
❇ SEBELUM CAHAYA ❇
*****************************
Selamat membaca ..
************************
Mundur cantik dulu sebentar
“Bagaimana Nathan?!”
Mama Jihan dan Daddy Jeff sudah datang dengan tergesa ke Rumah Sakit dan setengah berlari menuju ruang
operasi tempat Nathan masih ditangani.
Dengan bantuan kenalan mereka yang seorang petinggi di Jakarta, Daddy Jeff dan Mama Jihan berikut Daddy Dewa dan Mom Ichel yang menemani keduanya mendapat pengawalan menuju Rumah Sakit sehingga dapat dengan cepat sampai disana tanpa menemui kendala kemacetan.
“Masih ditangani, Ji”
Momma yang menyahut pada Mama Jihan. Sambil menatap tiga orang lainnya yang datang bersama Mama Jihan. “Kondisinya...”
“Patah ditangan kanannya, sisanya kita menunggu para Dokter selesai mengoperasi” Gantian Poppa yang
menjawab.
“Apa dia mengalami luka bakar?”
Yang berada duluan di Rumah Sakit kompak menggeleng.
“Beruntung ada beberapa orang yang sempat mengeluarkan Nathan sebelum mobilnya terbakar. Tadi gue, Fania dan Andrew sudah menemui mereka”
Daddy Jeff manggut – manggut mendengar penjelasan Uncle Bryan. Lalu mereka menunggu dengan tak sabar operasi Nathan selesai dan Dokter keluar dari sana untuk mengetahui kondisi Nathan, yang mereka harapkan akan baik – baik saja, meski mengalami patah tulang di tangannya.
**
“Bagaimana dia?.....”
“Nyawa pasien dapat kami selamatkan”
“Alhamdulillah .....”
“Nyawanya memang sudah dapat kami selamatkan. Untuk kondisinya sendiri, kami sudah berusaha semaksimal mungkin agar pasien mendapatkan penanganan yang terbaik. Untuk bagian tangan pasien yang patah, bisa sudah bisa diatasi dengan baik meski kondisi patahnya juga cukup parah tadi”
“Hanya saja ada cedera aksonal difus, dampak dari benturan kepala dalam kecelakaan yang dialami pasien. Meski tidak terjadi pendarahan, tapi hal itu tetap dapat memicu kerusakan sel – sel otak”
“Mak – sudnya Dok?”
“Garis besarnya, jika pasien sadar dalam waktu satu kali dua puluh empat jam, berarti cedera aksonal difus di otaknya tidak terlalu parah. Tapi jika melebihi waktu tersebut, kami akan memeriksa lebih lanjut”
“Jadi, mohon maaf, kalau kalian harus sabar menunggu hingga pasien sadar. Kami berharap kurang dari dua
puluh empat jam dia bisa sadar, maka masa kritisnya dapat dianggap lewat. Seperti itu kira - kira”
“Jika ..... ternyata dalam waktu dua puluh empat jam, putra kami ..... belum sadar juga ..... apa..... itu
mengancam nyawanya .....?.....”
“Mohon maaf Tuan, kami tidak merasa berhak untuk menentukan nyawa seseorang. Kami harus juga menunggu sampai waktu dua puluh empat jam itu jika pasien memang belum sadarkan diri. Setelahnya baru kami bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut tentang kondisi pasien”
“Kemungkinan yang bisa terjadi... apa saja? Tolong katakan ...”
“Pembengkakan otak, koma, hingga kematian”
**
“Bagaimana Dokter?”
“Ada pembengkakan pada otak saudara Jonathan ...”
“La-lu...? ...” Tanya Daddy Jeff ragu dan takut.
“Melihat kondisi pasien saat ini, setelah pemeriksaan barusan. Dengan sangat menyesal kami katakan, bahwa
saat ini pasien mengalami koma”
“Nathaann!!...”
“Ya Tuhaann ...”
“Vi!”
Sementara para anggota Keluarga Adjieran Smith yang barusan melirih terkait kondisi Nathan yang dinyatakan koma oleh Dokter, mendengar sebuah suara pekikan dari belakang mereka dan spontan membuat mereka menoleh.
“Kevia!”
“Mama Jihan, Momma dan Andrea berikut Mom Ichel langsung bergerak cepat kearah Kevia yang tubuhnya sudah ditopang Rendy akibat gadis itu yang merosot dengan wajahnya yang sendu karena ucapan Dokter mengenai komanya Nathan sempat ia dengar.
“Gara – gara aku ...”
Kevia menggumam dengan pandangannya yang nampak kosong.
“Via ...” Rendy dan yang lainnya yang dekat dengan Kevia menyebut nama gadis itu, sembari membantu Rendy
mendudukkan Kevia dikursi.
“Ini semua gara – gara aku ...”
Kevia melirih, tangisnya mulai luruh sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan.
__ADS_1
“kalau saja aku ga suruh Jo pergi ... ini ga akan terjadi .... Jo... Jo ga akan sampai koma...”
Kevia meracau lirih dengan masih menutup wajahnya. Mama Jihan yang meski juga sedih, namun ia coba menenangkan Kevia.
“Bukan Sayang, bukan salah Via...”
“Salah aku .... memang salah aku ...”
“Bukan Via, bukan salah kamu. Ini musibah ...”
“Iya Kevia, Mama Jihan benar. Ini bukan salah kamu. Ini musibah. Kamu ikut doakan Jonathan ya?, agar ia segera sadar dari komanya...” Ucap Daddy Jeff pada Kevia, yang menyeka air matanya dibantu juga oleh Mama Jihan, yang kemudian merengkuh Kevia.
Gadis itu pun mengangguk lemah. Dan bersama keluarga yang lain, menunggu Nathan dibawa keluar dari ruang operasi.
“Maafin Via ....”
**
“A-pa boleh aku melihat Jo?”
Kevia bertanya dengan nampak ragu pada Mama Jihan yang sudah keluar bersama Daddy Jeff dari ruang perawatan insentif dimana Nathan ditempatkan setelah operasi. Ia juga melirik pada anggota keluarga Nathan yang lain.
“Tentu saja Via, tentu saja kamu boleh melihat Nathan..” Sahut Mama Jihan dengan lembut.
“Masuklah duluan, nanti kami akan bergantian melihat Nathan setelah kamu”
Momma ikut berbicara.
“Makasih Tante..”
Momma tersenyum dan mengangguk pada Kevia yang wajahnya nampak sembab itu.
“Ayo Via, sama aku” Andrea menggandeng Kevia untuk masuk kedalam ruangan tempat Nathan berada.
**
“Maaf Jo ...”
Andrea memberi ruang pada Kevia setelah mereka berdua berada di ruangan tempat Nathan saat ini.
“Maafin ...”
Kevia menyentuh jemari Nathan dengan hati – hati.
“Maafin aku ..”
“.....”
“Bobonya jangan lama – lama, aku .... kangen nanti.....”
Kevia nampak menundukkan kepalanya.
“...”
“Jangan lama – lama ya, bobonya?.. kan katanya minta kesempatan?? ...”
****
“Sudah seminggu loh Jo”
“Kasihan orang tua kamu, keluarga kamu”
“Lagi travelling kemana?”
“Ajak aku?”
**
“Nathan ga cape tidur udah lama begini? ...”
“Tan, bangun si! Bau kan badan lo belum mandi sudah empat belas hari!”
“......”
“Gue kangen tau Tan – Tan! Gue kangen ada yang manggil gue Cute Girl ..... bangun si – Taann....”
“Sudah ah, jangan nangis terus. Tuh lihat hidungnya sudah merah macam tomat”
“......”
‘‘Bangun Tan. Jadilah pejantan tangguh. Mau menyaingi gue bukannya?’’
“......”
“Bangun cepat, kita mau Touring. Mau ikut ga?. Bangun cepat, gue tungguin. Kita semua tungguin lo”
“......”
“Bangun Tan, kasihan para Moms sudah hampir habis air matanya, kasihan Mama Bear Tan. Tuh Gamma, Ene,
Oma, Nenek mereka semua juga sama tuh hampir habis air matanya. Pulang Tan, gue juga ga mau kehilangan lo ...”
“......”
“Cepat pulang, temukan jalan buat kembali, brother. Kami semua sayang lo”
“Nathan, ga baik loh tidur lama – lama. Nanti rezekinya dipatok ayam”
“Iya, nanti Kevia keburu disambat orang loh, kalo lo lama bangunnya. Nih Kevia udah nungguin lo nih!”
__ADS_1
“Bangun woi! Mau mabar bareng NTB ga?!”
***
Kevia duduk disisi ranjang Nathan yang masih terlelap dalam komanya.
“Via, kamu kalau mau pulang dulu ga apa – apa, Sayang. Kamu juga kurang istirahat selama dua minggu ini”
“Ga apa Tante, aku mau disini sampai Jo bangun kalau boleh” Ucap Kevia dengan lembut pada Momma yang
mendekatinya.
Sementara Poppa yang juga sedang berada dalam ruangan tempat Nathan berada yang sudah sejak minggu lalu
dipindahkan ke ruang rawat VVIP sedang mengobrol bersama Daddy R dan Mommy Ara, serta Mama Jihan dan Daddy Jeff sembari memangku Rery yang asik dengan ponselnya.
Momma pun tersenyum. “Kan sudah dibilang apa, panggil Momma. Memang Momma nih mukanya kayak tante girang gitu?”
Kevia terkekeh kecil. “Iya maaf Tan- eh Momma” Sahut Kevia.
“Nah gitu, biasakan. Mulai sekarang kamu sudah harus terbiasa memanggil kami sebagaimana anak – anak kami
memanggil kami. Kamu sudah menjadi bagian keluarga ini Via. Jadi jangan lagi sungkan” Ucap Momma lagi.
Kevia tersenyum dan mengangguk. “Makasih, ya, Momma”
“Sama – sama” Sahut Momma lalu memberikan ruang untuk Kevia yang sudah duduk disisi Nathan itu dan
menggabungkan dirinya dengan mereka yang sedang mengobrol di sofa.
Kevia menggeser sedikit kursi yang didudukinya sehingga lebih dekat ke wajah Nathan.
“Jo .. ini sudah dua minggu loh. Sepertinya kamu benci aku?..”
“Janji kamu.. aku ga mau terima. Kalau kamu mau ganggu aku lagi silahkan”
Kevia tersenyum tipis.
“Katanya tak akan gentar? .... katanya mau diperjuangkan ... apanya? ....”
“Katanya sayang? ...”
“Malah begini .... – tukang ngibul kan?”
“Berencana pergi gitu aja ....”
“Kamu mau balas dendam ke aku ... ya?”
“Miss you Jo. And I love you...”
****
This Time ... ( Saat ini.. )
“Than ..” Panggil Andrea pelan pada Nathan yang kemudian menoleh padanya.
“Humm....?”
“Selamat datang kembali, Jo..” Nathan nampak terkejut melihat seseorang yang ada didekatnya kini setelah
Andrea menggeserkan tubuhnya.
“Vi-Via???”
“Apa kabar, Jo?”
Kevia tersenyum dengan teduhnya.
Sementara Nathan masih memandang dengan pandangan yang tak percaya melihat keberadaan Kevia saat ini.
Andrea dan Varen memberikan pun ruang pada Kevia dan Nathan. Keduanya tersenyum penuh arti.
“Dia ga pernah absen menjaga lo selama dua minggu ini, bahkan sampai menginap demi menunggu lo bangun” Varen berbisik ditelinga Nathan sebelum menjauhkan dirinya bersama Andrea.
****
“Ma-kasih.. ya-Vi .....”
Nathan berkata pelan, menyunggingkan senyuman pada Kevia yang sudah lebih dekat dengannya setelah Abang dan Andrea memberikan ruang padanya dan gadis itu. “Aku yang seharusnya bilang itu..”
Kevia juga menunjukkan senyumnya.
“Terima kasih, karena sudah kembali” Lanjut Kevia.
Dan sejenak Nathan dan Kevia saling diam, namun sepasang telaga bening keduanya saling tatap.
“Ma-af, sudah merepotkan...”
Nathan berkata kemudian. Dan Kevia spontan menggeleng.
“Engga ...”
“Te-rima kasih... ka-mu..... pu-langlah .... a-ku sudah cukup .. me-nyusahkan kamu...... sejak empat .. tahun lalu..”
“Jo....”
“Pu-langlah Vi..”
****
__ADS_1
To be continue ..