Okay!.”


“Ya sudah kami tinggal ya?. Kalian baik – baik disini, tunggu kami pulang.”

__ADS_1


“Okay!.....”


“Ya sudah. See you soon (Kita ketemu secepatnya).”


“Hati – hati! ...”


****


“Kita pasti akan khawatir dan juga bosan menunggu mereka pulang ....”


Michelle terdengar menggumam.


“Padahal, siapa tahu kita bisa membantu mereka disana.”


Michelle menoleh pada Fania saat mereka telah melepas para Pangeran dan mereka beserta kendaraannya sudah


tak ada lagi dalam pandangan kedua wanita itu yang masih berada di garasi. “Huuuummmm.” Fania menyahut dengan Hum – an ucapan Michelle.


“Hhhh ...”


Michelle terdengar menghela nafasnya yang terdengar sedikit kecewa.


“Chel!.”


“Apa Kak?.”


“Ayo kita jalan – jalan.” Fania sudah berdiri disamping sebuah mobil sport berdesain artistik berwarna silver dan menepuk nepuk pelan mobil tersebut dengan pandangan penuh arti pada Michelle, sembari juga memainkan alisnya. Michelle tak berapa lama tersenyum lebar, seperti mengerti maksud Fania yang mengajaknya ‘jalan – jalan’ dengan salah satu mobil koleksi Lucca itu.


Michelle dan Fania pun bergegas masuk mobil setelah mendapatkan kunci mobil tersebut dalam jejeran kunci mobil yang tergantung dalam garasi pribadi khusus untuk mobil tertentu milik Lucca.


“Kalau kita dihadang penjaga?.”


Michelle bertanya saat ia dan Fania sudah berada didalam mobil dan Fania sudah siap dibelakang kemudi setelah mereka berdua sebelumnya mengambil beberapa barang yang mereka rasa akan diperlukan dalam sebuah kotak aluminium otomatis yang juga berada dalam garasi tersebut.


“Bilang aja kita disuruh nyusul. Penjaga yang itu kan ga mungkin terhubung dengan mereka.” Fania menunjuk penjaga yang berada di pintu.


“Kalau mereka tetap ga memperbolehkan?.”


“Tabrak!.”


***


“What the .... (Apa – apa...) ...”


“Hello, Boo – Boo ...”


Dewa membulatkan matanya saat melihat ke sisi kanannya bersamaan dengan sebuah suara serta dua makhluk


cantik yang amat sangat ia kenal sedang menoleh dan tersenyum ke arahnya.


“Kenapa, Wa?!.”


Suara Reno terdengar penasaran bercampur sedikit panik.


“Sit down and pamper your eyes.... (Duduk dan manjakan matamu)....” Suara Vla terdengar kalau pria Russia itu setengah terkekeh.


“Angels have come down from the sky (Bidadari sudah turun dari langit).” Suara John pun terdengar sama seperti


Vladimir.


“What???? .... (Apa???? ...).” Suara Andrew, Reno terdengar keheranan.


“Just open the way for the angels.... (Buka saja jalan untuk para bidadari itu) ...”


sekaligus penasaran.


“KALIAN?!.”


Suara Dewa terdengar berseru kencang seperti amat sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya sekarang.


“WA?!!!.”


Suara Andrew dan Reno juga terdengar berseru kencang.


“KENAPA WA?!.”


Dua pentolan Black Drake itu bertanya dengan seruan lagi.


“KALIAN SIAPA?!.”


‘Kak Dewa! Lo mau masuk kesana?!.’


Sayup – sayup terdengar suara wanita dialat komunikasi mereka.


Namun suara Dewa belum terdengar lagi.


‘Siniin itu peledak! Biar gue yang masuk kesana!.’


Andrew dan Reno sedang menajamkan telinga mereka.


‘That voice.... (Suara itu) .... Seperti...’ 


“Ta – Tapi ......”


Suara Dewa terdengar gugup sekaligus terbata.


‘Cepet!.’


Sayup - sayup suara wanita yang seperti tergesa itu kemudian terdengar lagi.


Andrew dan Reno masih menajamkan telinga mereka dengan dahi mereka yang mengernyit, namun kemudian mata kedua babang tamvan itu membola.


“O – Oke .....”


Dewa terdengar mengiyakan.


‘OH S*IT! (OH S*AL!).’ Andrew dan Reno sontak langsung mengumpat dalam hati mereka. Setelah melihat sebuah


Pagani Huayra yang mereka tahu, kalau itu milik Lucca.


“Pa -  Pasang ini dibawah truk....”


“What a crazy women we have in this family ... (Kita punya cewe – cewe gila di keluarga ini) ...”


***


Pagani Huayra BC sudah berhasil keluar dari Mansion Lucca.

__ADS_1


“Coba lo cari koordinat mereka di GPS, Chel!.”


“No need! Aku tahu rute mereka!.”


“Okay!.”


***


“DAMND! (SAL!).”


Andrew dan Reno terdengar mengumpat.


“HEART!.”


“LITTLE F!.”


Mereka berteriak saat mobil Pagani Huayra BC ceper itu melesat maju tanpa ragu tepat dibelakang truk.


“Jangan pernah menyepelekan mamah muda....”


***


“Itu mereka, Kak!.”


“Itu Vla ya, yang didepan kita?.”


“Iya. Lalu Kak John, Kak Jeff, Boo – Boo, Kak R dan Kak Andrew.”


“Oke. Ayo kita sapa mereka.”


***


Fania dan Michelle menoleh pada ketiga mobil yang kemudian dilalui satu per satu itu, dengan tiga pria yang serta merta menggeleng tak percaya pada mereka, namun juga tersenyum seperti tak habis pikir.


“Boo – Boo sepertinya mau bergerak ke arah truk itu, Kak?!.”


“Iya kayaknya.”


Fania memperhatikan mobil Dewa yang berada selurusan dengan mobilnya.


“Mungkin dia mau coba masuk ke kolong itu truk, Chel.” Ucap Fania. “Mau pasang bom apa?.”


Michelle mengangguk cepat. “Tapi sepertinya Boo – Boo ragu.” Michelle nampak cemas.


‘Itu orang bakal langsung kelindes kalo posisinya kurang pas gitu.’ Batin Fania. ‘Mau masang bom kayaknya sih emang kayaknya ke kolong itu truk.’ Fania teringat yang ia dan John lakukan waktu memasang alat peledak


disebuah gedung dua malam yang lalu.


“Boo – Boo ...”


Michelle nampak semakin cemas.


****


“KALIAN?!.”


Suara Dewa terdengar berseru kencang setelah melihat Fania dan Michelle dalam mobil yang sedang juga bergerak cepat namun stabil disamping mobilnya.


“Kak Dewa! Lo mau masuk kesana?!.”


Seru Fania. Dewa nampak masih setengah bengong, namun kemudian Dewa mengangguk dengan wajah yang seperti sedang shock


“Siniin itu peledak! Biar gue yang masuk kesana!.” Fania melirik sesuatu ditangan Dewa.


“Ta – Tapi ......”


Suara Dewa terdengar gugup sekaligus terbata.


“Cepet!.” Seru Fania lagi sambil menjulurkan tangan dan lebih merapatkan mobil yang ia kemudikan dengan mobil Dewa.


“O – Oke .....” Dewa terlihat melepaskan seatbelt, lalu menstabilkan kemudinya agar tetap lurus, kemudian ia mencondongkan badannya kesamping untuk memberikan satu peledak ditangannya ke tangan Fania yang sudah terjulur itu.


“Lo percaya gue kan, Chel?!.” Ucap Fania pada Michelle disampingnya setelah Dewa memberikannya peledak dan


menginstruksikan apa yang harus dilakukan dengan peledak tersebut.


“Iya Kak.”


“Eh, jangan percaya ama gue deng. Musyrik!.”


Fania sedikit berguyon.


“Percaya sama kemampuan gue maksudnya.”


Michelle hanya mengangguk tegang. Ia tahu apa yang akan Fania mau lakukan.


“Pegang ini.” Ucap Fania pada Michelle yang wajahnya lumayan tegang itu, sambil memberikan peledak yang tadi ia terima dari Dewa. “Lo tau cara memasangnya?.”


“Ta - Tahu Kak ... ini hanya tinggal ditempel.”


“Bagus.” Sahut Fania. “Kolong truk itu ga seberapa tinggi, jadi lo ga perlu ngeluarin badan lo. Gue rasa tangan lo sampai untuk memasang tanpa badan lo harus sedikit keluar. “Bisa?.”


“Bisa Kak!.”


“Ya udah. Here we go! (Kita jalan sekarang!).”


***


“HEART!!!!.”


"LITTLE F!."


Andrew dan Reno  berteriak sangat kencang. Andrew kemudian hendak menghampiri Pagani Huayra BC yang ia sudah yakin betul siapa yang sedang mengendarainya. Namun Andrew tak sempat, karena mobil tersebut sudah bergerak masuk dengan sangat cepat ke dalam kolong truk.


Dan .....


Dan emak mules..... 😃😄😄😄😄


Tinggal dulu ye ...


Sampe ketemu di episode berikutnya.


Wkwkwkwk


***


To be continue....

__ADS_1


__ADS_2