THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
BONUS CHAPTER


__ADS_3

Jempol dikondisikan dulu (ehem) sebelum sekerol kebawah ye


***********************************************************************Selamat membaca ..


************************


Mansion Utama Keluarga Adjieran Smith, London, Inggris ..


Ann sudah berhasil di sadarkan oleh Valera dan Theresa beberapa saat sebelum Dokter Owen sampai di Mansion Utama.


“Ann ...”


“Eughh ....”


Ann menunjukkan pergerakan.


“Ann ...”


“Ssshh ..”


“Is your stomach still hurt?. (Apa perutmu masih sakit?)”


Ann mengangguk pada Valera yang bertanya.


“Uncle Owen sebentar lagi datang.. Kamu tahan dulu ya?”


“I-ya.....”


Ann kini mengangguk pada Rery yang mengusapkan minyak hangat di tangan Ann dan menggosoknya pelan.


“It’s so hurting ya Ann? .... (Sakit sekali ya Ann?) .....”


Ann mengangguk lagi nampak sedang merasakan sakitnya lagi.


Namun Ann tidak mendesis atau mengaduh lagi, hanya saja ia nampak menggigit bibirnya dengan kuat.


“Ini minum dulu”


Valera menyodorkan segelas air hangat dan membantu Ann untuk meminumnya.


Dan tak lama Dokter Owen pun datang dengan nampak tergesa masuk ke kamar Ann, dengan diantar salah satu maid.


*


“So, how is she Uncle? ..... Should we take her to the Hospital? ....* (Jadi bagaimana dia Paman?.... Apa perlu kita membawanya ke Rumah Sakit?)..”


Valera langsung bertanya selepas Uncle Owen melakukan pemeriksaan pada Ann. Dia dan Rery berikut Theresa dan Ben, yang merasa bertanggung jawab pada setiap anggota keluarga dalam Mansion Utama pun juga masih berada di kamar salah satu nona muda mereka itu.


Dokter Owen sudah memberikan penghilang nyeri yang ia suntikkan ke tubuh Ann.


“I already told my assistance to bring a medicine... (Aku sudah meminta asistenku untuk membawakan obat)..”


Dokter Owen menjawab pertanyaan Valera, sembari juga menatap pada Rery dan Ann.


“And you young lady, have to take that medicine one in two hours ... (Dan kamu nona muda, harus meminumnya setiap dua jam sekali)...”


Ann pun mengangguk.


“Catat itu Rery!” Titah Valera.


“Iya aku akan mengingatnya Vaall!!!! ....” Sahut Rery sembari melirik malas pada Valera.


“Goodd ....”


“Now tell me Ann, there’s a bruise that quite big in your belly. Have you been beaten?”


“(Sekarang katakan padaku Ann, ada lebam yang sedikit besar di perutmu. Apa kamu habis dipukuli?)”


Dokter Owen menatap fokus pada Ann, begitu juga Rery, Valera, Theresa dan Ben. Ann menggeleng pelan.


“No (Tidak), Uncle ..”


“Are you telling the truth?.. Or you afraid of someone?.. (Apa kamu mengatakan yang sebenarnya? .. Atau kamu takut pada seseorang?)..”


Dokter Owen memastikan dengan menambah fokus tatapannya pada Ann.


“I never afraid of anything if you forget Uncle. Only afraid if Papa or my others Daddies when they get mad if I made a mistake ..”


“(Aku tidak takut pada apapun kalau Uncle lupa. Hanya takut jika Papa atau para Daddyku yang lain saat mereka marah kalau aku membuat kesalahan) ..”


Ann menunjukkan senyumnya pada Dokter Owen.


Rasa sakit di perutnya sudah berkurang sekarang.


Mungkin efek obat suntik dari Dokter Owen sudah bekerja.


“I know you’re a brave young lady .. But if you get a physical abuse from someone, you don’t keep it by yourself (Aku tahu kamu nona muda yang berani .. Tapi jika kamu mendapatkan kekerasan fisik dari seseorang, jangan kamu simpan sendiri)” Ucap Dokter Owen.


Rery, Valera, Theresa dan Ben manggut-manggut mengiyakan ucapan Dokter Owen.


“For at least, those people have to get a punishment for a deterrent.. (Setidaknya, orang-orang itu harus mendapat ganjaran agar mereka jera)..”


‘Of course they will get punishment! My Punishment!. (Tentu saja mereka akan mendapatkan ganjaran! Ganjaran Dariku!)’


Ann membatin sinis dan geram. Namun ia menarik sudut bibirnya.


“I was fell (Aku hanya terjatuh), Uncle” Ucap Ann dengan tenang sembari tersenyum tipis pada Dokter Owen.


“Really?.... (Benar begitu?)..”


“Yes Uncle”


“But the bruise is like you being hit by something?..”


“(Tapi lebamnya seperti karena terhantam sesuatu?)..”


“It is (Memang iya), Uncle ..”


Ann mengangguk pelan.

__ADS_1


“I was fell at the School rest room. Got slipped, then my belly was kissed the wastafel quite hard.. (Aku terjatuh di kamar mandi sekolah. Terpeleset, lalu perutku menghantam wastafel lumayan keras)..”


“Alright then if that so .. I already ask my assistance to bring a medicine for your bruise also (Ya sudah jika memang seperti itu.. Aku juga sudah menyuruh asistenku membawakan juga obat untuk lebammu ini) ..”


“Thank you Uncle”


“You are very welcome” Dokter Owen membelai kepala Ann seraya tersenyum.


Kemudian Dokter yang juga kerabat dekat keluarga mereka selama puluhan tahun itu pun beranjak dari duduknya dipinggir ranjang pribadi Ann.


“Look Ann, Val and Rery, Theresa, Ben .. Since those mommies and daddies are not here, also your gappa dan your two grandmas, so you guys better listen to what I say..”


“(Dengar Ann, Val dan Rery, Theresa, Ben ..... Karena para mommy dan daddy sedang tidak ada disini, juga gappa dan dua nenek kalian, jadi tolong kalian perhatikan apa yang aku katakan)..”


Ke lima orang yang disebut Dokter Owen itu pun mengangguk bersamaan.


“The medicine that I will give is only three tablets..... Make sure Ann drink just like what I said (Obat yang akan kuberikan hanya tiga tablet.. Pastikan Ann meminumnya sesuai dengan apa yang tadi aku katakan)..”


Ke lima orang tersebut mengangguk secara bersamaan lagi seraya memperhatikan Dokter Owen.


“If after Ann drink the last tablet, then she feel so much pain just like what you all told me..... Call me right away.. I will call Papa Lucca also after this, okay?”


“(Jika setelah Ann meminum tablet yang terakhir, lalu dia merasakan kembali kesakitan seperti yang kalian katakan padaku tadi.... Hubungi aku secepatnya.. Aku akan menghubungi juga Papa Lucca setelah ini, oke?)”


“Yes Uncle”


“Yes Mister Owen”


Ann, Valera dan Rery, serta Theresa dan Ben mengiyakan ucapan Dokter Owen yang kemudian berpamitan dari hadapan mereka semua yang berada di dalam kamar Ann.


“Get well soon beautiful .... (Cepat sembuh ya cantik)....” Dokter Owen mengecup pucuk kepala Ann sebelum ia pergi dan kemudian mengecup juga pucuk kepala Valera, karena dua gadis itu sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri.


Sementara pada Rery, Dokter Owen memberikan pelukan persahabatan layaknya pria, yang juga sudah dianggap Dokter Owen seperti anaknya sendiri seperti saudara-saudara mereka yang lain.


“Thank you Uncle ....”


Ann, Valera dan Rery berucap secara bersamaan.


Dokter Owen mengangguk seraya tersenyum pada ketiganya.


“Let me chaperone you to front door (Biar aku mengantarmu ke pintu depan), Uncle”


Rery menawarkan diri untuk mengantar Dokter Owen sampai ke pintu utama Mansion. Sekaligus ada yang ingin Rery tanyakan pada Dokter kerabat dekat keluarganya itu.


***


Semua Daddy dan Mommy termasuk Oma Anye datang ke Mansion Utama satu per satu setelah mendengar kabar jika si Little Devil mengalami kesakitan yang hebat di perutnya.


Bahkan Gappa dan Gamma yang tadinya hendak pergi ke Indo itu akhirnya membatalkan jadwal mereka untuk menemui anak cucu dan besannya yang ada di Indo, karena satu cucu yang jarang banget sakit itu, tahu-tahu dikabarkan mengalami kesakitan yang hebat.


“Have you feel better, Dolcezza? .... (Apa kamu sudah merasa enakan, Sayang?) ....” Mama Fabi yang nampak khawatir itu sudah berada disisi sang putri yang masih nampak pucat itu.


“Tapi sebaiknya emang ke Rumah Sakit aja Ann”


Momma yang sudah juga ada di Mansion Utama itu menyela.


“Your Momma was right .... I think you need to do a lab check ....”


Mommy Ara menimpali. Yang lain pun manggut-manggut mengiyakan.


‘Aduh, kalau sekarang aku check lab, pasti akan terdeteksi ini lebam di perut aku karena penganiayaan....’


Ann membatin.


‘Ini hal kecil, mereka tidak perlu tahu, karena aku bisa membereskan gadis-gadis kurang ajar itu dengan kemampuanku’


Ann membatin lagi.


“If it’s because of my bruise, as I told, I just was hit the wastafel at the school restroom, okay? .... No big deal.... (Jika ini karena lebam di perutku, seperti yang aku bilang, Aku hanya terpentok wastafel di kamar mandi sekolah, oke? .... Bukan masalah besar) ....”


Ann pun berkilah.


“Beside I feel better now, the pain is no longer torturing.... Now it feels like the ordinary pain when I get my period .... (Lagipula aku sudah merasa baikan sekarang, sakitnya sudah tidak lagi menyiksa.... Sekarang sudah seperti sakit biasa jika aku datang bulan)....”


“Meski begitu Ann ....”


Momma kembali menyela.


“Dulu saat masih remaja juga Momma selalu merasakan sakit yang luar biasa saat PMS meskipun hanya sehari .... Sampai pingsan bahkan.... Tapi ya itu, Momma tidak mau jika diajak periksa ke dokter .... Dan Momma terjadi something di rahim Momma yang membuat Momma sulit memiliki anak....”


“Momma benar Dolcezza ....”


Poppa bersuara.


“Better check earlier, so if there’s something wrong, it can be fix fastly”


“(Lebih baik diperiksa sejak awal, jadi jika ada yang salah, bisa diobati dengan cepat)”


Yang lain pun manggut-manggut.


“I couldn’t agree more with your Poppa....”


“(Aku sangat setuju dengan apa yang dikatakan Poppa-mu)....”


Papa Lucca bersuara.


“Lagipula Baby, perut kamu itu pasti terhantam dengan keras di wastafel karena lebamnya seperti tu ...”


Daddy R menimpali.


“Tidak bisa juga dianggap sepele, tetap harus dilakukan pemeriksaan. Dad khawatir itu berefek di organ dalam kamu, Baby ...”


Ann menghela nafasnya.


“How about this, Uncle Owen was gave me three tablets of the medicine, I just took one of them.... better wait untill the tablets are run out? And if I feel the killing pain like I felt before, then let’s go to the hospital....”


“(Bagaimana jika begini, Uncle Owen memberikanku tiga tablet obat, aku baru meminum satu diantaranya.... bagaimana menunggu dulu sampai tabletnya habis? Dan jika aku merasakan sakit yang teramat seperti tadi, maka ayo ke rumah sakit)....”


Ann menawarkan solusi.

__ADS_1


“Or at least untill I feel more better? .... (Atau setidaknya sampai aku merasa lebih baik lagi?).... Because I feel very languid right now. (Karena aku merasa sangat lemas sekarang)”


“Alright then .... Better you take a rest now .... (Baiklah kalau begitu.... Sebaiknya kamu beristirahat sekarang)....” Ucap Papa Lucca yang kemudian mengecup pucuk kepala putri kandung semata wayangnya itu.


Para orang tua dan kakek nenek juga mengangguk pada usulan Ann, lalu melakukan hal yang sama pada si Little Devil itu seperti yang barusan Papa Lucca lakukan. Kemudian satu per satu para mom dan dan berikut Gappa, Gamma dan Oma Anye keluar dari kamar Ann agar si setan kecil itu dapat beristirahat.


‘Syukurlah mereka semua pergi .... Aku harus menghubungi Ricci kan ini. Ingin tahu apa dia sudah menjalankan rencana?....’


Ann membatin. Merasa penasaran, hingga rasa tak sabar untuk ditinggalkan sendirian dalam kamarnya.


***


“Kenapa Ann?”


Rery sontak bertanya, karena Ann seketika nampak bengong.


“Ann?....” Panggil Rery lagi.


Ann pun terkesiap.


“Apa kamu merasakan sakit lagi? ....”


Kini Valera yang bertanya.


Ann pun menggeleng.


“Kalian kalau mau istirahat di kamar kalian sendiri, tidak apa-apa kok....”


Ann berucap pada Valera dan Rery yang memang belum beranjak dari kamarnya, seperti tiga pasang Dad dan Mom serta satu kakek dan dua nenek mereka yang sudah lebih dulu keluar dari kamar Ann.


“Ah aku khawatir Ann, nanti kamu sakit lagi seperti tadi....” Tukas Valera. “Aku disini ajalah jagain kamu ....” Tambah Valera.


Ann menunjukkan senyumnya pada Valera.


“It’s okay, aku sudah oke sekarang kok ....”


“Benar kamu udah merasa oke?....” Valera memastikan.


Ann mengangguk dengan masih tersenyum pada Valera, meski wajah Ann masih nampak pucat.


“Ga apa-apa kalau aku tinggal? ....” Tanya Valera lagi.


“Iya tidak apa-apa, Val ....”


“It’s okay Val .... Kamu tinggal aja, biar aku yang menemani Ann disini”


Rery langsung menyambar.


‘Yaaaahhh....’


Sebuah keluhan langsung terlontar di hati Ann.


***


“Istirahatlah Ann. Aku ga akan kemana-mana. Jadi jika kamu butuh sesuatu langsung aja bilang ya? ...” Ucap Rery selepas Valera keluar dari kamar Ann.


“Iya...” Jawab Ann, saat Rery membantunya untuk berbaring.


“Kalau memang kamu mengantuk, tidur saja dulu Ann.... nanti saat waktunya minum obat yang kedua aku bangunin...”


“Iya...” Ann mengangguk pelan. “Eemm.. Rery..”


“Ya? ..” Sahut Rery.


“Kamu kalau mau balik ke kamar kamu, tidak apa-apa kok ...”


“Tidak Ann, aku mau disini aja... aku takut nanti kamu kesakitan seperti tadi ...”


“Aku sudah merasa lebih baik, bener deh. Lagipula kalau aku jatuh tertidur masa Rery mau menunggu orang tidur? ....”


“Tidak apa-apa Ann ...”


“Benar kok Rery, aku tidak apa-apa kalau kamu tinggal ...”


“Maafin aku ya Ann.. Maaf sudah membentak kamu waktu itu”


“.....”


“Maaf juga sudah mengacuhkan kamu ....”


Rery yang sudah duduk di pinggir ranjang Ann itu melipat bibirnya lalu tersenyum pada Ann dengan tatapan setengah memohon.


“Maaf ya?” Pinta Rery. Ann mengangguk seraya tersenyum pada Rery. “Truce? .. (Damai?)...”


Rery mengarahkan satu kelingkingnya pada Ann seraya tersenyum.


Ann melebarkan senyumnya. “Truce (Damai)”


Ann pun mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Rery yang diulurkan Rery padanya.


Sudut bibir Rery dan Ann sama-sama melengkung ke atas.


“Makasih ya Ann ...” Ucap Rery. Ann mengangguk lagi.


“Sama-sama...”


“Maaf gara-gara aku abaikan, kamu jadi sampai mendapat musibah di kamar mandi sekolah ...”


“Ya bukan salah Rery kok ... mereka saja...”


“Mereka?....” Potong Rery. "Maksud kamu dengan mereka? .... kamu bilang kamu terpeleset di kamar mandi sekolah kan? .. lalu mereka itu maksudnya, apa? ...."


‘O-ow!’ Ann menggigit lidahnya.


***


🍹 BONUS CHAPTER 19 🍹


Ditunggu Bon-chap yang ke 20 ye

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak


Tararenkyu buat kalian yang masih setia dimari


__ADS_2