THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
BONUS CHAPTER


__ADS_3

Jempol dikondisikan dulu (ehem) sebelum sekerol kebawah ye


🍸🍸🍸🍸🍸🍸🍸🍸🍸🍸🍸🍸🍸🍸


Selamat membaca...


🍸🍸🍸🍸🍸🍸🍸


Sepuluh bulan berlalu..


Varen dan Andrea tak sudah-sudah tersenyum bahagia, berikut seluruh keluarga mereka. Satu anggota baru dalam keluarga The Adjieran Smith sudah lahir ke dunia dengan selamat dan sehat, juga sentosa, sejahtera bukan maen.


Satu lagi, bayi yang lahir terlanjur kaya.


Bayi laki-laki nan tampan dan mempesona, yang menjadi impian untuk Varen dan Andrea selama dua tahun belakangan.


Putra Aditama Adjieran Smith.


Adalah nama yang disematkan oleh Varen dan Andrea untuk buah hati pertama mereka itu.


Nama dari seseorang yang begitu berjasa dalam keluarga mereka. Nama ayah angkat Gappa yang begitu Gappa sayangi, hormati dan kagumi.


Memang Varen dan Andrea sudah merencanakan nya sejak lama, untuk memberikan nama ‘Putra’ jika Tuhan meng karuniai mereka dengan anak laki-laki.


Karena Varen dan Andrea juga sama-sama mengagumi sosok Kakek Putra, yang dapat dikatakan adalah kakek buyut mereka.


Meski Varen dan Andrea tidak pernah punya kesempatan untuk mengenal Kakek Putra secara langsung.


Namun karena pria tersebut memiliki andil yang besar dan kuat dalam menjadikan keluarga mereka kokoh dan kuat seperti sekarang ini, jadilah nama kakek Putra diambil oleh Varen dan Andrea setelah sebelumnya meminta ijin dulu pada Gappa yang tentunya sangat senang sekali jika Varen dan Andrea menggunakan nama Kakek Putra sebagai nama anak pertama mereka.


Sebagaimana senangnya Gappa, saat Poppa dan Momma memakai nama Grandpa Rery untuk nama anak kedua mereka.


***


Kebahagiaan Varen dan Andrea sudah terasa cukup lengkap untuk keduanya.


Meski Andrea ingin sekali punya anak kembar, namun memang tidak kesampaian dan rasanya juga sulit karena baik dirinya maupun Varen tidak memiliki gen kembar digaris keturunan mereka seperti halnya Papi John.


Kalau kata Momma, ga usah macem-macem, terima aja apa yang udah Tuhan kasih. Anak, biar satu juga udah rezeki yang ga terhingga.


Namun bisa diberikan kesempatan sekali lagi untuk dapat memiliki keturunan setelah dahulu pernah kehilangan, rasanya ini sudah lebih cukup bagi Varen dan Andrea.


Kehadiran seorang anak laki-laki yang melengkapi pernikahan mereka setelah tiga tahun lamanya sudah cukup membuat Varen dan Andrea merasa bersyukur atas karunia tersebut.


**


Namun bahagia dengan adanya seorang momongan, baru sampai pada Varen dan Andrea.


“Vi..”


“Eh Jo..”


“Kamu ngapain disitu, hem?”


“Ga ngapain – ngapain, tadi kebangun aja. Tapi mau tidur lagi, malah susah. Jadi aku liatin hujan nih, siapa tahu bisa ngantuk!”


Nathan tersenyum tipis, lalu memeluk Via yang sedang berdiri menatap hujan di luar yang membasahi balkon kamar mereka itu.


“Kita lupa pasang tutupan balkon, jadi becek banget itu balkon, basah juga bangku sama mejanya ...” Ucap Via.


“Kamu sedih ya?”


Nathan yang sedang merengkuh Via dari belakang itu melontarkan pertanyaan tanpa menghiraukan cerocosan Via sebelumnya soal balkon yang basah karena hujan cukup lebat malam ini.


“Apa sih? Sedih kenapa coba? ..”


“Vi ..”


Nathan membalikkan tubuh Via agar menghadapnya.


“Maafin aku ya?..” Ucap Nathan dengan wajah yang memelas nan sendu memandang pada Via.


Via tersenyum seraya menyentuh wajah Nathan yang nampak sendu itu.


“Maaf untuk apa sih? ..” Tanya Via seraya membingkai wajah Nathan.


“Aku tau kamu kepikiran ..” Sahut Nathan dengan menatap lekat – lekat wajah Via, sembari menyentuh pelan.


Via mengernyit.


“Kepikiran apa?..”


“Anak..” Sambar Nathan.


“Jo..”


“Maafin aku Vi ..”


“Jo ..”


“Dosa aku..”


“Engga Jo ..”


“Karena kebiadaban aku, kamu juga ikut kena imbas hukuman Tuhan buat aku..”


“Apa sih kamu Jo?!..”


“Maaf..” Nathan masih tertunduk lesu. "Maafin aku.."


“Jo..”


“Kalau saat itu aku ga egois, kita udah jadi keluarga bahagia pasti..”


“Kita ini udah jadi keluarga bahagia Jo ..” Via menghapus sebulir air mata di pipi Nathan. “Aku udah cukup bahagia sekarang ini. Bahagia sama kamu, bahagia ada ditengah-tengah keluarga ini, yang bahkan menyayangi aku daripada keluarga aku sendiri..”


Ditangkup wajah Nathan oleh kedua tangan Via, dengan Via menampakkan senyum ketulusannya.


“Aku bahagia Jo. Sungguh”


Via pun menatap Nathan sungguh-sungguh.


“Tolong, berhenti menyalahkan diri kamu sendiri .. apapun yang terjadi didepan nanti .. punya anak atau tidak, aku tetep akan selalu mencintai kamu Jo. Aku selalu berada disisi kamu, suka maupun duka..”


“Makasih Vi ..” Nathan menyambar tubuh Via dan merengkuhnya erat. “Aku akan berusaha menjadi yang terbaik buat kamu Vi ..” Ucap Nathan dengan suara yang parau. “I love you, Via ..”


Via membalas pelukan Nathan dengan tersenyum bahagia.


“Too..”


Nathan sontak terkekeh mendengar sahutan singkat Via atas pernyataan cintanya itu.


**


“Hoy! Kesambet lo bengong pagi-pagi!” Suara Varen membuat Nathan yang sedang berdiri di teras rumah dan nampak sedang melamun itu, terkesiap.


Nathan pun menoleh.


Varen kemudian mendekati Nathan yang sedang berdiri sendirian di teras Kediaman yang lantai di luar teras masih dibasahi oleh tetesan hujan yang awet dari semalam.


“Ngapain?. Sedang menghitung tetesan air hujan?”


Nathan terkekeh kecil atas celotehan si Abang.


“Ada problem sama kantor yang di Bandung?” Tanya Varen, karena melihat wajah Nathan yang seperti sedang kepikiran atas sesuatu.


Nathan menggeleng. “Kantor di Bandung oke-oke aja ...”


“Terus ...”


“Hoy!”


Belum selesai si Abang yang hendak bertanya lagi pada Nathan, suara Daddy Dewa membuat keduanya menoleh.


“Gibah pagi-pagi! Gym!”


Ucapan Daddy Dewa membuat Varen dan Nathan terkekeh. Lalu keduanya mengikuti Daddy Dewa ke ruang olahraga, dimana semua Daddies yang lain sudah ada di ruangan tersebut. Lengkap, karena yang berdomisili di London sudah berboyong-boyong datang, saat dikabari kala Andrea sudah akan melahirkan.


“Wuih, opa-opa masih rajin aja olahraga!”


Varen langsung meledek Poppa, Daddy R, Papa Lucca, Daddy Jeff dan Papi John yang sudah terlihat sedang memulai latihan mereka.


“Heh! Bahkan tubuh kami masih lebih bagus darimu!”


“Hahahaha!..”


Varen sontak tergelak mendengar timpalan Poppa.


“Awas sesak nafas nanti..”


Para Dad dan Nathan pun sontak terkekeh.


Lalu Varen, Nathan dan Daddy Dewa ambil bagian untuk juga melakukan latihan di ruang olahraga dalam kediaman mereka itu.


“Apa Putra rewel semalam?”


Daddy R bertanya pada si Abang yang langsung menggeleng.


“Anak aku, mana ada rewel..”


Varen membanggakan diri, dan Daddy R pun langsung berdecih.

__ADS_1


“Daddynya kalem begini! Anaknya kalem jugalah!”


“Heleh!”


“I bet he’s the one who get fussy for fourty days!. ( Aku bertaruh dia yang rewel selama empat puluh hari! )”


“Haha! You are right, Boogeyman .. I bet he is!. ( Kau benar, Boogeyman .. Aku yakin dia yang rewel! )” Papi John menimpali ucapan Papa Lucca yang ia dan para Dad paham maksudnya.


“Heittss ..”


Varen menyambar cepat.


“Sorry ya, Abang ini sudah terlatih untuk menahan godaan!. Ingat, aku tidak langsung menyerang Little Star setelah kami menikah..”


Varen pun langsung menyambung ucapannya.


“Itu kan sebelum kau berkenalan dengan nunu dan nana! .. Heh! Habis itu macam pesakitan yang tidak dapat drugs kalau ga nananina!” Cetus Daddy Jeff.


“Hahaha!! ..”


Para Dad yang suka hilang akhlak meski usia mereka sudah tak lagi muda itu spontan tergelak mendengar celotehan Daddy Jeff barusan.


Kecuali satu orang yang nampak sedang melamun diatas treadmill yang lantainya bergerak lambat. Dan itu tak luput dari pandangan para Dad yang kemudian bertanya dengan kepala mereka pada si Abang yang langsung mengendikkan bahunya.


“Hoy Tan-Tan!”


Daddy Dewa berseru seraya memanggil Nathan yang langsung menoleh.


“Kenapa Dad?” Tanya Nathan.


“Ada apa dengan wajahmu? Ga dapet jatah semalam? Via lagi palang merah?”


Nathan tersenyum tipis saja.


“Kau bertengkar dengan Via? ..” Tanya Poppa.


“Engga Pop...”


“Lalu, mengapa wajahmu mendung begitu macam langit diluar?”


Nathan menggeleng pelan, nampak lesu dan sendu.


“Berbagi itu indah Jonathan..” Celetuk Daddy R yang mengkopi jargonnya si Tan-Tan, sembari ia terkekeh kecil. Diikuti oleh enam pria lainnya.


“It’s about kid, hem? .. ( Soal anak, hem? .. )” Timpal Papa Lucca dan Nathan mengangguk pelan.


Nathan mematikan mesin treadmill yang sedang ia gunakan, lalu duduk diatas lantai ruang olahraga dan bersandar disatu bagian dinding ruangan tersebut.


Para Dad dan Varen akhirnya ikut menghentikan latihan mereka dan mendekati Nathan yang nampak seperti sedang frustasi itu. Varen duduk disisi Nathan. “Kalau kehadiran Putra mengganggu perasaan lo dan Via, gue minta maaf”


Nathan langsung mencebik pelan atas perkataan Varen.


“Apaan sih lo Bang” Tukas Nathan. “Mana ada hadirnya si Putra ganggu gue sama Via! Gila lo! Gue sama Via ikut bahagia, si Putra kan jatohnya anak gue juga!”


“Ya habis, lo sedih aja perasaan gue liat sejak Putra lahir. Little Star juga sama ngerasa begitu, dia kepikiran kalo liat muka lo yang mendung gini”


“Gue Cuma kepikiran soal Via, kasian sama dia. Gue tahu, meski dia bilang kalo dia oke, dia sebenarnya ga terlalu oke .. dia pasti inget soal anak kami yang.. yah kalian tahulah!”


“Sudahlah Boy .. things happened are happened ( yang sudah terjadi sudah terjadi ). Disesali berlarut-larut pun percuma, tidak akan membawa masa lalu kembali, hanya akan menyisakan sakit dihati..”


“Iya Pi, memang.. Via juga sudah meminta aku berhenti menyalahkan diri sendiri, tapi gimana? Emang salah aku.. sekarang Via malah ikut kena imbas hukuman dari Tuhan untuk aku!”


“Cut the crap!. ( Hentikan omong kosong itu! )”


Papi menukas cepat.


“Ya memang begitu kenyataannya, sudah tiga tahun, hampir empat tahun, tapi aku sama Via belum dikasih momongan lagi ..”


“Hoy, Jonathan Alton Adjieran Smith!. Daddy R sama Poppa kau pikir berapa lama baru punya si Abang dan Little Star?!”


“Berapa tahun R baru Ara mengandung si Abang?”


“Four. ( Empat )”


“Fania, Drew?” Tanya Daddy Dewa.


“Jika kehilangan bayi kami yang pertama tidak dihitung, ya empat tahun juga jika aku tidak salah”


“See?.. ( Lihat kan?.. )” Ucap Daddy Dewa. “Daddy R dan Poppa tidak melakukan kesalahan yang pernah kau lakukan pada calon bayimu dan Via, tapi mereka tetap menunggu bertahun-tahun untuk memiliki momongan..”


“Jangan pusatkan kebahagiaan pernikahanmu dan Via pada hadirnya seorang anak, Boy ..” Timpal Daddy R.


Para Dad yang lain pun mengiyakan. “Itu bonus lah My Boy. Bukan ukuran kebahagiaanmu dan Via”


“Banyak cara buat bahagia Tan, lo bahkan lebih muda dari gue. Waktu lo masih panjang buat dapatkan buah hati. This is twenty first century My Bro!. ( Ini abad dua satu saudaraku! ). Teknologi untuk mengusahakan momongan sudah kian berkembang!”


“Lupakan saja rasa bersalahmu itu, jika kau sudah berusaha untuk menebusnya. Hidupmu tidak akan kurang bahagia bersama kami sekalipun kau tidak beruntung untuk memiliki anak, Boy”


“Banyak kan anak yang kurang beruntung diluar sana, kau bisa mengadopsi salah satunya bahkan beberapa jika kau mau ..”


Nathan pun manggut-manggut.


“Kalau lo, memang kurang beruntung soal anak dan lo mau mengadopsi Tan.. andainya memang gue sama Little Star dikasih lagi satu momongan, gue sama Little Star udah sepakat, akan memberikan anak itu buat lo sama Via yang rawat..”


Nathan menarik sudut bibirnya. “Thanks ya Bang ..” Ucap Nathan yang langsung memeluk Varen yang kemudian ditepuk-tepuk punggungnya oleh Varen. “Thanks Daddies..” Sambung Nathan dengan mata berkaca-kaca.


“Ga usah nangis! Cengeng banget!” Celetuk Daddy R.


“Siapa yang nangis sih, Dad?!” Sambar Nathan.


“Nah itu mata basah?!”


“Mana basah sih?! Aku ini terenyuh lah!”


“Halah, Lebay!” Sambar Varen. “Dah ah! Sambung latihan!”


“Nah tuh dengar si Abang!” Timpal Papi. “Latih stamina mumpung musim hujan!”


“Hahahahaha..”


***


Waktu berlalu


Nathan sudah tak lagi hanyut dalam penyesalannya, efek hatinya yang menurut pandangan Nathan, kalau Via merasa sedih karena Abang dan Andrea telah dikaruniai seorang anak, sementara ia dan Via belum.


“Kalian darimana, kok baru pulang jam segini? Habis check – in ya???..” Goda Mom Ichel pada Via yang baru saja memasuki Kediaman.


Via sontak saja terkekeh mendengar ledekan Mom Ichel itu.


“Su’udzon aza!” Timpal Via seraya terkekeh.


“Habis malam banget gini baru pulang? Terus kamu bawa apa itu?”


“Ini gemblong, Mom .....” Via mengangkat tangannya yang sedang menggenggam kantong kresek itu.


“Gem – blong? ..” Tanya Mom Ichel.


“Iya ..” Jawab Via.


“Ini? semuanya gemblong? ...”


“Iya ..”


“Banyak sekali Vi?”


“Tau tuh si Jo! Lagi kepengen katanya” Sahut Via.


“Si Tan – Tan nya mana?”


“Lagi terima telepon dari Kak Sony”


Mom Ichel manggut – manggut.


“Terus beli dimana ini malam – malam begini?” Mom Ichel kembali bertanya pada Via.


“Belinya sih dari tadi aku selesai dari kampus, Cuma kena macet kan. Buka tutup jalan” Jawab Via.


“Buka tutup jalan?”


“Hu’um!” Via manggut – manggut.


Sementara Mom Ichel mengernyitkan dahinya.


“Memang ada peristiwa apa di Jakarta sampai ada acara buka tutup jalan dijadwalkan?...”


“Apa, ini gemblong bukan beli di Jakarta Mom!” Sambar Via.


“Nah terus? ... Bekasi? ...”


“Mending! ...” Tukas Via. “Si Jo itu ngebet pengen makan gemblong Puncak!”


“Hah?!”


“Jadi tadi aku selesai kuliah, langsung cus ke Puncak, Cuma buat beli ini gemblong sama makan jagung bakar yang maunya si Jo itu, dia makan jagung bakar yang ada di halaman Atta’awun! ...” Cerocos Via.


“Asytagaaaa ...”


***


“Jo ...”

__ADS_1


“Hemm...”


Nathan hanya menjawab dengan dehemannya saja berhubung mulutnya masih penuh dengan makanan yang sedang ia lahap.


“Pelan-pelan makannya ...” Ucap Via.


Nathan hanya manggut-manggut tapi tetap saja Nathan makan dengan cepat dan nampak tergesa.


“Tau Kak Tan-Tan! ...” Celetuk Alisha. “Kek orang baru keluar semedi dari gunung ga ketemu makanan berbulan-bulan!”


“Berisik!”


Nathan menyambar.


“Uhuk! Uhuk!” Nathan terbatuk.


“Kualat kan ama anak solehah?!”


“Solehah dari mana tau?! Subuh aja kelewat melulu kamu! Solehah...Mana ada cewe solehah hobinya ngemol? Nonton Drakor ga inget waktu! Belom doyan pake hot pant!”


“Ih, suka-suka sih!”


“Kalo dibilangin!”


“Udah ih! Mulut masih penuh makanan juga!”


“Tau ih Tan-Tan, lagi dapet lo?. Ngomel-ngomel terus gue perhatiin akhir-akhir ini, lagi dapet lo?”


“Iya, sekarang Isha, kemaren si Aina kamu cerocosin sampe dia nangis” Timpal Nenek Yuna.


“Ya habis, pada ngeselin!”


“Ye, Kak Tan-Tan tuh yang ngeselin ...”


“Sudah!. Jangan bertengkar di meja makan!”


***


“Tambahin nasi sama itu bebeknya, Vi. Tiga!”


“Jo ...”


“Sama bakwan jagungnya tiga juga trus ketimunnya yang banyak. Aku ke toilet dulu bentar”


Nathan berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah kamar mandi tamu yang berada di lantai bawah.


“Vi, Si Nathan oke? Banyak banget makannya! Ini kalo kamu tambahin udah porsi ke tiga loh Vi?! Udah gitu porsinya sama kayak yang pertama banyaknya” Cerocos Mami Prita seraya bisik-bisik tetangga.


Eh keluarga.


“Ga sakit itu perutnya?...”


“Dua hari yang lalu waktu di Puncak, itu dia makan jagung bakar empat, bandrek dua gelas. Gemblong itu sepanjang jalan Mam, ga berhenti dia makanin. Terus udah gitu, dia katanya pengen makan asinan bogor kan, kalian tau berapa porsi dia makan? ...”


“Berapa?”


“Tiga porsi! Sekali makan! Plus, se-gala manisan dia cobain..”


“Ga ngeluh perutnya sakit gitu?”


“Engga.. Bayangin coba?! Malah abis itu dia mampir beli banana pie, habis juga dijalan”


“Wah, kesambet penunggu tikungan puncak kali dia”


Mereka yang berada di ruang makan pun terkekeh bersama.


“Kalau begitu nanti sediakan air di gelas” Celetuk Daddy Jeff. “Terus, Ibu baca-bacakan itu air, nah setelah itu sembur ke muka itu bocah tengik!”


Lagi, mereka semua terkekeh dan kompak terdiam, saat si Tan-Tan sudah terlihat kembali akan masuk ke ruang makan.


***


“Kak Tan-Tan ga sakit apa perutnya makan sebanyak itu? ..” Tanya Mika saat Nathan telah selesai menghabiskan makannya untuk yang ketiga kali dan ludes pula.


“Engga”


***


Sesi makan malam sudah selesai dan seperti biasa, melipir ke ruang santai keluarga atau memisahkan diri berkelompok, entah untuk menonton acara di saluran berbayar sembari bercengkrama dan mengobrol, atau biasanya para pria pergi untuk sekedar menghisap sebatang rokok setelah makan.


“Eh cute girl kok lo disini? Putra mana?” Tanya Nathan yang datang dari dapur dengan membawa beberapa potong kue dalam piring kecil yang ia bawa.


“Di kamar sama Mami, Mama dan Mom Ichel .. Sama Mika de el el juga” Jawab Andrea.


“Ih bukannya temenin sana anak lo!..”


“Orang sama Grandma's nya ini”


“Ya nanti kalau si Putra haus? ..”


“Ada stok asi gue di kulkas. Lagian tiga Mommies bisa teriak dari atas”


“Eh Cute Girl, lo harusnya tuh, sering-sering sama anak lo.. Bonding, Cute Girl, Bonding.. biar lo sama Abang kuat ikatan batinnya sama Putra. Biar masih bayi, Putra pasti bisa ngerasain tuh orang tuanya perhatian ga sama dia.. Trus si Abang mana?. Lagi nyemok pasti?”


Andrea mengangguk, sembari memperhatikan Nathan yang barusan nyerocos.


“Ih, tuh orang! Udah tau punya bayi! Masih ngerokok aja! Abang kalo abis ngerokok gitu, mandi ga Cute Girl?! Kasian tau si Putra kalau si Abang ga bebersih diri dulu kalo deket-deket dia! Mandi, ganti baju, biar hilang itu jejak rokok, jadi si Putra ga beresiko sakit. Hah, Cute Girl???..”


Andrea hanya manggut-manggut saja.


‘Si Tan-Tan aneh banget perasaan gue ..’


Andrea membatin.


‘Sensian, makannya ngalahin gue yang nyusuin, dan lagi, ceramah melulu ..Kenapa ya? Efek berantem sama Via?.. Ah mesra-mesra aja gue liat mereka, malah kayaknya Via juga lebih manja ke ini si Tan-Tan.. Kenapa ya?..’


“Little Star!”


Andrea langsung menoleh saat suara Varen terdengar memanggilnya.


“Putra mana?”


“Di kamar sama Mami, Mama dan Mom Ichel en adik-adik juga kayaknya”


Varen pun mengangguk pelan.


“Jangan langsung gendong anak lo kalo habis nyemok, lo Bang!”


Nathan menyambar.


“Iya gue tahu bawel!”


“Lagian masih ngerokok aja lo! Kurangin! Berenti kek! Kasian si Putra!”


“Macam lo bukan perokok berat aja!” Ketus Varen.


“Yah, gue sih belom ada anak!” Tukas Nathan.


“Berisik lo ah! Bawel banget akhir-akhir ini gue perhatikan!..”


‘Tuh, bener kan? Bukan gue aja yang ngerasa kalo si Tan-Tan bawel nya banget-banget belakangan ini ..’


Andrea sedang berpikir keras.


‘Apa jangan-jangan..’ Sedang menerka-nerka juga.


“Kalo dikasih tau yang bener lo Bang..”


“Sok tahu ada juga lo! Kenapa sih lo dah lah sensi, bawel ngalahin para Moms kalau sedang mengomel! .. Kurang jatah bercocok tanam lo dari Via?!!.. Heh?!”


Dimana Varen dengan segera melingkarkan tangannya di leher Nathan seolah memitingnya, dengan wajah Varen yang geregetan pada si Tan-Tan.


“Ih!” Nathan dengan segera menutup mulutnya.


“Wah kurang asem! Ketiak gue wangi lah! Drea aja suka!”


“Lo ngerokok berapa batang sih? Sepabrik?! Bau rokok lo nyengat banget sumpah!”


“Apa sih?! Sudah malam masih berisik aja?! Ada bayi inget!” Daddy Dewa yang baru saja masuk bersama Papi John dan Daddy Jeff selepas merokok di halaman belakang langsung menyela dua orang yang nampak sedang berdebat itu.


“Nih, Papa Bear anaknya! Bawel! Macam ibu-ibu arisan kalau sedang gibah!”


Varen langsung menyambar dan tiga Dad itu pun mendekat dan Nathan menutup hidungnya lagi. Kali ini wajah Nathan nampak aneh dengan matanya yang nampak membola.


Kemudian langsung berlari ke arah kamar mandi yang berada dilantai yang sama ditempatnya dan mereka yang berada di ruang santai keluarga.


“Kenapa dia?..” Tanya Daddy Dewa dan Varen mengendikkan bahu.


“Kayaknya ..”


Andrea hendak berkata, namun terputus, karena..


“Hoek! Hoek! ..”


Suara Nathan yang sepertinya sedang memuntahkan isi perutnya tak lama terdengar dari dalam kamar mandi yang jaraknya tak begitu jauh dari ruang santai keluarga.


“Mba Adiiss!!!! Ambilkan Test Paacckkk!!!..”


***


🍹 BONUS CHAPTER 1 🍹

__ADS_1


__ADS_2