
TEBAK SAJA
Selamat membaca ...
Rumah Sakit .....
“Ndrew..” Papi John bersuara.
“Heemm???” Poppa menyahut dengan malas – malasan panggilan Papi John , karena sedang duduk landai di sofa untuk sekedar melemaskan otot – ototnya.
“Soal si Germo Rusia itu, bagaimana urusannya?”
“Sudah di urus” Poppa menjawab sambil merebahkan lehernya diatas sandaran sofa ditempat ia duduk.
“Lo suruh Vla habisi atau penjarakan itu Germo?”
“And istana gadis – gadisnya?”
“Itu sudah tinggal debu!”
“Huummm....” Papi John dan Daddy Dewa ber - hum sambil manggut – manggut.
Sementara si Abang masih setia di sisi Andrea yang belum siuman juga. Namun telinganya tetap terpasang untuk mendengar obrolan para Dadsnya.
“Dan gadis – gadis yang terperangkap disana?”
“Sedang diurus Vla” Daddy R yang menyahut. “Sedang Vla selidiki mana – mana gadis yang masih memiliki keluarga dan ingin kembali pada keluarga mereka”
“Sisanya?”
“We’ll think about it later (Kita pikirkan itu nanti)” Sahut Poppa.
“Apa Vla menemukan juga sarang Human Trafficking mereka di Rusia?”
“Ya. Termasuk satu kontainer lain yang baru datang dari Asia” Sahut Poppa.
“Gadis – gadis juga?”
“No. Anak – anak”
Papi John dan Daddy Dewa geleng – geleng dan merasa miris atas apa yang menimpa anak - anak malang yang menjadi korban Anoushka dan komplotannya, termasuk yang sedang langsung berurusan dengan mereka di Indonesia ini.
“Sayangnya banyak dari mereka yang tidak bertahan” Ucap Poppa.
“Ya mana mungkin sanggup bertahan coba?! Di dalam container hampa udara. Orang dewasa saja belum tentu tahan berada berjam – jam di dalam sana!”
“Apa lo berdua juga meminta Vla untuk mengurus mereka yang hidup kembali ke keluarganya?”
Daddy R dan Poppa sama – sama mengangguk menanggapi pertanyaan Daddy Dewa barusan.
“Keduanya. Yang selamat dan yang tidak. Tapi setahu gue rata – rata mereka yang berada di dalam container adalah tuna wisma. Karena kalau anak – anak yang terawat akan di bawa ke
beberapa tempat dimana banyak orang ber uang mencari anak adopsi lalu diberikan identitas baru”
“Lalu yang ga selamat, apa mau di kirim juga ke negara asal mereka?”
“Kalau dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, bisa diketahui asal – usul mereka ya bisa saja. Toh si Boogeyman juga sudah menyediakan tambahan armada dan orang – orangnya juga, untuk membawa mereka kembali ke tempat asalnya”
“.......”
“Jika tidak ya terpaksa dikuburkan di lahan Pemakaman kita di Rusia, bersama dengan beberapa jasad yang Vla temukan di ‘rumah jagal’ mereka”
“Untuk semua yang ada di Rusia sudah di urus Vla dan orang – orangnya. Penguasa hampir setengah Rusia, pernah berguru pada dua naga hitam pastilah paham dia ...” Daddy R berceloteh.
“By the way Dads”
Abang beranjak sejenak dari sisi Andrea, menghampiri ke lima Dadsnya.
“Nanti malam Gappa, Gamma, Oma, Rery dan Val akan sampai kesini. Benarkan?”
“Iya benar. Kami sudah menyuruh Omar dan Khai untuk mengirim beberapa orang untuk menjemput mereka”
“Papa Lucca, Mama Fabi dan Adrieanna juga?” Tanya Varen lagi.
“Hanya Mama Fabi dan Adrieanna yang ikut. Papa Lucca menyusul” Sahut Daddy R.
“Tumben sekali. Biasanya mendengar Little Star flu saja dia langsung datang”
“Memang dia tidak menghubungimu?”
“Ponselku habis daya. Baru saja kulihat”
“Dia akan datang dengan segera. Ada hal penting yang tidak sabar dia lakukan demi Little Star katanya”
“Apa?” Tanya Varen.
Poppa terkekeh kecil, membuat si Abang sedikit heran.
“Nanti kau akan tahu sendiri jika dia sudah selesai”
Daddy R dan Daddy Jeff yang mungkin sudah tahu itu pun ikut terkekeh seperti Poppa.
“Oh iya, Germo wanita itu bagaimana jadinya?”
“Ya itu. Yang sedang diurus oleh si setan alas”
***
Kediaman Utama Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia .......
Mereka yang datang dari Italia sudah sampai di Jakarta. Mom Ichel dan mereka yang berada di Kediaman
menyambut enam orang yang baru saja tiba itu.
“Gappa mana Rery?” Tanya Mom Ichel pada anak kedua si Donald Bebek dan Kajol itu.
“Gappa langsung ke Rumah Sakit menengok Kak Drea”
“Lalu kenapa dengan wajahmu ini, hem?”
__ADS_1
“Aku kan ingin ikut menjenguk Kak Drea. Tapi Gappa bilang besok saja”
“Ya sudah besok saja, kita sama – sama jenguk Kak Drea”
“Ck! Aku kan khawatir dengan Kak Drea, Mom. Aku sangat merindukannya. Ditambah, tadi saat aku tanya pada
mereka yang menjemput kami katanya Kak Drea belum siuman”
“Iya sudah, besok pagi – pagi sekali kita pergi menjenguk Kak Drea, hem?” Bujuk Mom Ichel.
“Berani – beraninya mereka menyakiti Kak Drea! Aku harap Poppa dan Abang menghajar orang – orang itu tanpa
ampun!”
“Itu sudah pasti Rery! .. kamu jangan mengkhawatirkan itu. Sudah sana, lebih baik kamu pergi istirahat, agar besok bisa bangun sangat pagi. Lagipula Poppa mu juga ada di kamarnya, sedang beristirahat”
“Bersama dengan Momma juga?” Tanya Rery pada Mom Ichel.
“Momma di Rumah Sakit, bergantian menjaga Kak Drea”
“Ck! Poppa itu suami macam apa?! Masa Momma menjaga Kak Drea, dia malah enak – enakan tidur di rumah?!
Bukannya menemani Momma menjaga Kak Drea atau menghajar para penjahat yang menyakiti Kak Drea! Malah tidur!”
“Justru Poppa pulang karena perintah Momma mu, Rery....”
“Okayy...” Rery memilin bibirnya. “Ene dan Ake tidak kesini?”
“Mereka langsung ke Rumah Sakit” Sahut Mom Ichel.
Rerypun manggut – manggut. “Sudah lebih baik Rery istirahat dulu ya?” Sela Nenek Yuna, pada anak kedua si Kajol yang sering ketus seperti sang Poppa.
“Iya Nek” Ucap Rery.
“By the way, kalian semua sudah makan?”
Rery dan mereka yang datang bersamanya kompak mengangguk.
***
“Kak Lucca menemani Gappa ke Rumah Sakit?”
Mami Prita bertanya pada Mama Fabi sebelum ia naik ke atas untuk beristirahat bersama Adrieanna.
Mama Fabi menggeleng. “Lucca still in Italy, he will come here as soon as possible right after he finish with his things there ( Lucca masih di Italia, dia akan segera datang jika urusannya selesai disana )” Sahut Mama Fabi.
Mami Prita manggut – manggut.
“Tumben. Biasanya Kak Lucca kalau dengar ada apa – apa sama Drea, dia suka kebakaran jenggot sendiri. Ngalah – ngalahin Kak Andrew bahkan kadang – kadang”
Mami Prita menggumam, namun gumamannya masih bisa terdengar oleh yang berada didekatnya termasuk Mama Fabi yang mengerti gumaman Mami Prita.
“He worried. He is, Prita. Totally worried. But he has to do something connecting with everything that is going on
( Dia khawatir. Sangat khawatir, Prita. Tetapi dia harus melakukan sesuatu yang juga berhubungan dengan semua yang sedang terjadi saat ini)”
“Huumm ...” Mami Prita manggut – manggut.
Itu Adrieanna yang bicara. Tidak seperti kedua orang tuanya yang paham dan sudah sangat mengerti bahasa
Indonesia namun tidak pernah terbiasa untuk berbicara menggunakannya, Adrieanna begitu lancar berbahasa Indonesia jika ia sedang berada di lingkungan keluarga angkat sang Papa.
Adrieanna memang sangat antusias untuk benar – benar bisa berbahasa Indonesia sejak ia sering sekali menghabiskan waktu bersama Rery dan keluarganya, yang merupakan keluarga Adrieanna juga.
Mami Prita mengernyitkan dahinya. “Mainan buat Pupuma?”
“Iyap Mami” Sahut Adrieanna.
“Rajin banget itu Papa kamu nungguin mainan buat peliharaan nya yang luar biasa itu” Ucap Mami. “Orang piara
kucing, dia malah piara Puma. Pake segala dibeliin maenan segala. Maenan apa tau. Ga sekalian dibelikan rumah?”
Adrieanna dan Mama Fabi terkekeh saja.
“Buaya pula dia pelihara. Besok dia cari anaconda di hutan Amazon kayaknya, Na!”
“Itu pun sudah ada Mami!”
“Bener – bener memang Papa kamu itu Na, Na...”
Mami Prita geleng – geleng, Adrieanna dan Mama Fabi kembali terkekeh kecil.
“Ngomong – ngomong itu mainan apaan, sampai papa kamu itu bela – belain nunggu itu mainan dateng buat si Pupuma”
Adrieanna mengendikkan bahunya.
“Entah Mam. Papa hanya bilang, kalau mainan itu spesial. Termasuk makanan The Sweet Squad yang katanya juga spesial, jadi Papa rela menunggu itu datang dulu kemudian baru bertolak kesini”
“The Sweet Squad?”
“Ya itu lima Alligator Papa. Papa menamakan mereka The Sweet Squad”
“Ckckckck, yang engga – engga aja itu Papa kamu Na. Dikata itu buaya Girl band kali”
Mama Fabi dan Adrieanna spontan tergelak. Kemudian melanjutkan langkah menuju kamar mereka untuk
beristirahat, setelah Mami Prita mempersilahkan keduanya.
‘Kasian Kak Fabi sama si Adrieanna, punya suami ama bapak gesrek otaknya. Bukannya miara kucing, die miara Puma. Imut banget lagi namanya. Belom lagi buaya. The Sweet Squad. Kalah gengnya Nia Ramadhani. Trus itu anaconda yang ada juga die piara kalo kata si Adrieanna die namain sape?. Cabelita?’
Mami Prita mendengus geli sendiri dalam hati.
‘Tapi mainan apaan buat itu kucing garong. Spesial kata si Adrieanna?. Sampe Kak Lucca rela nungguin itu mainan’
Mami Prita mengendikkan bahu, lalu berjalan menuju ke kamarnya.
‘Entahlah. Mungkin si Pupuma mau dibelikan Skateboard magnet supaya bisa atraksi’
***
__ADS_1
Rumah Sakit.....
“Kamu rebahan di kamar tunggu aja sana Bang. Nanti badan kamu sakit kalau tidur begini. Biar Momma yang nemenin Drea” Ucap Momma sambil mengelus pelan punggung Varen yang sempat menelungkupkan wajahnya diatas tangannya yang terlipat di sedikit ruang brankar Andrea.
Varen langsung mendongak kala ia merasakan usapan lembut di kepalanya seiring dengan suara Momma dan Mommy Ara juga sudah ada di dekatnya.
Ake dan Ene juga sudah berada bersama ketiganya.
Abang menyunggingkan senyumnya sembari menggeleng. “It’s okay Mom. Lebih baik Momma dan Mommy kembali ke Kediaman saja. Lagipula nanti Nathan juga akan kesini” Jawab Abang. “Oh iya, mereka yang dari Italia sudah sampai?”
“Sudah Bang. Gappa sedang dalam perjalanan kesini”
“Abang istirahat dulu. Tiduran sebentar, biar enak juga badannya. Nanti malah ikutan sakit, gimana?”
“Ga apa Ne, aku ga apa – apa. Aku disini saja. Ga akan tenang tidur aku juga sebelum Drea siuman” Tolak si Abang dengan halus pada Ene Bela yang juga mengelus kepalanya.
“Nurut kenapa si Bang?. Itu kamar istirahat dua langkah kamu kalo lebar – lebar aja nyampe Bang”
Varen mendengus geli sembari tersenyum pada Momma.
“Iya Bang, nurut sekali – sekali. Kamu kan ga kami suruh pulang juga. Hanya di kamar tunggu. Ada apa – apa juga langsung terdengar” Mommy Ara ikut membujuk.
“Ya sudah iya”
***
“E-ugh ..”
Selang beberapa waktu sepeninggal Varen yang sudah membaringkan dirinya untuk sekedar beristirahat untuk meluruskan otot – otot di tubuhnya sesuai permintaan tiga wanita yang menyayanginya itu, ada suara lenguhan sangat pelan yang berasal dari brankar dimana Andrea terbaring di atasnya. Namun sepertinya tidak ada yang mendengar.
Ene, Momma dan Mommy Ara, sedang menyambut kedatangan Gappa yang sudah melihat keadaan cucu perempuannya dan hati Gappa cukup merasa prihatin. Ia kini sedang mendengarkan cerita dari Momma dan Mommy Ara tentang keseluruhan cerita tentang apa yang telah terjadi, terutama tentang Andrea.
Gappa merasa geram, namun juga miris bersamaan.
Sama seperti yang dirasa oleh Ake dan Ene setelah mendengar cerita dari mulut Momma dan Mommy Ara.
Hingga tidak memperhatikan kalau ada pergerakan dan lenguhan kecil dari Andrea.
Nathan tak lama muncul ke dalam ruang rawat Andrea dan menyapa semua orang yang ada dalam ruang rawat
Andrea tersebut.
“Abang mana?”
“Tuh, lagi istirahat. Kesianan. Keliatan banget capenya tapi dipaksain”
“Iya udah” Sahut Nathan. “Momma sama Mommy, Ake, Ene sama Gappa juga lebih pulang aja istirahat. Biar aku yang menemani Abang disini” Sambung Nathan.
“Iya gampang itu, Than”
“Eh? ....”
Nathan sedikit terkesiap.
“Drea!” Nathan setengah memekik sembari berjalan cepat menuju brankar Andrea karena ia menangkap Andrea
bergerak, nampak gelisah disana.
Mommy Ara dan empat orang yang bersamanya pun spontan menoleh dan beranjak cepat menuju brankar tempat
Andrea dibaringkan. Dan memang Andrea nampak bergerak dengan gelisah sembari menggumam dengan mata terpejam.
Abang yang ada di kamar tunggu, langsung melonjak setelah mendengar pekikan Nathan dan langsung menghampiri Andrea dengan panik. “Drea...” Ucap semua orang yang sudah mengelilingi Drea.
“Little Star...” Abang membelai kepala Andrea yang masih bergerak gelisah, namun mata kedua Andrea masih terpejam.
“J-a... jang-aannn ...”
“Little Star...”
“Drea...”
“J-a... jang-aannn ...”
“Little Star...”
“Drea...” Ene membelai kepala Andrea disisi yang bersebrangan dengan si Abang, sementara Momma langsung menekan tombol pemanggil perawat.
Gappa juga dengan cepat menyuruh Nathan untuk segera memanggil Dokter, karena Gappa sempat melirik, monitor denyut jantung Andrea yang bergerak tak stabil kecepatannya.
“J-a... jang-aannn ... per-gi ...” Andrea masih belum membuka mata, namun ia terus – terusan menggumam dengan gelisah seiring pergerakannya, yang kini tubuh Andrea sudah dipegangi oleh si Abang untuk menghentikan gerakan Andrea, karena takut akan membuat jarum infus di tangan Andrea lepas.
“Little Star, tenang sayang... buka mata kamu, ini aku, Ini Abang, Little Star ...”
Andrea masih bergerak gelisah.
“Drea ...”
“Ja... JANGAANNNNN!!!!...” Andrea membuka mata dengan cepat seiring teriakannya yang histeris.
Abang sudah memegangi tubuhnya, disaat yang bersamaan seorang perawat dan Nathan sudah kembali ke
Ruangan, lalu Dokter Alan juga tak lama muncul.
“Little Star, tenang sayang.. ini aku, ini Abang...” Namun sayangnya Andrea seolah tak dengar perkataan si Abang, dan ia masih bergerak dengan gelisah dan gusar dalam pelukan si Abang.
“Kalian tolong minggir sebentar” Dokter Alan menelusup untuk berada disamping Andrea yang masih meronta dan histeris. Ia mengecek layar monitor, lalu memeriksa nadi Andrea dengan cekatan.
“LEE-PAASSS!! ...”
“Little Star ...” Varen masih memanggil Andrea dengan suaranya yang terdengar lirih.
“Drea ...”
Andrea terus saja meronta dan histeris.
“Little Star!” Abang akhirnya mencengkram sedikit lengan Andrea dan menghardiknya.
“PER-GIIII!!!...”
__ADS_1
***
To be continue ...