THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 246


__ADS_3

PERTIMBANGAN


Selamat membaca...


***********************


Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith


“Drea mau ikut besok?”


“Kalau memang Abang membolehkan Drea ikut, ya Drea ikut sama Abang”


“Kalau memungkinkan, kemana aku pergi, aku maunya kamu selalu ikut, Little Star ....”


“Iya ...”


***


Bandung, Jawa – Barat, Indonesia


Varen dan Andrea kini sudah berada di sebuah rumah yang cukup besar di daerah metropolitan terbesar di Jawa Barat. Jauh sih, kalau dibandingkan Kediaman Utama keluarganya di Jakarta, ataupun Kediaman pribadi Daddy R.


Tapi rumah itu bisa dibilang cukup besar dan berkategori bagus meski tak terlalu mewah.


‘Setidaknya Dad masih punya belas kasihan kalau mereka masih bisa tinggal di tempat seperti ini’ Varen membatin saat dia dan Andrea sudah turun dari mobil mereka, memandangi bangunan didepannya.


Wanita yang ditemui Varen dan Andrea saat di Sabang lah yang menyambut kedatangan Varen dan Andrea di Pekarangan rumah mereka.


***


“Kirimkan padaku alamat dimana aku bisa menemui Peter Alexander”


“Ba.. Baik... tunggu sebentar akan aku kirimkan via chat berikut titik lokasinya. Sebelumnya terima kasih Alvarend. A..”


Klik


***


“Terima kasih sudah menyempatkan datang”


“Tak perlu berbasa – basi. Antarkan aku padanya”


“Iya .. Mari, ikut aku”


***


Beberapa orang nampak terlihat berada didalam rumah tersebut selain seorang asisten rumah yang berdiri di dekat pintu masuk saat Varen dan Andrea berjalan memasuki rumah tersebut di belakang wanita yang mereka temui di Sabang itu.


Varen bahkan tidak menanyakan namanya hari itu.


***


“Tolonglah, berbelas kasihanlah sekarang. Temui dia ... walau sebentar saja. Biar bagaimanapun .. dia kakekmu juga..”


“....”


“Setidaknya.. meski kamu enggan mengakuinya, ada darahnya juga mengalir dalam darahmu. Mungkin umur kakek tak lagi lama, setidaknya dengan melihatmu walau hanya sebentar dia bisa sedikit merasa lega”


“....”


“Berbelas kasihanlah ...”


“Akan aku pikirkan”


“Te.. terima kasih!... ah iya, aku...”


“Berikan nomor telpon yang bisa aku hubungi  pada pengawal pribadiku jika aku berkeinginan menemui pria itu. Setelah itu enyahlah”


“Ba... Baik”


***


“Mereka ..”


“Aku kesini bukan untuk berkenalan, jadi jangan membuang waktuku. Antar aku langsung pada Peter Alexander”


“Baik, lewat sini. Kakek ada di kamar itu”


“Abang..” Andrea mengelus pelan lengan Varen saat mereka sudah memasuki rumah tersebut dengan beberapa


orang yang sedang memandangi mereka yang entah apa artinya.


Kalau dilihat dari raut wajah empat orang yang ada disana, selain dari wanita yang ditemui Varen dan Andrea di Sabang, mereka seolah nampak tak percaya saat melihat Varen dan Andrea.


Namun keempat orang itu belum bersuara.


“Tidak perlu memperdulikan mereka”


Varen berkata datar namun tersenyum pada Andrea.


“Bukan itu”


“Lalu?”


“Lebih baik Abang saja yang menemui Kakek Peter. Biar Drea tunggu disini” Ucap Andrea pelan. “Mungkin ada hal pribadi yang nantinya ingin beliau sampaikan pada Abang, malah nanti Drea yang merasa tidak enak”


Varen menatap Andrea dan nampak sembari berpikir lalu ia menghela nafasnya pelan. Varen merogoh saku kemejanya dan mengambil ponselnya dan menekan sebuah nomor di daftar kontaknya.

__ADS_1


“Ammar, kau Niki masuklah ke dalam”


Varen berucap singkat di ponselnya dan tak lama Ammar yang merupakan pengawal pribadi khusus Andrea dulu, sudah berada di dalam rumah menyambangi Varen dan Andrea bersama dengan satu pengawal lainnya yang bernama Niki, sesuai dengan yang dikatakan Varen ditelpon.


“Apa ada masalah Tuan?”


“Kalian tetaplah disini. Jaga istriku, aku akan masuk kesana” Ucap Varen pada Ammar dan Niki lalu menunjuk ke arah kamar dimana wanita yang ditemui Varen dan Andrea di Sabang itu menunjukkan dimana kakek kandungnya berada saat ini.


“Baik Tuan” Ammar dan Niki menjawab sembari mengangguk hormat bersamaan.


**


“Aku sengaja belum memberitahu kakek tentang kedatangan kamu. Aku ingin memberinya kejutan. Tapi dia sudah pasti akan bahagia dengan kedatangan kamu ini. Terima kasih ya?”


“Kau terlalu banyak bicara. Antarkan saja aku padanya”


“Iya maaf....”


Varen tetap memasang wajah datar dan dinginnya, saat ia sudah masuk ke dalam sebuah kamar yang cukup besar


dengan seorang pria tua kira – kira seusia Gappa, terbaring diatas ranjang dengan seorang perawat pria yang nampak sedang mengecek sesuatu pada alat yang tersambung ke pria tua tersebut.


Sementara ada seorang wanita tua seusia Gamma kira – kira, duduk disisi ranjang dan sedang membantu pria tua  yang memakai sebuah selang di hidungnya tersebut untuk duduk bersandar di kepala ranjang.


“Kakek ... Nenek..”


“Iya Tara?”


Wanita yang dipanggil Nenek itu menoleh dan tersenyum pada wanita yang mengantar Varen seraya menoleh padanya, begitu juga pria tua yang dipanggil kakek oleh wanita yang dipanggil Tara itu.


Varen masih menjaga jarak, belum melangkahkan kakinya untuk lebih mendekat.


“Ka...mu.. tidak.. pergi.. bekerja.. Tara ..? ..”


“Tara cuti hari ini, Kek” Sahut wanita bernama Tara itu sembari tersenyum pada pria tua yang berada di ranjang dan berbicara sedikit terbata.


Wanita bernama Tara itu kemudian menoleh pada Varen yang berada dibelakangnya yang belum disadari kehadirannya oleh sepasang lansia tersebut.


“Kek.. Ada yang datang untuk menemui kakek” Ucap Tara pada sang kakek seraya tersenyum dan mengkode Varen


dengan kepalanya. Varen pun mengayunkan langkahnya mendekati ranjang dimana Tara berdiri disatu sisinya.


Wanita tua yang dipanggil Nenek oleh Tara itu serta merta menoleh ke arah mata Tara memandang.


“Dia...”


“A.. pa...dia .. pacarmu ..?” Pria tua yang terduduk, nampak lemah itu keburu bersuara sebelum istrinya selesai bicara, sepertinya juga mengenali pria muda yang sudah berada di dekat mereka.


Tara tersenyum dan duduk disisi pria yang ia panggil kakek itu. “Coba kakek perhatikan baik – baik”


“An.. Anthony?..” pria tua itu bersuara lirih. Ia mengernyitkan dahi dan memicingkan matanya, sepertinya penglihatannya terganggu. Entahlah.


“Jika anda pikir kalau aku adalah Anthony Adjieran Smith, anda salah” Varen bersuara. “Tetapi aku cucunya”


“A ...pa .. kamu... bilang?...”


“Tega sekali kamu berkata seperti itu, padahal kamu tahu jelas cucu siapa kamu sebenarnya”


Wanita tua seusia Gamma itu kemudian berdiri dan menatap serta berucap sinis pada Varen yang kemudian tersenyum miring padanya.


“Nek ..” Tara mendekati sang nenek, lalu menariknya pelan. “Sudahlah ..”


Wanita tua itu sepertinya mengikuti saran sang cucu yang secara tidak langsung mengatakan padanya agar menahan dirinya. “Ka...mu...”


“Dia cucumu, anak dari putra kandungmu yang sudah membuang mu!”


“A.. pa..”


“Aku Alvarend, Alvarend Reno Aditama Smith”


“Cu.. cu....ku .....”


****


“Apa Dad tidak ingin menjenguknya?”


“....”


“Dia sedang sakit keras”


“Bukan urusanku”


“Sudah puluhan tahun Dad, apa Dad masih belum memaafkannya?”


“Kau mau tahu jawabanku?”


“Iya”


 “Jika aku menggunakan harta Mommy mu untuk menghidupi simpanan dan anak – anak haramku, lalu mengambil alih semua harta Mommy mu untuk menyenangi keluarga haramku, dan meninggalkan Mommy mu dengan penyakitnya hingga ia mati karena penyakit tersebut dan mati dengan membawa luka dan rasa sakit yang tak terhingga dihatinya, sementara aku sedang bersenang – senang dengan keluarga haramku diatas penderitaannya, dengan hartanya, apa kau akan memaafkanku?”


“......”


“JAWAB!”


“......”


“Apa jawabanmu?”

__ADS_1


“Tidak”


“Maka kau tahu jawabanku”


“......”


“Aku tidak pernah memungut lagi sampah yang sudah kubuang! Kau ingat itu baik – baik! Sebagai putra kandungku, seharusnya kau paham betul atas itu!”


“......”


“Tapi jika kau memang merasa iba dan ingin menemuinya, silahkan saja. Aku tidak akan melarangmu dan tidak akan membencimu untuk itu. Aku benci mengatakannya, tapi yah, dia memang kakekmu biar bagaimanapun. Temuilah dia jika kau ingin menemuinya”


“......”


“Jika boleh aku meminta, temui dia jika kau memang ingin menemui kakekmu itu, setelah acara resepsi pernikahan dirimu dan Little Star”


“......”


“Satu lagi, jangan berpikir untuk mengundang mereka, meskipun pria bernama Peter Alexander itu seorang untuk datang ke acara resepsi mu dan Little Star. Itupun jika kau masih menghargaiku sebagai ayahmu. Selebihnya, jika memang ingin menemuinya, silahkan saja.”


****


“Cu.. cu....ku .....”


Pria tua itu mengangkat tangannya seolah ingin memeluk Varen.


Namun Varen masih bergeming ditempatnya yang berada diujung ranjang berjarak dengan pria tua yang merupakan Peter Alexander itu, kakek kandung Varen. Yang sudah penuh harap Varen mendekat padanya dengan mata tuanya yang sudah berkaca – kaca.


Varen tahu betul kalau pria tua yang terlihat lemah ini adalah kakek kandungnya. Namun rasa asing menyelimuti hati Varen saat ini. Dua puluh dua tahun tak pernah bertemu, memiliki hubungan keluarga dan darah, tapi benar – benar seperti orang asing.


Ada rasa iba, yang hinggap di hati Varen pada kakek kandungnya itu pada akhirnya. Namun entah mengapa, kakinya seolah enggan bergerak dari tempatnya.


“Cu.. cu....ku .....”


Peter Alexander melirih pelan.


“A..pa ... kamu .. juga... membenciku .. seperti.. ayahmu ...? ....”


****


“Nak, apa yang pernah terjadi antara Daddy mu dan ayahnya, itu terjadi diantara mereka.... bukan kamu yang mengalaminya.. Mommy pun tidak. Tapi Mom tahu betul rasa sakit yang Daddymu simpan pada kakek Peter hingga saat ini karena nenek Rina”


“....”


“Meskipun begitu, kakek Peter adalah kakek kandungmu biar bagaimanapun juga. Dia pernah beberapa kali memohon pada Daddymu untuk dipertemukan denganmu, meski tidak secara langsung karena Dad sudah memutuskan segala komunikasi dengannya. Kakek Peter berbicara pada Gappa setiap kali menyampaikan permohonannya untuk bisa bertemu denganmu. Dan itu cukup sering. Sampai akhirnya Gappa tak lagi dihubungi olehnya”


“....”


“Maaf, karena pertimbangan atas perasaan Dad, kami tidak pernah menyampaikan padamu permohonan kakek Peter yang sangat ingin bertemu denganmu. Ia pun juga hanya berani menghubungi Gappa lewat telpon saja, karena Dad mengancam keluarganya jika kakek Peter berani menunjukkan wajahnya didepan Dad dan kami”


“....”


“Maafkan Dad juga soal itu”


“Aku paham, Mom. Aku tidak pernah mempermasalahkannya. Aku mengerti perasaan Dad. Mungkin akupun akan


seperti itu jika aku ada diposisi yang sama dengan Dad. Aku bahkan sudah melupakan jika aku punya kakek selain Gappa dan Ake”


“Syukurlah jika begitu”


“.......”


“Tapi Nak, Mom rasa ada baiknya jika kamu mengunjungi kakek Peter, mengingat kondisinya saat ini, seperti yang kamu sampaikan pada kami. Dad juga sudah bilang kalau dia tidak akan mempermasalahkannya jika kamu mau menemuinya, kan?”


“Akan ku pikirkan soal itu Mom”


“Meskipun ia asing bagimu, Abang..... tapi kakek Peter tetaplah kakek kandungmu. Sedikit banyak, dia pastilah menyayangimu. Jika saat bertemu, dia memelukmu. Jangan menghindarinya”


****


“A..pa ... kamu .. juga... membenciku .. seperti.. ayahmu ...? ....”


“Entah” Varen menjawab datar, namun matanya tetap menatap pada sang kakek yang masih berharap Varen mau mendekat padanya.


Sementara Tara sudah membawa neneknya keluar dari kamar, untuk memberikan ruang pada Varen dan kakeknya.


Namun perawat pria itu masih berada didalam kamar. Tetapi ia memilih duduk sedikit jauh dari kakek dan cucu yang sedang bercakap kini.


“Ke...marilah .. Nak .. tolong.... mendekatlah .. aku ... ingin.... melihatmu... lebih .. dekat..”


“.......”


Varen nampak menghela nafasnya sedikit panjang.


“Apa sekarang anda sudah bisa melihatku dengan jelas?”


“Oh .. cucuku ..” Tubuh Peter Alexander nampak berguncang kencang. Pria tua itu melirih dalam tangisnya sambil memegang satu tangan Varen yang ia raih dalam genggamannya. Varen membiarkan saja tangannya dipegang oleh kakek kandungnya yang menangis dihadapannya kini. Hati Varen cukup mencelos sebenarnya.


Iba, juga tak tega. Pada pria yang kini Varen tatap dalam diam, yang sedang luruh dalam tangisnya sambil menempelkan tangan Varen berulang kali ke wajah tuanya itu yang sudah basah dengan air mata. Sementara Varen masih berdiri saja. Memperhatikan, namun diam seribu bahasa. Tak tahu harus berkata apa.


“Bo.. bolehkah .... aku.... memelukmu ...? ..” Pinta Peter Alexander dengan menatap seolah memohon pada Varen yang masih bergeming dalam posisinya. “Oh .. Tuhan.. terima.... kasih .. akhirnya... kakek .. bisa .. bertemu.. dan .. bahkan .. bisa.. memelukmu..”


Varen pada akhirnya mengangguk dan mendudukkan dirinya disisi ranjang samping Peter Alexander dan membiarkan pria tua yang rentan itu memeluknya dengan sangat erat sembari masih luruh dalam tangisnya.


‘Kakek Peter, aku bisa merasakan ketulusanmu padaku saat ini. Tapi semua hal ada sebab dan akibatnya. Maaf, aku tidak bisa menyayangimu selayaknya aku menyayangi, mencintai Gappa dan Ake. Ini hanya bentuk simpatiku’


****

__ADS_1


To be continue..


__ADS_2